Khutbah Idul Fitri: Misteri Umur dalam
Filosofi Jawa
Muhammad Abduh Tuasikal, MSc -
Khutbah Pertama
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي
هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ
جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ
أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
وَأَشْهَدُ أَن لاَّ
إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ
وَأَشْهَدُ أَنَّ
مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي
كِتَابِهِ الكَرِيْمِ:
]يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ[
]يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي
خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا
رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ
وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا[
]يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ
وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ
ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا[
فَإِنَّ أَصْدَقَ
الحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَأَفْضَلُ الهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ r وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ َوكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ
أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ
الحَمْدُ
Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha
illallah wallahu akbar. Allahu akbar walillahil hamd.
Jama’ah shalat Idul Fithri yang semoga
dirahmati oleh Allah,
Alhamdulillah, Allah masih memberikan umur
panjang, kesehatan sehingga kita semua bisa berkumpul di tempat yang moga
dimuliakan ini di hari kemenangan kita -hari Idul Fithri-, moga-moga kita
termasuk insan yang mau memanjatkan rasa syukur kita pada Allah Ta’ala.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada
junjungan dan suri teladan kita, Nabi akhir zaman, Nabi kita Muhammad
shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga pada para sahabat dan yang mengikuti Nabi
dengan baik hingga akhir zaman.
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ وَأَجَلُّ اللهُ أَكْبَرُ
عَلَى مَا هَدَانَا
Allahu akbar kabiiro, Allahu akbar kabiiro,
Allahu akbar walillahil hamd wa ajall, Allahu akbar ‘ala maa hadaanaa.
Kita ketahui bersama bahwa umur kita itu
terbatas. Kita tinggal di dunia ini bagaikan seorang yang asing, atau sebagai
seorang yang jadi pengembara.
Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia
berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memegang pundaknya,
lalu berkata,
كُنْ فِى الدُّنْيَا
كَأَنَّكَ غَرِيبٌ ، أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ
“Hiduplah kalian di dunia seakan-akan seperti
orang asing, atau seperti seorang pengembara.”
Ibnu ‘Umar lantas berkata,
إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ
تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ ، وَخُذْ
مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ
“Jika engkau berada di petang hari, janganlah
tunggu sampai datang pagi. Jika engkau berada di pagi hari, janganlah tunggu
sampai datang petang. Manfaatkanlah waktu sehatmu sebelum datang sakitmu.
Manfaatkanlah pula waktu hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. Bukhari, no.
6416)
Kita sebagai orang Jawa kadang tidak
merenungkan sebutan angka yang sering kita ucapkan keseharian. Ternyata ada
beberapa penyebutan angka yang sangat unik yang mengandung filosofi yang luar
biasa.
Kali ini filosofi tersebut akan kita kaitkan
dengan ajaran Islam.
Bilangan Belasan
Bilang belasan dalam bahasa Jawa tidak disebut
dengan sepuluh siji, sepuluh loro, sepuluh telu, dst. Namun diikuti dengan kata
welas. Apa maksudnya? Sejak umur sebelas seterusnya, anak-anak sudah diajarkan
untuk memiliki sifat belas kasihan. Welas itu berarti welas asih.
Yang diajarkan dalam Islam pun sama,
مَنْ لاَ يَرْحَمُ لاَ
يُرْحَمُ
“Siapa yang tidak menyayangi yang lain, maka
tidak akan disayangi.” (HR. Bukhari, no. 6013)
Lihatlah yang ada pada masa sahabat yang masih
anak-anak (alias: pemuda). Sa’id bin Jubair mengatakan,
مَرَّ ابْنُ عُمَرَ
بِفِتْيَانٍ مِنْ قُرَيْشٍ قَدْ نَصَبُوا طَيْرًا وَهُمْ يَرْمُونَهُ وَقَدْ
جَعَلُوا لِصَاحِبِ الطَّيْرِ كُلَّ خَاطِئَةٍ مِنْ نَبْلِهِمْ فَلَمَّا رَأَوُا
ابْنَ عُمَرَ تَفَرَّقُوا فَقَالَ ابْنُ عُمَرَ مَنْ فَعَلَ هَذَا لَعَنَ اللَّهُ
مَنْ فَعَلَ هَذَا إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَعَنَ مَنِ
اتَّخَذَ شَيْئًا فِيهِ الرُّوحُ غَرَضًا
Ibnu ‘Umar pernah melewati para pemuda. Saat
itu mereka sedang menggantungkan burung lantas mereka menjadikan burung tadi
sasaran lempar (tembak). Lantas anak panah yang ada akan jadi milik si empunya
burung. Ketika Ibnu ‘Umar melihat mereka, mereka lantas berpencar. Ibnu ‘Umar
lantas mengatakan, “Siapa saja yang melakukan seperti itu, maka Allah akan
melaknatnya. Siapa saja yang melakukan seperti itu, maka Allah akan
melaknatnya. Karena ingatlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat
orang yang menjadikan hewan bernyawa sebagai sasaran tembak.” (HR. Muslim, no.
1958)
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ
أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ
الحَمْدُ
Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha
illallah wallahu akbar. Allahu akbar walillahil hamd.
Bilangan Dua Puluh
Dalam bahasa Indonesia angka dua puluhan biasa
diucapkan dua puluh satu, dua puluh dua dan seterusnya, namun dalam bahasa jawa
disebut selikur, rolikur dan seterusnya dengan akhiran likur. Menurut beberapa
cerita likur memiliki arti “lingguh kursi” di mana pada usia 20-an seseorang
mendapatkan kursi berupa kepribadian, pekerjaan, profesi dan yang lainnya.
Karena memang usia 20-an, anak sudah mulai
disuruh bekerja dan mandiri. Dalam Islam pun diperintahkan untuk bekerja dan
mencari yang halal.
Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu,
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَيُّهَا النَّاسُ
اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى
تَسْتَوْفِىَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا
فِى الطَّلَبِ خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ
“Wahai umat manusia, bertakwalah engkau kepada
Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki, karena sesungguhnya
tidaklah seorang hamba akan mati, hingga ia benar-benar telah mengenyam seluruh
rezekinya, walaupun terlambat datangnya. Maka bertakwalah kepada Allah, dan
tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki. Tempuhlah jalan-jalan mencari
rezeki yang halal dan tinggalkan yang haram.” (HR. Ibnu Majah no. 2144. Al
Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Jadi jangan sampai asal kerja, yang penting
cari rezeki, namun tak mengindahkan halal-haram. Juga ada yang bekerja yang
penting dapat penghasilan sampai meninggalkan shalat dan meninggalkan puasa.
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ
أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ
الحَمْدُ
Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha
illallah wallahu akbar. Allahu akbar walillahil hamd.
Bilangan Dua Puluh Lima
Angka dua puluhan dalam bahasa jawa diakhiri
dengan kata likur, namun kenapa angka 25 tidak disebut dengan limanglikur?
Masyarakat Jawa menyebut 25 dengan sebutan selawe. Ingatlah ketika umur selawe
itu masa “seneng-senenge lanang lan wedok”. Pada usia tersebut dalam masyarakat
Jawa dianggap sebagai umur ideal untuk sebuah pernikahan.
Namun senang-senangnya lanang lan wedok bukan
dengan jalan pacaran, bukan dengan jalan perkenalan bebas tanpa aturan, bahkan
sampai berzina. Karena Allah jelas melarang mendekati zina. Mendekatinya saja
tidak boleh apalagi sampai berbuat zina. Allah Ta’ala berfirman,
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا
إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
“Dan janganlah kamu mendekati zina;
sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang
buruk.”(QS. Al-Isra’: 32)
Ingatlah peringatan Allah …
الزَّانِي لَا يَنْكِحُ
إِلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ
أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ
“Laki-laki yang berzina tidak mengawini
melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan
yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau
laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang
mukmin.” (QS. An Nur: 3)
Bahayanya menikah dalam keadaan hamil,
لاَ تُوطَأُ حَامِلٌ
حَتَّى تَضَعَ وَلاَ غَيْرُ ذَاتِ حَمْلٍ حَتَّى تَحِيضَ حَيْضَةً
“Wanita hamil tidaklah disetubuhi hingga ia
melahirkan dan wanita yang tidak hamil istibro’nya (membuktikan kosongnya
rahim) sampai satu kali haidh.” (HR. Abu Daud, no. 2157. Syaikh Al Albani
mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Juga bahayanya berakhibat pada anak yang
dilahirkan. Akhirnya anak tersebut statusnya adalah anak tanpa bapak. Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْوَلَدُ لِلْفِرَاشِ
وَلِلْعَاهِرِ الْحَجَرُ
“Anak dinasabkan kepada pemilik ranjang.
Sedangkan laki-laki yang menzinai hanya akan mendapatkan kerugian.” (HR.
Bukhari, no. 6749 dan Muslim, no. 1457)
Marilah kita jaga anak keturunan kita dari
berbuat zina.
Bilangan Lima Puluh
Bilangan puluhan dalam bahasa jawa sering
menyebunya sepuluh, rongpuluh, telongpuluh, patangpuluh, dan seterusnya. Namun
anehnya ketika sampai pada angka 50 orang Jawa tidak menyebutnya dengan
limangpuluh. Mereka menyebutnya dengan seket, kenapa? Arti dari seket adalah
“seneng kethunan” atau sering memakai peci, topi maupun penutup kepala yang
lain, yang artinya menandakan umur sudah tua waktunya untuk banyak beribadah.
Bilangan Enam Puluh
Ketika puluhan biasa disebut dengan sepuluh,
rongpuluh, telongpuluh, dst, ada satu bilangan aneh lagi yaitu 60. Masyarakat
jawa tidak menyebutnya dengan nempuluh. Namun mereka menyebutnya dengan
sewidak. Ternyata arti dari sewidak tersebut adalah “sejatine wis wayahe
tindak” atau sesungguhnya sudah saatnya pergi. Menurut masyarakat Jawa jika
sudah berumur 60 sudah waktunya untuk banyak beribadah dan menyerahkan seluruh
hidupnya kepada Tuhan, menikmati hidup yang diberikan.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَعْمَارُ أُمَّتِـي مَا
بَيْنَ السِّتِّيْنَ إِلَى السَّبْعِيْنَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ
“Umur umatku antara 60 hingga 70 dan sedikit
dari mereka yang melebihi itu.” (HR. Tirmidzi, no. 3550; Ibnu Majah, no. 4236.
Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Artinya, umur 50 apalagi 60 tahun harusnya
makin dekat pada Allah.
Ingatlah, mengingat kematian akan membuat
seseorang memperbaiki hidupnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ
اللَّذَّاتِ فَإِنَّهُ مَا ذَكَرَهُ أَحَدٌ فِى ضَيْقِ مِنَ العَيْشِ إِلاَّ
وَسَعَهُ عَلَيْهِ وَلاَ فِى سَعَةٍ إِلاَّ ضَيَّقَهُ عَلَيْهِ
“Perbanyaklah banyak mengingat pemutus
kelezatan (yaitu kematian) karena jika seseorang mengingatnya saat kehidupannya
sempit, maka ia akan merasa lapang dan jika seseorang mengingatnya saat
kehiupannya lapang, maka ia tidak akan tertipu dengan dunia (sehingga lalai
akan akhirat).” (HR. Ibnu Hibban dan Al-Baihaqi, dinyatakan hasan oleh Syaikh
Al-Albani).
Juga peringatan dari Allah Ta’laa,
أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ
مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ
مِنْ نَصِيرٍ
“Apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam
masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan (apakah tidak)
datang kepada kamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak
ada bagi arang-orang yang zalim seorang penolong pun.” (QS. Fathir: 37).
Jama’ah shalat Idul Fithri yang semoga
senantiasa mendapatkan berkah dari Allah,
Demikian khutbah pertama ini.
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا
أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ
فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Kedua
أَحْمَدُ رَبِّي
وَأَشْكُرُهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ
لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَنَا مُحَمَّدٌ عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى
نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ
أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ
الحَمْدُ
Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha
illallah wallahu akbar. Allahu akbar walillahil hamd.
Jama’ah shalat Idul Fithri yang semoga
senantiasa istiqamah di jalan Allah,
Kami ingatkan dalam khutbah kedua ini agar
kita tetap istiqamah dalam ibadah. Jangan sampai kenyataan ibadah kita setelah
Ramadhan sebagaimana tujuh hal berikut:
1- Malas shalat, apalagi shalat shubuh karena
tidak punya kebiasaan lagi makan sahur.
2- Masjid mulai sepi bahkan tidak sedikit
masjid yang tidak ada kumandang azan.
3- Shalat malam sudah enggan.
4- Puasa sunnah sudah tidak mau karena merasa
cukup dengan puasa Ramadhan saja.
5- Al-Qur’an ditinggalkan, tidak dibaca, tidak
dihafalkan atau tidak direnungkan.
6- Lisan, mata, pendengaran sulit dijaga.
7- Maksiat kembali berulang.
Kemudian kami ingatkan pula untuk melakukan
puasa Syawal sebanyak enam hari. Sebagaimana dalam hadits dari sahabat Abu
Ayyub Al-Anshori, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ
ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian
berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.”
(HR. Muslim, no. 1164)
Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Disunnahkan
melakukannya secara berturut-turut di awal Syawal. Jika tidak berturut-turut
atau tidak dilakukan di awal Syawal, maka itu boleh. Seperti itu sudah
dinamakan melakukan puasa Syawal sesuai yang dianjurkan dalam hadits.”
(Al-Majmu’, 6: 276)
Akhirnya kami memohon kepada Allah Ta’ala agar
senantiasa memberikan kita petunjuk dan taufik untuk tetap beramal shalih
selepas Ramadhan ini.
Moga amalan kita di bulan Ramadhan yaitu
amalan shalat malam, membaca Al-Qur’an, bersedekah dan lainnya diterima oleh
Allah. Moga kita diberi keistiqamahan serta diberi keistimewaan untuk bertemu
dengan bulan Ramadhan berikutnya.
Mari kita tutup khutbah Idul Fithri dengan
doa, moga Allah perkenankan setiap doa kita di hari penuh kebaikan ini.
اللهُمَّ اغْفِرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ
اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ
قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ،
وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا
ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا،
وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ
التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا
عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا
اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ
أَعْمَلَنَا فِي رَمَضَانَ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ أَعْمَلَنَا فِي رَمَضَانَ
اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ أَعْمَلَنَا فِي رَمَضَانَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي
الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى
نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا
وَمِنْكُم تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُم
تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُم
عِيْدُكُمْ مُبَارَكٌ
وَعَسَاكُمْ مِنَ العَائِدِيْنَ وَالفَائِزِيْنَ
كُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ
بِخَيْرٍ
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ
الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
—
Pilihan Naskah Khutbah Shalat Idul Fithri oleh
Muhammad Abduh Tuasikal di Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul,
1 Syawal 1437 H (6 Juli 2016)
GRIYA HILFAAZ
Busana Muslim Berkualitas
💈webinfo : www.griyahilfaaz.com
💈IG : @griya_hilfaaz
💈Shopee : @griya_hilfaaz
💈Facebook: @griya_hilfaaz
💈Tokopedia: @griya_hilfaaz
💈Bukalapak: @griya_hilfaaz
![]() |


EmoticonEmoticon