Home
Posts filed under Konsultasi Islam
Showing posts with label Konsultasi Islam. Show all posts
Showing posts with label Konsultasi Islam. Show all posts
Bolehkah Menggabungkan Beberapa Ibadah dalam Satu Niat?
Bolehkah Menggabungkan Beberapa Ibadah dalam Satu Niat?
Dalam kajian para ulama, permasalahan menggabungkan beberapa ibadah dalam satu niat biasa disebut dengan tasyrik fin niyah atau tadakhulun niyah (menggabungkan niat). Hukumnya kembali kepada jenis masing-masing ibadah. Apabila ibadah tersebut termasuk wasail atau ibadah yang saling berkaitan, maka ibadahnya sah, dan kedua ibadah tersebut terhitung telah tertunaikan.
Misalnya, seseorang mandi junub pada hari Jum’at dengan niat mandi junub sekaligus mandi Jum’at. Maka ia dianggap telah bersih dari hadas besar tersebut sekaligus ia memperoleh pahala mandi jum’at.
Lebih mudahnya, dalam mengkaji tema ini, para ulama membagikan ibadah menjadi dua, yaitu:
Pertama: ibadah maqshudah li dzatiha, yaitu ibadah yang berdiri sendiri dan diperintahkan agar dilaksanakan secara khusus, tidak boleh digabungkan atau dijalankan secara bersamaan dengan ibadah lain yang bentuk nash perintahnya sama. Seperti, shalat wajib, puasa wajib, puasa syawal, shalat witir, shalat dhuha, dan seterusnya.
Kedua: ibadah laisa maqsudah li dzatiha, yaitu ibadah yang tidak berdiri sendiri. Tujuan utama disyariatkannya adalah yang penting amalan itu ada di kesempatan tersebut, apapun bentuknya. Seperti puasa senin-kamis, shalat tahiyatul masjid, Shalat Sunnah wudhu dan seterusnya. (Ibnu Utsaimin, Liqa’ al-Bab al-Maftuh, volume: 19, no: 51)
Untuk memahami membedakan antara ibadah yang dikatagorikan maqshudah li dzatiha dan ibadah ghairu maqshudah li dzatihah, semuanya dikembalikan kepada bentuk nash atau dalil yang memerintahkannya. Misalnya tentang shalat tahiyatul masjid, Rasulullah saw bersabda:
إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِسَ
“Jika salah seorang dari kalian masuk masjid, maka hendaklah dia shalat dua rakaat sebelum dia duduk.” (HR. Al-Bukhari-Muslim)
Perintah shalat di atas bersifat umum, tidak diperintahkan secara khusus. Artinya sebelum duduk di dalam masjid kita dianjurkan untuk melakukan shalat dua rakaat, apapun bentuk shalat tersebut. Tidak harus shalat tahiyatul masjid, mungkin bisa saja dengan shalat sunnah rawatib atau sunnah lainnya. Walaupun mengerjakan shalat tahiyatul masjid secara khusus, tetap dihitung lebih utama.
Sedangkan contoh dalil ibadah yang masuk dalam katagori maqsudah li dzatiha adalah seperti perintah melaksanakan shalat dhuha. Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, dia berkata:
أَوْصَانِي خَلِيلِي بِثَلَاثٍ لا أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ : صَوْمِ ثَلاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَصَلاةِ الضُّحَى ، وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ
“Kekasihku (Rasulullah SAW) telah berwasiat kepadaku tentang tiga perkara agar jangan aku tinggalkan hingga mati; Puasa tiga hari setiap bulan, shalat Dhuha dan tidur dalam keadaan sudah melakukan shalat Witir.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Atau anjuran melaksanakan puasa syawal, Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan, lalu diiringi dengan puasa enam hari pada bulan Syawal, maka dia seperti puasa sepanjang tahun.” (HR. Muslim)
Bentuk anjuran dalam hadis tentang Shalat Dhuha atau puasa Syawal di atas, ditujukan secara khusus dan bentuk perintahnya harus dijalankan secara khusus, sehingga sesama ibadah yang masuk dalam katagori ini tidak bisa disatukan dalam satu niat.
Kaidah dalam Menggabungkan dua ibadah dalam satu niat
Jika salah satu dari dua ibadah tersebut tergolong ibadah ghairu maqshudah li dzatiha (tidak diperintahkan secara khusus) sedangkan yang lainnya tergolong ibadah maqshudah bi dzatiha (disyariatkan secara langsung), maka boleh digabung dan hal itu tidak berpengaruh pada ibadah tersebut, seperti shalat tahiyatul masjid digabung dengan shalat fardhu atau shalat sunnah lainnya. Tahiyatul masjid tidak diperintahkan secara langsung (ghairu maqshudah li dzatiha), tapi yang diperintahkan adalah memuliakan masjid dengan melaksanakan shalat, dan hal itu telah terlaksana.
Adapun menggabungkan niat dua ibadah yang dimaksudkan secara dzatnya (maqshudah li dzatiha), seperti shalat dzuhur di gabung dengan shalat rawatib, atau seperti puasa wajib—baik yang langsung maupun qadha’—atau kaffarah ataupun nadzar digabung dengan puasa sunnah seperti puasa enam hari di bulan syawal, maka ibadah tersebut tidak sah. Karena masing-masing ibadah tersebut berdiri sendiri dan diperintahkan secara khusus (maqshudah li dzatiha) sehingga ia tidak bisa digabungkan dengan ibadah yang lain.
Dalam kitab Mausu’ah Fiqhiyah dijelaskan bahwa menggabungkan dua ibadah dalam satu niat, apabila asas perintah dari kedua ibadah tersebut saling berkaitan, seperti mandi jum’at dengan mandi janabah, atau mandi jum’at dengan mandi ketika hendak melaksanakan shalat ‘id, atau salah satu dari ibadah tersebut tidak berdiri sendiri (ghairu maqshudah) seperti tahiyatul masjid dengan shalat fardhu atau dengan sunnah yang lain, maka menggabungkan kedua ibadah tersebut dalam satu niat tidaklah mengapa.
Alasannya, anjuran bersuci itu, antara mandi junub dengan mandi Jumat saling berkaitan. Demikian juga dengan shalat tahiyatul masjid tidak berdiri sendiri atau diperintahkan secara khusus. Namun perintah hanyalah untuk menunaikan shalat sebelum menempatkan diri di dalam masjid, maka boleh digabungkan dengan shalat yang lain.
sedangkan menggabungkan dua bentuk ibadah yang sama-sama diperintahkan secara khusus (maqshudah bi dzatiha) seperti shalat dhuhur dengan shalat rawatib, maka tidak sah menggabungkan dua ibadah tersebut dalam satu niat, karena masing-masing ibadah tersebut berdiri sendiri dan tidak bisa masuk kepada yang lain. karena itu, para ulama pun menetapkan sebuah kaidah sebagai standar umum dalam memahami masalah yang serupa, yaitu:
إِذَا اجْتَمَعَ أَمْرَانِ مِنْ جِنْسٍ وَاحِدٍ وَلَمْ يَخْتَلِف مَقْصُوْدَهُمَا دَخَلَ أَحَدُهُمَا فِي الْأَخَرِ غَالِباً
“Apabila dua perkara yang sejenis dan maksud (tujuannya) tidak berbeda berkumpul jadi satu maka secara umum salah satunya masuk kepada yang lain.” (As-Suyuti, Al-Asybah Wan Nadhair, hal: 126)
Maksudnya apabila dua perkara itu, jenis dan tujuannya sama, maka cukup dengan melakukan salah satunya. Maka dapat dipahami bahwa menggabungkan dua bentuk ibadah dalam satu niat adalah boleh asalkan bentuk dan tujuan daripada ibadah tersebut tidak berbeda, atau salah satu di antara keduanya tergolong ibadah yang tidak berdiri sendiri (ghairu maqshudah li dzatiha) seperti tahiyatul masjid digabungkan dengan shalat sunnah lainnya yang sejenis.
sedangkan bentuk ibadah yang sama-sama masuk dalam katagori maqshudah lid dzatiha, maka tidak boleh digabungkan dalam satu amalan, seperti shalat rawatib dengan shalat fardhu atau puasa wajib dengan puasa syawal. Sebab, masing-masing dari keduanya berdiri sendiri dan tidak boleh disatukan dalam satu amalan. Wallahu a’lam bis shawab!
KIBLAT.NET –
GRIYA HILFAAZ
Busana Muslim Berkualitas
💈webinfo : www.griyahilfaaz.com
💈IG : griyahilfaaz
💈Shopee : griyahilfaaz
💈Facebook: griyahilfaaz
💈Tokopedia: griyahilfaaz
💈Bukalapak: griyahilfaaz
![]() |
![]() |
Khutbah : 3 Wasiat Nabi dalam Habluminallah dan Habluminannas
3 Wasiat Nabi dalam Habluminallah dan
Habluminannas
Pernahkah mendengar istilah Jawami’ul Kalim?
Istilah tersebut memiliki makna: bahasa yang singkat, namun memiliki makna yang
luas dan sangat mendalam. Hal inilah yang sering dijumpai dalam sabda Nabi
Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berikut ini merupakan salah satu hadits
yang Jawami’ul Kalim,
Khutbah : Lima Hal Ini Diperintahkan Bersegera
Lima Hal Ini Diperintahkan Bersegera
Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan kita
kepada takwa. Dan kita diperintahkan untuk bertakwa kepada-Nya sebagaimana
disebutkan dalam ayat,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada
Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati
melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah mengatakan dalam kitab
tafsirnya tentang ayat di atas, “Ini adalah perintah Allah kepada hamba-Nya
yang beriman untuk bertakwa kepada-Nya dengan sebenar-benarnya takwa. Ia
diperintahkan untuk terus bertakwa dan istiqamah hingga maut menjemput. Karena
ingatlah, man ‘aasyaa ‘alasy syai’, maata ‘alaih, artinya siapa yang hidup
dalam suatu keadaan, maka ia akan mati dalam keadaan seperti itu pula.
Khutbah : Pengaruh Dosa dan Maksiat Terhadap Umat
Pengaruh Dosa dan Maksiat
Terhadap Umat
Ibadallah!
Bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Taatlah
kepada-Nya, rasakanlah selalu pengawasan-Nya dan jangan durhaka kepada-Nya.
MAKSIAT adalah lawan dari taat, istiqomah dan
taqwa. Sikap wara’ adalah berhati-hati dari berbuat ma’siat. Perbuatan maksiat
sangat banyak ragam dan macamnya.
Melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah
Subhanahu Wata’ala terhitung sebagai maksiat. Demikian pula meninggalkan
perkara yang diperintah dan diwajibkan oleh Allah juga dianggap sebagai
maksiat. Maka perbuatan dusta, ghibah, mengadu domba, mencuri, berzina, minum
khomer, membunuh jiwa yang diharamkan Allah, sihir, makan riba, makan harta
anak yatim, durhaka kepada kedua orang tua, berjudi dan lain sebagainya semua
itu terhidtung sebagai perbuatan maksiat kepada Allah.
Khutbah : Ancaman Nabi SAW terhadap Pemimpin Zalim dan Para Pendukungnya
Ancaman
Nabi SAW terhadap Pemimpin Zalim dan Para Pendukungnya
Mengatur kemaslahatan umat
merupakan tanggung jawab terbesar seorang pemimpin. Kemakmuran atau
kesengsaraan suatu masyarakat sangat tergantung pada peran yang ia mainkan.
Ketika seorang pemimpin berlaku adil sesuai dengan petunjuk Syariat Islam maka
masyarakat pun akan sejahtera. Demikian sebaliknya, ketika pemimpin tersebut
berlaku zalim dan tidak jujur dalam menjalankan amanahnya maka rakyat pun akan
berujung pada kesengsaraan.
Khutbah Jum’at, Mereka Para Perusak Agama
Khutbah Jum’at, Mereka Para Perusak Agama
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ
Khutbah : Kemenangan Pasti Datang
Kemenangan Pasti Datang
An-Najah.net – Langkah ideal menepis kegundahan. Imam Syafi’i pernah ditanya, “Manakah yang lebih utama bagi seseorang; apakah diberi tamkin (kemenangan) oleh Allah Ta’ala ataukah diberi ujian?”. Beliau menjawab, “Seseorang tidak akan diberi kemenangan oleh Allah ta’ala hingga ia diberi ujian terlebih dahulu.” (Al-Jihad wal Jihad, Syaikh Umar bin Mahmud Abu Umar, hal. 68)
Saudaraku,
ujian demi ujian telah menimpa umat ini. Dari yang ringan di rasa
hingga yang berat sekalipun telah dialami oleh umat ini. Di antara kaum
muslimin ada yang sadar, dan kemudian terbangun dari kelalaian dan
kelengahannya selama ini.
Salah Kaprah
Namun tidak sedikit juga mereka yang memanfaatkan ujian ini untuk meraup keuntungan materi duniawi yang tidak berarti. Dalam benak mereka hidup hanya sekali dan jangan disia-siakan kesempatan emas ini. Maka semakin beratlah beban yang akan dipikul oleh umat ini.
Orang-orang
yang rapuh ruhiyah dan lahiriyah-nya dari tarbiah dan tasfiyah yang
benar akan menganggap ujian sebagai malapetaka yang besar. Hingga
akhirnya mereka lari dari jalan yang selama ini mereka perjuangkan.
Mereka lari dikarenakan tipisnya perasaan teguh dan kecilnya
persangkaan baik kepada Allah Ta’ala.
Adapun
mereka yang berjiwa hanif akan mejadikan ujian sebagai karunia terbesar
dari Allah Ta’ala. Yang dengan ujian-ujian tersebut Allah Ta’ala ingin
mengangkat derajatnya di sisi-Nya. Kekuatan, kecemasan, kelelahan
dakwah dan jihad, ancaman, buronan dan selainnya adalah permata-permata
indah yang menghiasi setiap langkah perjuangannya.
Kerenanya,
setiap ujian yang selama ini kita hadapi merupakan pelajaran berharga
untuk menyusun langkah yang lebih ideal dan mengevaluasi setiap kenerja
‘amal jama’i’ yang sela ini digeluti. Berikut akan kami paparkan
beberapa sikap yang harus kita pegang dengan kuat untuk menghadapi
pasang-surutnya langkah perjuagan ini.
1. Jangan Sampai Niat Bergeser
Niat yang iklas adalah senjata paling ampuh untuk menumbangkan segala kegundahan dan kerisauan. Kerja keras memang butuh penilaian dan penghargaan. Namun karena kurangnya keihklasan, tidak sedikit para pengamban din salah menilai. Banyaknya pendukung dan pengikut dianggap sebuah keberhasilan dan kesuksesan. Dan banyaknya celaan dan cacian dianggap kemuduran dan ketidakberuntungan dalam perjuangan.
Saudaraku,
bukankah Allah Ta’ala telah berfirman, “Dan Katakanlah, Bekerjalah
kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat
pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang
Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada
kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Q.S At-Taubah: 105)
2. Tsiqoh Kepada Allah Ta’ala Dan Rasul-Nya
Saudaraku,
Tsiqoh (teguh keyakinan) kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya merupakan
obat paling ampuh untuk mengobati berbagai macam penyakit yang diderita
oleh umat ini. Baik individunya maupun jamaahnya. Kurangnya rasa
Tsiqoh kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya mengakibatkan umat ini jauh
dari amal-amal islami. Padahal jika umat ini telah jauh dari amal-amal
islami maka umat ini akan mudah untuk dipalingkan dari kebenaran, dan
lebih dari itu sangat mudah untuk dikuasai oleh musuh-musuh mereka.
Rasulullah
pernah bersabda, “Wahai golongan Muhajirin, lima perkara apabila kalian
mendapat cobaan dengannya, dan aku berlindung kepada Allah semoga
kalian tidak mengalaminya:
Pertama,
tidaklah kekejian menyebar di suatu kaum, kemudian mereka melakukannya
dengan terang-terangan kecuali akan tersebar di tengah mereka penyakit
Tha’un dan kelaparan yang belum pernah terjadi terhadap para pendahulu
mereka.
Kedua, tidaklah mereka
mengurangi timbangan dan takaran kecuali mereka akan disiksa dengan
kemarau berkepanjangan dan penguasa yang zhalim.
Ketiga,
tidaklah mereka enggan membayar zakat harta-harta mereka kecuali langit
akan berhenti meneteskan air untuk mereka, kalau bukan karena
hewan-hewan ternak niscaya mereka tidak akan beri hujan.
Keempat,
tidaklah mereka melanggar janji Allah dan Rasul-Nya kecuali Allah akan
kuasakan atas mereka musuh dari luar mereka dan menguasainya.
Kelima,
dan tidaklah pemimpin-pemimpin mereka enggan menjalankan hukum-hukum
Allah dan tidak menganggap lebih baik apa yang diturunkan Allah,
kecuali Allah akan menjadikan rasa takut di antara mereka.” (HR Ibnu
Majah 4009)
Saudaraku, inilah gambaran musibah
yang akan dipikul umat ini lantaran mereka meninggalkan amal-amal
islami, meremehkannya, bahkan tidak sedikit di antara mereka yang
berusaha untuk mengubah dan mengantinya. Wal’iyadzubillah
Maka, benarlah perkataan Umar bin Khattab,
yang
beliau sampaikan kepada para pasukannya bahwa dosa-dosa yang dimiliki
oleh pasukannya jauh lebih ia takuti dari pada jumlah dan kekuatan
musuh-musuh mereka.
3. Amal Shalih
Saudaraku,
amal shalih merupakan sarana mempercepat datangnya pertolongan dan
rahmat Allah Ta’ala. Bila melihat keadaan kaum muslimin pada hari ini
ibarat melihat bebuihan yang ada di lautan. Jumlahnya tidak sama sekali
mengendorkan nyali musuh. Hal ini dikarenakan umat Islam yang telah
jauh meninggalkan amal-amal shalih.
Walaupun ada
di antara mereka yang beramal shalih, namun amal-amal shalih itu
sangatlah sedikit, kalau tidak demikian maka amal-amal shalih itu
sekedar ritual dan rutinitas sehari-hari. Dan sangat sedikit di antara
mereka yang memahainya dengan benar.
Contoh saja, banyak para wanita muslimah yang shalat dan puasa, tapi di sisi lain mereka masih memamerkan aurat dan mengumbar syahwat mereka. Untuk itu, kita jadikan amalan shalih kita sebagai pendobrak keterasingan dan kekalahan umat ini. Karena kita akan dimenangkan oleh Allah Ta’ala bukan karena banyaknya jumlah dan kekuatan kita, malainkan karena kebenaran din ini. Wallahu ‘alam
Penulis: Abdullah
Sumber: Majalah An-Najah edisi 61
Editor: Ibnu Jihad
GRIYA HILFAAZ
Busana Muslim Berkualitas
💈webinfo : www.griyahilfaaz.com
💈IG : @griya_hilfaaz
💈Shopee : @griya_hilfaaz
💈Facebook: @griya_hilfaaz
💈Tokopedia: @griya_hilfaaz
💈Bukalapak: @griya_hilfaaz
![]() |
Khutbah Idul Adha : PENGORBANAN DAN KEBANGKITAN UMAT
Khutbah Idul Adha :
PENGORBANAN DAN KEBANGKITAN UMAT
السلام عليكم ورحمة الله و بركاته
الله أكبر 9 مرات
اْلحَمْدُلِلّهِ نَحْمَدُهُ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ, حَمْدًا يُوَافِى نِعَمَهُ وَ يُكَافِئُ مَزِيْدَهُ , حَمْدًا كَمَا يَنْبَغِي لِجَلاَلِهِ وَ عَظِيْمِ سُلْطَانِهِ وَنَسْتَعِيْنُهُ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ عَلَى الْبِرِّ وَ التَّقْوَي وَنسْتغْفِرُهُ مِنْ جَمِيْعِ الْخَطَايَا وَ الذُّنُوْبِ وَنَعُوْذُبِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلن تجد له وليا مرشدا- أَشْهَدُ أنْ لاَ إلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ- وَأشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ- اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى هذَا الرَّسُوْلِ الْكَرِيْمِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ اللهِ- أُوْصِيْكُمْ وَ نَفْسِى بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ .
الله أكبر 9 مرات
اْلحَمْدُلِلّهِ نَحْمَدُهُ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ, حَمْدًا يُوَافِى نِعَمَهُ وَ يُكَافِئُ مَزِيْدَهُ , حَمْدًا كَمَا يَنْبَغِي لِجَلاَلِهِ وَ عَظِيْمِ سُلْطَانِهِ وَنَسْتَعِيْنُهُ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ عَلَى الْبِرِّ وَ التَّقْوَي وَنسْتغْفِرُهُ مِنْ جَمِيْعِ الْخَطَايَا وَ الذُّنُوْبِ وَنَعُوْذُبِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلن تجد له وليا مرشدا- أَشْهَدُ أنْ لاَ إلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ- وَأشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ- اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى هذَا الرَّسُوْلِ الْكَرِيْمِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ اللهِ- أُوْصِيْكُمْ وَ نَفْسِى بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ .
Ma'asyirol muslimin wal muslimat riimakumullah
Allahu akbar 3x walillaahil hamd
Allahu akbar 3x walillaahil hamd
Tiga Unsur kebangkitan Umat
Ada tiga unsur utama yang diperlukan untuk membangkitkan suatu umat.
Pertama: Risalah,
Kedua: keyakinan terhadap risalah.
Dan ketiga: Orang-orang yang mau berkorban memperjuangkan risalah tersebut.
Bagi umat Islam, risalahnya adalah ajaran-ajaran Islam itu sendiri yang bersumber dari Alquran dan As sunnah. Dengan demikian, tak perlu mencari atau menkodifikasi risalah lain karena Islam sejak lima belas abad yang lalu telah final, dengan arti bahwa ajaran-ajarannya telah sempurna (kamil), mencakup seluruh aspek kehidupan (syamil), dan sesuai bagi semua masa dan bangsa (universal).
Pertama: Risalah,
Kedua: keyakinan terhadap risalah.
Dan ketiga: Orang-orang yang mau berkorban memperjuangkan risalah tersebut.
Bagi umat Islam, risalahnya adalah ajaran-ajaran Islam itu sendiri yang bersumber dari Alquran dan As sunnah. Dengan demikian, tak perlu mencari atau menkodifikasi risalah lain karena Islam sejak lima belas abad yang lalu telah final, dengan arti bahwa ajaran-ajarannya telah sempurna (kamil), mencakup seluruh aspek kehidupan (syamil), dan sesuai bagi semua masa dan bangsa (universal).
Keyakinan semacan ini haruslah mendarah daging pada setiap individu muslim. Keyakinan bahwa hanya Islamlah agama yang mampu menciptakan keadilan dan kesejahteraan dunia. Semakin dalam kayakinan umat terhadap risalahnya ini, semakin besarlah kemungkinan untuk menjadi figur yang berkriteria jempolan.
Kemudian, risalah dan keyakinan terhadap risalah itu saja tidak cukup untuk membuat umat leading. Diperlukan sejumlah orang-orang yang mau berkorban memperjuangkan risalah tersebut. Yaitu berkorban dengan jiwa, harta, waktu, kedudukan dan segala yang dimiliki. Karena pertentangan nilai antara yang haq dan yang batil itu akan senantiasa kontinyu sampai kiamat.
Pengorbanan adalah salah satu asas dalam kebangkitan suatu umat. Kebangkitan umat tidak akan tinggal landas tanpa pengorbanan kaum muslimin.
Kebangkitan umat dan Pengorbanan.
Maa'asyirol mukminin wal mukminat rahimakumullah
Allahu akbar 3x walillahil hamd
Jalan kebangkitan umat Islamiyah, sejak dari Nabi yang pertama hingga
Nabi yang terakhir, tidaklah mulus tapi penuh dengan duri dan
kerikil-kerikil tajam. Dalam Al Qur’an Allah berfirman:
وكذلك جعلنا لكل نبي عدوا شياطين الإنس والجن
وكذلك جعلنا لكل نبي عدوا شياطين الإنس والجن
Dan demikianlah kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu
setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin. (QS. 6;112). Pada
era modern inipun kebangkitan umat tidak terlepas dari rintangan,
karena memang demikianlah tabiat jalannya kebangkitan umat. Hal ini
tiada lain guna menyisihkan yang buruk (munafik) dengan baik (mukmin).
Guna menguji kebenaran kata-kata orang yang mengaku beriman, sebagaimana
firman-Nya:
أحسب الناس أن يتركوا أن يقولوا آمنا وهم لا يفتنون
Apakah kemudian itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan: “Kami telah beriman”,, sedang mereka tidak diuji lagi ?” (QS 29;2).
Apakah kemudian itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan: “Kami telah beriman”,, sedang mereka tidak diuji lagi ?” (QS 29;2).
Setiap orang boleh mengaku bahwa dia adalah seorang muslim dengan hanya mengucapkan kalimah syahadah. Tapi untuk manjadi seorang muslim yang dikehendaki Allah, hal itu tidak cukup. Ia perlu diuji lebih lanjut dengan berbagai ujian. Antara lain dengan taklif (perintah agama dan larangannya) dan dengan pengorbanan. Sejauh ia melaksanakan taklif dan memparsembahkan pengorbanannya demi memperjuangkan risalah, sejauh itu pula kedudukannya dalam Islam.
Kewajiban Berkorban.
Pengorbanan terhadap kebangkitan umat itu tidak mengenal waktu dan
tempat. Setiap muslim wajib berkorban kapan saja dan dimanapun ia
berada. Karena dalam kaedah fiqih: “Ma la yatimmul wajibu ulla bihi
fahuwa wajib “ dengan demikian, orang-orang yang mengelak atau enggan
berkorban demi kebangkitan umat itu berdosa. Allah SWT mengancam mereka
dalam firman-Nya:
قل إن كان آباؤكم وأبنآؤكم وإخوانكم وأزواجكم وعشيرتكم وأموال اقترفتموها وتجارة تخشون كسادها ومساكن ترضونها أحب إليكم من الله ورسوله وجهاد في سبيله فتربصوا حتى يأتي الله بأمره والله لا يهدي القوم الفاسقين
“Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri, istri, kaum
keluargamu, Harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu
khawatir kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai,
adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di
jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan
Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (QS. 9; 24). Dan
sebaliknya, orang-orang yang mempersembahkan sebaik-baik pengorbanan
mereka dengan penuh keikhlasan, akan memperoleh balasan yang berlipat
ganda. Allah SWT menjamin dalam firman-Nya:
إن الله اشترى من المؤمنين أنفسهم وأموالهم بأن لهم الجنة
“sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan
harta mereka dengan memberikan sorga untuk mereka” (QS. 9:111).
Sesungguhnya pengorbanan yang dipersembahkan seseorang itu sekali-kali
tidak akan hilang atau terlupakan. Pengorbanan yang sekecilpun akan
dicatat dengan tinta emas.
Antara pengorbanan dan perjuangan umat
Pada lahirnya, pengorbanan itu identik dengan perjuangan. Keduanya
tidak bisa dipisahkan. Tiada perjuangan tanpa pengorbanan. Dan
pengorbanan merupakan salah satu dasar perjuangan. Keisalaman seseorang
tidak akan sempurna kecuali dengan pengorbanan. Iman yang sesungguhnya
juga menuntut pengorbanan. Allah berfirman:
إنما المؤمنون الذين آمنوا بالله ورسوله ثم لم يرتابوا وجاهدوا بأموالهم وأنفسهم في سبيل الله أولئك هم الصادقون
Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman
kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka
berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah
orang-orang yang benar. (Al hujuraat 15)
Membiasakan Diri Hidup Sederhana.
Maa'asyirol mukminin wal mukminat rahimakumullah
Allahu akbar 3x walillahil hamd
Allahu akbar 3x walillahil hamd
Jalan kebangkitan umat tidaklah lapang dan nyaman, oleh karena itu
orang yang terjun ke medan perjuangan banyak dituntut untuk bersabar,
membiasakan diri hidup sederhana dan mengurangi kesenangan dunia.
Orang yang sudah terbiasa hidup mewah akan merasa berat untuk berjuang di jalan Allah. diantara sebab mengapa mayoritas kaum muslimin kini lebih semangat berkorban untuk kepentingan selain maslahat agama. Karena boleh dikatakan bahwa antara hidup mewah dan agama itu tidak akan pernah bertemu. Bahkan kalau menyimak tentang kehidupan Nabi dan para sahabat dahulu, akan didapat suatu kehidupan yang sangat khas, sederhana dan penuh pengorbanan.
Menjauhi yang haram adalah perjuangan
Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang terdiri dari jutaan sel.
Sel-sel itu terbentuk dari sari makanan yang kita konsumsi setiap hari.
Bila makanan yang kita makan adalah halal maka sel-sel yang terbentuk
dari sari makanan itu akan baik dan mempengaruhi seluruh tubuh kita baik
jasmani, rohani, akal ataupun kejiwaan. Sebaliknya bila makanan itu
berasal dari yang haram maka akan menghasilkan sel-sel tubuh yang haram
yang tidak baik dan akan mempengaruh seluruh aspek kehidupan kita.
Seperti;Ucapannya tidak baik dan kasar, prilakunya menyimpang, sangar
dan prilaku-prilaku serta ucapan lainnya yang membawa dirinya kepada
neraka. Barangkali di sini rahasia makna ucapan Rasulullah :
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ نَبَتَ لَحْمُهُ مِنْ سُحْتٍ النَّارُ أَوْلَى بِهِ
Artinya: Tidak akan masuk surga daging yang tumbuh dari makanan yang
haram, karena neraka lebih berhak atasnya ( H.R Ahmad dan At turmudzi)
Dalam riwayat lain disebutkan;
Dari Jabir bin Abdillah ia berkata telah diriwayatkan kepada kami bahwa rasulullah SAW bersabda: Wahai Ka’b bin ‘Ujroh, aku mohonkan perlindungan untukmu kepada Allah dari kepemimpinan orang-orang bodoh. Ka’ab bertanya: Apakah itu ya Rasulullah? Beliau menjawab: “setelahku akan ada Para penguasa di mana siapa yang masuk kepada mereka dan membenarkan ucapannya serta mendukung kedzoliman mereka maka mereka bukanlah golonganku dan aku tidaka termasuk dalam golongannya dan tidak akan masuk dalam telagaku. Dan barangsiapa yang tidak mau masuk kepada mereka , tidak membenarkan ucapan mereka dan tidak mendukung kedzoliman mereka maka mereka adalah termasuk golonganku dan aku termasuk golongannya serta akan masuk dalam telagaku. Wahai Ka’b bin ‘Ujroh, Sholat adalah taqorrub , puasa adalah benteng, sedekah menghapuskan kesalahan seperti air memadamkan api. Wahai Ka’b bin ‘Ujroh, tidak akan masuk sorga orang yang dagingnya tumbuh dari makanan haram karena neraka lebih dekat dengannya. Wahai Ka’b bin ‘Ujroh, Manusia ada dua kelompok; Satu kelompok menjual dirinya dan membebaskan hambanya dan kelompok lain yang membeli dirinya dan membebaskan hambanya
Menjauhi kesenangan nafsu dengan menjauhi yang haram, adalah
pengorbanan. Orang yang selalu makan yang halal adalah para pejuang
penegak agama Allah di bumi. Di antara keutamaan makan halal adalah:
1. Memakan yang Halal berarti mentaati perintah Allah dan RasulNya
Allah dan rasulNya memerintahkan agar kita senantiasa memakan yang halal dan baik. Dalam Al Quran disebutkan:
يا أيها الذين آمنوا كلوا من طيبات ما رزقناكم واشكروا لله إن كنتم إياه تعبدون
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah.(Al Baqoroh 172)
Dalam ayat lain disebutkan:
Artinya: Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al mu’minun 51)
يا أيها الذين آمنوا كلوا من طيبات ما رزقناكم واشكروا لله إن كنتم إياه تعبدون
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah.(Al Baqoroh 172)
Dalam ayat lain disebutkan:
Artinya: Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al mu’minun 51)
2. Melindungi diri dari neraka
Orang yang memakan makanan halal akan dilindungi dari neraka. Di sana banyak hadits yang menjelaskan hal itu a.l.:
”Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar r.a. ia berkata : adalah seorang di bawah tanggungan Rasulullah saw bernama Kirkiroh, kemudian ia meninggal. Namun Rasulullah saw berkata bahwa ia akan masuk ke neraka. Maka para sahabat pergi memeriksanya, ternyata mereka menemukan sebuah baju jubah hasil tipuan
(Shohih Bukhori hadits no. 2845)(Tuhfatul Ahwadzi hadits no. 1381)
Orang yang memakan makanan halal akan dilindungi dari neraka. Di sana banyak hadits yang menjelaskan hal itu a.l.:
”Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar r.a. ia berkata : adalah seorang di bawah tanggungan Rasulullah saw bernama Kirkiroh, kemudian ia meninggal. Namun Rasulullah saw berkata bahwa ia akan masuk ke neraka. Maka para sahabat pergi memeriksanya, ternyata mereka menemukan sebuah baju jubah hasil tipuan
(Shohih Bukhori hadits no. 2845)(Tuhfatul Ahwadzi hadits no. 1381)
Dalam hadits lain dinyatakan;
“Barangsiapa yang mengambil hak milik orang muslim dengan menggunakan sumpah maka Allah akan mewajibkan untuk masusk neraka dan diharamkan masuk surga. Seorang bertanya: Walaupun barang yang kecil wahai rasulullah? Beliau bersabda: walaupun sepotong kayu arok .
“Barangsiapa yang mengambil hak milik orang muslim dengan menggunakan sumpah maka Allah akan mewajibkan untuk masusk neraka dan diharamkan masuk surga. Seorang bertanya: Walaupun barang yang kecil wahai rasulullah? Beliau bersabda: walaupun sepotong kayu arok .
3. Mendapat keberkahan rizki
Orang yang memakan barang yang halal akan mendapat keberkahan dalam
hiudpnya karena dia atermasuk orang yang bertakwa. Dalam sebuah ayat
disebutkan:
ولو أن أهل القرى آمنوا واتقوا لفتحنا عليهم بركات من السماء والأرض ولكن كذبوا فأخذناهم بما كانوا يكسبونArtinya: Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. ( Al A’rof 96)
ولو أن أهل القرى آمنوا واتقوا لفتحنا عليهم بركات من السماء والأرض ولكن كذبوا فأخذناهم بما كانوا يكسبونArtinya: Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. ( Al A’rof 96)
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa orang yang muttaqin hanyalah
orang yang mau makan halal dan takut terjerumus pada yang haram.:
At turmudzi meriwayatkan dari Athiyyah as sa’di dari Rasulullah saw “seorang hamba tidak akan mencapai derajat muttaqin sehingga ia meninggalkan sesuatu yang halal untuk menghindari sesuatu yang haram. Al Khathobi berkata: Yang saya tidak ragukan bahwa sikap waro’ adalah harus menjauhi yang diragukan. Hal ini ada tiga macam: wajib , mustahab dan makruh. Yang wajib adalah menjauhi sesuatu yang pasti akan melakukan yang haram, Yang mustahab adalah menjauhi bermuamalah dengan orang yang kebanyakan hartanya adalah haram, dan yang makruh adalah menjauhi hal-hal yang diringankan syariah karena berlebihan.
At turmudzi meriwayatkan dari Athiyyah as sa’di dari Rasulullah saw “seorang hamba tidak akan mencapai derajat muttaqin sehingga ia meninggalkan sesuatu yang halal untuk menghindari sesuatu yang haram. Al Khathobi berkata: Yang saya tidak ragukan bahwa sikap waro’ adalah harus menjauhi yang diragukan. Hal ini ada tiga macam: wajib , mustahab dan makruh. Yang wajib adalah menjauhi sesuatu yang pasti akan melakukan yang haram, Yang mustahab adalah menjauhi bermuamalah dengan orang yang kebanyakan hartanya adalah haram, dan yang makruh adalah menjauhi hal-hal yang diringankan syariah karena berlebihan.
Ibnu Umar r.a. berkata : Telah beresabda Rasulullah saw “seorang
mukmin akan berada dalam kelapangan agamanya selama tidak makan makanan
yang haram.
(Kitab Shohih Bukhori hadits nomor 2355, ) (Musnad Ahmad )
(Kitab Shohih Bukhori hadits nomor 2355, ) (Musnad Ahmad )
4. Orang Yang makanannya tidak halal akan masuk neraka.
Dalam sebuah atsar disebutkan : barangsiapa tidak peduli dari mana ia
dapatkan makanannya, maka Allah tidak akan peduli padanya dari pintu
mana ia akan dimasukkan neraka.
5. Orang yang makan halal, dikabulkan doanya:
Allah berfirman dalam S. al Baqoroh ayat 168,
يا أيها الناس كلوا مما في الأرض حلالا طيبا ولا تتبعوا خطوات الشيطان إنه لكم عدو مبين
yang artinya: Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.
يا أيها الناس كلوا مما في الأرض حلالا طيبا ولا تتبعوا خطوات الشيطان إنه لكم عدو مبين
yang artinya: Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.
Ketika ayat ini dibacakan di hadapan Nabi SAW berdirilah seroang
sahabat bernama Sa’d bin Ubay seraya berkata: Wahai Rasulullah,
doakanlah kepada Allah agar menjadikanku sebagai orang yang dikabulkan
doanya. Beliau bersabda: “Makanlah yang baik dan halal pasti dikabulkan
doamu. Demi dzat yang jiwaku berada dalam gengamanNya, seorang yang
memasukkan sekerat daging haram ke dalam perutnya maka tidak akan
diterima amalnya selama empat puluh hari dan barang siapa yang dagingnya
tumbuh dari barang haram dan riba maka neraka lebih utama untuk
membakarnya.
6. Memakan yang halal syarat mencapai hakekat keimanan
Rasulullah saw telah bersabda:” seorang hamba tidak akan mencapai
derajat muttaqin sampai meninggalkan sebagian apa-apa yang halal karena
khawatir tererosok pada yang haram.
Sahal At tustury berkata: “seorang tidak mungkin mencapai hakekat
keimanan sehingga memiliki empat sifat : Melaksanakan semua yang wajib
ditambah dengan yang sunnah, Memakan yang halal dengan penuh waro’,
menjauhi yang diharamkan baik yang lahir ataupun yang batin dan sabar
melaksanakan semuanya sampai mati.
7. Pemakan barang haram, amalnya tidak diterima
Dalam sebuah hadits disebutkan : sesungguhnya Allah memiliki malaikat
di atas baitil Maqdis yang menyeru setiap malam : Barangsiapa yang
memakan yang haram maka tidak diterima amalannya.
Contoh-contoh pengorbanan.
Para sahabat yang memahami kewajiban berkorban adalah contoh terbaik yang pernah dikenal manusia dalam mengorbankan Jiwa, raga, dan harta benda, demi kebangkitan umat dan demi menegakkan Agama Allah di atas bumi: Dengan membaca siroh/riwayat hidup rasulullah dan para sahabatnya, akan kita temukan bukti pengobanan mereka.
Dari Shuhaib r.a berkata: Tatkala aku hendak hijrah dari Mekkah menuju Rasulullah SAW (di Madinah), orang-orang Quraisy berkata kepadaku: wahai Shuhaib, kamu dulu datang kepada kami tanpa harta, lalu kini kamu hendak keluar bersama hartamu, demi Allah, itu tidak boleh terjadi. Maka aku menjawab: apakah jika aku menyerahkan hartaku kepada kalian, kalian akan membiarkan aku pergi mereka berkata: ya. segera aku serahkan hartaku kepada mereka, dan mereka membiarkan aku. Lalu aku berangkat hingga sampai Madinah. Di sana kabar itu sampai kepada Rasulullah SAW, dan beliau bersabda: Shuhaib beruntung Shuhaib beruntung dua kali.
Demikianlah dari dua contoh di atas dapat disaksikan bagaimana para sahabat dahulu mengorbankan harta dan rela meninggalkan kaung halaman yang mereka cintai guna menegakan pilar-pilar kebangkitan umat. Karena apalah artinya harta dan kampung halaman, jika risalah Islam tak bisa ditegakan. Dengan risalah dan pengorbanan, semuanya itu kelak akan kembali jua.
Berkorban dengan kesenangan
Maa'asyirol mukminin wal mukminat rahimakumullah
Allahu akbar 3x walillahil hamd
Allahu akbar 3x walillahil hamd
Al Baihaqi dan Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa Nusaibah binti Ka’ab Al
Anshoriyah setelah kematian ayah, saudara dan suaminya sebagai syuhada’
pada perang Uhud. Ketika diberi kabar tentang hal itu dia berkata:
bagaimana keadaan Rasulullah SAW ? Orang-orang menjawab: Al Hamdulillah
beliau baik, sebagaimana yang engkau harapkan. dia berkata: semua
musibah selain kematianmu adalah kecil (maksudnya: semua musibah itu
remeh asal engkau selamat).
Dari Sulaiman bih Bilal r.a: Bahwa Rasulullah SAW tatkala pergi ke Badar (untuk berperang) Sa’ad bin Khoitsamah dan ayahnya hendak ikut serta pergi bersama beliau. Hal itu dikatakan kepada Rasulullah SAW, maka beliau menyuruh salah satu saja yang ikut pergi. Keduanya lalu mengundi Khoitsamah bin Al Harits berkata kepada anaknya (yaitu) Sa’ad : salah seorang di antara kita harus tinggal. Maka tinggalah engkau bersama istri-istrimu. Sa’ad menjawab: kalau seandainya bukan untuk menggapai sorga pasti aku akan mengalah untukmu, sungguh aku berharap mati syahid di perjuangan ini. Kemudian keduanya mengundi, dan keluarlah nama Sa’ad. Maka segera pergilah dia bersama Rasulullah SAW ke Badar, dan dia dibunuh oleh Amru bin Abdu Wuddin.
Pengorbanan dengan nyawa:
Dari Anas: bahwa Abu Thalhah r.a membaca surat Al Baroah (taubah)
hingga sampai firman Allah: Berangkatlah kamu (berperang) baik dalam
keadaan merasa ringan maupun merasa berat (QS 9: 42) maka dia berkata:
saya tidak melihat Allah melainkan menyuruh kita berangakat berperang,
baik para pemuda maupun orang-orang tua. Hai anak –anakku, persiapkanlah
untukku, mereka berkata: semoga Allah menrahmatimu, engkau telah
berperang bersama Rasulullah hingga beliau wafat, dan bersama Abu Bakar
hingga wafat, serta bersama Umar hingga wafat, biarkanlah kami berperang
mewakilimu. Abu Thalhah berkata: tidak persiapkanlah untukku. kemudian
dia berperang di laut dan meninggal di sana. Orang-orang tidak
mendapatkan daratan untuk menguburkannya kecuali setelah tujuh hari,
maka mereka segera menguburkannya disitu sedang jenasahnya belum berobah
.
Demikianlah contoh-contoh diatas hanyalah sebagaian kecil saja. Masih banyak lagi pengorbanan Nabi dan sahabatnya yang tidak kita rekam disini. Islam telah berhasil menggembleng orang-orang yang berkualitas tinggi. Yaitu orang-orang yang mempertaruhkan jiwa raga, harta benda, kedudukan , waktu dan semua yag dimiliki untuk menegakkan agama Allah.
Demikianlah contoh-contoh diatas hanyalah sebagaian kecil saja. Masih banyak lagi pengorbanan Nabi dan sahabatnya yang tidak kita rekam disini. Islam telah berhasil menggembleng orang-orang yang berkualitas tinggi. Yaitu orang-orang yang mempertaruhkan jiwa raga, harta benda, kedudukan , waktu dan semua yag dimiliki untuk menegakkan agama Allah.
Ya, Islam tidak akan tegak melainkan dengan orang-orang yang berkaliber seperti mereka. Seseorang belum dianggap menegakan agama ini sebelum ia memperjuangkannya dari semua arah dan berkorban dengan semua kemampuanya.
Doa penutup
Marilah kita akhiri khutbah ini dengan memanjatkan doa dan munajat ke hadirat Allah SWT.
اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم وبارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم في العالمين إنك حميد مجيد، اللهم أنت ربنا لا اله إلا أنت سبحانك إنا كنا من الظالمين
اللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنَهُمْ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَاجْعَل فِي قُلُوْبِهِم الإِيْمَانَ وَالْحِكْمَةَ وَثَبِّتْهُمْ عَلَى مِلَّةِ رَسُوْلِكَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ وَأَوْزِعْهُمْ أَنْ يُوْفُوْا بِعَهْدِكَ الَّذِي عَاهَدْتَهُمْ عَلَيْهِ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ إِلهَ الْحَقِّ وَاجْعَلْنَا مِنْهُمْ
اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم وبارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم في العالمين إنك حميد مجيد، اللهم أنت ربنا لا اله إلا أنت سبحانك إنا كنا من الظالمين
اللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنَهُمْ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَاجْعَل فِي قُلُوْبِهِم الإِيْمَانَ وَالْحِكْمَةَ وَثَبِّتْهُمْ عَلَى مِلَّةِ رَسُوْلِكَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ وَأَوْزِعْهُمْ أَنْ يُوْفُوْا بِعَهْدِكَ الَّذِي عَاهَدْتَهُمْ عَلَيْهِ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ إِلهَ الْحَقِّ وَاجْعَلْنَا مِنْهُمْ
Ya Allah, ampunilah kaum mukminin dan mukminat, muslimin dan
muslimat, perbaikilah di antara mereka, lembutkanlah hati mereka dan
jadikanlah hati mereka keimanan dan hikmah, kokohkanlah mereka atas
agama Rasul-Mu SAW, berikanlah mereka agar mampu menunaikan janji yang
telah Engkau buat dengan mereka, menangkan mereka atas musuh-Mu dan
musuh mereka, wahai Ilah yang hak jadikanlah kami termasuk dari mereka.
اللّهمَّ حَبِّبْ إلَيْنَا الإيمَانَ وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوْبِنَا
وَكَرِّهْ إلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْيَانَ وَاجْعَلْنَا
مِنَ الرَّاشِدِيْنَ
Ya Allah, jadikanlah kami mencintai keimanan dan hiasilah keimanan tersebut dalam hati kami. Dan jadikanlah kami membenci kekufuruan, kefasikan dan kemaksiatan dan jadikanlah kami termasuk orang yang mendapat petunjuk.
Ya Allah, jadikanlah kami mencintai keimanan dan hiasilah keimanan tersebut dalam hati kami. Dan jadikanlah kami membenci kekufuruan, kefasikan dan kemaksiatan dan jadikanlah kami termasuk orang yang mendapat petunjuk.
اللهم عذِّبِ الكَفَرَةَ الذين يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِكَ ويُكَذِّبُوْنَ رُسُلَكَ ويُقاتِلُونَ أوْلِيَاءَكََّ
Ya Allah siksalah orang kafir yang menghalangi jalan-Mu, dan mendustai rasul-rasul-Mu, membunuh kekasih-kekasih-Mu..
اللّهمَّ أَعِزَّ الإسْلاَمَ وَالمسلمين وَأَذِلَّ الشِّرْكَ والمشركين وَدَمِّرْ أعْدَاءَ الدِّينِ وَاجْعَلْ دَائِرَةَ السَّوْءِ عَلَيْهِمْ يا ربَّ العالمين
Ya Allah, muliakanlah Islam dan umat Islam, hinakanlah syirik dan orang-orang musyrik, hancurkanlah musuh agama, jadikan keburukan melingkari mereka, wahai Rabb alam semesta. Ya Allah, cerai beraikan persatuan dan kekuatan mereka, siksalah mereka, sesungguhnya Engkau berkuasa atas segala sesuatu, wahai Rabb alam semesta.
اللهم فَرِّقْ جَمْعَهُمْ وَشَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَخُذْهُمْ أَخْذَ عَزِيْزٍ مُقْتَدِرٍ إنَّكَ رَبُّنَا عَلَى كلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٍ يَا رَبَّ العالمين
Ya Allah, cerai beraikan persatuan dan kekuatan mereka, siksalah mereka, sesungguhnya Engkau berkuasa atas segala sesuatu, wahai Rabb alam semesta.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِنا دِينِنا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي وَأَصْلِحْ لِنا دُنْيَاناَ الَّتِي فِيهَا مَعَاشِنا وَأَصْلِحْ لِنا آخِرَتِنا الَّتِي فِيهَا مَعَادِنا وَاجْعَلْ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِنا فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلْ الْمَوْتَ رَاحَةً لِنا مِنْ كُلِّ شَرٍّ
Ya Allah, Perbaikilah untuk kami agama kami, Yang menjadi benteng
segala urusan kami. Perbaikilah urusan dunia kami, Yang di dalamnya
terdapat penghidupan kami
Dan perbaikilah akhirat kami yang akan menjadi tempat kembali kami, Jadikanlah hidup ini wadah bertambahnya segala kebaikan bagi kami, Dan jadikanlah mati sebagai titik henti untuk kami dari segala keburukan
Dan perbaikilah akhirat kami yang akan menjadi tempat kembali kami, Jadikanlah hidup ini wadah bertambahnya segala kebaikan bagi kami, Dan jadikanlah mati sebagai titik henti untuk kami dari segala keburukan
اللَّهُمَّ إِنِّا نَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ وَنَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ وَحُسْنَ عِبَادَتِكَ وَنَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيمًا وَلِسَانًا صَادِقًا وَنَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا تَعْلَمُ
Ya Allah kami memohon kepadaMu keteguhan dalam melaksanakan ajaranMu dan kekuatan tekad untuk menepati jalan petunjuMu
Kami memohon kepadaMu untuk dapat mensyukuri ni'matMu dan beribadah menghambakan diri dengan baik kepadaMu
Kami memohon kepadamu hati yang suci sejahtera dan lisan yang jujur
Kami memohon kepadaMu kebaikan yang Engkau Maha Mengetahuinya
Dan kami berlindung kepadaMu dari kejahatan yang Engkau Maha Mengetahuinya
اللَّهُمَّ إِنّا نَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ اللَّهُمَّ إِنِّا نَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِنا وَدُنْيَاناَ وَأَهْلِنا وَمَالِنا اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْراَتِنا وَآمِنْ رَوْعَاتِنا اللَّهُمَّ احْفَظْنِا مِنْ بَيْنِ أيَدَيناَ وَمِنْ خَلْفِنا وَعَنْ يَمِينِنا وَعَنْ شِمَالِنا وَمِنْ فَوْقِنا ونَعُوذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ نُغْتَالَ مِنْ تَحْتِنا
Ya Allah kami mohon kepadaMu, keampunan dan kesejahteraan bagi agama dan urusan dunia kami, bagi keluarga dan harta kami
Ya Allah tutuplah aib dan cela kami, Dan ubahlah rasa takut kami menjadi rasa aman damai, Peliharalah kami dari depan dan dari belakang kami, Dari Kanan dan dari kiri kami, Dan dari atas kami dan dari bawah kami, Dan kami berlindung di bawah kemahaagunganMu, Dari malapetaka yang ditimpakan kepada kami, Dari arah bawah kami, Ya Allah ampunilah kesalahan kami, ketidaktahuan kami, Dan sikap berlebih lebihan kami dalam urusan kami, Dan hal hal yang engkau lebih tahu dari kami
Ya Allah ampunilah dosa dosa kami yang dilakukan dengan sungguh, Sungguh dan main main, Ketidaksengajaan kami dan kesengajaan kami
اللَّهُمَّ إِنِّا عَبْيدُكَ وَابْناءُ عَبْيدِكَ وَابْناءُ إمائِكَ نَاصِيَتِنا بِيَدِكَ مَاضٍ فِيَّنا حُكْمُكَ عَدْلٌ فِيناَ قَضَاؤُكَ نَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ أَوْ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْوبنا وَنُورَ صَدْورنا وَجِلَاءَ أحُزاْننا وَذَهَابَ همومناِّ
Ya Allah, Kami adalah hamba-hambaMU, anak-anak dari hamba-hambaMu,
ubun-ubun kami di tanganMu, ketentuanMu terlaksana pada diri kami,
keputusanMu sangat adil pada kami, Kami memohon kepadaMu dengan seluruh
asma yang Engkau mliki, yang Engkau namakan diriMu dengan asma itu, dan
Engkau wahyukan asma itu dalam kitabMu atau Engkau ajarkan asma itu
kepada salah seorang hambaMu atau Engkau Khsususkan asma itu untuk
diriMu dalam ilmu ghaib di hadiratMu, kami mohon kepadaMu agar jadikan
Alquran yang agung ini sebagai tanaman yang subur di hati kami, cahaya
terang di dada kami, menjadi penyirna kesedihan kami, dan penghapus
keresahan dan kedukaan kami.
اللَّهُمَّ بِعِلْمِكَ الْغَيْبَ وَقُدْرَتِكَ عَلَى الْخَلْقِ
أَحْيِنِا مَا عَلِمْتَ الْحَيَاةَ خَيْرًا لِنا وَتَوَفَّنِا إِذَا
عَلِمْتَ الْوَفَاةَ خَيْرًا لِنا وَنَسْأَلُكَ خَشْيَتَكَ فِي الْغَيْبِ
وَالشَّهَادَةِ وَكَلِمَةَ الْإِخْلَاصِ فِي الرِّضَا وَالْغَضَبِ
وَنسْأَلُكَ نَعِيمًا لَا يَنْفَدُ وَقُرَّةَ عَيْنٍ لَا تَنْقَطِعُ
وَنَسْأَلُكَ الرِّضَاءَ بِالْقَضَاءِ وَبَرْدَ الْعَيْشِ بَعْدَ الْمَوْتِ
وَلَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ
وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ ضَرَّاءَ مُضِرَّةٍ وَفِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ اللَّهُمَّ
زَيِّنَّا بِزِينَةِ الْإِيمَانِ وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِينَ
Ya Allah Kami mohon kepadaMu rasa takut kepadaMu di saat dilihat
orang ataupun tidak dilihat . Kami memohon kepadaMu ucapan hak di saat
marah dan di saat hati lega. Aku memohon kepadaMu keni'matan yang tiada
habis-habisnya dan kesenangan batin yang tiada putus-putusnya. Kami
memohon ridlo setelah datang keputusnMu dan rasa kesejukan hidup
ssetelah mati. Dan kami memohon kepadaMu kelezatan memandang wajahMu
yang Mulia dan kerinduan untuk berjumpa dengan Mu dengan tanpa mengalami
kesengsaraan yang memudlorotkan dan tanpa mengalami ujian yang
mengakibatkan kesesatan. Yaa Allah Hiasilah kami dengan hiasan iman dan
jadikanlah kami pembawa petunjuk jalan yang berjalan di naungan
hidayahMu
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Wahai Tuhan kami, Karuniakan kepada kami Kebaikan di dunia Dan di akhirat, Dan peliharalah kami Dari adzab api neraka
Wahai Tuhan kami, Karuniakan kepada kami Kebaikan di dunia Dan di akhirat, Dan peliharalah kami Dari adzab api neraka
وصَلِّ اللهمَّ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ سيدِنا مُحَمّدٍ وعلى آلِهِ وصَحْبِهِ وَسلّم والحمدُ للهِ
و السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
(ACHMAD SATORI ISMAIL)
IKADI KEC NGUTER KAB SUKOHARJO
☘Sekretariat : Jl Raya Solo Wng Km 22 Sukoharjo
☘Butuh Khatib Dai Wilayah Nguter Sukoharjo 📞 081-2261-7316
Gabung channel telegram.me/ikadi_nguter
💈webinfo : www.ceramahsingkat.com
💈IG : @ikadi_nguter
💈Telegram : @ikadi_nguter
💈Fb.: Tausiyah Singkat
Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Kec. Nguter Kab. Sukoharjo
Menebar Islam Rahmatan Lil 'Alamin
![]() |
| GRIYA HILFAAZ Toko Busana Keluarga Muslim |
Khutbah : Memetik Buah Taqwa
Memetik Buah Taqwa
Islam dengan ajarannya yang indah mengajarkan bahwa perbedaan hakiki
manusia tidak berada pada kedudukan, jabatan, pangkat, kekayaan dan
lainnya. Manusia dibedakan dengan kadar dan bobot nilai mereka di mata
Allah. Perbedaan antar manusia di dalam Islam terletak pada sejauh mana
manusia mampu mengoptimalkan kadar ruhaninya untuk mendekat pada
Tuhannya. Perbedaan manusia dan kemuliaan manusia ditentukan oleh nilai
dan kadar taqwanya yang bergolak dalam dadanya. (QS. Al-Hujurat: 13)
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Said Al-Khudhari
disebutkan, Hendaknya kamu bertaqwa sebab ia adalah kumpulan segala
kebaikan, dan hendaknya engkau berjihad karena ia sikap kependetaan
seorang muslim, dan hendaknya engkau selalu berdzikir menyebut nama
Allah karena dia cahaya bagimu (HR. Ibnu Dharis dari Abu Said
Al-Khudhari).
Taqwa adalah kumpulan semua kebaikan yang hakikatnya merupakan
tindakan seseorang untuk melindungi dirinya dari hukuman Allah dengan
ketundukan total kepada-Nya. Asal-usul taqwa adalah menjaga dari
kemusyrikan, dosa dan kejahatan dan hal-hal yang meragukan (syubhat).
Seruan Allah pada surat Ali Imran ayat 102 yang berbunyi, “Bertaqwalah kamu sekalian dengan sebenar-benarnya taqwa dan janganlah kamu sekali-kali mati kecuali dalam keadaan muslim”, bermakna bahwa Allah harus dipatuhi dan tidak ditentang, diingat dan tidak dilupakan, disyukuri dan tidak dikufuri.
Taqwa adalah bentuk peribadatan kepada Allah seakan-akan kita melihat-Nya dan jika kita tidak melihat-Nya maka ketahuilah bahwa Dia melihat kita. Taqwa adalah tidak terus menerus melakukan maksiat dan tidak terpedaya dengan ketaatan. Taqwa kepada Allah adalah jika dalam pandangan Allah seseorang selalu berada dalam keadaan tidak melakukan apa yang dilarang-Nya, dan Dia melihatnya selalu melakukan kebaikan. Menurut Sayyid Quth dalam tafsirnya—Fi Zhilal al-Qur`an—taqwa adalah kepekaan hati, kehalusan perasaan, rasa khawatir yang terus menerus dan hati-hati terhadap semua duri kehidupan.
Saat Umar ra bertanya kepada Ubay bin Ka’ab apakah taqwa itu? Dia menjawab; “Pernahkah kamu melalui jalan berduri?” Umar menjawab; “Pernah!” Ubay menyambung, “Lalu apa yang kamu lakukan?” Umar menjawab; “Aku berhati-hati, waspada dan penuh keseriusan.” Maka Ubay berkata; “Maka demikian pulalah taqwa!”
Demikian banyak ayat Al-Qur`an yang menyerukan kita untuk bertaqwa dalam bingkai taqwa yang sebenarnya, dalam kadar taqwa yang semestinya, dalam bobot taqwa yang mampu kita lakukan. Lihat umpamanya (QS. Al-Ahzab : 70) dan (QS. At-Taubah : 119).
Dalam hadits juga sangat banyak seruan agar taqwa menjadi penghias perilaku kita dan menjadi mutiara batin kita. Seperti sabda Rasulullah, :
اتق الله حيثما كنت واتبع السيئة الحسنة تمحها وخالق الناس بخلق حسن (رواه الترمذي وأحمد و الدارمي)
“Bertaqwalah kamu kepada Allah, dimanapun kamu berada, dan ikutilah
keburukan itu dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapus
keburukan itu. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik”
(HR. Tirmidzi, Ahmad dan Ad-Darimi).
Ciri Manusia Taqwa
Seseorang akan disebut bertaqwa jika memiliki beberapa ciri. Dia
seorang yang melakukan rukun Iman dan Islam, menepati janji, jujur
kepada Allah, dirinya dan manusia dan menjaga amanah. Dia mencintai
saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri. Manusia taqwa adalah
sosok yang tidak pernah menyakiti dan tidak zhalim pada sesama, berlaku
adil di waktu marah dan ridha, bertaubat dan selalu beristighfar kepada
Allah. Manusia taqwa adalah manusia yang mengagungkan syiar-syiar Allah,
sabar dalam kesempitan dan penderitaan, beramar ma’ruf dan bernahi
munkar, tidak peduli pada celaan orang-orang yang suka mencela, menjauhi
syubhat, mampu meredam hawa nafsu yang menggelincirkan dari shiratal
mustaqim. Itulah diantara ciri-ciri sosok manusia taqwa itu.
Agar seseorang bisa mencapai taqwa diperlukan saran-sarana. Dia harus merasa selalu berada dalam pengawasan Allah, memperbanyak dzikir, memiliki rasa takut dan harap kepada Allah. Komitmen pada agama Allah. Meneladani perilaku para salafus saleh, memperdalam dan memperluas ilmu pengetahuannya sebab hanya orang berilmulah yang akan senantiasa takut kepada Allah (QS. Fathir: 28). Agar seseorang bertaqwa dia harus selalu berteman dengan orang-orang yang baik, menjauhi pergaulan yang tidak sehat dan kotor. Sahabat yang baik laksana penjual minyak wangi dimanapun kita dekat maka akan terasa wanginya dan teman jahat laksana tukang besi, jika membakar pasti kita kena kotoran abunya (HR. Bukhari).
Membaca Al-Qur`an dengan penuh perenungan dan mengambil ‘ibrah juga merupakan sarana yang tak kalah pentingnya untuk mendaki tangga-tangga menuju puncak taqwa. Instrospeksi, menghayati keagungan Allah, berdoa dengan khusyu’ adalah sarana lain yang bisa mengantarkan kita ke gerbang taqwa. Pakaian dan makanan kita yang halal dan thayyib serta membunuh angan yang jahat juga sarana yang demikian dahsyat yang akan membawa kita menuju singgasana taqwa.
Buah Taqwa
Manusia dengan ciri dan karakterisrik di atas akan memetik buah ranum
dan manisnya taqwa. Bukan hanya individual sifatnya namun masyarakat
juga akan menikmatinya.
Manusia taqwa akan mendapatkan mahabbah Allah (Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaqwa, (QS. At-Taubah: 4), Allah akan selalu bersama langkah dan pikirnya (Sesungguhnya Allah selalu bersama orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan (QS. An-Nahl; 128), mendapat manfaat dari apa yang dibaca di dalam Al-Qur`an (QS. Al-Baqarah; 2), lepas dari gangguan syetan –“sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa apabila ditimpa was-was dari syetan, mereka ingat kepada Allah maka seketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya” (QS. Al-A’raf: 35), diterima amal-amalnya (QS. Al-Maidah: 27), mendapatkan kemudahan setelah kesulitan dan mendapat jalan keluar setelah kesempitan (QS. Ath-Thalaq: 2 dan 4).
Manusia taqwa akan memiliki firasat yang tajam, mata hati yang peka dan sensitif sehingga dengan mudah mampu membedakan mana yang hak dan mana pula yang batil.
(QS. Al-Anfaal : 29). Mata hati manusia taqwa adalah mata hati yang bersih yang tidak terkotori dosa-dosa dan maksiat, karenanya akan gampang baginya untuk masuk surga yang memiliki luas seluas langit dan bumi yang Allah peruntukkan untuk orang-orang yang bertaqwa (QS. Ali Imran: 133 dan Al-Baqarah: 211).
Taqwa yang terhimpun dalam individu-individu ini akan melahirkan keamanan dalam masyarakat. Masyarakat akan merasa tenteram dengan kehadiran mereka. Sebaliknya pupusnya taqwa akan menimbulkan sisi negatif yang demikian parah dan melelahkan. Umat ini akan lemah dan selalu dilemahkan, akan menyebar penyakit moral dan penyakit hati. Kezhaliman akan merajalela, adzab akan banyak menimpa. Masyarakat akan terampas rasa aman dan kenikmatan hidupnya. Masyarakat akan terenggut keadilannya, masyarakat akan hilang hak-haknya.
Semakin taqwa seseorang -baik dalam tataran individu, sosial, politik, budaya, ekonomi- maka akan lahir pula keamanan dan ketenteraman, akan semakin marak keadilan, akan semakin menyebar kedamaian. Taqwa akan melahirkan individu dan masyarakat yang memiliki kepekaaan Ilahi yang memantulkan sifat-sifat Rabbani dan insani pada dirinya.
Samson Rahman, MA
☘Sekretariat : Jl Raya Solo Wng Km 22 Sukoharjo
☘Butuh Khatib Dai Wilayah Nguter Sukoharjo 📞 081-2261-7316
Gabung channel telegram.me/ikadi_nguter
💈webinfo : www.ceramahsingkat.com
💈IG : @ikadi_nguter
💈Telegram : @ikadi_nguter
💈Fb.: Tausiyah Singkat
Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Kec. Nguter Kab. Sukoharjo
Menebar Islam Rahmatan Lil 'Alamin
![]() |
| GRIYA HILFAAZ Toko Busana Keluarga Muslim |
Subscribe to:
Posts (Atom)











