Khutbah Idul Fitri: Mengambil Pelajaran dari
Ramadhan
Penulis
Muhammad Abduh Tuasikal, MSc -
Alhamdulillah hamdan katsiron thoyyiban
mubaarokan fiih kamaa yuhibbu robbuna wa yardho. Asy-hadu alla ilaha illallah
wahdahu laa syarika laah wa asy-hadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh.
Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala aalihi wa man taabi’ahum bi ihsaanin
ilaa yaumid diin.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Detik
ini kita telah berada di hari yang fithri, hari tidak berpuasa, setelah sebulan
penuh kita menjalankan ibadah shiyam. Kita saat ini telah berada di hari kegembiraan.
Kita bangga dengan puasa kita di saat kita berbuka dan berbangga pula dengan
bekal puasa di hadapan Allah kelak.
اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا
اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Makna fithri sekali lagi perlu diluruskan
karena sering masyarakat awam salah pahami. Makna fithri yang tepat adalah
kembali lagi berbuka atau melakukan pembatal setelah sebulan penuh lamanya
berpuasa. Jadi tidak tepatlah makna yang sering digembar-gemborkan bahwa Idul Fithri
berarti kembali suci.
اللَّهُ
أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ
أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Kumandang takbir pun sebagai penyempurna
ibadah shiyam yang kita jalani selama sebulan penuh. Allah Ta’ala berfirman,
وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ
عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya
dan hendaklah kamu bertakwa pada Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan
kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Baqarah: 185)
Takbir ini disunnahkan untuk dikumandangkan
sejak berangkat dari rumah hingga pelaksanaan shalat Idul Fithri. Dalam suatu
riwayat disebutkan,
كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ
الفِطْرِ فَيُكَبِّر حَتَّى يَأْتِيَ المُصَلَّى وَحَتَّى يَقْضِيَ الصَّلاَةَ
فَإِذَا قَضَى الصَّلاَةَ ؛ قَطَعَ التَّكْبِيْر
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa
keluar hendak shalat pada hari raya ‘Idul Fithri, lantas beliau bertakbir
sampai di lapangan dan sampai shalat hendak dilaksanakan. Ketika shalat hendak
dilaksanakan, beliau berhenti dari bertakbir.” (Dikeluarkan dalam As Silsilah
Ash Shahihah no. 171)
اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا
اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Saudaraku kaum muslimin, di hari Idul Fithri
ini sungguh kita telah mendapatkan banyak pelajaran dari ibadah yang kita
jalani selama sebulan penuh di bulan Ramadhan.
Mulai dari ibadah puasa yang kita jalani, kita
mendapatkan pelajaran untuk pandai menahan diri dari segala pembatal yang
asalnya sebenarnya mubah. Namun kita tinggalkan demi mengharap ridho Allah.
Maka ini pertanda bahwa niat yang benar adalah jika setiap ibadah dijalanin
dengan ikhlas dan mengharap wajah-Nya. Allah Ta’ala berfirman,
لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ
“Jika kamu mempersekutukan (Rabbmu), niscaya
akan hapuslah amalmu.” (QS. Az Zumar: 65). Ibadah barulah diterima jika murni
ikhlas dilakukan karena mengharap ridho Allah Ta’ala. Jika tidak, amalan
tersebut tertolak. Orang yang menjalani ibadah puasa semacam inilah yang
mendapatkan keutamaan pengampunan dosa sebagaimana sabda Rasul shallallahu
‘alaihi wa sallam,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ
لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
”Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan
karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu akan
diampuni”. (HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760).
Kemudian dari ibadah shalat malam atau shalat
tarawih yang kita jalani, kita pun bisa ambil pelajaran pula bahwa shalat malam
adalah sebaik-baik shalat setelah shalat wajib dan inilah kebiasaan orang-orang
sholeh. Sehingga kita seharusnya mengikuti kebiasaan-kebiasaan baik dari orang
sholeh. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأْبُ الصَّالِحِيْنَ
قَبْلَكُمْ وَهُوَ قُرْبَةٌ إِلَى رَبِّكُمْ وَمُكَفِّرَةٌ لِلسَّيِّئَاتِ
وَمَنْهَاةٌ عَنِ الإِثْمِ
“Hendaklah kalian melaksanakan qiyamul lail
(shalat malam) karena shalat amalan adalah kebiasaan orang sholih sebelum
kalian dan membuat kalian lebih dekat pada Allah. Shalat malam dapat
menghapuskan kesalahan dan dosa. ” (Lihat Al Irwa’ no. 452, hasan). Namun
demikianlah sebagian orang malah memperlakukan orang sholeh melampaui batas
sampai-sampai mencapai tingkatan kesyirikan. Tabarruk (ngalap berkah) dengan
bekas minum dan makan mereka ketika orang sholeh itu hidup, atau setelah ia
meninggal dunia ngalap berkah dengan kuburnya. Seharusnya sisi baik yang
diambil dari mereka adalah meneladani amal sholeh yang mereka lakukan seperti
shalat malam ini, bukan malah bersikap ‘ghuluw’ terhadap mereka.
Allah pun memberikan suatu malam yang penuh
berkah kepada kita di bulan Ramadhan, malam yang satu ibadah lebih baik dari
ibadah di 1000 bulan. Malam ini disebut lailatul qadar. Seorang muslim
sebenarnya bisa dengan mudah mendapati malam tersebut. Cukup baginya beribadah
secara kontinu di bulan Ramadhan, maka pasti ia akan mendapatkan keutamaan
lailatul qadar. Jika ia kontinu melakukan shalat tarwih setiap malamnya, pasti
ia akan mendapati lailatul qadar. Orang yang malas-malasan saja dalam ibadah
yang sulit mendapatkan keutamaan malam tersebut. Keutamaan menghidupkan lailatul qadar
disebutkan dalam hadits,
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا
غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam
lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya
yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901)
Saat lailatul qadar pun kita banyak mohon
pengampunan dosa. Kita mohon pada Allah
agar dosa-dosa kita dihapus dan bukan hanya ditutup. Doa yang dipanjatkan
adalah,
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ
عَنِّى
Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu
anni’ (Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf yang menyukai permintaan maaf,
maafkanlah aku)
Kemudian di akhir Ramadhan kita pun tutup
dengan amalan zakat fithri. Zakat ini adalah sebagai penutup kekurangan kita
selama menjalani puasa di bulan Ramadhan. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma,
ia berkata,
فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- زَكَاةَ
الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً
لِلْمَسَاكِينِ .
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
mewajibkan zakat fithri untuk mensucikan orang yang berpuasa dari bersenda
gurau dan kata-kata keji, dan juga untuk memberi makan orang miskin.” (HR. Abu
Daud no. 1609 dan Ibnu Majah no. 1827, hasan)
Penjelasan di atas menunjukkan bahwa bulan
Ramadhan penuh sekali dengan penghapus dosa. Sampai-sampai Az Zuhri berkata,
“Ketika hari raya Idul Fithri, banyak manusia yang akan keluar menuju lapangan
tempat pelaksanaan shalat ‘ied, Allah pun akan menyaksikan mereka. Allah pun
akan mengatakan, ”Wahai hambaku, puasa kalian adalah untuk-Ku, shalat-shalat
kalian di bulan Ramadhan adalah untuk-Ku, kembalilah kalian dalam keadaan
mendapatkan ampunan-Ku.” Ulama salaf lainnya mengatakan kepada sebagian
saudaranya ketika melaksanakan shalat ‘ied di tanah lapang, “Hari ini suatu
kaum telah kembali dalam keadaan sebagaimana ibu mereka melahirkan mereka.”
(Latho-if Al Ma’arif, 373-374)
Namun perlu dipahami bahwa kita sebenarnya
tidak yakin amalan kita diterima. Karena amalan hanya diterima dari orang-orang
yang bertakwa. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan)
dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Ma-idah: 27). ‘Umar bin ‘Abdul Aziz
berikut tatkala beliau berkhutbah pada hari raya Idul Fithri, “Wahai sekalian
manusia, kalian telah berpuasa selama 30 hari. Kalian pun telah melaksanakan shalat
tarawih setiap malamnya. Kalian pun keluar dan memohon pada Allah agar amalan
kalian diterima. Namun sebagian salaf malah bersedih ketika hari raya Idul
Fithri. Dikatakan kepada mereka, “Sesungguhnya hari ini adalah
hari penuh kebahagiaan.” Mereka malah mengatakan, “Kalian benar. Akan tetapi
aku adalah seorang hamba. Aku telah diperintahkan oleh Rabbku untuk beramal,
namun aku tidak mengetahui apakah amalan tersebut diterima ataukah tidak.”
Sebagian ulama sampai-sampai mengatakan, “Para salaf biasa memohon kepada Allah
selama enam bulan agar dapat berjumpa dengan bulan Ramadhan. Kemudian enam
bulan sisanya, mereka memohon kepada Allah agar amalan mereka diterima.”
Itulah kekhawatiran para ulama. Mereka begitu
khawatir kalau-kalau amalannya tidak diterima. Namun berbeda dengan kita yang
amalannya begitu sedikit dan sangat jauh dari amalan para salaf. Kita begitu
“pede” dan yakin dengan diterimanya amalan kita. Sungguh, teramatlah jauh kita
dengan mereka.
اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا
اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Semoga dengan kumandang takbir di hari fithri
ini semakin membuat kita mengangungkan Allah, semakin membuat kita menjauhi
kesyirikan dan meninggalkan tradisi yang berbau syirik serta semoga kita
semakin mengikhlaskan ibadah kepada-Nya.
Konsekuensi dari kita ikhlas kepada Allah
adalah kita hendaknya mengikuti jejak nabi kita dalam beribadah, bukan malah
kita berbuat ibadah seenaknya saja. Itulah yang membuat ibadah kita bisa
diterima. Ikhlas dan ittiba’ Rasul (mengikuti tuntunan Rasul) itulah dua syarat
diterimanya ibadah. Orang yang beribadah dengan memenuhi dua syarat ini,
merekalah orang-orang yang benar-benar mengharapkan akhirat. Allah Ta’ala
berfirman,
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ
عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan
Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia
mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (QS. Al Kahfi:
110). Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Maka hendaklah ia mengerjakan amal
yang saleh”, maksudnya adalah mencocoki syariat Allah (mengikuti petunjuk Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen). Dan “janganlah ia mempersekutukan
seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”, maksudnya selalu mengharap wajah
Allah semata dan tidak berbuat syirik pada-Nya. Inilah dua rukun diterimanya
ibadah, yaitu harus ikhlas karena Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 9/205). Dari sini
janganlah kita ibadah asal-asalan. Jangan membuat ibadah-ibadah baru yang tidak
pernah dicontohkan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kemudian pelajaran penting lainnya dari ibadah
shalat Idul Fithri yang kita lakukan saat ini. Shalat yang kita jalani mungkin
agak telat dari kaum muslimin yang melakukannya di hari kemarin. Apa yang kita
lakukan semata-mata karena ingin patuh pada jama’ah kaum muslimin. Yang
dimaksud jama’ah adalah pemerintah Islam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ
تُفْطِرُونَ وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ
“Puasa kalian ditetapkan tatkala mayoritas
kalian berpuasa, idul fithri ditetapkan tatkala mayoritas kalian beridul
fithri, dan idul adha ditetapkan tatkala mayoritas kalian beridul adha.” (HR.
Tirmidzi no. 697, shahih). Yang dimaksudkan hadits ini adalah puasa dan berhari
raya adalah bersama dengan jama’ah (pemerintah) dan mayoritas manusia. Demikian
tafsiran dari para ulama sebagaimana disebutkan oleh Imam At Tirmidzi dalam
kitab sunannya. Keutamaan orang yang berpegang teguh dengan jama’ah adalah
sebagaimana disebut oleh Imam Ahmad,
يَدُ اللَّهِ عَلَى الْجَمَاعَةِ
“Allah akan senantiasa bersama (dengan memberi
pertolongan) pada jama’ah”. (Majmu’ Al Fatawa, 25/117)
Apalagi pemerintah benar-benar memutuskan hari
raya ini dengan ru’yah hilal, yaitu penglihatan bulan tsabit di awal bulan.
Allah Ta’ala berfirman,
فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ
”Karena itu, barangsiapa di antara kamu
menyaksikan (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia
berpuasa pada bulan tersebut.” (QS. Al Baqarah: 185). Dalam ayat ini secara
jelas dikatakan bahwa kita cukup menyaksikan hilal di negeri masing-masing.
Seandainya di negeri lain seperti Malaysia dan negara timur tengah telah
terlihat hilal, kita sama sekali tidak diperintahkan satu hari raya dengan
negara-negara tersebut.
اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا
اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Saudara kaum muslimin … Kita hendaklah
memanfaatkan moment hari raya ini untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik.
Bahkan yang terbaik adalah kita menjaga ibadah terus hingga akhir ramadhan.
Dari Jubair bin Nufair, ia berkata bahwa jika
para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berjumpa dengan hari ‘ied
(Idul Fithri atau Idul Adha), satu sama lain saling mengucapkan,
“Taqobbalallahu minna wa minka (Semoga Allah menerima amalku dan amalmu).” Al
Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. (Fathul Bari, 2/446)
Kami memohon kepada Allah semoga amalan kita
di bulan Ramadhan diterima oleh Allah dan kita pun menjadi lebih baik di
sebelas bulan tersisa.
Taqobbalallahu minna wa minkum. Taqobbalallahu
minna wa minkum. Taqobbalallahu minna wa minkum.
Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal
Draft Khutbah ‘Ied 1 Syawal 1432 H di Masjid
Jami’ Al Adha, Mbali, Girisekar, Panggang, Gunung Kidul, D.I.Yogyakarta
GRIYA HILFAAZ
Busana Muslim Berkualitas
💈webinfo : www.griyahilfaaz.com
💈IG : @griya_hilfaaz
💈Shopee : @griya_hilfaaz
💈Facebook: @griya_hilfaaz
💈Tokopedia: @griya_hilfaaz
💈Bukalapak: @griya_hilfaaz
![]() |


EmoticonEmoticon