Dahulu
kita diajari menghapal dzikir dan doa sehabis sholat dengan cara imam
sholat menjahr/mengeraskan bacaannya. Tetapi ada sebagian yang
berpendapat bacaan dzikir setelah sholat dengan dikomandoi adalah
bid’ah, sehingga bisa saja jama’ah-jama’ah yang belum begitu paham
bacaan dzikir setelah sholat belum tahu bagaimana dzikir yang benar
setelah shalat.
Saya tidak akan membahas tentang berdzikir dengan dikomandoi. Tetapi
hanya menulis ulang bacaan dzikir yang shahih setelah sholat dari
Asy-Syaikh Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthaniy dalam kitabnya hisnul
muslim dengan sedikit tambahan dari kitab lainnya.
[1] أَسْتَغْفِرُ اللهَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ
اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ تَبَارَكْتَ يَا ذَا
الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ
Astaghfirullah (3x). Allahumma antas salaam wa minkas salaam tabaarokta yaa dzal jalaali wal ikrom.
“Aku meminta ampunan kepada Allah (tiga
kali). Ya Allah, Engkaulah As-Salaam (Yang selamat dari
kejelekan-kejelekan, kekurangan-kekurangan dan kerusakan-kerusakan) dan
dari-Mu as-salaam (keselamatan), Maha Berkah Engkau Wahai Dzat Yang Maha
Agung dan Maha Baik.” (HR. Muslim 1/414)
Disebutkan bahwa Auza’i pernah ditanya ,
ia adalah salah seorang perawi hadits, bagaimana istighfarnya ? dia
menjawab : “Anda katakan :
Astaghfirullah, Astaghfirullah. Astaghfirullah.” (HR. Muslim)
لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ
الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ،
اَللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ،
وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ
[2] Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku
wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir. Allahumma laa maani’a
lima a’thoita wa laa mu’thiya limaa mana’ta wa laa yanfau dzal jaddi
minkal jaddu.
“Tiada tuhan yang berhak diibadahi selain
Allah, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya segala kerajaan, dan pujian, dan
Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang dapat
menolak terhadap apa yang Engkau beri dan tidak ada yang dapat memberi
terhadap apa yang Engkau tolak dan orang yang memiliki kekayaan tidak
dapat menghalangi dari siksa-Mu.” (HR. Al-Bukhariy 1/255 dan Muslim 414)
لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ
الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ. لاَ
حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ، وَلاَ
نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ
الثَّنَاءُ الْحَسَنُ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ
الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ.
[3] Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah. Lahul mulku
wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir. Laa hawla wa laa
quwwata illa billah. Laa ilaha illallah wa laa na’budu illa iyyah. Lahun
ni’mah wa lahul fadhl wa lahuts tsanaaul hasan. Laa ilaha illallah
mukhlishiina lahud diin wa law karihal kaafiruun.
“Tiada tuhan yang berhak diibadahi selain
Allah, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya segala kerajaan, dan pujian, dan
Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Tiada daya dan upaya serta
kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah dan kami tidak beribadah
kecuali kepada Allah, milik-Nya-lah segala kenikmatan, karunia, dan
sanjungan yang baik, tiada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah,
kami mengikhlashkan agama untuk-Nya walaupun orang-orang kafir benci.”
(HR. Muslim 1/415)
Lalu Membaca:
سُبْحَانَ اللهُ
Subhanallah 33x
“Maha Suci Allah.” (tiga puluh tiga kali)
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ
Alhamdulillah 33x
“Segala puji bagi Allah.” (tiga puluh tiga kali)
اَللهُ أَكْبَرُ
Allahu Akbar 33x
“Allah Maha Besar.” (tiga puluh tiga kali)
Kemudian dilengkapi menjadi seratus dengan membaca,
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir
“Tiada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah, tiada sekutu
bagi-Nya, bagi-Nya segala kerajaan, dan pujian, dan Dia Maha Berkuasa
atas segala sesuatu.”
مَنْ سَبَّحَ اللَّهَ
فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَحَمِدَ اللَّهَ ثَلَاثًا
وَثَلَاثِينَ وَكَبَّرَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ فَتْلِكَ تِسْعَةٌ
وَتِسْعُونَ وَقَالَ تَمَامَ الْمِائَةِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى
كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ غُفِرَتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ
الْبَحْرِ.
‘Barangsiapa yang bertasbih setiap selesai
melakukan shalat sebanyak 33 kali, bertahmid sebanyak 33 kali, dan
bertakbir sebanyak 33 kali, maka hal itu berjumlah menjadi 99, dan untuk
melengkapi jumlah 100, ia mengucapkan, La Ilaha
Illallah Wahdahu La Syarika Lahu, Lahul Mulku, Walahul Hamdu Wa Huwa
‘Ala Kulli Syai-in Qodir’ maka kesalahan-kesalahannya diampuni walau
seperti buih di lautan’. [HR. Muslim 597].
Apakah Terpatok Pada Hitungan 33 Saja?
Tidak terpatok pada hitungan 33 saja. Tasbih, tahmid, dan takbir masing-masing dapat dibaca 25 kali, 11 kali, atau 10 kali saja.
Dalil Tasbih, Tahmid, Dan Takbir Masing-masing dibaca 25 kali.
Dari Zaid bin Tsâbit radhiyallâhu ‘anhu ia berkata : “Mereka diperintahkan bertasbih setiap selesai melakukan shalat sebanyak 33 kali, bertahmid sebanyak 33 kali, dan bertakbir sebanyak 34 kali, lalu seorang
laki-laki dari kalangan Anshâr bermimpi, dimana dalam mimpinya ia
didatangi oleh seseorang seraya bertanya, “Apakah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan
kalian untuk bertasbih setiap selesai shalat sebanyak 33 kali,
bertahmid sebanyak 33 kali, dan bertakbir 34 kali?” Orang Anshar itu
menjawab, “Iya.” Orang itu berkata, “Jadikanlah hitungannya 25 kali dan
tambahkan pula tahlil didalamnya.” Tatkala tiba waktu Shubuh, ia mendatangi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Salla dan
menceritakan hal itu kepadanya. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam
bersabda, ‘Jadikankah dzikir kalian sebanyak bilangan itu.’ [HR. an-Nasai 1351 dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albâni].
Dalil Tasbih, Tahmid, Dan Takbir Masing-masing dibaca 11 kali.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam
bersabda, ‘Hendaklah kalian bertasbih, bertahmid, dan bertakbir seusai
shalat sebanyak 33 kali, (dengan rincian) 11 kali (untuk Tasbih), 11
kali (untuk Tahmid), 11 kali (untuk Takbir) yang demikian itu seluruhnya
berjumlah 33 hitungan.’ [HR. Muslim].
Dalil Tasbih, Tahmid, Dan Takbir Masing-masing dibaca 10 kali.
Dari Abdullah bin ‘umar Radhiyallahu ‘anhu
dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam ia berkata, ‘Ada dua perkara
atau dua pekerti yang tidak ada seorangpun hamba muslim jika ia
memeliharanya, melainkan ia masuk syurga. Keduanya sangatlah mudah
(ringan) tetapi orang yang mengamalkannya sangat sedikit, yaitu
bertasbih kepada Allah setiap kali selesai salat sebanyak 10 kali,
bertahmid sebanyak 10 kali, dan bertakbir sebanyak 10 kali …’ [Shahih].
Menyikapi bilangan dzikir yang beragam
Yang benar, formula-formula dzikir yang
disebutkan di atas lebih utama untuk diamalkan semuanya. Maksudnya, pada
suatu waktu jenis hitungan ini dibaca dan pada waktu yang lain jenis
hitungan lainnya dibaca. Dengan demikian semua sunnah-sunnah Rasul
Shalallahu ‘alaihi wasallam dapat teramalkan tanpa mengabaikan salah
satunya.
Atau bacaan ini
سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ
لِلَّهِ وَاللهُ أَكْبَرُ (33 ×) لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ
قَدِيْرُ.
shahabat bertanya, “Ya Rasulullah,
bagaimana dikatakan bahwa kedua amalan tersebut ringan/mudah akan tetapi
sedikit yang mengamalkannya?“
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
menjawab, “Syaithan mendatangi salah seorang dari kalian ketika hendak
tidur, lalu menjadikannya tertidur sebelum mengucapkan dzikir-dzikir
tersebut, dan syaithan pun mendatanginya di dalam shalatnya (maksudnya
setelah shalat), lalu mengingatkannya tentang kebutuhannya (lalu dia pun
pergi) sebelum mengucapkannya.” (Hadits Shahih Riwayat Abu Dawud
no.5065, At-Tirmidziy no.3471, An-Nasa`iy 3/74-75, Ibnu Majah no.926 dan
Ahmad 2/161,205, lihat Shahiih Kitaab Al-Adzkaar, karya Asy-Syaikh
Salim Al-Hilaliy 1/204)
Kita boleh berdzikir dengan tasbih, tahmid
dan takbir masing-masing 33 kali dengan ditambah tahlil satu kali atau
masing-masing 10 kali, yang penting konsisten, jika memilih yang 10 kali
maka dalam satu hari kita memakai dzikir yang 10 kali Subhanallah wal
hamdulillah wallahu akbar (33 x). Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika
lah. Lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir.
“Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah,
dan Allah Maha Besar (33 x). Tidak ada Rabb (yang berhak disembah)
kecuali Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagiNya. BagiNya kerajaan.
BagiNya pujaan. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.”
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu
‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Ada dua
sifat (amalan) yang tidaklah seorang muslim menjaga keduanya (yaitu
senantiasa mengamalkannya, pent) kecuali dia akan masuk jannah, dua
amalan itu (sebenarnya) mudah, akan tetapi yang mengamalkannya sedikit,
(dua amalan tersebut adalah): mensucikan Allah Ta’ala setelah selesai
dari setiap shalat wajib sebanyak sepuluh kali (maksudnya membaca
Subhaanallaah), memujinya (membaca Alhamdulillaah) sepuluh kali, dan
bertakbir (membaca Allaahu Akbar) sepuluh kali, maka itulah jumlahnya
150 kali (dalam lima kali shalat sehari semalam, pent) diucapkan oleh
lisan, akan tetapi menjadi 1500 dalam timbangan (di akhirat). Dan amalan
yang kedua, bertakbir 34 kali ketika hendak tidur, bertahmid 33 kali
dan bertasbih 33 kali (atau boleh tasbih dulu, tahmid baru takbir,
pent), maka itulah 100 kali diucapkan oleh lisan dan 1000 kali dalam
timbangan.”
Ibnu ‘Umar berkata, “Sungguh aku telah
melihat Rasulullah menekuk tangan (yaitu jarinya) ketika mengucapkan
dzikir-dzikir tersebut.”
Membaca surat Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas setiap selesai shalat
Membaca surat Al-Ikhlaash, Al-Falaq dan
An-Naas satu kali setelah shalat Zhuhur, ‘Ashar dan ‘Isya`. Adapun
setelah shalat Maghrib dan Shubuh dibaca tiga kali. (HR. Abu Dawud 2/86
dan An-Nasa`iy 3/68, lihat Shahiih Sunan At-Tirmidziy 2/8, lihat juga
Fathul Baari 9/62)
Membaca ayat Kursi setiap selesai shalat (fardhu).
Barangsiapa membaca ayat ini setiap
selesai shalat tidak ada yang dapat mencegahnya masuk jannah kecuali
maut. (HR. An-Nasa`iy dalam ‘Amalul yaum wal lailah no.100, Ibnus Sunniy
no.121 dan dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albaniy dalam Shahiihul Jaami’
5/339 dan Silsilatul Ahaadiits Ash-Shahiihah 2/697 no.972)
setiap sesudah shalat Maghrib dan Subuh
لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ
الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ
قَدِيْرُ. 10× بعد صلاة المغرب والصبح
Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah. Lahul mulku wa
lahul hamdu yuhyi wa yumiit wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir (Dibaca 10
x setiap sesudah shalat Maghrib dan Subuh)
“Tiada Rabb yang berhak disembah kecuali
Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya, bagiNya kerajaan, bagi-Nya
segala puja. Dia-lah yang menghidupkan (orang yang sudah mati atau
memberi roh janin yang akan dilahirkan) dan yang mematikan. Dia-lah Yang
Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Dibaca 10 x setiap sesudah shalat
Maghrib dan Subuh) HR. At-Tirmidziy 5/515 dan Ahmad 4/227, lihat
takhrijnya dalam Zaadul Ma’aad 1/300)
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً.
Allahumma inni as-aluka ‘ilman naafi’a, wa rizqon thoyyiba, wa ‘amalan mutaqobbala.
“Ya Allah, sesungguhnya aku mohon
kepadaMu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal dan amal yang
diterima.” (Dibaca setelah salam shalat Shubuh).
(HR. Ibnu Majah, lihat Shahiih Sunan Ibni Maajah 1/152 dan Majma’uz Zawaa`id 10/111)
اللَّهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
Allaahumma a’innii ‘alaa dzikrika wasyukrika wahusni ‘ibaadatik
Sebagaimana diterangkan dalam hadits
Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam memegang kedua tangannya dan berkata, “Ya Mu’adz, Demi
Allah, sungguh aku benar-benar mencintaimu.” Lalu beliau bersabda, “Aku
wasiatkan kepadamu Ya Mu’adz, janganlah sekali-kali engkau meninggalkan
di setiap selesai shalat, ucapan…” (lihat di atas):
“Ya Allah, tolonglah aku agar senantiasa
mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu dan beribadah dengan baik kepada-Mu.”
(HR. Abu Dawud 2/86 dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albaniy dalam
Shahiih Sunan Abi Dawud 1/284)
Do’a ini bisa dibaca setelah tasyahhud dan sebelum salam atau setelah salam. (‘Aunul Ma’buud 4/269)
ALLAHUMMA AJIRNII MINANNAR (Ya Allah jauhkanlah aku dari api Neraka) sebanyak (7x).
Dari Muslim bin Al Harits Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
إِذَا انْصَرَفْتَ مِنْ صَلَاةِ الْمَغْرِبِ فَقُلْ اللَّهُمَّ
أَجِرْنِي مِنْ النَّارِسَبْعَ مَرَّاتٍ فَإِنَّكَ إِذَا قُلْتَ ذَلِكَ
ثُمَّ مِتَّ فِي لَيْلَتِكَ كُتِبَ لَكَ جِوَارٌ مِنْهَا وَإِذَا صَلَّيْتَ
الصُّبْحَ فَقُلْ كَذَلِكَ فَإِنَّكَ إِنْ مِتَّ فِي يَوْمِكَ كُتِبَ لَكَ
جِوَارٌ مِنْهَا
“Jika engkau telah selesai shalat maghrib,
bacalah: “Allahumma Ajirni Minan naar,” (Ya Allah jauhkanlah aku dari
api neraka) sebanyak tujuh kali. Jika engkau membacanya lalu mati pada
malam hari maka dicatat bagimu perlindungan dari api nereka. Jika engkau
membaca setelah shalat shubuh, jika engkau mati pada hari itu maka
dicatat bagimu perlindungan dari api neraka.” (HR. Abu Daud, No. 5079.
Imam Ahmad, No. 17362. Ibnu Hibban, No. 2056, beliau menshahihkannya.
Dalam Kitab Raudhatul Muhadditsin, disebutkan bahwa hadits ini hasan,
Juz. 11, Hal. 358, No. 5358. Sementara Syaikh Al Albani mendhaifkannya
dalam As Silsilah Adh Dhaifah No. 1624. Darul Ma’arif)
“Allahumma Inni A’udzu bika minal Jubni wal Bukhl wa A’udzu
bika min An Urooda Ila Ardzalil ‘umur wa A’udzu bika min Fitnatid Dunia,
wa A’udzu bika min Fitnatil Qobr.”
Dari Sa’ad bin Abi Waqash bahwa Rasulullah
saw senantiasa memohon perlindungan setelah shalat-shalatnya dengan
kalimat-kalimat berikut “Allahumma Inni A’udzu bika minal Jubni wal
Bukhl wa A’udzu bika min An Urooda Ila Ardzalil ‘umur wa A’udzu bika min
Fitnatid Dunia, wa A’udzu bika min Fitnatil Qobr.” (Wahai Allah
sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu daripada sifat penakut dan bakhil,
dan aku berlindung kepada-Mu dari usia tua (renta), dan aku berlindung
kepada-Mu dari fitnah dunia dan aku berlindung kepada-Mu daripada fitnah
kubur).” (HR. Bukhori)
Semoga dzikir yang sederhana ini bisa rutin kita amalkan setelah shalat sehingga Allah berkahi aktivitas harian kita.
https://mujitrisno.wordpress.com/2012/06/06/bacaan-dzikir-setelah-shalat-wajib/
silahkan diunduh disini
https://drive.google.com/file/d/0B6IRniQ1tGejdEs3d1hpQU9qY28/edit?usp=sharing
Ringkasannya
https://drive.google.com/file/d/0B6IRniQ1tGejT0x5SHJNLUJyaGs/edit?usp=sharing
GRIYA HILFAAZ
Busana Muslim Berkualitas
💈webinfo : www.griyahilfaaz.com
💈IG : griyahilfaaz
💈Shopee : griyahilfaaz
💈Facebook: griyahilfaaz
💈Tokopedia: griyahilfaaz
💈Bukalapak: griyahilfaaz
EmoticonEmoticon