Pahala Terbaik dalam Berinteraksi dengan Al Qur'an
Bismillah wal
Hamdulillah
Sebagaimana kita
ketahui bahwa saat umat islam terpuruk sekali baik dalam bidang apapun. Baik
ekonomi, sosial, teknologi dan pengetahuan dan lain sebagainya. . Sejarah membuktikan bahwa kejayaan Islam pada
masa dahulu jaman nabi saw, sahabat dan beberapa generasi dibelakangnya, Allah
memuliakan sekali umat islam karena mereka dekat dengan Al Qur'an. Sejarah juga membuktikan bahwa keruntuhan
kejayaan Islam disebabkan jauhnya Ummat Islam dari Al Qur’an. Menjadikan Al Qur’an
sebagai pedoman akan membawa kepada kemuliaan, sedangkan meninggalkannya akan
mengakibatkan kehinaan.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,
إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ
بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ
“Sesungguhnya Allah mengangkat sebagian kaum berkat kitab ini
(al-Quran), dan Allah menghinakan kaum yang lain, juga karena al-Quran.” (HR.
Ahmad 237 & Muslim 1934)
Ulama terkemuka
Palestina Syaikh Dr. Abdur Rahman Yusuf Al-Jamal mengatakan, umat Islam akan
kembali berjaya menata peradaban dunia dengan pengamalan Al-Quran.
“Jika umat Islam
meninggalkan Al-Quran, maka yang terjadi adalah umat hanya akan menjadi
pengekor kebudayaan Barat yang jauh dari Al-Quran,”
Mungkin saja umat
islam sekarang yang berlomba-lomba mengkhatamkan al quran, atau berlomba-lomba
memperindah suara bacaan al qur'an, akan tetapi apakah itu cukup? Ibarat sebuah
dokter memberi resep obat pada kita, kita hanya membaca berulang ulang tanpa
berniat menebus resep tersebut, atau meminum obat yang diresepkan tentu
penyakit kita tidak sembuh.
Manakah Pahala Terbaik dalam Membaca Al Qur'an?
Dalam menghitung
keuntungan dunia, bolehlah kita menggunakan matematika dunia pakai rumus dalil,
akan tetapi bila kita menghitung pahala, maka kita harus menggunakan dalil atau
rumus agama.
Contoh dalam amalan
berinteraksi dalam al qur'an ada beberapa amalan yang ditawarkan oleh nabi.
1.
Qiro'ah (Membaca)
Membaca tanpa dituntut memahami artinya. Tentu membaca
disini adalah membaca dengan benar sesuai dengan kaidah membaca al qur'an
(tajwid, makhroj dan tartil). Pahala membaca dengan benar walau sedikit lebih
baik daripada membaca dengan banyak tapi salah. Nabi SAW mencontohkan bahwa di
bulan Ramadhan dia mengkhatamanya serta diperdengarkan kepada malaikat Jibril
as. Ini merupakan contoh agar kita membaca dengan baik dan benar. Maka marilah
kita terus belajar tahsin, tasmi' agar bacaan kita menjadi lebih baik.
Dari
Ummul Mu`minin ‘Aisyah radhiallahu ‘anha berkata, bahwa Rasulullah shalallahu
‘alaihi wasallam bersabda :
الَّذِي
يَقْرَأُ القُرْآنَ وَهُوَ مَاهِرٌ بِهِ مَعَ السَّفَرَةِ الكِرَامِ البَرَرَةِ،
وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ
أجْرَانِ
“Yang
membaca Al-Qur`an dan dia mahir membacanya, dia bersama para malaikat yang
mulia. Sedangkan yang membaca Al-Qur`an namun dia tidak tepat dalam membacanya
dan mengalami kesulitan, maka baginya dua pahala.” [Al-Bukhari 4937, Muslim
244]
Orang
yang mahir membaca Al-Qur`an adalah orang yang bagus dan tepat bacaannya.
Adapun
orang yang tidak tepat dalam membacanya dan mengalami kesulitan, maka baginya
dua pahala : pertama, pahala tilawah, dan kedua, pahala atas kecapaian dia
belajar, mengulang dan kesulitan yang ia alami.
Abu
Musa Al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu berkata, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi
wasallam bersabda :
مَثَلُ
الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ مَثَلُ الأُتْرُجَّةِ : رِيحُهَا طَيِّبٌ
وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ ، وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ القُرْآنَ
كَمَثَلِ التَّمْرَةِ : لاَ رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ ، وَمَثلُ المُنَافِقِ
الَّذِي يقرأ القرآنَ كَمَثلِ الرَّيحانَةِ : ريحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ ،
وَمَثَلُ المُنَافِقِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ القُرْآنَ كَمَثلِ الحَنْظَلَةِ :
لَيْسَ لَهَا رِيحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ)) متفقٌ عَلَيْهِ .
“Perumpaan
seorang mu`min yang rajin membaca Al-Qur`an adalah seperti buah Al-Atrujah :
aromanya wangi dan rasanya enak. Perumpamaan seorang mu`min yang tidak membaca
Al-Qur`an adalah seperti buah tamr (kurma) : tidak ada aromanya namun rasanya
manis.
Perumpamaan
seorang munafiq namun ia rajin membaca Al-Qur`an adalah seperti buah Raihanah :
aromanya wangi namun rasanya pahit. Sedangkan perumpaan seorang munafiq yang
tidak rajin membaca Al-Qur`an adalah seperti buah Hanzhalah : tidak memiliki
aroma dan rasanya pun pahit.” [Al-Bukhari 5427, Muslim 797]
2. Tilawah (Baca Qur'an dengan Makna)
Bagi
orang yang sudah bagus dan benar bacaannya, nabi Muhammad saw mengajarkan kita
untuk bertilawah. Dari seorang sahabat, yakni Abdurrahman as-Sulami, kita
mendapatkan informasi tentang metode para sahabat Nabi. Seperti apakah caranya?
Dari
Abi Abdurrahman as-Sulami, ia berkata, “Para pembaca Alquran –semisal Utsman
bin Affan, Abdullah bin Mas’ud, dll- bercerita kepada kami bahwa mereka belajar
dari Rasulullah saw 10 ayat. Mereka tidak menambahnya sampai memahami makna
kandungannya dan mengamalkannya. Mereka berkata, ‘Kami mempelajari Alquran;
memahaminya, sekaligus mempraktikkannya’. Walaupun sahabat Nabi adalah
orang-orang yang imannya paling kuat dan paling dekat dengan Nabi Muhammad saw,
mereka tidaklah terburu-buru dalam belajar Alquran. Para sahabat Nabi hanya
belajar Alquran dengan cara belajar tiap 10 ayat. Dalam beberapa riwayat cuma 5
ayat.
Ini
berbeda dengan cara kita belajar Alquran. Kadang-kadang, kita merasa sebagai
orang yang paling hebat di muka bumi. Karena kita sangat semangat belajar
Alquran, akhirnya kita belajar Alquran sekaligus banyak. Bisa jadi di antara
kita ada yang langsung belajar 20 ayat, 30 ayat, atau bahkan 1 surat Alquran
langsung yang bisa berisi puluhan sampai ratusan ayat.
Apakah
pahala orang tilawah dengan belajar sedikit sedikit tentang al quran lebih
sedikit dibanding yang sering mengkhatamkan al Qur'an? Belum tentu...mari kita
lihat hadits berikut.
Sabda
Nabi SAW,
مَا
مِنْ قَوْمٍ يَجْتَمِعُونَ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
يَقْرَءُونَ وَيَتَعَلَّمُونَ كِتَابَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ يَتَدَارَسُونَهُ
بَيْنَهُمْ إِلَّا حَفَّتْ بِهِمْ الْمَلَائِكَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ
وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ
“Tidak
ada satu kaum yang sedang membaca, mempelajari, dan mendiskusikan kitab Allah,
kecuali para malaikat akan menaungi mereka, dan rahmat Allah akan tercurah
kepadanya, dan sakinah (kedamaian) akan turun di atasnya, dan Allah akan
sebutkan mereka pada makhluk yang ada di sisi-Nya.” (Ahmad dari Abu Hurairah).
Allah
memberikan tiga hal bagi yang tilawah
1.
Malaikat berkerumun, dan apabila malaikat berkerumun maka dia akan mendoakan
ampun atau mengaminkan doa pembaca al qur'an
2.
Allah memberi mereka rahmat
3.
Allah memberi sakinah/ketenangan bagi pembacanya yang berusaha memahami
artinya.
4.
Allah sanjung mereka sampai selesai belajar.
Mari
kita biasakan dalam keluarga kita halaqah halaqah tilawah membaca dan memahami
al qur'an. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
وَإِنَّ
فَضْلَ الْعَالِمِ على الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ على
سَائِرِ الْكَوَاكِبِ
“Sesungguhnya
keutamaan seorang yang berilmu dibanding ahli ibadah, seperti keutamaan bulan
di malam purnama dibanding seluruh bintang- bintang.” (HR. Abu Dawud no.3641,
Ibnu Majah no.223, dari hadits Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu).
3. Tahfidz (Menghapal Qur'an)
Ini
pahala teragung, karena selain dia membaca, mengulang-ngulang terus sampai
hapal dan menjaganya serta berusaha memahami.
Dari
Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
يُقَالُ
لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِى
الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا
Ditawarkan
kepada penghafal al-Quran, “Baca dan naiklah ke tingkat berikutnya. Baca dengan
tartil sebagaimana dulu kamu mentartilkan al-Quran ketika di dunia. Karena
kedudukanmu di surga setingkat dengan banyaknya ayat yang kamu hafal.” (HR. Abu
Daud 1466, Turmudzi 3162 dan dishahihkan al-Albani)
Dari
Buraidah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
من
قرأ القرآن وتعلَّم وعمل به أُلبس والداه يوم القيامة تاجاً من نور ضوؤه مثل ضوء
الشمس ، ويكسى والداه حلتين لا تقوم لهما الدنيا فيقولان : بم كسينا هذا ؟ فيقال :
بأخذ ولدكما القرآن
Siapa
yang menghafal al-Quran, mengkajinya dan mengamalkannya, maka Allah akan
memberikan mahkota bagi kedua orang tuanya dari cahaya yang terangnya seperti
matahari. Dan kedua orang tuanya akan diberi dua pakaian yang tidak bisa
dinilai dengan dunia. Kemudian kedua orang tuanya bertanya, “Mengapa saya
sampai diberi pakaian semacam ini?” Lalu disampaikan kepadanya, “Disebabkan
anakmu telah mengamalkan al-Quran.” (HR. Hakim 1/756 dan dihasankan al-Abani).
Tentu buah dari semua interaksi diatas adalah pengamalan
dalam kehidupan sehari-hari.
Mohon maaf bila ada kesalahan, yang benar datangnya dari
Allah SWT.
والله تعالى أعلم
بالصواب
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
Disarikan
dari ceramah ust. Abdus Somad
Abu Ikmal.
Tangerang,
27 Oktober 2016
Related search :

EmoticonEmoticon