Showing posts with label Kultum. Show all posts
Showing posts with label Kultum. Show all posts

Kembalikan Iman Di Tahun Baru


KEMBALIKAN IMAN DI TAHUN BARU

Sadarkah kita bahwa ketika tahun berganti itu artinya usia kita telah bertambah dan disaat itu semakin banyak hal yang akan kita pertanggung jawabkan di hadapan Allah SWT. Kita punya segunung amanat yang kita pikul di pundak kita. Amanat sebagai orang tua, amanat sebagai anak, amanat sebagai Ustadz, amanat sebagai pejabat, amanat sebagai orang kaya, dan masih banyak lagi status dan gelar yang kita sandang yang semua itu sebenarnya adalah amanat.

Akhir tahun adalah saat saat yang seharusnya dihadapi dengan sebuah evaluasi, introspeksi dan sadar diri akan masa-masa yang telah lalu. Perubahan apa yang kita alami selama ini. Semakin baikkah kita atau semakin kita terpuruk dan lupa diri? Apakah kita semakin kenal kepada Allah dan Rasul-Nya? Atau semakin terpedaya kita dengan hawa nafsu kita? Betapa banyak kita telah lewati umur untuk hal hal yang tidak berguna. Alangkah seringnya kita melanggar larangan Allah dan Rasul-Nya.

Sadarkah kita yang telah butakan mata hati dari yang haq, kita tulikan telinga kita dari kebenaran, kita terpesona oleh tahta dan harta. Kita jerumuskan putra putri kita pada sarana sarana kehancuran dan kebobrokan moral dari media informasi dan hiburan yang tidak kita kontrol. Dan masih banyak hal lagi dengan aneka ragam kesalahan yang kita lakukan.

Jadikanlah tahun baru hijriyah adalah tahun introspeksi, tahun perubahan, tahun mengagungkan syi'ar Islam, tahun memupuk kebanggaan dan kekaguman pada Islam, tahun memperbaharui jalinan dan cinta kita kepada Rasulullah SAW dengan harapan kelak kita bisa dibangkitkan lalu dikumpulkan di surga bersama Rasulullah SAW. (Buya Yahya)




GRIYA HILFAAZ
Busana Muslim Berkualitas
💈webinfo : www.griyahilfaaz.com
💈IG : griyahilfaaz
💈Shopee : griyahilfaaz
💈Facebook: griyahilfaaz
💈Tokopedia: griyahilfaaz
💈Bukalapak: griyahilfaaz



Toko Busana Keluarga Muslim

SHOPCARTSHOPCARTSHOPCART
SHOPCARTSHOPCARTSHOPCART

Benarkah Puasa Rajab Itu Bid'ah |


Benarkah Puasa Rajab Itu Bid'ah | Buya Yahya Menjawab


Assalamualaikum wr. wb.
Buya saya pernah mendengar sebagian orang, mereka berkata kalo puasa di bulan rajab itu bid'ah? apakah benar seperti itu Buya? mohon penjelasannya.

Wa'alaikumussalam wr. wb.
Bulan Rajab adalah Bulan Harom yang dimuliakan Allah SWT. Puasa adalah sebaik - baik ibadah yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Kapan saja, kecuali 5 hari yang dilarang. Hari yang dilarang adalah 2 hari Raya dan 3 hari Tasyriq. Selain dari itu secara umum disunnahkan kita memperbanyak puasa.

Adapun bulan Rajab adalah bulan mulia yang juga boleh kita berpuasa di dalamnya, bahkan sangat di anjurkan seperti disebutkan dalam hadits shohih riwayat Abu Daud juz 2 hal. 322 petunjuk Rasulullah untuk Abi Mujibah Al-Bahili seorang yang sangat rajin berpuasa agar berpuasa di bulan Harom dengan sabdanya “Berpuasalah di bulan harom”. ringkasnya puasa di bulan Rajab adalah sangat dianjurkan dan ini adalah yang di kukuhkan oleh para ulama 4 Madzhab. Adapun hadits-hadits tentang keutamaan puasa bulan Rajab yang sering di bawa oleh sebagian orang banyak hadits hadits palsu yang tidak boleh di hadirkan.

Kesimpulannya puasa bulan Rajab bukanlah bid’ah, akan tetapi sunnah, justru yang membidahkan itulah ahli bid’ah.
Untuk kesempurnaan jawaban ini, ada risalah kami yang berjudul "Kontroversi Hukum Puasa Rojab: Sunnah atau Bid'ah?"

Wallohu a’lam Bishshowab.


GRIYA HILFAAZ
Busana Muslim Berkualitas
💈webinfo : www.griyahilfaaz.com
💈IG : griyahilfaaz
💈Shopee : griyahilfaaz
💈Facebook: griyahilfaaz
💈Tokopedia: griyahilfaaz
💈Bukalapak: griyahilfaaz



Toko Busana Keluarga Muslim

SHOPCARTSHOPCARTSHOPCART
SHOPCARTSHOPCARTSHOPCART

Memaknai Tahun Baru Islam Tahun Hijriah



TAHUN BARU HIJRIAH.

Di masa pemerintahan Amirul-mukminin Umar Bin Khatab, beliau mengumpulkan kaum muslimin untuk diajak konsultasi tentang  dari manakah penanggalan itu dimulai ?

Ada yang berpendapat : Dimulai dari tanggal kelahiran Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-.

Khutbah : Gelora Amar Ma’ruf Nahi Munkar




Gelora Amar Ma’ruf Nahi Munkar


كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…” (QS. Ali Imran: 110)
Hadirin rahimakumullah…
Salah satu tolok ukur baiknya sebuah umat atau bangsa menurut Al-Qur’an adalah tegaknya fungsi kontrol; atau dalam bahasa agama disebut amar ma’ruf nahi munkar.

Khutbah : Mu’min yang Sebenarnya


Mu’min yang Sebenarnya


“يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يَجْتَمِعُونَ فِي الْمَسَاجِدِ، لَيْسَ فِيهِمْ مُؤْمِنٌ “.

“Akan datang kepada manusia suatu zaman, mereka berkumpul di masjid-masjid, dan tidak ada diantara mereka itu yang betul-betul beriman.” (HR. Al-Hakim, isnadnya shahih).
Hadirin rahimakumullah…hadits ini menjadi tadzkirah (peringatan) bagi kita yang hidup di akhir zaman agar selalu memeriksa kondisi keimanan. Hadits ini menegaskan pula bahwa keimanan yang benar itu tidaklah berhenti pada apa yang nampak secara lahir; seperti mengerjakan shalat, berkumpul di masjid, membaca dzikir, berthalabul ilmi, dll. Ia pun tidak berhenti pada pengakuan dan apa yang diucapkan oleh lisan.

Khutbah : Jangan Kufur Nikmat!




Jangan Kufur Nikmat!

 

Hadirin rahimakumullah…
Pada 17 Agustus 1945 M, Soekarno – Hatta atas nama bangsa Indonesia memprolamasikan kemerdekaan Indonesia setelah lebih kurang 350 tahun lamanya hidup terjajah; sejak tahun 1602 dimana VOC sebuah perusahaan dagang Belanda melakukan monopoli perdagangan dan aktivitas kolonial; dilanjutkan dengan sistem tanam paksa (cultuurstelsel) yang diterapkan oleh pemerintah Belanda sejak tahun 1830; hingga penjajahan Jepang yang berakhir tahun 1945.

Khutbah : Sekelumit Kisah di Hari Penghakiman



Sekelumit Kisah di Hari Penghakiman

 

Hadirin rahimakumullah…
Dalam hadits Nabi[1] shalallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, disebutkan bahwa golongan manusia yang pertama kali akan dihakimi pada hari kiamat adalah:

Khutbah : Sekeluarga Menuju Surga




Sekeluarga Menuju Surga

Kaum muslimin rahimakumullah…
Saya awali khutbah ini dengan satu pertanyaan, inginkah Anda masuk surga bersama istri dan anak-anak Anda? Saya yakin, tidak ada seorangpun di antara kita yang tidak menginginkannya. Kita pasti sangat merindukan dan mencita-citakannya.
Di dalam Al-Qur’an surat Ar-Ra’du ayat 20 – 24, Allah tabaraka wa ta’ala telah menyebutkan ciri orang-orang yang layak dimasukkan ke dalam surga-Nya bersama orang tua, istri, dan anak-anaknya.

Khutbah : Pernikahan dalam Bingkai Ibadah



Pernikahan dalam Bingkai Ibadah

Hadirin rahimakumullah…dan kedua mempelai yang berbahagia, perkenankanlah saya menyampaikan nasihat kepada Anda semua…
Bingkai Ibadah
Pertama-tama saya mengingatkan, bahwa tugas utama manusia di muka bumi ini adalah beribadah kepada Allah Ta’ala semata. Maka, seluruh gerak langkah hidup kita hendaknya tidak keluar dari bingkai tugas utama ini.

Khutbah : Mas’uliyah Seorang Ayah Kepada Anaknya




Mas’uliyah Seorang Ayah Kepada Anaknya


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At-Tahrim, 66: 6)
Hadirin Rahimakumullah…
Ayat ini mengingatkan kita, khususnya sebagai seorang Ayah, bahwa kita memiliki mas’uliyah (tanggung jawab) yang berat di hadapan Allah Ta’ala.  Yakni tanggung jawab untuk menjaga diri dan keluarga dari siksa api neraka. Menjaga diri, istri dan anak-anak kita agar tidak menjadi bahan bakar api neraka, na’udzubillahi min dzalik.

Khutbah : Mari Mengindahkan Shalat




Mari Mengindahkan Shalat


الم (١) ذَلِكَ الْكِتَابُ لا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ (٢) الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (٣

 “Alif laam miin. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (Q.S. Al-Baqarah: 1 – 3)
Hadirin rahimakumullah…

Khutbah : Najwa yang Baik





Najwa yang Baik

 

 


لا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلاحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

 “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Maka barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (Q.S. An-Nisa: 114)

Khutbah : Ayo Perbanyak Istighfar!





Ayo Perbanyak Istighfar!

 

Tidak ada seorang pun di antara kita yang tidak menghendaki kesejahteraan. Setiap kita pasti selalu mengharapkan agar kehidupannya penuh keberkahan, memiliki harta yang cukup, rizki yang melimpah serta dijauhkan dari rasa gundah dan kesempitan hidup.
Jawaban atas semua harapan itu diantaranya ada pada istighfar. Siapa saja yang hari-harinya dipenuhi dengan istighfar maka ia akan memperoleh kesejahteraan dari Allah Rabbul ‘Alamin…
Hal ini tergambar dalam seruan Nabi Nuh ‘alaihissalam kepada umatnya yang dimuat di dalam Al-Qur’an,

Khutbah : Islam Agama yang Syamil





Islam Agama yang Syamil

 

Hadirin rahimakumullah…
Allah SWT berfirman,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu.” (Q.S. Al-Maidah: 3)
Ayat ini menegaskan bahwa Allah Ta’ala telah menyempurnakan syari’at agama-Nya. Maka cukuplah bagi kita menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman dalam kehidupan.
Salah satu bukti kesempurnaan ajaran Islam adalah karakternya yang mencakup seluruh aspek kebajikan dalam kehidupan. Islam mengajarkan dan menghargai segala bentuk amal shalih; serta menempatkannya secara proporsional. Islam tidak mengajarkan sikap juz’iyyah (parsial) dalam memahami dan mengamalkan ajaran agama. Islam tidak menghendaki sikap mengagung-agungkan sebuah amalan seraya meremehkan amalan yang lainnya.
Islam menghargai amalan jihad fi sabilillah; menghargai amalan shaum, shalat, dan shadaqah; sebagaimana Islam juga menghargai amalan mencari nafkah; menghargai amalan menegakkan ishlah (perdamaian); menghargai amalan amar ma’ruf nahi munkar; menghargai amalan ‘kecil’menyingkirkan gangguan di jalan.
Hadirin rahimakumullah…

Khutbah : 3 Wasiat Nabi dalam Habluminallah dan Habluminannas


3 Wasiat Nabi dalam Habluminallah dan Habluminannas


Pernahkah mendengar istilah Jawami’ul Kalim? Istilah tersebut memiliki makna: bahasa yang singkat, namun memiliki makna yang luas dan sangat mendalam. Hal inilah yang sering dijumpai dalam sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berikut ini merupakan salah satu hadits yang Jawami’ul Kalim,

Khutbah : Lima Hal Ini Diperintahkan Bersegera


Lima Hal Ini Diperintahkan Bersegera


Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan kita kepada takwa. Dan kita diperintahkan untuk bertakwa kepada-Nya sebagaimana disebutkan dalam ayat,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102)

Syaikh As-Sa’di rahimahullah mengatakan dalam kitab tafsirnya tentang ayat di atas, “Ini adalah perintah Allah kepada hamba-Nya yang beriman untuk bertakwa kepada-Nya dengan sebenar-benarnya takwa. Ia diperintahkan untuk terus bertakwa dan istiqamah hingga maut menjemput. Karena ingatlah, man ‘aasyaa ‘alasy syai’, maata ‘alaih, artinya siapa yang hidup dalam suatu keadaan, maka ia akan mati dalam keadaan seperti itu pula.

Khutbah : Pengaruh Dosa dan Maksiat Terhadap Umat



Pengaruh Dosa dan Maksiat Terhadap Umat


Ibadallah! Bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Taala. Taatlah kepada-Nya, rasakanlah selalu pengawasan-Nya dan jangan durhaka kepada-Nya.

MAKSIAT adalah lawan dari taat, istiqomah dan taqwa. Sikap wara’ adalah berhati-hati dari berbuat ma’siat. Perbuatan maksiat sangat banyak ragam dan macamnya.
Melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah Subhanahu Wata’ala terhitung sebagai maksiat. Demikian pula meninggalkan perkara yang diperintah dan diwajibkan oleh Allah juga dianggap sebagai maksiat. Maka perbuatan dusta, ghibah, mengadu domba, mencuri, berzina, minum khomer, membunuh jiwa yang diharamkan Allah, sihir, makan riba, makan harta anak yatim, durhaka kepada kedua orang tua, berjudi dan lain sebagainya semua itu terhidtung sebagai perbuatan maksiat kepada Allah.

Khutbah : Ancaman Nabi SAW terhadap Pemimpin Zalim dan Para Pendukungnya



Ancaman Nabi SAW terhadap Pemimpin Zalim dan Para Pendukungnya

Mengatur kemaslahatan umat merupakan tanggung jawab terbesar seorang pemimpin. Kemakmuran atau kesengsaraan suatu masyarakat sangat tergantung pada peran yang ia mainkan. Ketika seorang pemimpin berlaku adil sesuai dengan petunjuk Syariat Islam maka masyarakat pun akan sejahtera. Demikian sebaliknya, ketika pemimpin tersebut berlaku zalim dan tidak jujur dalam menjalankan amanahnya maka rakyat pun akan berujung pada kesengsaraan.

Khutbah : Perbuatan Curang, Faktor dan Dampaknya


Perbuatan Curang, Faktor dan Dampaknya

Perbuatan curang dan khianat adalah fenomena negatif yang telah sangat akut dalam perilaku masyarakat kita dewasa ini. Hingga bagi sebagian orang yang lemah jiwanya dan ‘murah’ harga dirinya, perbuatan curang telah menjadi kebiasaan yang seolah bukan lagi dianggap perbuatan dosa. Hampir dalam semua bentuk interaksi yang dilakukan oleh mereka dengan orang lain, selalu saja dibumbui dengan kecurangan, kebohongan dan khianat. Padahal, jangankan agama, seluruh manusia yang lurus fitrahnya pun, mengatakan bahwa perbuatan itu jelas buruk dan tidak terpuji. Tentu perkara curang ini amatlah berat, mengingat terjemahan kata ‘thafif’ atau ‘muthaffif’ sendiri melingkupi kecurangan dalam jumlah yang sangat kecil sekalipun, “Sesungguhnya pelakunya disebut muthaffif karena dia nyaris tidak mencuri dari takaran dan timbangan kecuali hanya amat sedikit dan ringan.” ( Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 19, 250; As-Samarqandi, Bahr al-‘Ulum, vol. 3, 556)

Khutbah : Lima Golongan yang Dikhawatirkan Su’ul Khatimah


Lima Golongan yang Dikhawatirkan Su’ul Khatimah


    قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالأخْسَرِينَ أَعْمَالاً . الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا
“Katakanlah ‘Apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?’ Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan ini, padahal mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al-Kahfi: 103-104)
Allamah Sayyid Abdullah bin Alawi A-Haddad dalam kitabnya berjudul Sabîlul Iddikâr wal I’tibâr bimâ Yamurru bil Insân wa Yanqadli Lahu minal A’mâr (Dar Al-Hawi, Cet. II, 1998, hal. 56) menjelaskan tentang lima golongan orang yang dikhawatirkan meninggal dunia dalam keadaan su’ul khatimah sebagai berikut: