Showing posts with label Fiqh. Show all posts
Showing posts with label Fiqh. Show all posts

Bacaan Dzikir Setelah Shalat Wajib Sesuai Sunnah





Bacaan Dzikir Setelah Shalat Wajib Sesuai Sunnah

Dahulu kita diajari menghapal dzikir dan doa sehabis sholat dengan cara imam sholat menjahr/mengeraskan bacaannya. Tetapi ada sebagian yang berpendapat bacaan dzikir setelah sholat dengan dikomandoi adalah bid’ah, sehingga bisa saja jama’ah-jama’ah yang belum begitu paham bacaan dzikir setelah sholat belum tahu bagaimana dzikir yang benar setelah shalat. Saya tidak akan membahas tentang berdzikir dengan dikomandoi. Tetapi hanya menulis ulang bacaan dzikir yang shahih setelah sholat dari Asy-Syaikh Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthaniy dalam kitabnya hisnul muslim dengan sedikit tambahan dari kitab lainnya.

Fiqih Khitan dan Tinjauan Medis (Laki dan Perempuan)


Fiqih Khitan dan Tinjauan Medis (Laki dan Perempuan)


A. Pengertian
Secara bahasa, kata khitan itu berasal dari kata khatnun ( ุฎَุชْู†ٌ ), yang berarti: Memotong kulfah (kulit penutup depan) dari penis dan nawah dari perempuan.

Teladan Empat Madzhab dalam Toleransi

Teladan Empat Madzhab dalam Toleransi

ULAMA empat madzhab adalah para figur yang mengedepankan kesatuan pendapat, dan tidak egois dengan pendapatnya. Meski memiliki pandapat sendiri dalam madzhab, namun masing-masing madzhab selalu melihat pendapat madzhab lain, dan melakukan upaya untuk  meminimalisir perbedaan, yang biasa disebut muru`atul khilaf, dimana masing-masing madzhab bersepakat bahwa keluar dari ranah khilaf merupakan perkara yang mustahab.

Demikian, beberapa contoh, upaya masing-masing madzhab untuk meminimalisir perbedaan dengan madzhab lain di beberapa masalah.

Madzhab Hanafi

Membaca surat Al Fatihah dalam madzhab Hanafi bukanlah bagian dari rukun yang harus dikerjakan, namun ulama madzhab Hanafi memotivasi agar pengikutnya membaca surat Al Fatihah saat shalat jenazah. Tertulis dalam kitab fiqih Al Hanafi ,Maraqi Al Falah,”….dan boleh membaca Al Fatihah dengan tujuan memberikan pujian, demikian hal ini telah dinashkan bagi madzhab kita, dan di Al Bukhari dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma, bahwa ia menshalatkan janazah lalu membaca Al Fatihah dan berkata,’Agar mereka mengetahui bahwa hal itu sunnah.’ Dan hadits itu dishahihkan oleh At Tirmidzi. Dan para imam kita berkata bahwa memperhatikan perkara khilaf mustahab, sedangkan hal itu (membaca Al Fatihah) fardhu menurut Asy Syafi’I Rahimahullah Ta’ala, maka tidak mengapa membacanya dengan tujuan membaca Al Qur`an untuk keluar dari khilaf.” (Maraqi Al Falah, hal. 227)

Dalam madzhab Hanafi tidak diwajibkan wudhu bagi siapa yang mengusung jenazah. Namun Imam Ahmad berpendapat wajib berwudhu bagi siapa yang telah mengusung jenazah, maka dalam hal ini Ath Thahthawi berkata,”Maka disunnahkan wudhu, untuk keluar dari khilaf, juga untuk mengamalkan hadits.” (Hasyiyah ATh Thahthawi, 1/55)

Madzhab Maliki

Bagi madzhab Maliki, membaca basmalah sebelum Al  Fatihah adalah perkara yang mubah, dan shalatnya sah, sedangkan bagi madzhab Asy Syafi’i, tidak sah shalat jika tidak membacanya, karena itu bagian dari Al Fatihah. An Nafrawi pun berkata,”Yang disepakati lebih baik daripada yang tidak disepakati, telah berkata Imam Al Qarrafi (Maliki), dan Ibnu Rusyd (Maliki) dan Al Ghazali bahwa bagian dari kehati-hatian keluar dari khilaf dengan membaca basmalah dalam shalat.” (Al Fawaqih Ad Dawani, hal. 409)

Madzhab Syafi’i

Dalam madzhab  Syafi’i tidak diperlukan niat bagi siapa yang memandikan jenazah. Namun, mustahab untuk meniatkannya, dalam rangka keluar dari khilaf, dikarenakan Imam Malik mewajibkan niat bagi yang memandikan jenazah. (lihat, Tuhfah Al Habib, 2/516)

Meski dalam madzhab Asy Syafi’i dinyatakan sah shalat sendiri di belakang shaf, namun disunnahkan menarik seseorang dari shaf depan untuk shalat bersamanya di belakang. Hal itu dikarenakan Imam Ahmad menilai bahwa shalat sendirian di belakang shaf tidak sah. (Hasyiyah Al Bujairimi, 1/322)

Dalam madzhab Asy Syafi’i i’tikaf sah dilakukan di masjid meski bukan masjid jami’, namun Imam Asy Syriazi berkata,”Dan lebih utama beri’tikaf di masjid jami’, karena Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tidak pernah beri’tikaf kecuali di masjid jami’, juga karena di masjid jami’ lebih banyak jama’ah shalatnya, juga dalam rangka keluar dari khilaf, dimana Az Zuhri menyatakan tidak boleh i’tikaf kecuali di masjid jami’.” (Al Majmu’, 6/504)

Meskipun dalam madzab Asy Syafi’i sah melakukan i’tikaf kurang dari satu hari, namun Imam Asy Syafi’i berkata,”Lebih utama, ia tidak kurang dari satu hari, karena tidak pernah dinukil dari Rasulullah Shallallahu Alihi Wasallam dan para sahabatnya bahwasannya mereka beri’tikaf kurang dari satu hari dan dalam rangka keluar dari khilaf Abu Hanifah dan lainnya yang mensyarakan i’tikaf satu hari atau lebih.” (Al Majmu’, 6/513)

Madzhab Hanbali

Takbir dalam shalat jenazah diriwayatkan dari Imam Ahmad beberapa riwayat, yang menunjukkan jumlah takbir lebih dari empat takbir, namun Ibnu Qudamah mengatakan,”Lebih utama tidak lebih dari empat, karena hal itu keluar dari khilaf, dan mayoritas ahlul ilmi berpendapat bahwa takbir empat kali.” Diantara ulama yang berpendapat takbir empat kali adalah Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Asy Syafi’i (Asy Syarh Al Kabir, 2/352).

Apa yang disebutkan hanya merupakan beberapa contoh dari upaya keluar dari khilaf, dan masih ada ratusan masalah lainnya, yang tertulis dalam kitab-kitab fiqih empat madzhab. Tentu hal ini menjadi bukti bahwa madzhab empat, meski berbeda pendapat namun tetap toleransi terhadap madzhab lain. Jika demikian, klaim bahwa adanya madzhab merupakan sumber perpecahan juga tidak benar. Wallahu Ta’ala A’la wa A’lam.



GRIYA HILFAAZ
Busana Muslim Berkualitas
๐Ÿ’ˆwebinfo : www.griyahilfaaz.com
๐Ÿ’ˆIG : griyahilfaaz
๐Ÿ’ˆShopee : griyahilfaaz
๐Ÿ’ˆFacebook: griyahilfaaz
๐Ÿ’ˆTokopedia: griyahilfaaz
๐Ÿ’ˆBukalapak: griyahilfaaz



Toko Busana Keluarga Muslim

SHOPCARTSHOPCARTSHOPCART
SHOPCARTSHOPCARTSHOPCART

Persiapan Menyambut Bulan Ramadhan


PERSIAPAN MENYAMBUT BULAN RAMADHAN

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Buya, apa yang harus dipersiapkan bagi setiap muslim menghadapi bulan Ramadhan? Sebab saya sadar bahwa banyak yang harus dilakukan dibulan suci ini.

Jawaban:
Wa’alaikumussalam Wr. Wb.
Bulan agung segera tiba, bulan mulia segera datang, di bulan itulah Allah SWT memuliakan banyak sekali dari hamba-hamba-Nya. Yang akan mendapatkan kemuliaan di bulan suci Ramadhan adalah hamba-hamba yang tahu keagungan Ramadhan. Yang mendapatkan keagungan di bulan suci Ramadhan adalah hamba-hamba yang benar-benar menyambut berita gembira kabar datangnya bulan suci Ramadhan, bulan penuh pengampunan, bulan penuh rahmat dari Allah SWT, bulan yang Allah SWT membebaskan hamba-hamba-Nya dari api neraka. Sungguh itu adalah bulan keberuntungan.

Sangat rugi orang yang bisa bertemu dengan bulan suci Ramadhan akan tetapi dia bukan termasuk orang yang diampuni, bukan termasuk orang yang mendapatkan rahmat dari Allah SWT, bukan termasuk orang yang mendapatkan keridhaan dari Allah SWT. Seperti yang pernah disabdakan oleh Nabi. Suatu ketika Rasulullah SAW berada di mimbar, lalu mengatakan kalimat, “Amin.” Lalu para sahabat Nabi bertanya, “Siapa yang didoakan dan siapa yang berdoa?” Rasulullah SAW menjawab: “Malaikat Jibril As berkata: Orang yang memasuki bulan ramadhan akan tetapi belum diampuni dosanya oleh Allah SWT, sungguh ia adalah hamba yang terkutuk.” Kemudian Aku (Nabi SAW) katakan “Amin.” Artinya, ada orang memasuki bulan suci Ramadhan akan tetapi tidak ada semangat untuk mendekatkan diri kepada Allah dan menjauhi kemaksiatan. Maka orang-orang seperti ini termasuk orang-orang yang terkutuk dan tidak beruntung. Karena di bulan Ramadhan Allah SWT memberikan diskon besar-besaran kepada hamba-Nya. Semua amal kebaikan akan dilipatgandakan oleh Allah SWT dengan lipat ganda yang tidak pernah ada kecuali di bulan suci Ramadhan.

Ini adalah termasuk kemuliaan dan keistimewaan umat Nabi Muhammad SAW, seperti yang pernah diadukan oleh sahabat Nabi, bahwa umat Nabi Muhammad ini umurnya pendak-pendek, sementara umat-umat terdahulu umurnya panjang. Jika mereka itu shaleh tentu pangkat mereka akan tinggi karena bisa melakukan ibadah yang amat panjang. Akan tetapi dijawab oleh Rasulullah SAW dengan jawaban yang indah, “Memang umatku adalah usianya pendek, akan tetapi Allah telah memberikannya Ramadhan dan juga Allah telah memberikannya lailatul qadar yang Allah SWT akan melipat gandakan pahala amal ibadah umat islam pada bulan Ramadhan dan lailatullqadar.” Maka dari itu, jangan sampai ada dari kita yang tertinggal dari rombongan orang yang beruntung di bulan suci Ramadhan. Jangan sampai ada diantara kita ini orang yang lalai dengan Ramadhan.

Dalam menyambut bulan Ramadhan kita harus mempersiapkan dengan dua persiapan, persiapan lahir dan batin:

Pertama: Persiapan lahir. Persiapan lahir adalah dengan melihat di sekitar kita dan mencari sebab-sebab yang menjadikan kita dekat dan khusyuk kepada Allah SWT. Fasilitas dhahir mulai dari mushaf, baju, mushalla, termasuk kebutuhan-kebutuhan yang ada di rumah kita, jika ada yang kurang mari kita penuhi.
:
 PERSIAPAN MENYAMBUT BULAN RAMADHAN (bagian 2)

Persiapkan jadwal-jadwal untuk amal ibadah yang harus kita laksanakan di bulan suci Ramadhan. Jangan sampai waktu bulan suci Ramadhan ini berlalu begitu saja. Jika kita tidak berfikir apa yang akan kita lakukan, amat sulit bagi kita untuk melakukannya jika tiba waktunya. Akan tetapi tanda bahwa kita rindu dan mengagungkan bulan suci Ramadhan dan tanda bahwasanya kita ingin diagungkan oleh Allah SWT, maka saat ini harus kita rencanakan amal-amal ibadah yang akan kita lakukan. Termasuk urusan dunia yang harus kita lakukan pun harus dimasukan di dalam jadwal kita untuk melaksanakan amal akhirat. Kalau kita telah rinci dan rapi dalam menyusun sebuah rencana, maka sesungguhnya kita tinggal melaksanakannya. Rencana yang kita susun itu tidak lain adalah tanda bahwasanya kita rindu kepada Ramadhan, yang artinya juga rindu kepada Allah SWT.

Yang bekerja jangan sampai lupa, bahwa mencari nafkah adalah sangat mulia, kalau memang didasarkan atau niat yang benar karena Allah SWT. Kalau orang yang bekerja mungkin sulit untuk melakukan shalat atau membaca Al Qur’an, akan tetapi jangan sampai mulut ini diam dari dzikir kepada Allah SWT. Yang berada dipasar-pasar pun demikian, berhenti menghindari omongan yang kotor lalu merubah lidah kita dengan menyebut nama Allah SWT. Ini adalah tanda bahwa kita adalah orang yang mengerti keagungan bulan suci Ramadhan dan masih banyak yang lainnya. Kegiatan-kegiatan yang kita lakukan harus kita atur dan kita rapikan. Jangan sampai kita ini melakukan suatu pekerjaan yang tidak penting di saat-saat kita harus membaca al Qur’an dan melakukan ibadah tarawih dan sebagainya. Ini adalah termasuk tanda bahwasanya kita mengagungkan bulan suci Ramadhan.

Kedua adalah persiapan batin. Persiapan batin di sini artinya, kita harus benar-benar mempersiapkan hati kita, agar kita bisa beruntung di bulan suci Ramadhan.
Mempersiapkan hati dengan ketulusan mengabdi kepada Allah, menghilangkan ketakaburan dan menghilangkan rasa dengki. Karena takabur atau sombong, dengki dan iri itu hanya akan menjadikan kita melakukan ibadah puasa terasa berat dan tidak diterima oleh Allah SWT. Berat karena capek hati, sebab hati kita kotor, mendengki orang lain, melihat orang lain mendapat nikmat sakit hingga akhirnya menggunjing orang yang kita dengki. Takabur dengan merasa kita ini lebih dari yang lainnya, sehingga muncul di hati kita rasa mudah tersinggung, mudah marah, mudah emosi atau bahkan meremehkan orang lain. Hal yang semacam ini adalah sangat menyakitkan hati, karena penyakit-penyakit semacam ini biarpun kita tidak bersentuhan fisik dengan orang-orang yang kita benci atau orang yang kita dengki. Khususnya jika hal ini terjadi kepada orang-orang yang sangat dekat kepada kita, baik itu orang tua, suami, istri, saudara, anak dan lain sebagainya. Kedengkian, ketakaburan dan kebencian yang muncul di antara kita, di antara orang-orang yang dekat adalah sangat pedih dirasakan. Akan tetapi jika kita ingin menjadi orang yang beruntung di bulan suci Ramadhan, haruslah kita ini menyingkirkan yang demikian itu. Jangan sampai kita berlalut-larut di dalam kehinaan, berlarut-larut di dalam kekotoran hati seperti ini.

Maka mulai saat ini, mari kita membersihkan hati kita, kita pangkas kesombongan dan kita pangkas kedengkian dan dendam dengan cara seperti yang diajarkan oleh
Rasulullah SAW, yaitu:

Yang pertama adalah kita selalu koreksi ke dalam diri kita. Jangan merasa bahwasanya kita tidak punya penyakit
hati. Kita harus selalu terus mencermati hati kita dan mencermati hawa nafsu kita. Jangan sampai kita lalai mengontrol hawa nafsu kita. Yang lalai mengontrolnya maka akan terjerumus. Tetapi kalau kita selalu mengontrol, diri kita pun akan selamat. Lebih dari itu, ini adalah makna perintah Allah SWT yang dijelaskan oleh para ulama bahwa segala ilmu yang kita peroleh adalah untuk menjaga diri kita sendiri sebelum orang lain. Kalau sudah diri kita baik, kita menata diri kita, baru saat itu kita melihat orang-orang yang berada di sekitar kita.
PERSIAPAN MENYAMBUT BULAN RAMADHAN (bagian 3 - selesai)

Kemudian yang kedua adalah mari kita saling berdoa diantara kita, jangan sampai kita pelit berdoa. Termasuk marilah kita berdoa dengan segala kebaikan terhadap orang-orang yang bermasalah dengan kita. Orang yang kita dengki, orang yang kita benci, orang yang kita dendami, orang yang bermusuhan dengan kita, orang yang berbohong kepada kita, orang yang berbuat curang (dzalim) kepada kita, kita doakan semuanya dengan doa-doa yang baik-baik. Itu adalah pembersih hati kita dan lebih dari itu Allah SWT akan mengagungkan orang yang senantiasa berjuang untuk memerangi hawa nafsunya yang penuh dengan kekotoran itu. Disaat kita sudah berusaha membersihkan hati kita yang demikian ini, maka Ramadhan akan lebih bermakna. Kita akan merasakan keindahan dalam bulan Ramadhan. Diantara suami istri tetap mesra dan indah, sangat mudah untuk melakukan ibadah. Kakak beradik yang mesra sangat mudah untuk melakukan tegur menegur di dalam meningkatkan kualitas keimanan, ketaqwaan dan akhlak yang mulia. Begitu juga kita dengan tetangga. Kalau sudah hati kita tertata, tidak ada kesombongan tidak ada saling meremehkan, yang ada adalah kerinduan untuk menyampaikan kebaikan, maka sungguh di saat itu sangat mudah bagi kita untuk mewujudkan dan menghadirkan ibadah-ibadah di bulan suci Ramadhan.

Dengan begitu maka kita akan menjadi orang-orang yang beruntung di bulan suci Ramadhan. Keluar di bulan suci Ramadhan menjadi orang yang bertaqwa, yang hakikat taqwa itu adalah kita semakin baik kepada Allah dan semakin baik kepada sesama manusia. Yang baik kepada Allah SWT tidak baik kepada manusia, bukanlah orang yang bertaqwa dan yang baik kepada manusia saja, tapi ternyata tidak khusyuk kepada Allah SWT dan tidak rindu kepada Allah SWT bukanlah orang yang bertaqwa. Taqwa adalah gabungan dua makna keharmonisan dan keindahan kepada Allah SWT, sekaligus keharmonisan dan keindahan kepada sesama manusia yang dalam hal ini adalah buah manfaat puasa yang kita lakukan seperti yang difirmankan Allah SWT dalam Al Qur’an. 
ORANG–ORANG YANG BOLEH UNTUK TIDAK BERPUASA

1. Anak kecil
Maksudnya adalah anak yang belum baligh. Baligh ada 3 tanda yaitu :
a. Keluar mani (bagi anak laki-laki dan perempuan) pada usia 9 tahun hijriah.
b. Keluar darah haid usia 9 tahun hijriah (bagi anak perempuan)
c. Jika tidak keluar mani dan tidak haid, maka ditunggu hingga umur 15 tahun. Dan jika sudah genap 15 tahun, maka ia telah baligh dengan usia, yaitu usia 15 tahun.

2. Gila
Orang gila tidak wajib
berpuasa bahkan seandainya berpuasa, maka puasanya pun tidak sah. Namun dalam hal ini ulama membagi ada 2 ( dua ) macam orang gila yaitu :
a. Orang gila yang disengaja : Orang gila yang disengaja, jika berpuasa maka puasanya tidak sah dan wajib mengqodho’. Sebab sebenarnya ia wajib berpuasa kemudian ia telah dengan sengaja membuat dirinya gila, maka karena kesengajaan inilah ia wajib mengqodho’ puasanya setelah sehat akalnya.
b. Orang gila yang tidak disengaja : Orang gila yang tidak disengaja tidak wajib berpuasa, bahkan seandainya berpuasa maka puasanya tidak sah dan jika sudah sembuh dia tidak berkewajiban mengqodho’ karena gilanya bukan disengaja.

3. Sakit
Orang sakit boleh
meninggalkan puasa. Akan tetapi di sini ada ketentuan bagi orang sakit tersebut yaitu :

Sakit parah yang memberatkan
untuk berpuasa yang berakibat semakin parahnya penyakit atau lambat kesembuhannya. Dan yang bisa menentukan ini adalah :
a. Dokter muslim yang terpercaya.
b. Berdasarakan pengalamannya sendiri.
Catatan :
Dalam hal ini tidak terbatas kepada orang sakit saja, akan tetapi siapapun yang sedang berpuasa lalu menemukan dirinya lemah dan tidak mampu untuk berpuasa dengan kondisi yang membahayakan terhadap dirinya, maka saat itu pun dia boleh membatalkan puasanya. Akan tetapi ia hanya boleh makan dan minum seperlunya, kemudian wajib menahan diri dari makan dan minum seperti layaknya orang berpuasa. Akan tetapi ini khusus untuk orang seperti ini (bukan orang sakit).

4. Orang tua
Orang tua (lanjut usia) yang berat untuk melakukan puasa diperkenankan untuk meninggalkan puasa.

5. Bepergian (musafir)
Semua orang yang bepergian boleh meninggalkan puasa dengan ketentuan sebagai berikut ini :
a. Tempat yang dituju dari tempat tinggalnya tidak kurang dari 84 km.
b. Di pagi (saat subuh) hari yang ia ingin tidak berpuasa, ia harus sudah berada di perjalanan dan keluar dari wilayah tempat tinggalnya (minimal batas kecamatan)
Misal :
Seseorang tinggal di Cirebon, ingin pergi ke Semarang. Jarak antara Cirebon - Semarang adalah 200 km (tidak kurang dari 84 km). Ia meninggalkan Cirebon jam 2 malam (Sabtu dini hari). Subuh hari itu adalah jam 4 pagi, Pada jam 4 pagi (saat subuh) ia sudah keluar dari Cirebon dan masuk Brebes. Maka di pagi hari Sabtunya ia sudah boleh meninggalkan puasa.
Berbeda jika berangkatnya ke Semarang setelah masuk waktu subuh, Sabtu pagi setelah masuk waktu subuh masih di Cirebon, Maka di pagi hari itu ia tidak boleh meninggalkan puasa karena sudah masuk subuh ia masih ada di rumah. Tetapi ia boleh meninggalkan puasa di hari Ahadnya, karena di subuh hari Ahad ia berada di luar wilayahnya.
Catatan :
Seseorang dalam bepergian akan dihukumi mukim (bukan musafir lagi) jika ia niat tinggal di suatu tempat lebih dari 4 hari. Misal orang yang pergi ke Semarang tersebut dalam contoh saat di Tegal ia sudah boleh berbuka dan setelah sampai di Semarang juga tetap boleh berbuka, asalkan ia tidak bermaksud tinggal di Semarang lebih dari 4 hari. ia sudah disebut mukim.

6. Hamil
Orang hamil yang khawatir akan kondisi :
a. Dirinya, atau
b. Janin (bayinya)

7. Menyusui
Orang menyusui yang
khawatir akan kondisi :
a. Dirinya atau
b. Kondisi bayi yang masih di bawah umur 2 tahun hijriyah. Bayi di sini tidak harus bayinya sendiri, akan tetapi bisa juga bayi orang lain.

8. Haid
Wanita yang sedang haid tidak wajib berpuasa, bahkan jika berpuasa puasanya pun tidak sah bahkan haram hukumnya.

9. Nifas
Wanita yang sedang nifas tidak wajib berpuasa, bahkan jika berpuasa puasanya pun tidak sah bahkan haram hukumnya.

Sumber: Majelis Al - Bahjah


GRIYA HILFAAZ
Busana Muslim Berkualitas
๐Ÿ’ˆwebinfo : www.griyahilfaaz.com
๐Ÿ’ˆIG : griyahilfaaz
๐Ÿ’ˆShopee : griyahilfaaz
๐Ÿ’ˆFacebook: griyahilfaaz
๐Ÿ’ˆTokopedia: griyahilfaaz
๐Ÿ’ˆBukalapak: griyahilfaaz



Toko Busana Keluarga Muslim

SHOPCARTSHOPCARTSHOPCART
SHOPCARTSHOPCARTSHOPCART

๐Ÿคฒ๐Ÿผ Bacaan Do'A Qunut Nazilah ๐Ÿคฒ๐Ÿผ


๐Ÿคฒ๐Ÿผ BACAAN DO'A QUNUT NAZILAH ๐Ÿคฒ๐Ÿผ


Ketika Keadaan Negeri Sedang Dilanda Banyak Fitnah dan Bencana, maka Para Ulama Menghimbau Agar Masyarakat Membaca Do’a Qunut Nazilah Di Setiap Rokaat Terakhir Sholat, Khususnya Shalat Fardhu (Saat Itidal di Rakaat Terakhir).

Berikut Bacaannya :

ุงู„ู„ّٰู‡ُู…َّ ุงู‡ْุฏِู†َู€ู€ู€ู€ุง ูِูŠْู…َู†ْ ู‡َุฏَูŠْุชَ . ูˆَุนَุงูِู†َู€ู€ู€ู€ุง ูِูŠْู…َู†ْ ุนَุงูَูŠْุชَ . ูˆَุชَูˆَู„َّู†َุง ูِูŠْู…َู†ْ ุชَูˆَู„َّูŠْุชَ. ูˆَุจَุงุฑِูƒْ ู„َู†َู€ู€ู€ู€ุง ูِูŠْู…َุง ุฃَุนْุทَูŠْุชَ .ูˆَู‚ِู†َู€ู€ุง ุดَุฑَّ ู…َุง ู‚َุถَูŠْุชَ

ูَุฅِู†َّูƒَ ุชَู‚ْุถِูŠْ ูˆَู„ุงَ ูŠُู‚ْุถَู‰ ุนَู„َูŠْูƒَ .ูˆَุฅِู†َّู‡ُ ู„ุงَ ูŠَุฐِู„ُّ ู…َู†ْ ูˆَุงู„َูŠْุชَ . ูˆَู„َุง ูŠَุนِุฒُّ ู…َู†ْ ุนَุงุฏَูŠْุชَ . ุชَุจَุงุฑَูƒْุชَ ุฑَุจَّู†َุง ูˆَุชَุนَุงู„َูŠْุชَ . ูَู„َูƒَ ุงู„ْุญَู…ْุฏُ ุนَู„َู‰ ู…َุง ู‚َุถَูŠْุชَ . ุฃَุณْุชَุบْูِุฑُูƒَ ูˆَุฃَุชُูˆْุจُ ุฅِู„َูŠْูƒَ.

ุงู„ู„ّٰู‡ُู…َّ ุงุฏْูَุนْ ุนَู†َّุง ุงู„ْู€ุจَู„َุงุกَ ูˆَุงْู„ุบَู„َุงุกَ ูˆَุงْู„ูˆَุจَุงุกَ ูˆَุงู„ุฒِّู†َุง ูˆَุงู„ุฒَّู„َุงุฒِู„َ ูˆَุงْู„ู…ِุญَู†َ ูˆَุณُูˆْุกَ ุงْู„ูِุชَู†ِ ู…َุงุธَู‡َุฑَ ู…ِู†ْู‡َุง ูˆَู…َุง ุจَุทَู†َ . ุงู„ู„ّٰู‡ُู…َّ ุฃَุตْู„ِุญْู†َุง ูˆَุฃَุตْู„ِุญْ ู…َู†ْ ูِูŠ ุตَู„َุงุญِู‡ِ ุตَู„َุงุญُ ุงْู„ุฅِุณْู„َุงู…ِ ูˆَุงู„ْู€ู€ู€ู…ُุณْู„ِู…ِูŠْู†َ. ุงู„ู„ّٰู‡ُู…َّ ู„َุง ุชُู‡ْู„ِูƒْู†َู€ู€ุง ูˆَุฃَู‡ْู„ِูƒْ ู…َู†ْ ูِูŠ ู‡َู„َุงูƒِู€ู€ู€ู€ู‡ِ ุตَู„َุงุญُ ุงْู„ุฅِุณْู„َุงู…ِ ูˆَุงู„ْู…ُุณْู„ِู…ِูŠْู†َ. ุงู„ู„ّٰู‡ُู…َّ ุฃَุนِุฒَّ ุงْู„ุฅِุณْู„َุงู…َ ูˆَุงู„ْู€ู€ู€ู…ُุณْู„ِู…ِูŠْู†َ. ูˆَุงู†ْุตُุฑْ ู…َู†ْ ู†َุตَุฑَ ุงْู„ุฅِุณْู„َุงู…َ ูˆَุงู„ْู…ُุณْู„ِู…ِูŠْู†َ. ูˆَุงุฎْุฐُู„ْ ู…َู†ْ ุฎَุฐَู„َ ุงْู„ุฅِุณْู„َุงู…َ ูˆَุงู„ْู…ُุณْู„ِู…ِูŠْู†َ . ุงู„ู„ّٰู‡ُู…َّ ุฃَุตْู„ِุญْ ูˆُู„َุงุฉَ ุงُู…ُูˆْุฑِู†َุง ูˆَุงุฌْุนَู„ِ ุงู„ู„ّٰู‡ُู…َّ ูˆِู„َุงูŠَุชَู†َุง ูِูŠْู…َู†ْ ุฎَุงูَูƒَ ูˆَุงุชَّู‚َุงูƒَ. ุฑَุจَّู†َุง ุขุชِู†َุง ูِูŠ ุงู„ุฏُّู†ْูŠَุง ุญَุณَู†َุฉً ูˆَูِูŠ ุงْู„ุขุฎِุฑَุฉِ ุญَุณَู†َู€ู€ู€ุฉً ูˆَู‚ِู†َู€ู€ุง ุนَุฐَุงุจَ ุงู„ู†َّู€ู€ุงุฑِ. ูˆَุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َู‰ ุณَูŠِّุฏِู†َู€ู€ุง ู…ُุญَู…َّุฏٍ (ู†) ุงู„ู†َّุจِูŠِّ ุงْู„ุงُู…ِّูŠِّ ูˆَุนَู„َู‰ ุขู„ِู€ู€ู‡ِ ูˆَุตَุญْุจِู‡ِ ูˆَุจَุงุฑَูƒَ ูˆَุณَู„َّู…َ.


GRIYA HILFAAZ
Busana Muslim Berkualitas
๐Ÿ’ˆwebinfo : www.griyahilfaaz.com
๐Ÿ’ˆIG : griyahilfaaz
๐Ÿ’ˆShopee : griyahilfaaz
๐Ÿ’ˆFacebook: griyahilfaaz
๐Ÿ’ˆTokopedia: griyahilfaaz
๐Ÿ’ˆBukalapak: griyahilfaaz



Toko Busana Keluarga Muslim

SHOPCARTSHOPCARTSHOPCART
SHOPCARTSHOPCARTSHOPCART

Panduan Shalat Idul Adha dan Idul Fitri




Panduan Shalat Idul Adha dan Idul Fitri
Hukum Shalat Idul Fitri & Idul Adha

Shalat Id hukumnya wajib bagi setiap muslim. Ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah, salah satu pendapat Imam Ahmad, dan pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam dan Ibnul Qoyim. Dalil pendapat ini adalah sebagai berikut:

Khutbah Gerhana: Berdoalah, Bartakbirlah, Bersedekahlah!

Khutbah Gerhana: Berdoalah, Bartakbirlah, Bersedekahlah!