Khotbah Idul Fitri 1437:
Ramadhan, Idul Fitri dan Anti Kezaliman
Oleh Ust. Miftahul Ihsan,
Lc.
إِنَّ الْحَمْدَ لِلّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللّهِ مِنْ شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللّهُ فَلَا مُضِلَّ
لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللّهُ
وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
أَمَّا بَعْدُ.
فَإِنَّ خَيْرَ الْكَلاَمِ كَلاَمُ اللّهِ وَخَيْرَ
الْهَدْيِ هُدَي مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ
الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ
ضَلاَلةَ ٌوَكُلَّ ضَلاَلةٍ فِي النَّارِ .
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ ﴿102﴾ ) آل عمران .
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي
خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا
رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ
وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا ﴿1﴾ ) النساء .
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ
وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ﴿70﴾
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ
اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا ﴿71﴾ ) الأحزاب .
اَللّهُ أَكْبَرُ، اَللّهُ أَكْبَرُ اَللّهُ أَكْبَرُ
لاَ إِلهَ إِلاَّ اللّهُ، وَاللّهُ أَكْبَرُ اَللّهُ أَكْبَرُ وَلِلّهِ الْحَمْدُ
اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا
وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا اللَّهُ أَكْبَرُ وَلَا نَعْبُدُ إلَّا
اللَّهَ مُخْلِصِينَ له الدَّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ لَا إلَهَ إلَّا
اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ
وَحْدَهُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ
Jamaah shalat Idul Fitri
yang dirahmati Allah SWT
Sebulan penuh kita
berpuasa, mengisi hari-hari kita dengan membaca Al-Quran. Tingkat kedermawanan
kita semakin tinggi, malam-malam kita penuhi dengan lantunan zikir dan
qiyamullail. Sementara di siang hari kita menyibukkan diri dengan memperbanyak
doa dan ibadah. Setelah semua itu, ada pertanyaan-pertanyaan yang menggelayut
di pikiran kita semua.
Apakah puasa kita
bernilai ketaatan di sisi Allah atau malah hanya bernilai haus dan dahaga saja?
Sebagaimana di sebutkan dalam hadits :
رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ حَظٌّ مِنْ صَوْمِهِ إِلَّا
الْجُوعُ وَالْعَطَشُ
“Berapa banyak orang yang
berpuasa, tidak ada nilai dari puasanya melainkan hanya rasa lapar dan haus
semata.” (HR An-Nasai dan Ibnu Majah)
Apakah tilawah kita
mendapat balasan pahala yang berlipat-lipat dari Allah SWT yang setiap hurufnya
dilipatgandakan menjadi sepuluh, bahkan bisa berlipat-lipat ganda yang membuat
hati kita semakin lembut? Atau hanya menyangkut di tenggorokan kita tanpa masuk
ke dalam hati kita?
Apakah sedekah dan zakat
kita telah benar-benar mensucikan harta dan jiwa kita atau hanya sebatas ajang
ikut-ikutan dan pamer semata?
Apakah qiyamullail kita
mampu membuat air mata kita mencair setelah selama ini mengeras karena
seringnya hati kita terpaut dunia atau hanya bernilai bergadang semata?
Sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits :
رُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلاَّ
السَّهْرُ
“Berapa banyak orang yang
melakukan qiyamullail tapi tidak ada nilai qiyamullailnya melainkan hanya
begadang semata.” (HR An Nasai dan Ibnu Majah)
Jawaban dari
pertanyaan-pertanyaan di atas menggambarkan kualitas Ramadhan kita. Meminjam
istilah Al-Quran, jawaban dari pertanyaan di atas menunjukkan tingkat ketakwaan
yang telah kita capai setelah kita memasuki madrasah Ramadhan. Karena, jika
kita telah lulus dari madrasah Ramadhan maka akan memberikan efek positif bagi
kehidupan beragama kita.
Sesungguhnya amalan
ketaatan itu saling memanggil. Shalat kita akan memanggil shalat-shalat
lainnya. Puasa kita akan memanggil puasa lainnya. Sedekah kita di Ramadhan akan
memanggil kita bersedekah di bulan lainnya. Qiyamullail kita di Ramadhan akan
memanggil qiyamullail di luar bulan Ramadhan. Zikir kita akan mengundang
zikir-zikir berikutnya. Dan begitu seterusnya. Amalan ketaatan akan
mendatangkan ketaatan berikutnya. Dan sebaliknya, kemaksiatan akan memanggil
maksiat lainnya.
Jamaah shalat Idul Fitri
yang dirahmati Allah SWT
Taqwa adalah jalan surga.
Pertanyaan besarnya adalah, sudahkah selama menjalankan rangkaian amalan
ketaatan di bulan ramadhan menjadikan kita hamba-hamba yang bertakwa? Di antara
indikasi bertambahnya ketakwaan adalah menjauhi segala bentuk kezaliman.
Rasulullah SAW bersabda
di dalam hadits Qudsi :
يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي
وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلَا تَظَالَمُوا.
“Wahai hamba-Ku,
Sesungguhnya Aku (Allah) mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku jadikan
kezaliman tersebut haram bagi kalian. Maka dari itu Janganlah kalian saling
menzalimi.” (HR Muslim)
Hadits Qudsi di atas
menjelaskan bahwa kezaliman adalah hal yang terlarang. Baik bagi Allah maupun
bagi hamba-Nya. Menanggapi hadits di atas Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,
“Hadits ini mengandung kaedah-kaedah yang agung di dalam din ini. Baik masalah
ilmu, amal, ushul dan furu’…” beliau melanjutkan, “Sedangkan di kalimat kedua
yaitu firman Allah di dalam hadits Qudsi (dan Aku jadikan kezaliman itu
terlarang bagi kalian maka dari itu janganlah kalian saling menzalimi) mencakup
seluruh aspek din ini. Karena segala sesuatu yang dilarang Allah adalah
kezaliman dan sebaliknya segala sesuatu yang diperintahkan Allah adalah
keadilan.” (Majmu Fatawa 18/157)
Perkataan Ibnu Taimiyah
di atas memperlihatkan korelasi yang kuat antara ketakwaan dan kezaliman.
Menjauhi kezaliman adalah setengah dari ketakwaan. Karena sebagaimana yang kita
ketahui bersama bahwa takwa itu adalah mengerjakan segala perintah dan menjauhi
segala bentuk larangan Allah.
Jamaah shalat Idul Fitri
yang dirahmati Allah SWT.
Di dalam hadits lain
diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah bahwasanya Rasulullah SAW bersabda :
اتَّقُوْا الظُلْمَ؛ فإنَّ الظُلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ
القِيَامَة
“Takutlah kalian terhadap
kezaliman, karena kezaliman nantinya akan menyebabkan kegelapan pada hari
kiamat.” (HR Muslim)
Mengomentari hadits di
atas Ibnul Qayyim Al Jauziyah berkata, “Subhanallah, saat seorang zalim
bergelimang kenikmatan, berapa banyak air mata para janda mengalir karenanya,
berapa banyak hati anak yatim terbakar olehnya dan berapa banyak air mata fakir
miskin mengalir disebabkan karena kezalimannya.” (Badaiul Fawaid 3/762)
Di dalam Al-Quran banyak
sekali ayat yang berbicara tentang kezaliman, di antara ayat-ayat tersebut ada
beberapa yang menyebutkan dampak dan akibat dari kezaliman.
Allah SWT berfirman :
إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
“Sesungguhnya Allah tidak
memberi petunjuk kepada orang-orang zalim.” (QS Al Maidah : 51)
Jelas di dalam ayat di
atas diterangkan bahwa orang-orang yang berbuat zalim akan jauh dari petunjuk
Allah. Maka, niscaya tidak ada tempat kembali bagi orang-orang yang berbuat
zalim, kecuali menyudahi perbuatan zalim dan bertobat kepada Allah SWT. Karena
jika ia terus berbuat zalim, ke mana lagi petunjuk hendak dia cari? Adakah
petunjuk yang mampu menyelamatkannya selain petunjuk Allah?
Selain dijauhkan dari
petunjuk Allah, kezaliman juga akan menyebabkan pelakunya mendapat laknat dari
Allah SWT, Allah SWT berfirman :
يَوْمَ لَا يَنفَعُ الظَّالِمِينَ مَعْذِرَتُهُمْ ۖ
وَلَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ
“Pada hari itu (hari
kiamat) tidak akan bermanfaat lagi permintaan maaf para pelaku kezaliman. Bagi
mereka laknat dan mereka mendapatkan tempat tinggal yang buruk.” (QS Ghafir :
52)
Ayat di atas disebutkan
tiga hukuman bagi pelaku zalim jika dia tidak bertobat dari kezaliman yang dia
lakukan. Pertama adalah tiada bermanfaat permintaan maafnya, kedua baginya
laknat, yaitu dijauhkan dari rahmat Allah. Ketiga mendapat tempat tinggal yang
buruk.
Sementara di dalam ayat
lain disebutkan bahwa orang-orang yang berbuat zalim akan dijauhkan dari
syafaat. Allah SWT berfirman :
وَأَنذِرْهُمْ يَوْمَ الْآزِفَةِ إِذِ الْقُلُوبُ لَدَى
الْحَنَاجِرِ كَاظِمِينَ ۚ مَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ حَمِيمٍ وَلَا شَفِيعٍ يُطَاعُ
“Dan peringatkanlah mereka
akan hari yang dekat (hari kiamat) di mana hati-hati (menyesak) sampai di
kerongkongan menahan kesedihan. Dan orang-orang yang zalim tidak memiliki teman
setia dan pemberi syafaat yang dapat diterima syafaatnya.” (QS Ghafir : 18)
Di dalam haditsnya Rasulullah
SAW bersabda, “Ada dua kelompok dari umatku yang tidak akan mendapatkan
syafaatku. Seorang pemimpin yang banyak berbuat zalim dan setiap orang yang
berbuat ghuluw dan keluar dari agama.” (HR Thabrani di dalam Mu’jamul Kabir)
Jamaah shalat Idul Fitri
yang dirahmati Allah SWT
Di antara dampak
kezaliman berikutnya adalah kezaliman seringkali mendatangkan azab dan musibah.
Allah SWT berfirman :
فَكَأَيِّن مِّن قَرْيَةٍ أَهْلَكْنَاهَا وَهِيَ
ظَالِمَةٌ فَهِيَ خَاوِيَةٌ على عُرُوشِهَا وَبِئْرٍ مُّعَطَّلَةٍ وَقَصْرٍ
مَّشِيدٍ
“Berapa banyak kota yang
telah Kami (Allah) binasakan karena (penduduknya) berbuat zalim. Sehingga
runtuh bangunan-bangunannya dan (betapa banyak pula) sumur yang telah
ditinggalkan dan istana yang tinggi (yang telah ditinggalkan penghuninya).” (QS
Al Hajj : 45)
Di dalam ayat lain Allah
SWT berfirman :
وَكَذَٰلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَىٰ
وَهِيَ ظَالِمَةٌ ۚ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ
“Begitulah siksa Rabb-mu
apabila Dia menyiksa (penduduk) negeri-negeri yang berbuat zalim. Sungguh
siksa-Nya sangat pedih lagi sangat berat.” (QS Hud : 102)
Lihatlah bangsa Tsamud
mereka adalah kaum yang ingkar kepada perintah Nabi Shalih yang mengajak mereka
untuk menyembah Allah. Bahkan saat Allah mendatangkan unta sebagai tanda kenabian
Nabi Shalih mereka justru membunuh unta tersebut. Mereka justru menantang Allah
untuk menyegerakan azab. Kemudian Allah timpakan kepada mereka gempa yang
membuat mereka mati bergelimpangan.
Lihatlah Kaum ‘Ad yang
mengingkari nabi Hud. Bahkan mereka menuduh Nabi Hud sebagai orang yang kurang
waras dan mengira Nabi Hud adalah seorang pendusta. Kemudian Allah
menghancurkan mereka karena kezaliman mereka.
Lihatlah kaumnya Nabi
Luth. Mereka melakukan sebuah dosa yang tidak pernah dilakukan oleh orang-orang
sebelum mereka. Mereka adalah penyuka sesama jenis. Lelaki mereka lebih
berhasrat kepada sesama lelaki. Kemudian Allah timpakan azab kepada mereka
karena kezaliman mereka.
Pernah suatu ketika kota
Madinah dilanda gempa bumi. Kemudian Umar mengumpulkan manusia dan berkhotbah
di hadapan rakyatnya, menanyakan apa yang telah mereka perbuat. Dan masih
banyak lagi kisah-kisah musibah dan azab yang Allah timpakan kepada kaum-kaum
yang berbuat zalim.
Oleh karena itu, marilah
kita berhati-hati dari kezaliman yang kita lakukan terhadap orang lain. Jika
kita sebagai kepala keluarga, maka hati-hatilah terhadap kezaliman yang kita
lakukan kepada istri-istri dan anak-anak kita. Jika kita sebagai lurah, maka
hati-hatilah terhadap kezaliman yang kita lakukan kepada warga kita. Jika kita
seorang guru maka hati-hatilah terhadap kezaliman yang kita lakukan kepada
murid-murid kita. Jika kita seorang ustadz dan pendakwah hati-hatilah kezaliman
yang kita lakukan kepada umat. Jika kita sebagai orang yang berpunya,
hati-hatilah kezaliman yang kita lakukan terhadap orang tak berpunya. Karena
setiap kezaliman yang kita lakukan nantinya akan dimintai pertanggungan jawab
di sisi Allah kelak.
Jamaah shalat Idul Fitri
yang dirahmati Allah SWT
Allahu Akbar, Allahu
Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd
Terkait dengan kezaliman
ada dua hal yang harus dilakukan seorang muslim. Yang pertama adalah berusaha
sekuat tenaga untuk tidak melakukan kezaliman. Yang kedua seorang muslim
dituntut untuk mencegah dan menuntaskan kezaliman yang terjadi. Di dalam sebuah
haditsnya Rasulullah SAW bersabda :
اُنْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا قَالُوا يَا
رَسُولَ اللَّهِ هَذَا نَنْصُرُهُ مَظْلُومًا فَكَيْفَ نَنْصُرُهُ ظَالِمًا قَالَ
تَأْخُذُ فَوْقَ يَدَيْهِ.
“Bantulah saudaramu baik
yang terzalimi maupun yang berbuat zalim.” Para sahabat bertanya, “Yang ini
jelas, kami membantunya dalam keadaan terzalimi, lantas bagaimana kami membantu
orang yang berbuat zalim?”. Rasul berkata, “Kamu cegah dia dari berbuat zalim.”
(HR Bukhari)
Mengomentari di atas
Syaikh Bin Baz berkata, “Membantu orang yang terzalimi jelas. Akan tetapi
membantu orang yang berbuat zalim yaitu dengan mencegahnya berbuat zalim,
inilah bentuk pertolongan kepada mereka. Jika ada seseorang yang ingin
menzalimi orang lain, maka katakan kepadanya, berhentilah (dari berbuat zalim).
Jika ada orang yang ingin mengambil harta orang lain maka cegah dia, inilah
bentuk bantuan kepadanya. Hal ini dilakukan jika engkau memiliki kemampuan
mencegahnya.”
Jika kezaliman tersebar
di sebuah masyarakat tanpa ada yang mengingkarinya maka tunggulah datangnya
azab dari Allah SWT. Bukankah Allah berfirman:
وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَّا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا
مِنكُمْ خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
“Dan Takutlah akan
musibah yang tidak hanya menimpa pelaku kezaliman saja. Ketahuilah sesungguhnya
Allah amat pedih azabnya.” (QS Al Anfal : 25)
Mengomentari ayat di atas
guru Syaikh Utsaimin, Syaikh Nashiruddin As Sa’di berkata, “Bahkan musibah itu
akan menimpa pelaku kezaliman dan orang lain. Hal itu terjadi jika tersebarnya
kezaliman dan tidak ada yang mengubah (mencegah).” (Tafsir As Sa’di).
Di dalam hadits lain hal
senada juga disampaikan oleh Rasulullah SAW :
إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْا الظَّالِمَ فَلَمْ يَأْخُذُوا
عَلَى يَدَيْهِ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمْ اللَّهُ بِعِقَابٍ مِنْهُ
“Sesungguhnya, jika
manusia menyaksikan orang berbuat zalim, namun tidak mencegahnya, maka
hampir-hampir Allah akan ratakan azab kepada mereka semua.” (HR Tirmidzi)
Ummul Mukminin Zainab RA
pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, “Apakah kami semua akan ditimpa musibah,
padahal di tengah-tengah kami masih ada orang-orang shalih?” Rasulullah SAW
menjawab, “Iya, jika tersebarnya kemaksiatan (baca : kezaliman).” (HR Bukhari
Muslim)
Ibnu Mubarak di dalam
kitab Az Zuhd menukil perkataan Bilal bin Saad, beliau berkata, “Kemaksiatan
jika tersembunyi maka tidak membahayakan kecuali pelakunya saja. Sementara
apabila dilakukan dengan terang-terangan dan tidak ada yang mencegah maka akan
membahayakan semua pihak.”
Di dalam sebuah hadits
Rasulullah SAW pernah bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengazab orang
banyak dengan dosa yang dilakukan segelintir orang. Hingga kemudian kemungkaran
tersebar di tengah-tengah mereka dan mereka sebenarnya mampu untuk mencegahnya.
Apabila hal itu terjadi, maka Allah akan mengazab orang banyak dengan dosa yang
dilakukan segelintir orang.” (HR Ahmad)
Sidang jamaah shalat idul
fitri yang dirahmati Allah SAW
Ayat dan hadits-hadits di
atas menjelaskan kepada kita akan bahayanya kezaliman yang didiamkan. Bahkan di
dalam ungkapan yang begitu terkenal disebutkan bahwa
اَلسَّاكِتُ عَنِ الْحَقِّ شَيْطَانٌ أَخْرَسٌ
“Orang yang diam dari
kebenaran ibarat setan bisu.”
Oleh karena itu seorang
muslim tidak hanya dituntut untuk menjauhkan diri dari kezaliman akan tetapi
juga peka terhadap kezaliman yang terjadi di sekitarnya. Muslim yang baik
bukanlah muslim yang hanya membangun kesalehan bagi pribadinya saja. Akan
tetapi mereka yang membangun kesalehan diri dan peka terhadap kesalehan
masyarakat.
Dewasa ini kita selalu
disuguhkan kontes kezaliman. Baik kezaliman yang terjadi terhadap umat Islam
maupun kezaliman yang terjadi terhadap Islam sebagai agama. Mari sejenak kita
memikirkan saudara-saudara kita yang terzalimi di Palestina, hari demi hari
kekejaman Yahudi terus berlanjut, bahkan di akhir-akhir Ramadhan skala serangan
Yahudi terhadap umat Islam di Palestina semakin meningkat.
Mari kita saksikan apa
yang dialami saudara-saudara muslim kita di Suriah. Setiap hari hujanan bom
birmil dan bom fosfor mengintai mereka tanpa mereka tahu akankah esok hari
mereka masih bisa menghirup udara segar atau tidak. Bahkan yang menyedihkan
beberapa waktu yang lalu ada pertanyaan dari Suriah sana kepada salah seorang
ulama tentang halalkah kami memakan kucing? Hal ini ditanyakan karena tidak ada
lagi yang bisa dimakan. Ini adalah pemandangan yang menyayat hati.
Kita beranjak ke selatan
Jazirah Arab. Saat Syiah Hutsi menduduki ibu kota Yaman. Tidaklah mereka
memasuki suatu daerah melainkan mereka menumpahkan darah kaum Sunni. Apa
kabarnya saudara kita di Xinjiang yang dipaksa makan oleh rezim setempat di
siang hari bula Ramadhan. Belum lagi kalau kita mendengar kezaliman saudara
Rohingya kita yang mendapatkan perlakuan represif dari rezim setempat.
Inilah potret singkat
kezaliman yang menimpa umat Islam di belahan bumi lain. Pertanyaannya adalah
apakah yang sudah kita lakukan untuk mengentaskan kezaliman dari mereka?
Sidang jamaah shalat Idul
Fitri yang dirahmati Allah SWT
Kezaliman lainnya adalah
kezaliman yang menimpa Islam sebagai agama. Di awal-awal bulan Ramadhan kita
menyaksikan bagaimana syiar-syiar Islam terzalimi. Melalui drama yang dimainkan
begitu cantik oleh media-media sekuler. Media-media ini membungkus pemberitaan
sehingga menyudutkan perda-perda syariat yang berlaku di daerah tersebut.
Kemudian kalau kita
berselancar di dunia maya, di Facebook misalnya. Kita akan mendapati
pihak-pihak yang melecehkan Islam sebagai agama. Ada yang berfoto dengan
menginjak Al-Quran, ada yang menjadikan shalat sebagai alat bersenda gurau
dengan menirukan gerakan shalat sementara di bibir mereka terselip rokok.
Pemandangan-pemandangan
ini seharusnya mengganggu kita sebagai seorang muslim. Sense of belonging kita
terhadap agama kita menuntut kita untuk melawan segala bentuk penistaan dan
kezaliman terhadap Islam. Kecemburuan dan ghirah itu harus muncul. Karena
kecemburuan dan ghirah terhadap yang demikian adalah alarm keimanan.
Buya Hamka berkata,
“Ghirah dalam konteks beragama adalah konsekuensi dari iman itu sendiri. Orang
yang beriman akan tersinggung jika agamanya dihina, bahkan agamanya itu akan
didahulukan daripada keselamatan dirinya sendiri.”
Tentunya perlawanan dan
pengingkaran terhadap kezaliman harus sesuai dengan garis-garis yang telah
ditentukan oleh syariat. Karena perlawanan terhadap kezaliman yang tidak
sejalan dengan koridor syariat tentunya akan merugikan Islam itu sendiri dan
biasa akan menimbulkan madhorot yang lebih besar.
Sidang jamaah shalat idul
fitri yang dirahmati Allah SWT
Setiap amalan yang kita
lakukan di Bulan Ramadhan jika kita tunaikan sesuai tuntutan dan tuntunan
syar’i niscaya akan melahirkan ketakwaan. Ketakwaan yang membuat kita
menjauhkan diri dari berbuat zalim dan ketakwaan yang menjadikan kita peka
terhadap kezaliman.
Marilah kita tutup
khotbah ini dengan membaca doa kepada Allah SWT
الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَعَلَى خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ
وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى
يَوْمِ الدِّيْنِ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَأَصْلِحْ
ذَاتَ بَيْنِهِمْ وَانْصُرْهُمْ علَىَ عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ. اَللَّهُمَّ
الْعَنْ كَفَرَةَ أَهْلِ الْكِتَابِ الَّذِيْنَ يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِكَ
وَيُكَذِّبُوْنَ رُسُلَكَ وَيُقَاتِلُوْنَ أَوْلِيَاءَكَ. اَللَّهُمَّ خَالِفْ بَيْنَ
كَلِمِهِمْ وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ وَأَنْزِلْ بِهِمْ بَأْسَكَ الَّذِي لَا
تَرُدُّهُ عَنِ الْقَوْمِ الظّالِمِيْنَ.
اَلَّلهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ
عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَناَ دُنْيَانَا الَّتِي فِيْهَا مَعَاشُنَا
وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ
زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ
شَرٍّ.
الَّلهُمَّ ارْزُقْنَا قَبْلَ اْلَمْوتِ تَوْيَةً
وَعِنْدَ الْمَوْتِ شَهَادَةً وَبَعْدَ الْمَوْتِ رِضْوَانَكَ وَالْجَنَّةَ.
اللَّهُمَّ أَحْيِنَا مُؤْمِنِيْنَ طَائِعِيْنَ وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِيْنَ
تَائِبِيْنَ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأّلُكَ مُوْجِبَاتِ رَحْمَتِكَ وَعَزَائِمَ
مَغْفِرَتِكَ وَالسَّلَامَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ وَالْغَنِيْمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ
وَالْفَوْزَ بِالْجَنَّةِ وَالنَّجَاةَ مِنَ النَّارِ. اللَّهُمَّ أَحْسِنْ
عَاقِبَتَنَا فِي الْأُمُوْرِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا
وَعَذَابِ الأَخِرَةِ.
اللَّهُمَّ ارْفَعْ رَايَةَ الْإِسْلَامِ فَوْقَ
الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى وَأَخْلِصْهَا مِنْ أَيْدِي الْيَهُوْدِ وَالنَّصَارَى
اللَّهُمَّ احْفَظِ الْعُلَمَاءَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلَصِيْنَ وَ قُوَادَ
الْمُجَاهِدِيْنَ وَ ثَبِّتْهُمْ عَلىَ مَنْهَجِ نَبِيِّكَ وَ السَّلَفِ
الصَّالِحِيْنَ وَ اهْدِهِمْ سَبِيْلَ الْهُدَى وَ الرَّشَادِ وَوَفِّقْهُمْ
لِلْحَقِّ وَ مُتَابَعَتِهِ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
رَبَّنَا لاَ تَجْعَلْنَا فِتْنَةً للذين كفروا واغفر
لنا ربنا إنك أنت العزيز الحكيم
رَبَّنَا لاَ تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلْقَوْمِ
الظَّالِمِينَ ونجنا برحمتك من القوم الكافرين
رَبَّنا أَوْزِعْناَ أَنْ نَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي
أَنْعَمْتَ عَلَينا وَعَلَى وَالِدَينا وَأَنْ نَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ
وَأَدْخِلْنا بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ.
رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَآ إِن نَّسِينَآ أَوْ
أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَآ إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى
الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَا لاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ
وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَآ أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى
الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ
لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
اللهمّ انْصُر الإسْلَامَ والمُسْلِمِين، وَارْفَعْ
عَناَّ الظُّلْمَ وَالطُّغْيَان، اللهمّ ارْحَمْ مَوْتَانا وتَقَبَّلْ
شُهَدَائَنا، اللهمّ اشْفِ مَرْضَانا وَارْبِطْ بَيْنَ قُلُوبِنَا
اللهمّ ارْحَمْنا بِرَحْمَتِكَ يَا مَنْ وَسِعَتْ
رَحْمَتُهُ كُلَّ شَيْءٍ، اللهمّ عَلَيكَ بِالطُّغَاةِ الظَلَمَة، اللهمّ زَلْزِلْ
عُرُوْشَهُم مَنْ تَحْتَ أَقْدَامِهِم، اللهمّ خُذْهُمْ أَخْذَ عَزِيْزٍ
مُقْتَدِر، اللهمّ انْتَقِمْ مِنْهُمْ وَأَرِنَا فِيْهِم يوماً عَجَائبَ قُدْرتِك،
اللهمّ هذا دعاؤُنَا فَلاَ تَرُدَّنَا خَائِبِينَ
والحمد لله رب العالمين
GRIYA HILFAAZ
Busana Muslim Berkualitas
💈webinfo : www.griyahilfaaz.com
💈IG : @griya_hilfaaz
💈Shopee : @griya_hilfaaz
💈Facebook: @griya_hilfaaz
💈Tokopedia: @griya_hilfaaz
💈Bukalapak: @griya_hilfaaz
![]() |


EmoticonEmoticon