Khutbah Idul Fitri: Tingkatkan Jihad dengan Al-Quran untuk Kejayaan
Islam
Oleh : Ali Farkhan Tsani,
Redaktur Senior Mi’raj Islamic News Agency (MINA)
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا
وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لاَ إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ
وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ هُوَ اللهُ أَكْبَرُ،
اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ. إنَّ
الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَـغْفِرُهُ , وَنَعُوْذُ
بِالله ِمِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ
مِنْ سَـيِّأَتِ أَعْمَالِنَا , مَنْ يَهْدِهِ الله فَلاَ مُضِلَّ لَهُ , وَمَنْ
يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ لَهُ , وَأَشْهَدُ أَنََّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ
بَعْدَهُ , اَللَّهُمَّ صَلِّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَّعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ
وَمَنْ تَبِعَهُ وَمَنْ وَّالَهُ , مَا شَاءَ اللهُ كَانَ وَمَا لَمْ يَشَاءَ لَمْ
يَكُنْ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ
بِاللهِ , اَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ اللهِ اُوْسِيْنيْ وَاِيَّاكُمْ بِتَقْوَااللهِ
وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ ,كَمَا قَالَ اللهُ وَتَعَالَى , أَعُوْذُ
بِالله مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ :
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ
تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ , وَقَالَ اللهُ فِيْ اَيَةٍ اُخَرُ ,
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا
قَدَّمَتْ لِغدٍ وَّاتَّقُوا اللهَ إِنَّ
اللهَ خَبِيْرٌ بِمَا تَعْمَلُوْنَ, يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا
اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا , يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ
لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا
عَظِيمًا وَقَالَ
الله اكبر, الله أكبر,
ولله الحمد
Ma’asyiral muslimin wal
muslimat, jamaah Idul Fitri rahimakumullah
Alhamdulillah, segala
puji hanya milik Allah ‘Azza wa Jalla, Dzat Yang Maha Mulia, Maha Kuasa, lagi
Maha Bijaksana. Kepada-Nya segenap makhluk bergantung dan hanya kepada-Nya
segala sesuatu akan kembali. Dialah Al-Khaliq, Dzat yang telah menciptakan dan mengatur
alam dan segala isinya ini dengan seluruh aturan-Nya yang utuh lagi sempurna.
Dialah Al-Hakim, Dzat
yang Maha Pembuat Hukum, yang syariat-Nya membawa rahmat bagi semesta alam.
Dialah Al-‘Aliim, yang maha mengetahui segala desiran isi hati dan segala angan
khayalan inderawi. Kepada-Nya kita masing-masing akan mempertanggungjawabkan
setiap apa yang kita lisankan dan apa-apa yang kita kerjakan.
Shalawat dan salam semoga
senantiasa dilimpahkan kepada junjungan dan teladan kita, Nabi Muhammad
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, segenap keluarganya, para shahabatnya, serta para
pengikutnya yang tetap istiqamah berjihad di jalan-Nya, hingga akhir masa.
Dialah utusan Allah, yang telah menghabiskan seluruh waktu dan hidupnya untuk
menegakkan syariat Allah di muka bumi ini. Dialah Rasul berakhlak Al-Quran,
yang ucapannya selaras dengan tindakannya, tutur katanya jujur, indah dan
bermakna. Dialah Al-Amin yang menjadi uswatun hanasah bagi kita ummatnya yang
mencintainya.
Dialah Rasulullah pembawa
kedamaian, kesejahteraan dan kasih sayang bagi segenap alam, pembaca misi Islam
yang rahmatan lil ‘alamin.
Saudara-saudara mukminin
mukminat yang dimuliakan Allah
Saat ini di pagi nan
benderang, beratapkan cakrawala membentang, kita melaksanakan shalat Idul Fitri
secara berjamaah karena Allah, dengan penuh kegembiraan.
Kita semuanya berbahagia
dan bersyukur ke hadirat ilahi robbi, Sang Penguasa jagat raya pemilik langit
dan bumi, pemberi rezki seluruh makhluk-Nya dari jaman terdahulu hingga kini
dan kemudian hari.
Dialah yang telah
mengantarkan kita ke hari yang fitri ini. Semoga mengantarkan kita menjadi
hamba-hamba-Nya yang hakiki, pemegang derajat taqwa di sisi robbul ‘izzati.
Amiin ya robbal ‘aalamiin.
Selanjutnya, melalui
khutbah ini khatib berwasiat untuk dirinya dan untuk seluruh hadirin tercinta,
marilah kita semua senantiasa menjaga kualitas taqwa yang telah kita raih pada
bulan suci Ramadhan kemarin, untuk selanjutnya kita teruskan pada bulan-bulan
sesudahnya. Sebab, kemuliaan seseorang di sisi Allah sangat tergantung dari
tingkatan ketaqwaannya, bukan karena banyaknya harta, atau sebab tingginya
pangkat, juga tidak dengan hebatnya kedudukan di dunia. Namun semata-mata
karena taqwanya, keistiqamahannya menjalankan segala perintah Allah dan
menjauhi semua larangan-Nya.
إنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ
اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Artinya: ”Sesungguhnya
orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling
bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal
“. (QS Al-Hujurat :13).
…..وَمَن يَتَّقِ
ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُ ۥ مَخۡرَجً۬ا وَيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُۚ
وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُ ۥۤۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَـٰلِغُ
أَمۡرِهِۦۚ قَدۡ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَىۡءٍ۬ قَدۡرً۬ا …..وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُ ۥ مِنۡ أَمۡرِهِۦ يُسۡرً۬ا
Artinya : “Barangsiapa
yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.
Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa
yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan [keperluan]-nya.
Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan [yang dikehendaki]-Nya. Sesungguhnya
Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. …..Dan barangsiapa
yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam
urusannya. (QS At-Talaq : 1-4).
Hadirin-hadirat yang sama-sama
mengharap ridha dan ampunan Allah Ta’ala
Setelah kita menjalankan
ibadah sepanjang bulan suci Ramadhan, marilah coba kita renungkan kembali dan
kita teruskan hikmah-hikmah Ramadhan tersebut. Di antaranya adalah:
Hikmah Pertama, Ramadhan mengantarkan hamba-Nya menjadi manusia bertakwa
yang senantiasa terhubung dan dekat dengan Allah atau muroqobatullah.
“La’allakum tattaquun,” begitulah memang tujuan puasa, meraih derajat takwa.
Bagaimana tidak, saat
puasa di siang hari, tidak ada siapa-siapa, juga tidak ada cctv. Namun biarpun
demikian, ada makanan enak dan meninuman menyegarkan, tetap saja tangan tidak
berani meraihnya dan mulut tidak mau meminumnya. Apa artinya? Artinya adalah
jiwa merasa dekat dan dilihat oleh Allah.
Merasa selalu dalam pengawasan
Allah, inilah hikmah utama dari pelaksanaan ibadah puasa Ramadhan.
Dan memang demikianlah,
manusia jika ingin mendapatkan tempat terhormat di sisi Allah Yang Maha Suci,
mestilah kembali dengan hati yang suci, hari yang bersih, hati yang jujur, baik,
tanpa ada rasa benci, dendam dan iri hati atau Qolbun Salim.
Ini seperti Allah
sebutkan di dalam ayat:
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ (88) إِلَّا
مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ (89)
Artinya: “(Yaitu) di hari
harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna kecuali orang-orang yang menghadap
Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’ara [26]: 88).
Itulah maka, setelah
sebulan berpuasa di siang harinya, dan melaksanakan shalat tarawih pada malam harinya,
maka kita kembali pada Hari Raya Idul Fitri, kembali pada fitrahnya manusia,
bersih lagi suci.
فَأَقِمۡ وَجۡهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفً۬اۚ فِطۡرَتَ
ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيۡہَاۚ لَا تَبۡدِيلَ لِخَلۡقِ ٱللَّهِۚ
ذَٲلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُ وَلَـٰكِنَّ أَڪۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ (٣٠)
مُنِيبِينَ إِلَيۡهِ وَٱتَّقُوهُ وَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَلَا تَكُونُواْ مِنَ
ٱلۡمُشۡرِڪِينَ (٣١) مِنَ ٱلَّذِينَ فَرَّقُواْ دِينَهُمۡ وَڪَانُواْ شِيَعً۬اۖ
كُلُّ حِزۡبِۭ بِمَا لَدَيۡہِمۡ فَرِحُونَ (٣٢)
Artinya: “Maka
hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama [Allah]; [tetaplah atas] fithrah
Allah yang telah menciptakan manusia menurut fithrah itu. Tidak ada perubahan
pada fithrah Allah. [Itulah] agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak
mengetahui, (30) dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya
serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang
mempersekutukan Allah, (31) yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka
dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan
apa yang ada pada golongan mereka. (32). (QS Ar-Ruum [30]: 30-32).
Allahu akbar
walillaahilhamd.
Selanjutnya, hadirin yang
berbahagia
Hikmah Kedua, Ramadhan mengantarkan hamba-Nya menjadi orang-orang yang
mencintai dan berpedoman pada Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagaimana ayat yang
berkaitan dengan Ramadhan mengatakan:
شَہۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلۡقُرۡءَانُ
هُدً۬ى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَـٰتٍ۬ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِ…..ۚ
Artinya: “Bulan Ramadhan,
bulan yang di dalamnya diturunkan [permulaan] Al Qur’an sebagai petunjuk bagi
manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda [antara
yang hak dan yang bathil]……”. (QS Al-Baqarah [2]: 185).
Karena Al-Quran itu
adalah mutlak wahyu Allah, maka siapapun yang berpegang teguh pada Al-Quran,
niscaya dia akan selamat dan mendapatkan pahala yang besar.
Pada ayat lain
disebutkan:
إِنَّ هَـٰذَا ٱلۡقُرۡءَانَ يَہۡدِى لِلَّتِى هِىَ
أَقۡوَمُ وَيُبَشِّرُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٱلَّذِينَ يَعۡمَلُونَ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ أَنَّ
لَهُمۡ أَجۡرً۬ا كَبِيرً۬ا
Artinya: “Sesungguhnya
Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada [jalan] yang lebih lurus dan memberi
kabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi
mereka ada pahala yang besar”. (QS Al-Isra [17]: 9).
Maka, sebaliknya, siapa
saja yang menghina, melecehkan atau berolok-olok dengan ayat-ayat Allah, maka
Allah memperingatkan mereka dengan azab yang pedih. Di antaranya disebut di
dalam ayat:
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا
نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ
تَسْتَهْزِئُونَ . لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِنْ
نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا
مُجْرِمِينَ
Artinya: “Dan jika kamu
tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka
akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main
saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kalian
selalu berolok-olok?.” Tidak usah kalian meminta maaf, karena kalian telah
kafir sesudah kalian beriman. Jika Kami memaafkan segolongan daripada kalian
(lantaran mereka tobat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain)
disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (QS At-Taubah
[9]: 65-66).
Dan begitulah memang,
orang-orang kafir yang memusuhi Islam, mulut-mulut mereka benci kepada umat
Islam, dan apa yang ada di hati mereka jauh lebih besar lagi.
Allah menyebut di dalam
ayat:
يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ
بِطَانَةً۬ مِّن دُونِكُمۡ لَا يَأۡلُونَكُمۡ خَبَالاً۬ وَدُّواْ مَا عَنِتُّمۡ
قَدۡ بَدَتِ ٱلۡبَغۡضَآءُ مِنۡ أَفۡوَٲهِهِمۡ وَمَا تُخۡفِى صُدُورُهُمۡ أَكۡبَرُۚ
قَدۡ بَيَّنَّا لَكُمُ ٱلۡأَيَـٰتِۖ إِن كُنتُمۡ تَعۡقِلُونَ
Artinya: “Hai orang-orang
yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang
di luar kalanganmu [karena] mereka tidak henti-hentinya [menimbulkan]
kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata
kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih
besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat [Kami], jika kamu
memahaminya”. (QS Ali Imran [3]: 118).
يُرِيدُونَ لِيُطۡفِـُٔواْ نُورَ ٱللَّهِ
بِأَفۡوَٲهِهِمۡ وَٱللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِۦ وَلَوۡ ڪَرِهَ ٱلۡكَـٰفِرُونَ
Artinya: “Mereka ingin
hendak memadamkan cahaya [agama] Allah dengan mulut [ucapan-ucapan] mereka, dan
Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.” (QS
Ash-Shaff [61]: 8).
Apalagi kalau sampai
menghina atau tidak memuliakan para ulama pewaris Nabi, ulama yang ikhlas,
ulama yang jujur. Dalam hal ini Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
mengingatkan:
لَيْسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا
وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ
Artinya: “Bukan termasuk
ummatku, siapa yang tidak memuliakan orang yang lebih tua, menyayangi orang
yang lebih muda dan mengetahui hak-hak orang alim.” (HR Al-Hakim dari Ubadah
bin Shamit Radhiyallahu ‘Anhu).
Berkata Al-Imam Hasan
Al-Bashri “Dunia itu seluruhnya gelap, kecuali majelis-majelisnya para ulama.”
Maka, mari kita hormati,
hargai, jaga dan bela para ulama pewaris para Nabi tersebut.
Hadirin Rahimakumullah
Hikmah Ketiga, Ramadhan mengantarkan hamba-Nya menjadi orang-orang lebih
giat berjihad berjuang, di jalan Allah, dalam meninggikan kalimah Allah.
Untuk menegakkan
kalimatullah hiyal ‘ulya, diperlukan semangat jihad yang tidak boleh putus.
Karena jihad inilah merupakan puncak amal ibadah kita kepada Allah. Seperti
nuansa jihad dalam bulan Ramadhan. Semangat Perang Badar Al-Kubra, yang juga
terjadi pada bulan suci Ramadhan.
Semangat juang
kemerdekaan Republik Indonesia, yang juga terjadi pada bulan suci Ramadhan.
Kemerdekaan yang diraih dengan kalimat Takbir “Allahu Akbar”, kemerdekaan
Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dimotori oleh para ulama, tokoh Islam
dan kaum santri.
Tentang jihad sebagai
puncak perkara, disebutkan dalam hadits Mu’adz Radhiyallahu ‘Anhu:
رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ
وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ
Artinya: “Pokok perkara
adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncak perkaranya adalah jihad.” (HR
Ay-Tirmidzi).
Dalam hal ini, Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
فُكُّوا الْعَانِيَ وَأَطْعِمُوا الْجَائِعَ، وَعُودُوا
الْمَرِيضَ
Artinya : “Bebaskan orang
yang sedang tertawan, berikanlah makan kepada orang yang sedang kelaparan, dan
jenguklah orang sedang sakit”. (HR Bukhari).
Dan, kalau sampai
seseorang meninggalkan jihad, maka justru kefakiranlah akibatnya.
لاَ يَدَعُ قَوْمٌ الْجِهَادَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ
إِلاَّ ضَرَبَهُمُ الله بِالْفَقْرِ
Artinya : “Tidaklah suatu
kaum meninggalkan jihad fie sabilillah, melainkan Allah timpakan kefakiran
terhadap mereka.” (HR Ibnu ‘Asakir).
Dan untuk itu, untuk
mewujudkan kesatuan umat Islam, untuk menegakkan kalimatullah hiyal ‘ulya,
diperlukan semangat jihad yang tidak boleh putus. Karena jihad inilah merupakan
puncak amal ibadah kita kepada Allah.
Jihad menegakkan amar
ma’ruf nahi mungkar, menegakkan keadilan dan kebanaran, serta membangun bangsa
dan negeri dalam ridha Allah. Termasuk dari bagian jihad adalah membebaskan
saudara-saudara kita di Palestina yang masih terjajah Zionis Israel. Juga
saudara-saudara kita yang memerlukan pertolongan, mereka yang tertawan, mereka
yang di pengungsian, mereka yang terzalimi.
Allahu akbar walillaahil
hamd. Jamaah Idul Fitri yang terhormat,
Hikmah keempat adalah bahwa Ramadhan mengantarkan hamba-Nya sesama
orang-orang berikan adalah satu kesatuan umat Islam dalam memperibadati-Nya.
Puasa Ramadhan sebulan
penuh telah mengantarkan hamba-Nya menjadi manusia yang memiliki empati kepada
sesama saudaranya.
Kalau simpati itu ada
orang lain berduka, kita ikut berduka. Orang lain susah, kita ikutn prihatin.
Tapi kalau empati adalah ketika orang lain susah, kita bukan hanya ikut
prihatin tapi juga langsung aksi nyata ikut menolongnya.
Itulah maka dalam bulan
suci Ramadhan itu dianjurkan untuk saling menolong sesama, gemar berderma atau
berinfaq di jalan yang Allah ridhai.
Bagaimana tidak, orang yang
berpuasa merasakan batapa haus dan laparnya saat berpuasa. Baru puasa sehari,
seminggu atau paling lama sebulan.
Namun coba lihatlah
bagaimana saudara kita yang tinggal tak menentu di pengungsian, yang jumlahnya
kini mendapai puluhan juta. Bayangkan bagaimana nasib para pengungsi
oraang-orang Palestina yang terusir dari negerinya sendiri yang sah. Anak-anak
suriah, Irak. Juga bagamana nasib ibadah saudara-saudara kita di negeri
minoritas seperti di Rohingya Arakan, Myanmar, di Uighur China, dan di tempat-tempat
lainnya.
Di sinilah dengan ibadah
puasa mengajarkan rasa persaudaraan yang tinggi, bahwa sesungguhnya sesama
orang beriman itu bersaudara. Di mana ada saudara kita sakit kita ikut sakit,
ada saudara kita dizalimi kita ikut bergerak.
Allah menyebutkan di
dalam ayat:
إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِخۡوَةٌ۬ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَ
أَخَوَيۡكُمۡۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ
Artinya : “Sesungguhnya
orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua
saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat”. (QS
Al-Hujurat [49]: 10).
Di dalam hadits
disebutkan:
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ
الدُّنْيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ،
وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا
وَالآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ،
وَاللهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَادَامَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ اَخِيْهِ.
Artinya : “Siapa yang
melepaskan kesusahan seorang mukmin di dunia niscaya Allah akan melepaskan
kesusahannya di akhirat. Siapa yang memudahkan orang yang kesusahan, niscaya
Allah akan memudahkan (urusannya) di dunia dan di akhirat. Siapa yang menutupi
(aib) seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan di
akhirat. Dan Allah selalu menolong hamba-Nya jika hamba tersebut menolong
saudaranya.” (HR Muslim).
Itulah tanda bahwa umat
Islam itu adalah umat yang satu, umat yang kuat dan tidak mudah dipecah-belah.
Allah menyebutkan di
dalam ayat:
وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا
رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِي. فَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُمْ بَيْنَهُمْ زُبُرًا كُلُّ
حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ. فَذَرْهُمْ فِي غَمْرَتِهِمْ حَتَّى حِينٍ
Artinya : “Dan
sesungguhnya (agama) tauhid ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan
Aku adalah Tuhanmu, maka bertaqwalah kepada KU. Kemudian mereka
(pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka menjadi terpecah belah
menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada
pada sisi mereka (masing-masing). Maka
biarkanlah mereka dalam kesesatannya sampai suatu waktu.” (QS
Al-Mu’minun : 52-54).
وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلاَ
تَفَرَّقُوْا وَاذْكُرُوْا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً
فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ
عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ
اللهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ
Artinya : “Dan berpegang
teguhlah kamu sekalian pada tali Allah seraya
berjama’ah, dan janganlah kamu berfirqah-firqah (bergolong-golongan),
dan ingatlah akan ni’mat Allah atas kamu
tatkala kamu dahulu bermusuh-musuhan, maka Allah jinakkan antara
hati-hati kamu, maka dengan ni’mat itu kamu menjadi bersaudara, padahal kamu
dahulu nya telah berada di tepi jurang api Neraka, tetapi Dia (Allah)
menyelamatkan kamu dari padanya; begitulah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya
kepada kamu, supaya kamu mendapat petunjuk.” (QS Ali ‘Imran: 103 ).
Kaum Muslimin wal
Muslimat.
Semoga pada Hari Raya
Idul Fitri ini dan seterusnya kita dapat mengambil hikmah dan mengamalkan
nilai-nilai Ramadhan dalam kehidupan sehari-hari, dalam bingkai Islam yang
rahmatan lil alamin. Aamiin.
Akhirnya, marilah kita
tutup dengan Doa:
الحَمْدُ لله رَبِّ العَلَمِيْنَ وَالصَّلَاةُ
وَالسَّلاَمُ عَلَى اَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْن َوَعَلَى الِهِ
وَأَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ .أَللَّهُمَّ
مُنْزِلَ الْكِتَابِ وَمُجْرِيَ السَّحَابِ وَهَازِمَ اْلأَحْزَابِ
اَللَّهُمَّ هْزِمْهُمْ
وَانْصُرْنَا عَلَيْهِمْ. أَللَّهُمَّ
مُنْزِلَ الْكِتَابِ سَرِيْعَ
اْلحِسَابِ اِهْزِمِ اْلأَحْزَابِ
أَللَّهُمَّ اهْزِمْهُمْ وَزَلْزِلْهُمْ. أَللَّهُمَّ احْيِ
اْلمُسْلِمِيْنَ وَاِمَامَهُمْ بِجَمَاعَةِ
اْلمُسْلِمِيْنَ حَيَاةً كَامِلَةً
طَيِّبَةً وَارْزُقْهُمْ قُوَّةً غَالِبَةً عَلَى كُلِّ بَاطِلٍ وَظَالِمٍ وَسُوْءٍ وَفَاحِشٍ
وَمُنْكَرٍ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا
وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ .رَبَّنَا ءَامَنَّا بِمَا
أَنْزَلْتَ وَاتَّبَعْنَا الرَّسُولَ فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ. رَبَّنَا
لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ
رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ. اللَّهُمَّ انْجِ الْمُسْلِمِيْنَ
اللَّهُمَّ انْجِ الْمُؤْمِنِيْنَ فىِ بِلاَدِ الْعِرَاقِ وَأَفْغَانِسْتَانِ
وَسُورِيَة وَرَاهِنْياَ وَفَلَسْطِيْنَ خَاصَّةً, وَفىِ بُلْدَانِ
اْلمُؤْمِنِيْنَ عَامَّةً. اللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى الكُفَّارِ
وَشُرَكَائِهِمْ. اللَّهُمَّ وَشَطَّطْ شَمْلَهُمْ وَفَرِّقْ جَمْعَهُمْ
اللَّهُمَّ اهْزِمْهُمْ وَزَلْزِلْهُمْ. رَبَّنَا اَتِنَا فِىْ الدُّنْيَا
حَسَنَةً وَفِى ْالأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَ أَدْخِلْنَا
الْجَنَّةَ مَعَ اْلأَبْرَارِ يَا عَزِيْزٌ يَا غَفَّارٌ يَا رَبَّ
الْعَالَمِيْنَ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ
عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ. تَقَبَّلَ اللهُ
مِنَّاوَمِنْكُمْ, تَقَبَّلْ يَاكَرِيْم.
Alhamdulillah.
Taqobbalallaahu minna waminkum taqobbal yaa kariem. (RS2/)
Mi’raj Islamic News
Agency (MINA)
GRIYA HILFAAZ
Busana Muslim Berkualitas
💈webinfo : www.griyahilfaaz.com
💈IG : @griya_hilfaaz
💈Shopee : @griya_hilfaaz
💈Facebook: @griya_hilfaaz
💈Tokopedia: @griya_hilfaaz
💈Bukalapak: @griya_hilfaaz
![]() |


EmoticonEmoticon