Panduan
Shalat Idul Adha dan Idul Fitri
Hukum
Shalat Idul Fitri & Idul Adha
Shalat
Id hukumnya wajib bagi setiap muslim. Ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah,
salah satu pendapat Imam Ahmad, dan pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam
dan Ibnul Qoyim. Dalil pendapat ini adalah sebagai berikut:
1.
Kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam melaksanaknnya. Karena sejak
shalat Id ini disyariatkan pada tahun kedua hijriyah, beliau senantiasa
melaksanakannya sampai beliau meninggal
2.
Kebiasaan para khulafa ar-Rosyidin setelah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam. Ini menunjukkan bahwa shalat Id merupakan ibadah yang sangat
disyariatkan dalam Islam.
3.
Hadis Ummu ‘Athiyah radliallahu ‘anha, bahwa beliau mengatakan: Kami
diperintahkan untuk mengajak keluar gadis yang baru baligh, gadis-gadis pingitan,
dan orang-orang haid untuk menghadiri shalat Idul Fitri dan Idul Adha….(HR.
Bukhari dan Muslim)
Adanya
perintah menunjukkan bahwa itu wajib, karena hukum asal perintah adalah wajib
4.
Shalat Id merupakan salah satu syiar Islam yang paling besar.
Adab
Shalat Hari Raya
1.
Mandi pada Hari Id
Dari
Nafi’, beliau mengatakan
أن عبد الله بن عمر
كان يغتسل يوم الفطر قبل أن يغدو إلى المصلى
bahwa
Ibnu Umar radliallahu ‘anhuma mandi pada hari Idul Fitri sebelum berangkat ke
lapangan. (HR. Malik dan asy-Syafi’i dan sanadnya shahih)
Al-Faryabi
menyebutkan bahwa Said bin al-Musayyib mengatakan:
سنة الفطر ثلاث :
الـمَشْي إِلى الـمُصَلى ، و الأَكل قَبل الخُروج، والإِغتِسال
“Sunah
ketika Idul Fitri ada tiga: berjalan menuju lapangan, makan sebelum keluar
(menuju lapangan), dan mandi. (Ahkamul Idain karya al-faryabi dan sanadnya
dishahihkan al-Albani)
Catatan:
Dibolehkan untuk memulai mandi hari raya sebelum atau sesudah subuh. Ini adalah
pendapat yang kuat dalam Madzhab Syafi’i dan pendapat yang dinukil dari imam Ahmad.
Allahu a’lam.
2.
Berhias dan Memakai Wewangian
Dari
Ibnu Abbas, bahwa pada suatu saat di hari Jumat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
إِنَّ هَذَا يَومُ
عِيدٍ جَعَلهُ الله لِلمُسلِمِينَ فمَن جاءَ إلى الـجُمعةِ فَليَغتَسِل وَإِن كانَ
عِندَه طِيبٌ فَليَمسَّ مِنهُ وَعَلَيكُم بِالسِّواكِ
“Sesungguhnya
hari ini adalah hari raya yang Allah jadikan untuk kaum muslimin. Barangsiapa
yang hadir jumatan, hendaknya dia mandi. Jika dia punya wewangian, hendaknya
dia gunakan, dan kalian harus gosok gigi.” (HR. Ibn Majah dan dihasankan
al-Albani)
3.
Memakai Pakaian yang Paling Bagus
Dari
Jabir bin Abdillah, beliau mengatakan:
كانت للنبي -صلى الله
عليه وسلم- جُبّة يَلبسُها فِي العِيدَين ، وَ يَوم الـجُمعَة
“Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki jubah yang beliau gunakan ketika hari
raya dan hari Jumat.” (HR. Ibn Khuzaimah dan kitab shahihnya)
Dari
Ibnu Umar, beliau mengatakan: Umar bin Khathab pernah mengambil jubah dari
sutra yang dibeli di pasar. Kemudian dia datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam: Ya Rasulullah, saya membeli ini, sehingga engkau bisa berhias
dengannya ketika hari raya dan ketika menyambut tamu. Namun Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam menolaknya karena baju itu terbuat dari sutra. (HR. Bukhari,
Muslim, dan an-Nasa’i)
Imam
as-Sindi mengatakan: “…dari hadis disimpulkan bahwa berhias ketika hari raya
merupakan kebiasaan yang mengakar di kalangan mereka (Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam dan para sahabat). Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak
mengingkarinya, yang artinya kebiasaan itu tetap belaku… (Hasyiah as-Sindy ‘ala
an-Nasa’i, 3:181)
4.
Tidak Makan Sampai Pulang dari Shalat Idul Adha dengan Daging Kurban
Dari
Buraidah, beliau berkata:
لاَ يَـخرجُ يَومَ
الفِطرِ حَتَّى يَطعَمَ ولاَ يَطعَمُ يَومَ الأَضْحَى حَتَّى يُصلِّىَ
“Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berangkat menuju shalat Idul Fitri sampai
beliau makan terlebih dahulu, dan ketika Idul Adha, beliau tidak makan sampai
shalat dahulu. (HR. At Turmudzi, Ibn Majah, dan dishahihkan al-Albani)
5.
Menuju lapangan sambil berjalan dengan penuh ketenangan dan ketundukan
Dari
sa’d radliallahu ‘anhu,
أنَّ النَّبـىَّ -صلى
الله عليه وسلم- كانَ يَـخْرج إلَى العِيد مَاشِيًا وَيَرجِعُ مَاشِيًا
Bahwa
nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menuju lapangan dengan berjalan kaki
dan beliau pulang juga dengan berjalan. (HR. Ibn majah dan dishahihkan
al-Albani)
Waktu
Shalat Id
Dari
Yazid bin Khumair, beliau mengatakan: suatu ketika Abdullah bin Busr, salah
seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar bersama masyarakat
menuju lapangan shalat Id. Kemudian beliau mengingkari keterlambatan imam.
Beliau mengatakan:
إِنّا كُنّا قَد
فَرَغنَا سَاعَتَنَا هَذه و ذلكَ حِينَ التَّسبِيح
“Kami
dulu telah selesai dari kegiatan ini (shalat Id) pada waktu dimana shalat sunah
sudah dibolehkan.” (HR. Bukhari secara mu’allaq dan Abu Daud dengan sanad
shahih)
Keterangan:
maksud: “waktu dimana shalat sunah sudah dibolehkan”: setelah berlalunya waktu
larangan untuk shalat, yaitu ketika matahari terbit.
Imam
Ibnul Qoyim mengatakan: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakhirkan shalat
Idul Fitri dan menyegerahkan shalat Idul Adha. Sementara Ibnu Umar -orang yang
sangat antusias mengikuti sunah- tidak keluar menuju lapangan sampai matahari
terbit. Beliau melantunkan takbir sejak dari rumah sampai tiba di lapangan.
(Zadul Ma’ad, 1:425)
Syaikh
Abu Bakr al-Jazairi mengatakan: Waktu mulainya shalat Id adalah sejak matahari
naik setinggi tombak sampai tergelincir. Namun yang lebih utama adalah shalat
Idul Adha dilaksanakan di awal waktu, sehingga memungkinkan bagi masyarakat
menyelesaikan sembelihannya dan mengakhirkan pelaksanaan sahalat Idul Fitri,
sehingga memungkinkan bagi masyarakat untuk membagikan zakat fitrinya.
(Minhajul Muslim, hal. 278)
Tempat
Pelaksanaan Shalat Id
1.
Ketika di Mekah
Tempat
pelaksanaan shalat Id di Mekah yang paling afdhal adalah di Masjidil Haram.
Karena semua ulama senantiasa melaksanakan shalat Id di masjidil haram ketika
di makah.
Imam
an-Nawawi mengatakan: …ketika di Mekah, maka masjidil haram paling afdhal
(untuk tempat shalat Id) tanpa ada perselisihan di kalangan ulama. (al-Majmu’
Syarah al-Muhadzab, 5:524)
2.
Di Luar Mekah
Tempat
shalat Id yang sesuai sunah adalah lapangan. Kecuali jika ada halangan seperti
hujan atau halangan lainnya.
Dari
Abu Sa’id al-Khudri,
كَانَ رَسُول الله
-صلى الله عليه وسلم- يَـخْرجُ يَومَ الفِطرِ و الأَضحَى إلَى الـمُصلَّى،
فَأَوَّلُ شَىْءٍ يَبْدَأ بِهِ الصَّلاةُ
Bahwa
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menuju lapangan ketika Idul Fitri dan
Idul Adha. Pertama kali yang beliau lakukan adalah shalat Id. (HR. Bukhari dan
Muslim)
Ibnul
Haj al-Makki mengatakan: …sunah yang berlaku sejak dulu terkait shalat Id
adalah dilaksanakan di lapangan. Karena nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda: “Shalat di masjidku (masjid nabawi) lebih utama dari pada seribu kali
shalat di selain masjidku, kecuali masjidil haram.” meskipun memiliki keutamaan
yang sangat besar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap keluar menuju
lapangan dan meninggalkan masjid. (al-Madkhal, 2:438)
Catatan:
Dianjurkan
bagi imam untuk menunjuk salah seorang agar menjadi imam shalat Id di masjid
bagi orang yang lemah -tidak mampu keluar menuju lapangan-, sebagaimana yang dilakukan
Ali bin Abi Thalib radliallahu ‘anhu, yang diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah.
Adab
Ketika Menuju Lapangan
1.
Berangkat dan pulangnya mengambil jalan yang berbeda
Dari
Jabir bin Abdillah radliallahu ‘anhuma,
إِذا كانَ يَومُ عِيدٍ
خَالَفَ الطَّريقَ
Bahwa
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika hari raya mengambil jalan yang
berbeda (ketika berangdan dan pulang). (HR. Bukhari)
2.
Dianjurkan bagi makmum untuk datang di lapangan lebih awal. Adapun imam,
dianjurkan untuk datang agak akhir sampai waktu shalat dimulai. Karena imam itu
ditunggu bukan menunggu. Demikianlah yang terjadi di zaman Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersama para sahabat
3.
Bertakbir sejak dari rumah hingga tiba di lapangan
Termasuk
sunah, bertakbir di jalan menuju lapangan dengan mengangkat suara. Adapun para
wanita maka dianjurkan tidak mengeraskannya, sehingga tidak didengar laki-laki.
Dalil lainnya:
A.
Riwayat yang shahih dari Ibnu Umar, bahwa beliau mengeraskan bacaan takbir pada
saat Idul Fitri dan Idul Adha ketika menuju lapangan, sampai imam datang. (HR.
ad-Daruquthni dan al-Faryabi dan dishahihkan al-Albani)
B.
Riwayat dari Muhammad bin Ibrahim, bahwa Abu Qotadah radliallahu ‘anhu
berangkat shalat Id dan beliau bertakbir hingga tiba di lapangan. (HR.
al-Faryabi dalam Ahkamul Idain)
4.
Tidak boleh membawa senjata, kecuali terpaksa
Dari
Said bin Jubair, beliau mengatakan: Kami bersama Ibnu Umar, tiba-tiba dia
terkena ujung tombak di bagian telapak kakinya. Maka aku pun turun dari
kendaraan dan banyak orang menjenguknya. Ada orang yang bertanya: Bolehkah kami
tau, siapa yang melukaimu? Ibnu Umar menunjuk orang itu: Kamu yang melukaiku.
Karena kamu membawa senjata di hari yang tidak boleh membawa senjata…(HR.
Bukhari)
Al-Hasan
al-Bashri mengatakan: Mereka dilarang untuk membawa senjata di hari raya,
kecuali jika mereka takut ada musuh. (HR. Bukhari secara mu’allaq)
Wanita
Haid Tetap Berangkat ke Lapangan
Disyariatkan
bagi wanita untuk berangkat menuju lapangan ketika hari raya dengan
memperhatikan adab-adab berikut:
Memakai
jilbab sempurna (hijab)
Dari
Ummu ‘Athiyah radliallahu ‘anha mengatakan:
أمرنا رسول الله -صلى
الله عليه وسلم- أن نخرجهن في الفطر والأضحى: العواتق، والحيض، وذوات الخدور، فأما
الحيض فيعتزلن الصلاة، ويشهدن الخير ودعوة المسلمين
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk mengajak keluar gadis
yang baru baligh, gadis-gadis pingitan, dan orang-orang haid untuk menghadiri
shalat Idul Fitri dan Idul Adha…. Saya bertanya: Ya Rasulullah, ada yang tidak
memiliki jilbab? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hendaknya
saudarinya meminjamkan jilbabnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Syarat
Wanita Berangkat ke Lapangan
Pertama,
Tidak memakai minyak wangi dan pakaian yang mengundang perhatian
Dari
zaid bin Kholid Al Juhani radliallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
لاَ تـمنَــعوا إماءَ
الله الـمسَاجدَ، و ليَخرُجنَ تَفلاَتٍ
“Janganlah
kalian melarang para wanita untuk ke masjid. Dan hendaknya mereka keluar dalam
keadaan tafilaat.” (HR. Ahmad, Abu daud dan dishahihkan al-Albani)
Keterangan:
Makna “tafilaat” : tidak memakai winyak wangi dan tidak menampakkan aurat
Kedua,
Tidak boleh bercampur dengan laki-laki
Ummu
Athiyah mengatakan:
فليكن خلف الناس
يكبرنّ مع الناس
Hendaknya
mereka berjalan di belakang laki-laki dan bertakbir bersama mereka. (HR.
Muslim)
Sunah-sunah
Ketika di Lapangan
1.
Mengeraskan bacaan takbir sampai imam datang (mulai shalat)
Dari
Nafi’,
كان ابنُ عُمر يـخرج
يوم العيد إلى المصلى فيكبر ويرفع صوته حتى يَأتِي الإمام
Bahwa
Ibnu Umar beliau mengeraskan bacaan takbir pada saat Idul Fitri dan Idul Adha
ketika menuju lapangan, sampai imam datang. (HR. ad-Daruquthni dan al-Faryabi
dan dishahihkan al-Albani)
Dari
al-Walid, bahwa beliau bertanya kepada al-Auza’i dan Imam Malik tentang
mengeraskan takbir ketika hari raya. Keduanya menjawab: Ya, boleh. Abdullah bin
Umar mengeraskan takbir ketika Idul Fitri sampai imam keluar. (HR. al-Faryabi)
2.
Tidak ada adzan dan qamat ketika hendak shalat
Dari
Jabir bin samurah radliallahu ‘anhu, beliau mengatakan:
صليت مع رسول الله
-صلى الله عليه وسلم- العيدين غير مرة ولا مرتين بغير أذان ولا إقامة
Saya
shalat hari raya bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beberapa kali,
tidak ada adzan dan qamat. (HR. Muslim)
Ibnu
Abbas dan jabir bin Abdillah mengatakan: Tidak ada adzan ketika Idul Fitri dan
tidak juga Idul Adha. (HR. Bukhari dan Muslim)
3.
Tidak ada shalat sunah qabliyah dan ba’diyah di lapangan
Dari
Ibn abbas,
أَنَّ النَّبِىّ -صلى
الله عليه وسلم- خَرجَ يَومَ الفِطرِ، فَصلَّى رَكعَتَينِ لَـم يُصَلّ قَبلَهَا و
لا بَعدَهَا و مَعَهُ بِلاَلٌ
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju lapangan ketika Idul Fitri, kemudian
shalat dua rakaat. Tidak shalat sunah sebelum maupun sesudahnya. Dan beliau
bersama Bilal. (HR. Bukhari dan al-baihaqi)
Imam
Ibnul Qoyim mengatakan: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maupun para sahabat,
tidaklah melakukan shalat apapun setelah mereka sampai di lapangan. Baik
sebelum shalat Id maupun sesudahnya. (Zadul Ma’ad, 1/425)
Catatan:
1.
Dibolehkan untuk melaksanakan shalat sunah setelah tiba di rumah
Dari
Abu Sa’id al-Khudri, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak
melaksanakan shalat sunah apapun sebelum shalat Id. Setelah pulang ke rumah,
beliau shalat dua rakaat. (HR. Ibn Majah dan dishahihkan Al Albnai)
2.
Orang yang shalat Id di masjid, tetap disyariatkan untuk melaksanakan shalat
tahiyatul masjid, mengingat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
إذا دخل أحدكم المسجد
فلا يجلس حتى يصلي ركعتين
Apabila
kalian masuk masjid maka jangan duduk sampai shalat dua rakaat.”
Demikian
penjelasan Syaikh Abdul Aziz bin Baz (Shalatul idain karya Sa’id al-Qohthoani)
Tata
Cara Shalat Id
Pertama,
sutrah (pembatas shalat) bagi imam
Dari
Ibnu Umar radliallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika
menuju lapangan pada hari raya, beliau perintahkan untuk menancapkan bayonet di
depan beliau, kemudian beliau shalat menghadap ke benda tersebut. (HR. Bukhari)
Kedua,
Shalat id dua rakaat
Umar
bin Khatab mengatakan:
صلاة الجمعة ركعتان،
وصلاة الفطر ركعتان،وصلاة الأضحى ركعتان
“Shalat
Jumat dua rakaat, shalat Idul Fitri dua rakaat, shalat Idul Adha dua rakaat…”
(HR. Ahmad, an-Nasa’i dan dishahihkan al-Albani)
Ketiga,
Shalat dilaksanakan sebelum khutbah
Dari
Ibnu Abbas radliallahu ‘anhuma, beliau mengatakan: Saya mengikuti shalat Id
bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu bakar, Umar, dan Utsman
radliallahu ‘anhum, mereka semua melaksanakan shalat sebelum khhutbah. (HR.
Bukhari dan Muslim)
Keempat,
takbir ketika shalat Id
takbiratul
ihram di rakaat pertama, lalu membaca do’a iftitah, kemudian bertakbir tujuh
kali. Di rakaat kedua, setelah takbir intiqal berdiri dari sujud, kemudian
bertakbir 5 kali
Dari
Aisyah radliallahu ‘anha, bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir
ketika Idul Fitri dan Idul Adha, di rakaat pertama: 7 kali takbir dan lima
kalli takbir di rakaat kedua, selain takbir rukuk di masing-masing rakaat. (HR.
Abu daud dan Ibn Majah dan dishahihkan al-Albani)
Al-Baghawi
mengatakan: Ini adalah pendapat mayoritas ulama dari kalangan shabat maupun
orang-orang setelahnya. Mereka bertakbir ketika shalat Id: di rakaat pertama
tujuh kali selain takbiratul ihram dan di rakaat kedua lima kali selain takbir
bangkit dari sujud. Pendapat ini diriwayatkan dari Abu bakar, Umar, Ali…
radliallahu ‘anhum … (Syarhus Sunah, 4:309. dinukil dari Ahkamul Idain karya
Syaikh Ali Al-halabi)
Kelima,
Mengangkat tangan ketika takbir tambahan
Syaikh
Ali bin Hasan al-Halabi mengatakan: Tidak terdapat riwayat yang shahih dari
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau mengangkat kedua tangan setiap
takbir-takbir shalat Id. (Ahkamul Idain, hal. 20)
Namun
terdapat riwayat dari Ibnu Umar, bahwa beliau mengangkat kedua tangan setiap
takbir tambahan shalat Id. (Zadul Maad, 1/425)
Al-Faryabi
menyebutkan riwayat dari al-Walid bin Muslim, bahwa beliau bertanya kepada Imam
malik tentang mengangkat tangan ketika takbir-takbir tambahan. Imam malik
menjawab: ya, angkatlah kedua tanganmu setiap takbir tambahan…(Riwayat
al-Faryabi dan sanadnya dishahihkan al-Albani)
Keterangan:
Maksud takbir tambahan: takbir 7 kali rakaat pertama dan 5 kali rakaat kedua.
Keenam,
dzikir di sela-sela takbir tambahan
Syaikh
Ali bin Hasan Al halabi mengatakan: Tidak terdapat riwayat yang shahih dari
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang dzikir tertentu di sela-sela takbir
tambahan. (Ahkamul Idain, hal. 21)
Namun
terdapat riwayat yang shahih dari ibn mas’ud radliallahu ‘anhu, beliau
menjelaskan tentang shalat Id:
بين كل تكبيرتين حمد
لله و ثناء على الله
Di
setiap sela-sela takbir tambahan dianjurkan membaca tahmid dan pujian kepada
Allah. (HR. al-Baihaqi dan dishahihkan al-Albani)
Ibnul
Qoyim mengatakan: Disebutkan dari Ibn Mas’ud bahwa beliau menajelaskan: (di
setiap sela-sela takbir, dianjurkan) membaca hamdalah, memuji Allah dan
bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Zadul Maad, 1/425)
Ketujuh,
bacaan ketika shalat
Setelah
selesai takbir tambahan, membaca ta’awudz, membaca Al Fatihah, kemudian membaca
surat dengan kombinasi berikut:
1.
Surat Qaf di rakaat pertama dan surat Al Qamar di rakaat kedua.
2.
Surat Al A’la di rakaat pertama dan surat Al Ghasyiah di rakaat kedua.
Semua
kombinasi tersebut terdapat dalam riwayat Muslim, An nasai dan At Turmudzi
Kedelapan,
tata cara selanjutnya
Tata
cara shalat Id selanjutnya sama dengan shalat lainnya, dan tidak ada perbedaan
sedikit pun (Ahkamul Idain, hal. 22)
Orang
yang Ketinggalan Shalat Id
Orang
yang ketinggalan shalat Id berjamaah maka dia shalat dua rakaat.
Imam
Bukhari mengatakan: Bab, apabila orang ketinggalan shalat Id maka dia shalat
dua rakaat. (shahih Bukhari)
Atha’
bin Abi Rabah mengatakan:
إذا فاته العيد صلى
ركعتين
Apabila
ketinggalan shalat Id maka shalat dua rakaat. (HR. Bukhari)
Adapun
orang yang meninggalkan shalat Id dengan sengaja, maka pendapat yang nampak
dari Syaikhul Islam Ibn taimiyah; dia tidak disyariatkan untuk mengqadla’nya.
(Majmu’ Al fatawa, 24/186)
Khotbah
Shalat Id
Pertama,
dilaksanakan setelah shalat
Dari
Ibnu Umar, bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, abu bakar dan umar
radliallahu ‘anhuma, mereka semua melaksanakan shalat sebelum khutbah. (HR.
Bukhari dan muslim)
Dari
Ibnu Abbas, beliau mengatakan:
شهدت العيد مع رسول
الله -صلى الله عليه وسلم-، وأبي بكر، وعمر، وعثمان رضى الله عنهم، فكلهم كانوا
يصلون قبل الخطبة
Saya
mengikuti shalat Id bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu
bakar, Umar, dan Utsman radliallahu ‘anhum, mereka semua melaksanakan shalat
sebelum khhutbah. (HR. Bukhari dan Muslim)
Kedua,
khotib berdiri menghadap jamaah
dari
Abu sa’id al-Khudri radliallahu ‘anhu, bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
menuju lapangan shalat Idul Fitri dan Idul Adha. Pertama kali yang beliau
lakukan adalah shalat, kemudian beliau berbalik, berdiri menghadap jama’ah.
Sementara para jamaah tetap duduk di barisan-barisan mereka. (HR. Bukhari dan
Muslim)
Ketiga,
imam berkhutbah di tempat yang tinggi tanpa mimbar
Dalam
hadis jabir disebutkan:
قام النبي -صلى الله
عليه وسلم- يوم الفطر، فصلى، فبدأ بالصلاة، ثم خطب، فلما فرغ نزل فأتى النساء
فذكرهن
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ketika Idul Fitri, beliau mulai dengan
shalat kemudian berkhutbah. Setelah selesai beliau turun kemudian mendatangi
jamaah wanita…(HR. Bukhari dan Muslim)
Imam
Bukhari mengatakan: bab, datang di lapangan (hari raya) tanpa membawa mimbar.
(shahih Al bukhari)
Imam
Ibnul Qayim mengatakan: Tidak diragukan, bahwa mimbar tidak dibawa dari masjid
(ke lapangan). Orang yang pertama kali mengeluarkan mimbar ke masjid adalah
Marwan bin Hakam, dan perbuatan beliau diingkari… (Zadul Maad, 1:425)
Keempat,
termasuk sunah: khatib berceramah dengan memegang tongkat atau semacamnya
Dari
Barra bin Azib radliallahu ‘anhu,
أَنَّ النَّبِىَّ -صلى
الله عليه وسلم- نُــووِل يَـــــــوم العيد قَــوساً فَــخَـــطَــب عليه
bahwa
kami memberikan busur panah kepada nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari
raya dan beliau berkhutbah dengan memegangnya. (HR. Abu Dayd dan dishahihkan
al-Albani)
Kelima,
khutbah dimulai dengan membaca tahmid
Imam
Ibnul Qoyim mengatakan: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai semua
khutbahnya dengan membaca tahmid. Dan tidak diriwayatkan dalam satu hadis-pun
bahwa beliau memulai khutbahnya pada dua hari raya dengan melantunkan
takbir…(Zadul Maad, 1:425)
Syaikhul
Islam mengatakan: Tidak diriwayatkan dari nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bahwa beliau memulai khutbahnya dengan selain tahmid, baik khutbah id, khutbah
istisqa’, maupun khutbah lainnya…(Majmu’ al-fatawa, 22/393)
Keenam,
isi khotbah disesuaikan dengan situasi terkini
jika
khutbahnya ketika Idul Adha maka sang khatib mengingatkan tentang Idul Adha dan
rincian hukumnya, mengingatkan keutamaan 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah,
memerintahkan untuk bertakwa dan menjaga ketaatan lainnya. Tidak selayaknya,
kesempatan khutbah ini digunakan untuk mencela pemerintah atau ulama, menuduh
mereka kafir atau fasiq, atau tema-tema khutbah lainnya yang dapat
membangkitkan emosi masyarakat dan memicu kerusuhan.
Keringanan
Untuk Tidak Mengikuti Khotbah
Dari
Abdullah bin saib radliallahu ‘anhu, beliau mengatakan: Saya mengikuti shalat
Id bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, setelah selesai khutbah beliau
bersabda:
إِنَّا نَـخطُب فَمَن
أحَبَّ أَن يَـجلسَ للخُطْبةِ فليَجلِسْ و
مَن أَحَبّ أَن يَذهَب فليَذْهَب
“Saya
akan menyampaikan khutbah. Siapa yang ingin duduk mendengarkan khutbah,
silahkan dia duduk, dan Siapa yang ingin pulang sialahkan pulang.” (HR. Abu
daud, an Nasa’i dan dishahihkan al-Albani)
Ibnul
Qoyim mengatakan: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi keringanan bagi
orang yang mengikuti hari raya untuk duduk mendengarkan khutbah atau
pulang….(Zadul Maad, 1/425).
Larangan
Berpuasa di Hari Raya
Dari
Abu Sa’id al-Khudzri radliallahu ‘anhu,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ
-صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَن صيَام يَومَينِ يَومِ الفِطرِ و يَومِ النَّحرِ
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang puasa pada dua hari: hari Idul Fitri dan
Idul Adha. (HR. Bukhari dan Muslim)
Imam
an-Nawawi mengatakan: “Para ulama telah sepakat tentang haramnya puasa di dua
hari raya sama sekali. Baik puasanya itu puasa nadzar, puasa sunah, puasa
kaffarah, atau puasa yang lainnya. (Syarah Shahih Muslim karya an-Nawawi, 8/15)
Allahu
a’lam.
Ditulis
oleh ustadz Ammi Nur Baits
GRIYA HILFAAZ
Busana Muslim Berkualitas
💈webinfo : www.griyahilfaaz.com
💈IG : @griya_hilfaaz
💈Shopee : @griya_hilfaaz
💈Facebook: @griya_hilfaaz
💈Tokopedia: @griya_hilfaaz
💈Bukalapak: @griya_hilfaaz
![]() |


EmoticonEmoticon