Khutbah : Sekelumit Kisah di Hari Penghakiman



Sekelumit Kisah di Hari Penghakiman

 

Hadirin rahimakumullah…
Dalam hadits Nabi[1] shalallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, disebutkan bahwa golongan manusia yang pertama kali akan dihakimi pada hari kiamat adalah:

Khutbah : Sekeluarga Menuju Surga




Sekeluarga Menuju Surga

Kaum muslimin rahimakumullah…
Saya awali khutbah ini dengan satu pertanyaan, inginkah Anda masuk surga bersama istri dan anak-anak Anda? Saya yakin, tidak ada seorangpun di antara kita yang tidak menginginkannya. Kita pasti sangat merindukan dan mencita-citakannya.
Di dalam Al-Qur’an surat Ar-Ra’du ayat 20 – 24, Allah tabaraka wa ta’ala telah menyebutkan ciri orang-orang yang layak dimasukkan ke dalam surga-Nya bersama orang tua, istri, dan anak-anaknya.

Khutbah : Pernikahan dalam Bingkai Ibadah



Pernikahan dalam Bingkai Ibadah

Hadirin rahimakumullah…dan kedua mempelai yang berbahagia, perkenankanlah saya menyampaikan nasihat kepada Anda semua…
Bingkai Ibadah
Pertama-tama saya mengingatkan, bahwa tugas utama manusia di muka bumi ini adalah beribadah kepada Allah Ta’ala semata. Maka, seluruh gerak langkah hidup kita hendaknya tidak keluar dari bingkai tugas utama ini.

Khutbah : Mas’uliyah Seorang Ayah Kepada Anaknya




Mas’uliyah Seorang Ayah Kepada Anaknya


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At-Tahrim, 66: 6)
Hadirin Rahimakumullah…
Ayat ini mengingatkan kita, khususnya sebagai seorang Ayah, bahwa kita memiliki mas’uliyah (tanggung jawab) yang berat di hadapan Allah Ta’ala.  Yakni tanggung jawab untuk menjaga diri dan keluarga dari siksa api neraka. Menjaga diri, istri dan anak-anak kita agar tidak menjadi bahan bakar api neraka, na’udzubillahi min dzalik.

Khutbah : Mari Mengindahkan Shalat




Mari Mengindahkan Shalat


الم (١) ذَلِكَ الْكِتَابُ لا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ (٢) الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (٣

 “Alif laam miin. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (Q.S. Al-Baqarah: 1 – 3)
Hadirin rahimakumullah…

Khutbah : Najwa yang Baik





Najwa yang Baik

 

 


لا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلاحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

 “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Maka barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (Q.S. An-Nisa: 114)

Khutbah : Ayo Perbanyak Istighfar!





Ayo Perbanyak Istighfar!

 

Tidak ada seorang pun di antara kita yang tidak menghendaki kesejahteraan. Setiap kita pasti selalu mengharapkan agar kehidupannya penuh keberkahan, memiliki harta yang cukup, rizki yang melimpah serta dijauhkan dari rasa gundah dan kesempitan hidup.
Jawaban atas semua harapan itu diantaranya ada pada istighfar. Siapa saja yang hari-harinya dipenuhi dengan istighfar maka ia akan memperoleh kesejahteraan dari Allah Rabbul ‘Alamin…
Hal ini tergambar dalam seruan Nabi Nuh ‘alaihissalam kepada umatnya yang dimuat di dalam Al-Qur’an,

Khutbah : Islam Agama yang Syamil





Islam Agama yang Syamil

 

Hadirin rahimakumullah…
Allah SWT berfirman,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu.” (Q.S. Al-Maidah: 3)
Ayat ini menegaskan bahwa Allah Ta’ala telah menyempurnakan syari’at agama-Nya. Maka cukuplah bagi kita menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman dalam kehidupan.
Salah satu bukti kesempurnaan ajaran Islam adalah karakternya yang mencakup seluruh aspek kebajikan dalam kehidupan. Islam mengajarkan dan menghargai segala bentuk amal shalih; serta menempatkannya secara proporsional. Islam tidak mengajarkan sikap juz’iyyah (parsial) dalam memahami dan mengamalkan ajaran agama. Islam tidak menghendaki sikap mengagung-agungkan sebuah amalan seraya meremehkan amalan yang lainnya.
Islam menghargai amalan jihad fi sabilillah; menghargai amalan shaum, shalat, dan shadaqah; sebagaimana Islam juga menghargai amalan mencari nafkah; menghargai amalan menegakkan ishlah (perdamaian); menghargai amalan amar ma’ruf nahi munkar; menghargai amalan ‘kecil’menyingkirkan gangguan di jalan.
Hadirin rahimakumullah…

Khutbah : 3 Wasiat Nabi dalam Habluminallah dan Habluminannas


3 Wasiat Nabi dalam Habluminallah dan Habluminannas


Pernahkah mendengar istilah Jawami’ul Kalim? Istilah tersebut memiliki makna: bahasa yang singkat, namun memiliki makna yang luas dan sangat mendalam. Hal inilah yang sering dijumpai dalam sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berikut ini merupakan salah satu hadits yang Jawami’ul Kalim,

Khutbah : Lima Hal Ini Diperintahkan Bersegera


Lima Hal Ini Diperintahkan Bersegera


Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan kita kepada takwa. Dan kita diperintahkan untuk bertakwa kepada-Nya sebagaimana disebutkan dalam ayat,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102)

Syaikh As-Sa’di rahimahullah mengatakan dalam kitab tafsirnya tentang ayat di atas, “Ini adalah perintah Allah kepada hamba-Nya yang beriman untuk bertakwa kepada-Nya dengan sebenar-benarnya takwa. Ia diperintahkan untuk terus bertakwa dan istiqamah hingga maut menjemput. Karena ingatlah, man ‘aasyaa ‘alasy syai’, maata ‘alaih, artinya siapa yang hidup dalam suatu keadaan, maka ia akan mati dalam keadaan seperti itu pula.

Khutbah : Pengaruh Dosa dan Maksiat Terhadap Umat



Pengaruh Dosa dan Maksiat Terhadap Umat


Ibadallah! Bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Taala. Taatlah kepada-Nya, rasakanlah selalu pengawasan-Nya dan jangan durhaka kepada-Nya.

MAKSIAT adalah lawan dari taat, istiqomah dan taqwa. Sikap wara’ adalah berhati-hati dari berbuat ma’siat. Perbuatan maksiat sangat banyak ragam dan macamnya.
Melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah Subhanahu Wata’ala terhitung sebagai maksiat. Demikian pula meninggalkan perkara yang diperintah dan diwajibkan oleh Allah juga dianggap sebagai maksiat. Maka perbuatan dusta, ghibah, mengadu domba, mencuri, berzina, minum khomer, membunuh jiwa yang diharamkan Allah, sihir, makan riba, makan harta anak yatim, durhaka kepada kedua orang tua, berjudi dan lain sebagainya semua itu terhidtung sebagai perbuatan maksiat kepada Allah.

Khutbah : Ancaman Nabi SAW terhadap Pemimpin Zalim dan Para Pendukungnya



Ancaman Nabi SAW terhadap Pemimpin Zalim dan Para Pendukungnya

Mengatur kemaslahatan umat merupakan tanggung jawab terbesar seorang pemimpin. Kemakmuran atau kesengsaraan suatu masyarakat sangat tergantung pada peran yang ia mainkan. Ketika seorang pemimpin berlaku adil sesuai dengan petunjuk Syariat Islam maka masyarakat pun akan sejahtera. Demikian sebaliknya, ketika pemimpin tersebut berlaku zalim dan tidak jujur dalam menjalankan amanahnya maka rakyat pun akan berujung pada kesengsaraan.

Khutbah : Perbuatan Curang, Faktor dan Dampaknya


Perbuatan Curang, Faktor dan Dampaknya

Perbuatan curang dan khianat adalah fenomena negatif yang telah sangat akut dalam perilaku masyarakat kita dewasa ini. Hingga bagi sebagian orang yang lemah jiwanya dan ‘murah’ harga dirinya, perbuatan curang telah menjadi kebiasaan yang seolah bukan lagi dianggap perbuatan dosa. Hampir dalam semua bentuk interaksi yang dilakukan oleh mereka dengan orang lain, selalu saja dibumbui dengan kecurangan, kebohongan dan khianat. Padahal, jangankan agama, seluruh manusia yang lurus fitrahnya pun, mengatakan bahwa perbuatan itu jelas buruk dan tidak terpuji. Tentu perkara curang ini amatlah berat, mengingat terjemahan kata ‘thafif’ atau ‘muthaffif’ sendiri melingkupi kecurangan dalam jumlah yang sangat kecil sekalipun, “Sesungguhnya pelakunya disebut muthaffif karena dia nyaris tidak mencuri dari takaran dan timbangan kecuali hanya amat sedikit dan ringan.” ( Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 19, 250; As-Samarqandi, Bahr al-‘Ulum, vol. 3, 556)

Khutbah : Lima Golongan yang Dikhawatirkan Su’ul Khatimah


Lima Golongan yang Dikhawatirkan Su’ul Khatimah


    قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالأخْسَرِينَ أَعْمَالاً . الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا
“Katakanlah ‘Apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?’ Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan ini, padahal mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al-Kahfi: 103-104)
Allamah Sayyid Abdullah bin Alawi A-Haddad dalam kitabnya berjudul Sabîlul Iddikâr wal I’tibâr bimâ Yamurru bil Insân wa Yanqadli Lahu minal A’mâr (Dar Al-Hawi, Cet. II, 1998, hal. 56) menjelaskan tentang lima golongan orang yang dikhawatirkan meninggal dunia dalam keadaan su’ul khatimah sebagai berikut:

Khutbah Jum’at, Mereka Para Perusak Agama


Khutbah Jum’at, Mereka Para Perusak Agama



إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

Khutbah Jum’at : Di Mana Posisi Kita dalam Perjuangan?.


Khutbah Jum’at : Di Mana Posisi Kita dalam Perjuangan?.

 Pertama, marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah ta’ala. Dzat yang telah memberikan berbagai kenikmatan kepada kita. Mulai dari nikmat sehat, sempat dan nikmat paling besar berupa iman dan Islam.

SAAT IBNU HAMBAL MENDIAMKAN IBNU MA'IN



SAAT IBNU HAMBAL MENDIAMKAN IBNU MA'IN
"Wahai Aba Abdillah, (kuniyah Imam Ahmad) Haruskah semua orang menjadi Ahmad bin Hambal?" tentu kalimat itu tidak asal melucur dari lisan seorang Ibnu Ma'in.
Satu kalimat yang sangat bernas dan sulit dibantah.
Namun lelaki yang diajak bicara itu tak kunjung merespon, bahkan menoleh pun tidak. Padahal yang sedang bicara adalah gurunya para ahli hadist di masanya, Yahya bin Ma'in ra. Bukan karena ia tidak menghormati Pakar Ilmu Rijal itu.
Pastilah Sang Imam memiliki alasan. Dan bisa jadi dia hanya sedang meneguhkan keyakinan dan tekadnya, tidak lebih.
Hingga ketika Yahya bin Main melanjutkan hujjahnya, Ahmad bin Hambal tetap menolak bicara:
"Siapakah diantara kita yang keimanan, ilmu dan taqwanya melebihi Ammar bin Yasir? Bukankah ia pernah mengucapkan satu kalimat kufur-karena terpaksa-namun Al Qur'an menyatakan bahwa tindakan Ammar itu bukan kekufuran;
Barangsiapa kafir kepada Allah setelah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan mereka akan mendapat azab yang besar. [An Nahl: 106]. Lalu apa yang menghalangimu untuk mengatakan bahwa "Al Qur'an itu makhluk" sebagai siasat saja agar engkau selamat". Ujar Yahya bin Main, namun Ahmad bin Hambal hanya memandangnya dan tetap bungkam seribu bahasa.
Hujjah Yahya bin Ma'in sangat kuat, namun pendirian Ahmad bin Hambal jauh lebih kuat.
Jika Ibnu Ma'in memilih terpaksa mengucapkan kalimat itu, maka Ahmad bin Hambal memilih luka dan penjara. Ini bukan soal keberanian atau kepengecutan namun soal keteguhan dalam perjuangan.
بئس العيش أن يحي الجسد ويموت الدين
"Seburuk-buruk hidup adalah ketika jasad hidup sedangkan agama mati" Ucap Ahmad kepada murid-muridnya suatu ketika.
Inilah ketegaran saat ujian membadai. Inilah istiqomah saat dunia dipenuhi fitnah. Inilah prinsip saat semua ulama memilih berdamai dengan kedzaliman.
Dia juga tidak sedang menghasut pengikutnya untuk membelot kepada Khalifah. Namun sedang mengajarkan bagaimana seharusnya sikap ulama ditengah badai fitnah dan kerusakan aqidah?
Sebenarnya dia sedang mengajarkan bil haal (dengan tindakan) hadist Nabi saw yang berbunyi: "sebaik-baik jihad adalah mengatakan kebenaran di hadapan penguasa yang dzalim". Bukankah sebaik-baik methode pengajaran adalah contoh dan keteladanan?
Demikian semestinya seorang ulama!

GRIYA HILFAAZ
Busana Muslim Berkualitas
💈webinfo : www.griyahilfaaz.com
💈IG : @griya_hilfaaz
💈Shopee : @griya_hilfaaz
💈Facebook: @griya_hilfaaz
💈Tokopedia: @griya_hilfaaz
💈Bukalapak: @griya_hilfaaz



Toko Busana Keluarga Muslim

SHOPCARTSHOPCARTSHOPCART
SHOPCARTSHOPCARTSHOPCART

Khutbah : Jangan Kau Tunda Kemenangan Dengan Maksiatmu




Jangan Kau Tunda Kemenangan Dengan Maksiatmu





An-Najah.net – Islam tidak mengkhawatirkan banyaknya musuh dan besarnya kekuatan musuh, ‎namun yang dikhawatirkan adalah Muslim itu sendiri ketika bermaksiat kepada Allah Ta’ala. Dalam sebuah perjuangan, di ‎anatara sebab tertundanya kemenangan adalah maksiat seorang hamba. Entah bermaksiat kepada Allah Ta’ala ‎atau maksiat kepada pimpinannya.‎

Hikmah Perang Uhud

Islam sama sekali tidak menghawatirkan banyaknya musuh dan besarnya senjata musuh. Islam ‎juga tidak begitu menghkawatirkan ancaman dan kecaman musuh. Justru yang dikhawatirkan ‎adalah ketika kita lalai dan bermaksiat kepada Allah Ta’ala. ‎

Saudaraku, bukankah empat belas abad yang lalu Rasulullah Saw sudah mengkhawatirkan umat ‎ini dikarenakan kaum muslimin waktu itu sangat banyak tapi mereka tidak berdaya karena di ‎dalam hati kaum muslimin terdapat penyakit wahn. Lantas apakah wahn itu, Rasulullah Saw ‎bersabda:‎
وَمَا الْوَهْنُ؟ قَالَ: حُبُّ الدُّنْيَا، وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْت‎ ‎
‎(seseorang bertanya), “Apa itu ‘wahn’? “Rasulullah bersabda, “Cinta dunia dan takut ‎mati.”(HR. Abu Daud no. 4297)‎
Jika seorang Muslim sudah cinta dunia dan takut mati. Maka segala hal termasuk harta, tahta, ‎dan wanita yang berkaitan dengan dunia. Maka, dia berusaha meraihnya walaupun kemaksiatan ‎halangannya. Begitu pula seorang Muslim yang takut mati dikarenakan sedikitnya ilmu dan ‎jauhnya dari agama Islam. Dia akan menghalalkan segala cara bahkan berani menjual agamanya ‎dengan harga yang murah yang penting nyawanya selamat.‎

Saudaraku, masihkah kita ingat peristiwa perang Uhud, yang tadinya keunggulan dan ‎kemenangan berada di pihak Islam pada pagi harinya, tapi tatkala para pemanah bermaksiat ‎‎(meninggalkan bukit Uhud), maka janji kemenangan tertunda.‎

Peristiwa Uhud ini sungguh telah menoreh peristiwa yang menakjubkan, antara lain; jumlah ‎musuh tiga kali lipat lebih banyak daripada jumlah kaum muslimin. Kemudian, Allah Ta’ala ‎menangkan kaum muslimin di pagi hari, tapi tatkala mereka bermaksiat, Allah Ta’ala timpakan ‎musibah di sore hari.‎

Kelalaian yang Terabaikan

Saudaraku, jika kita melihat dari sebagian kaum muslimin sekarang. Sebagian dari mereka ‎menyangka bahwa Allah Ta’ala akan memaklumi kemaksiatan seorang hamba, jika ia bermaksiat ‎lantaran menurutnya ia telah lama memperjuangkan Islam dan bergabung dengan para aktivis ‎Islam. Maka ia pun memandang remeh urusan maksiat. Apalagi setelah berlalunya masa yang ‎panjang dari perjuangannya.‎
Maksiat berbentuk apapun pasti akan mempengaruhi dirinya dan orang lain dalam ber-‎Iqomatuddin. Sehingga tertundanya kemenangan dan terseok-seoknya perjalanan iqomatuddin ‎ini, bisa jadi desebabkan maksiat-maksiat pengusungnya. ‎

Seseorang yang bermaksiat mungkin saja melihat badan, harta, dan keluarganya baik-baik saja. Ia ‎merasa tidak ada hukuman atas kemaksiatan yang dilakukannya. Sebenarnya pada saat itulah ia ‎sedang mendapatkan hukuman. Karena pada saat manisnya kelezatan baribadah berubah menjadi ‎hambar tak terasa dan yang tersisa tinggal pahitnya penyesalan, kesedihan, dan kegelisahan.‎

Saudaraku, waspadalah terhadap kejahatan yang disepelekan. Ia mungkin saja dapat membakar ‎negeri. Mematikan hati para pejuang Islam dan menunda kemenangan yang Allah Ta’ala janjikan. ‎
Semoga Allah Ta’ala melindungi dan menjaga kita dari bahayanya kemaksiatan yang merajalela ‎di era moderen ini. Sehingga turunlah kemenangan yang telah Allah Ta’ala janjikan kepada kaum ‎muslimin. Wallahu ‘alam ‎
Penulis: Ibnu Jihad
Editor: Abu Mazaya


GRIYA HILFAAZ
Busana Muslim Berkualitas
💈webinfo : www.griyahilfaaz.com
💈IG : @griya_hilfaaz
💈Shopee : @griya_hilfaaz
💈Facebook: @griya_hilfaaz
💈Tokopedia: @griya_hilfaaz
💈Bukalapak: @griya_hilfaaz



Toko Busana Keluarga Muslim

SHOPCARTSHOPCARTSHOPCART
SHOPCARTSHOPCARTSHOPCART

Khutbah : Mengukur Kemenangan





Mengukur Kemenangan





 Tidak semua kemenangan itu dinilai dengan kemenangan yang hakiki. Kemenangan adalah tujuan dari setiap peperangan. Baik kemenangan maknawi maupun hakiki, ia adalah salah satu tujuan dari sebuah pertempuran.

An-Nasr Dalam Pandangan Manusia

Namun perlu kita garis bawahi, kebanyakan kaum muslimin yang berjihad di medan perang, menilai kemenangan terbatas dengan kemenangan di medan tempur saja, melupakan kemenangan-kemengangan secara maknawi yang banyak mereka capai.

Padahal Allah Ta’ala mensyariatkan jihad ini kepada kita dan tidak memberikan jaminan kepada orang yang menyambut seruannya untuk selalu menang (menang secara hakiki). Bahkan, Allah Ta’ala telah menetapkan kekalahan bagi kaum muslimin sekali waktu, seperti dalam firman-Nya:

إنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ ۚ وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ
Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’. (Q.S. Ali Imran: 140)

Ayat ini turun untuk menegaskan sunnah terjadinya kekalahan yang pasti berjalan. Sunnah kekalahan di medan perang yang dialami kaum muslimin pada perang Uhud ini berlaku bagi siapa saja.
Seandainya manusia mau membuka lebih lebar pemahaman mereka tentang makna kemenangan, mereka akan berkesimpulan bahwa siapa saja yang berjihad dan merupakan puncak tertinggi dari ajaran Islam, ia tidak pernah rugi sedikitpun.

Bahkan, seorang mujahid sejatinya selalunya berada dalam posisi menang. Apapun kondisinya. Berjaya, tertawan, terusir bahkan terbunuh, sejatinya mereka tetaplah menang. Jihad sebenarnya adalah sebuah keberuntungan dalam segala kondisinya, walaupun kenyataan di lapangan berbeda dengan yang diharapkan.

An-Nash Dalam Pandangan Allah Ta’ala

Dalam AI-Qur‘an dan As-Sunnah akan kita temukan hakikat kemenangan bagi seorang mujahid, baik secara individu maupun berjamaah. Kami akan paparkan agar menjadi renungan kita bersama. Sehingga kita semakin mantap melangkah di jalan yang diridho ini.

Pertama, Kemenangan seorang mujahid ketika berhasil mengalahkan hawa nafsunya, bujuk rayuan setan serta delapan perkara yang disukai semua manusia, mengalahkan urusan-urusan duniawi, di mana dalam hal ini banyak sekali kaum muslimin yang gagal, bahkan bisa dibilang hampir seluruh manusia gagal untuk mengalahkan perkara-perkara ini. Allah Ta’ala menyebutkan kedelapan perkara ini dalam firman-Nya:

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
”Katakanlah, jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah Iebih kamu cintai Iebih daripada Allah Ta’ala dan RasuI-Nya dan (dari) beriihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah Ta’ala mendatangkan keputusan-Nya, Dan Allah Ta’ala tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (Q.S. At-Taubah: 24)

Kedua, Jika seorang hamba berangkat berjihad, berarti ia telah mewujudkan kemenangan yang lainnya. kemenangan kali ini berupa kemenangan atas setan yang senantiasa menghalanginya dari jihad dengan berbagai cara. Sebagaimana hadits dari Abu Hurairah w. bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

”Syetan duduk menghadang anak Adam di atas jalan iman, syetan itu berkata kepadanya, ”Apakah kamu mau beriman dan meninggalkan agamamu dan agama ayahmu?” Anak Adam itu tidak memperdulikannya dan terus beriman. Kemudian syetan duduk di jalan hijrah, ia berkata kepadanya: ”Apakah kamu mau berhijrah dengan meninggalkan harta dan keluargamu?” Ia tidak memperdulikannya dan terus berhijrah. Kemudian syetan duduk di atas jalan jihad, ia berkata kepadanya: “Apakah kamu mau berjihad? Nanti kamu terbunuh dan isterimu akan dinikahi orang, hartamu akan dibagibagikan kepada orang lain.” Ia kembali tidak memperdulikannya dan terus berjihad hingga terbunuh. Siapa yang seperti ini keadaannya, menjadi hak Allah untuk memasukkannya ke dalam jannah. ” (H.R. Bukhori)

Ketiga, Ketika seorang mujahid teguh di atas jalan dan prinsip jihad, apapun yang menimpa dirinya, baik kepayahan dan kegoncangan serta komentar-komentar yang melemahkannya, pada dasarnya ini sudah merupakan satu kemenangan. Bukankah Allah Ta’ala berfirman:

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ ۚ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ
”Alloh meneguhkan (iman) orang-orang beriman dengan perkataan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat,  dan Allah Ta’ala menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia Kehendaki (Q.S. lbrahim: 27)

Keempat, Di antara bentuk kemenangan yang Allah Ta’ala berikan kepada para mujahidin adalah dengan menghancurkan musuh mereka dengan menimpakan musibah dari sisi-Nya. Musibah ini terjadi disebabkan karena jihad yang dilakukan para mujahidin.

Seringnya para mujahidin kalah menghadapi musuhnya di medan tempur, ini mengingat tidak seimbangnya kekuatan kedua belah pihak. Akan tetapi Allah Ta’ala yang Mahakuat lagi Mahaperkasa, tiada Dzat yang mampu menandinginya.
Karena para mujahidin telah berusaha secara maksimal, mencurahkan segala teaga dan upayanya, berjuang dengan kekuatan yang Allah Ta’ala berikan kepada mereka, ber-I’dad dengan serius, maka Allah Ta’ala akan menjadikan usaha dan perlawanan mereka yang tidak seberapa itu menjadi sebab kehancuran musuh mereka dengan menurunkan kegoncangan dari sisi-Nya.
Demikianlah beberapa kemenangan-kemenangan maknawi  yang jarang disadari oleh para pejuang Allah Ta’ala, para mujahidin. Sebagian mereka beranganggapan kemenangan itu hanya kemenangan dalam medan perang saat melumpuhkan musuh. Inilah kenyataan yang masih sering terjadi di kalangan para mujahidin.
Semoga risalah singkat ini bisa memantapkan jiwa dan raga bagi para pengembannya saat berjuang dijalan Allah Ta’ala yang sangat agung ini.  Wallahu Ta’ala ‘Alam
Sumber            : Majalah An-Najah edisi 60, hal 11,12
Penulis             : Tengku Azhar
Editor              : Ibnu Alatas

GRIYA HILFAAZ
Busana Muslim Berkualitas
💈webinfo : www.griyahilfaaz.com
💈IG : @griya_hilfaaz
💈Shopee : @griya_hilfaaz
💈Facebook: @griya_hilfaaz
💈Tokopedia: @griya_hilfaaz
💈Bukalapak: @griya_hilfaaz



Toko Busana Keluarga Muslim

SHOPCARTSHOPCARTSHOPCART
SHOPCARTSHOPCARTSHOPCART

Khutbah : Kemenangan Pasti Datang




Kemenangan Pasti Datang





An-Najah.net –  Langkah ideal menepis kegundahan. Imam Syafi’i pernah ditanya, “Manakah ‎yang lebih utama bagi seseorang; apakah diberi tamkin (kemenangan) oleh Allah Ta’ala ataukah ‎diberi ujian?”. Beliau menjawab, “Seseorang tidak akan diberi kemenangan oleh Allah ta’ala ‎hingga ia diberi ujian terlebih dahulu.” (Al-Jihad wal Jihad, Syaikh Umar bin Mahmud Abu ‎Umar, hal. 68)‎
Saudaraku, ujian demi ujian telah menimpa umat ini. Dari yang ringan di rasa hingga yang berat ‎sekalipun telah dialami oleh umat ini. Di antara kaum muslimin ada yang sadar, dan kemudian ‎terbangun dari kelalaian dan kelengahannya selama ini.

Salah Kaprah

Namun tidak sedikit juga mereka yang memanfaatkan ujian ini untuk meraup keuntungan materi ‎duniawi yang tidak berarti. Dalam benak mereka hidup hanya sekali dan jangan disia-siakan ‎kesempatan emas ini. Maka semakin beratlah beban yang akan dipikul oleh umat ini.‎

Orang-orang yang rapuh ruhiyah dan lahiriyah-nya dari tarbiah dan tasfiyah yang benar akan ‎menganggap ujian sebagai malapetaka yang besar. Hingga akhirnya mereka lari dari jalan yang ‎selama ini mereka perjuangkan. Mereka lari dikarenakan tipisnya perasaan teguh dan kecilnya ‎persangkaan baik kepada Allah Ta’ala. ‎
Adapun mereka yang berjiwa hanif akan mejadikan ujian sebagai karunia terbesar dari Allah ‎Ta’ala. Yang dengan ujian-ujian tersebut Allah Ta’ala ingin mengangkat derajatnya di sisi-Nya. ‎Kekuatan, kecemasan, kelelahan dakwah dan jihad, ancaman, buronan dan selainnya adalah ‎permata-permata indah yang menghiasi setiap langkah perjuangannya.‎
Kerenanya, setiap ujian yang selama ini kita hadapi merupakan pelajaran berharga untuk ‎menyusun langkah yang lebih ideal dan mengevaluasi setiap kenerja ‘amal jama’i’ yang sela ini ‎digeluti. Berikut akan kami paparkan beberapa sikap yang harus kita pegang dengan kuat untuk ‎menghadapi pasang-surutnya langkah perjuagan ini.‎

1.‎ Jangan Sampai Niat Bergeser

Niat yang iklas adalah senjata paling ampuh untuk menumbangkan segala kegundahan dan ‎kerisauan. Kerja keras memang butuh penilaian dan penghargaan. Namun karena kurangnya ‎keihklasan, tidak sedikit para pengamban din salah menilai. Banyaknya pendukung dan pengikut ‎dianggap sebuah keberhasilan dan kesuksesan. Dan banyaknya celaan dan cacian dianggap ‎kemuduran dan ketidakberuntungan dalam perjuangan. ‎

Saudaraku, bukankah Allah Ta’ala telah berfirman, “Dan Katakanlah, Bekerjalah kamu, maka ‎Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan ‎dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-‎Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Q.S At-Taubah: 105)‎

‎2.‎ Tsiqoh Kepada Allah Ta’ala Dan Rasul-Nya

Saudaraku, Tsiqoh (teguh keyakinan) kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya merupakan obat paling ‎ampuh untuk mengobati berbagai macam penyakit yang diderita oleh umat ini. Baik individunya ‎maupun jamaahnya. Kurangnya rasa Tsiqoh kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya mengakibatkan ‎umat ini jauh dari amal-amal islami. Padahal jika umat ini telah jauh dari amal-amal islami maka ‎umat ini akan mudah untuk dipalingkan dari kebenaran, dan lebih dari itu sangat mudah untuk ‎dikuasai oleh musuh-musuh mereka. ‎
Rasulullah pernah bersabda, “Wahai golongan Muhajirin, lima perkara apabila kalian mendapat ‎cobaan dengannya, dan aku berlindung kepada Allah semoga kalian tidak mengalaminya:‎
Pertama, tidaklah kekejian menyebar di suatu kaum, kemudian mereka melakukannya dengan ‎terang-terangan kecuali akan tersebar di tengah mereka penyakit Tha’un dan kelaparan yang ‎belum pernah terjadi terhadap para pendahulu mereka. ‎
Kedua, tidaklah mereka mengurangi timbangan dan takaran kecuali mereka akan disiksa dengan ‎kemarau berkepanjangan dan penguasa yang zhalim.
Ketiga, tidaklah mereka enggan membayar zakat harta-harta mereka kecuali langit akan berhenti ‎meneteskan air untuk mereka, kalau bukan karena hewan-hewan ternak niscaya mereka tidak ‎akan beri hujan. ‎
Keempat, tidaklah mereka melanggar janji Allah dan Rasul-Nya kecuali Allah akan kuasakan ‎atas mereka musuh dari luar mereka dan menguasainya.
Kelima, dan tidaklah pemimpin-pemimpin mereka enggan menjalankan hukum-hukum Allah dan ‎tidak menganggap lebih baik apa yang diturunkan Allah, kecuali Allah akan menjadikan rasa ‎takut di antara mereka.” (HR Ibnu Majah 4009)
Saudaraku, inilah gambaran musibah yang akan dipikul umat ini lantaran mereka meninggalkan ‎amal-amal islami, meremehkannya, bahkan tidak sedikit di antara mereka yang berusaha untuk ‎mengubah dan mengantinya. Wal’iyadzubillah
Maka, benarlah perkataan Umar bin Khattab,
yang beliau sampaikan kepada para pasukannya ‎bahwa dosa-dosa yang dimiliki oleh pasukannya jauh lebih ia takuti dari pada jumlah dan ‎kekuatan musuh-musuh mereka.‎

‎3.‎ Amal Shalih

Saudaraku, amal shalih merupakan sarana mempercepat datangnya pertolongan dan rahmat Allah ‎Ta’ala. Bila melihat keadaan kaum muslimin pada hari ini ibarat melihat bebuihan yang ada di ‎lautan. Jumlahnya tidak sama sekali mengendorkan nyali musuh. Hal ini dikarenakan umat Islam ‎yang telah jauh meninggalkan amal-amal shalih.‎
Walaupun ada di antara mereka yang beramal shalih, namun amal-amal shalih itu sangatlah ‎sedikit, kalau tidak demikian maka amal-amal shalih itu sekedar ritual dan rutinitas sehari-hari. ‎Dan sangat sedikit di antara mereka yang memahainya dengan benar.‎

Contoh saja, banyak para wanita muslimah yang shalat dan puasa, tapi di sisi lain mereka masih ‎memamerkan aurat dan mengumbar syahwat mereka. Untuk itu, kita jadikan amalan shalih kita ‎sebagai pendobrak keterasingan dan kekalahan umat ini. Karena kita akan dimenangkan oleh ‎Allah Ta’ala bukan karena banyaknya jumlah dan kekuatan kita, malainkan karena kebenaran din ‎ini. Wallahu ‘alam

Penulis: Abdullah
Sumber: Majalah An-Najah edisi 61‎
Editor: Ibnu Jihad


GRIYA HILFAAZ
Busana Muslim Berkualitas
💈webinfo : www.griyahilfaaz.com
💈IG : @griya_hilfaaz
💈Shopee : @griya_hilfaaz
💈Facebook: @griya_hilfaaz
💈Tokopedia: @griya_hilfaaz
💈Bukalapak: @griya_hilfaaz



Toko Busana Keluarga Muslim

SHOPCARTSHOPCARTSHOPCART
SHOPCARTSHOPCARTSHOPCART