Khutbah Jum’at, Empat Arti Kemenangan




Khutbah Jum’at, Empat Arti Kemenangan





إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ
حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
قال تعالى:
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.
أَمَّا بَعْدُ مَعَاشِرَ المُؤْمِنِيْنَ: اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَرَاقِبُوْهُ مُرَاقَبَةً مَنْ يَعْلَمُ أَنَّ رَبَّهُ يَسْمَعُهُ وَيَرَاهُ
ثُمَّ أَمَّا بَعْدُ
Jamaah shalat Jum’at yang dimuliakan Allah Ta’ala.
Ahlu Sunnah wal Jamaah dalam memaknai asma’ wa shifatullah, atau nama dan sifat-sifat Allah meyakini bahwa Allah tidak akan menghinakan siapa saja yang bertawakkal dan menyerahkan semua urusan kepada-Nya. Mari kita lihat fakta-fakta sejarah. Setiap nabi, ulama, dai dan pejuang Islam yang telah mencurahkan tenaga, pikiran, harta hingga jiwanya tidak pernah dihinakan Allah. Bahkan Allah menjamin akan menolong siapa saja yang memperjuangkan agama-Nya.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَنصُرُوا اللهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad: 7).
Allah Ta’ala berjanji menolong para wali-Nya. Serta menjadikan kehinaan dan kekalahan bagi orang orang kafir dan munafikin. Demikianlah sunnatullah yang berlaku di setiap masa dan tempat.

Bentuk-bentuk Kemenangan

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah Ta’ala.
Satu hal yang harus kita pahami, bahwa kemenangan itu bentuknya bermacam-macam. Kemenangan tidak hanya berarti berhasil mengalahkan lawan di medan pertarungan. Banyak nabi yang dibunuh dan diusir kaumnya. Demikian pula banyak dai yang dipenjara dan gugur. Banyak negeri muslim yang dijajah. Hingga umat Islam dibantai di mana-mana. Secara sekilas, banyak orang menyebut mereka kalah, tapi pada hakikatnya mereka telah meraih kemenangan.
Bentuk-bentuk kemenangan menurut Islam antara lain;

Pertama, kemuliaan dan kekuasaan di bumi.

Allah berikan negeri dan tentara yang kuat bagi umat Islam. Sebagaimana Allah telah berikan kepada nabi Daud dan Sulaiman. Allah befirman:
فَهَزَمُوهُم بِإِذْنِ اللهِ وَقَتَلَ دَاوُودُ جَالُوتَ وَآتَاهُ اللهُ الْمُلْكَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَهُ مِمَّا يَشَاءُ
“Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 251).
فَفَهَّمْنَاهَا سُلَيْمَانَ وَكُلًّا آتَيْنَا حُكْمًا وَعِلْمًا
“Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat).” (QS. Al-anbiya’: 79).
Allah berikan risalah kenabian dan kekuasaan kepada kedua nabi tersebut. Demikian pula Nabi Muhammad SAW, Allah menolong beliau dengan memberi kemenangan dan bangsa Arab takluk atau menggabungkan diri di bawah pemerintahan Islam. Inilah makna kemenangan yang pertama.

Kedua, kehancuran orang-orang kafir dan musyrik dengan azab Allah Ta’ala.

Hukuman dan azab yang Allah berikan sebenarnya adalah pertolongan dari Allah. Itu bisa kita lihat dalam kisah Nabi Nuh dalam Al-Qur’an;
“Maka dia mengadu kepada Tuhannya: “Bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku)”. Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemulah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan. Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku. Yang berlayar dengan pemeliharaan Kami sebagai balasan bagi orang-orang yang diingkari (Nuh). Dan sesungguhnya telah Kami jadikan kapal itu sebagai pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran” (QS. Al-Qomar: 10-15).
Allah Ta’ala juga menolong Nabi Hud, Shalih, Luth, Syuaib dengan cara Allah menghancurkan orang-orang kafir dengan azab-Nya. Serta Allah menyelamatkan para nabi dari azab tersebut.

Ketiga, diberi kekuatan aqidah dan iman meski dalam tekanan.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.
Ketika seorang muslim mampu mempertahankan akidah dan imannya, sungguh ia telah meraih kemenangan. Allah menolong hamba-Nya dengan menguatkan akidahnya. Hamba tersebut ridha meski badan dikorbankan atau nyawa melayang demi menjaga keimanan. Contohnya ialah nabi Ibrahim yang rela dilempar ke dalam kobaran api demi aqidah dan dakwah. Demikian pula si Ghulam dalam surat Al-Buruj yang dipanah sang raja hingga meninggal. Apakah mereka disebut kalah? Tidak. Pada hakikatnya mereka menang, karena pengorbanan mereka menyadarkan kaumnya. Hingga kaumnya bisa melihat mana yang benar dan mana yang salah.
Kafilah iman dari masa ke masa tidak pernah sepi dengan tetesan darah syuhada’. Berapa banyak pejuang yang gugur, namun kafilah perjuangan tidak pernah berhenti. Dakwah terus tumbuh dengan cepat. Mati satu tumbuh seribu. Lihatlah Sayyid Qutub rahimahullah, pejuang dari Mesir ini berhasil melahirkan ribuan pejuang Islam lewat buku. Kisah perjuangannya selalu dikenang. Darah dan pengorbanannya menjadi siraman dan pupuk yang menumbuhkan tunas-tunas baru pejuang syariat.
Beliau pernah mengatakan:
اِنَّ كَلِمَاتَنَا سَتَبْقَى مَيِّتَةً لاَ حِرَاكَ فِيْهَا هَامِدَةً أَعْرَاسًا مِنَ الشُّمُوْعِ فَإِذَا مِتْنَا مِنْ أَجْلِهَا اِنْتَفَضَتْ وَ عَاشَتْ بَيْنَ الْأَحْيَاء . كُلُّ كَلِمَةٍ قَدْ عَاشَتْ كَانَتْ قَدْ اِقْتَاتَتْ قَلْبَ إِنْسَانٍ حَي فَعَاشَتْ بَيْنَ الْأَحْيَاءِ وَ الْأَحْيَاءُ لاَ يَتَبَنُّوْنَ الْأَمْوَات …
“Kalimat (materi dakwah) kita akan tetap mati tak berdaya gerak, diam laksana sumbu yang terjepit di tengah lilin. Tapi bila kita mati karena membelanya, ia menggeliat dan akan hidup di tengah umat manusia. Setiap kalimat yang hidup, pasti karena tumbuh di hati manusia yang hidup. Sebab sesuatu yang mati tak akan melahirkan sesuatu yang hidup.”
Inilah kemenangan terbesar dari berbagai bentuk peperangan dengan orang kafir. Bahkan kemenangan ini akan terus dikenang dalam sejarah perjuangan Islam.
Berapa banyak orang yang telah syahid, tapi mereka seakan hidup dengan dakwah dan jihadnya. Musuh Islam menyangka telah menang. Tapi tidak pernah mengira bahwa tulisan, khotbah dan setiap amal para syuhada’ telah menghidupkan dan menyuburkan ruh-ruh pejuang di setiap tempat dan masa.

Keempat, kekuatan hujjah atau argumentasi.

Allah menolong hambanya dengan memberi hujjah atau argumentasi yang benar dan kuat. Allah berfirman;
وَتِلْكَ حُجَّتُنَا آتَيْنَاهَا إِبْرَاهِيمَ عَلَى قَوْمِهِ نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَّن نَّشَاءُ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ
Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am: 83).
Rasulullah SAW bersabda;
لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَلِكَ
Senantiasa ada sekelompok ummatku yang dimenangkan atas kebenaran, tidak akan membahayakannya orang yang memusuhinya hingga hari Kiamat sedangkan mereka tetap seperti itu.” (HR. Muslim).
Dimenangkan dalam arti paling rendah adalah keberhasilan menyampaikan hujjah dalil dan penjelasan. Tidak ada yang bisa menghambat dan menghentikan hujjah sampai pada umat. Sedangkan makna yang paling besar adalah dimenangkan dengan diberi kekuasaan atau tamkin.
Sesungguhnya yakinnya seorang pejuang dengan janji, pertolongan dan perlindungan Allah Ta’ala adalah bekal yang sangat penting. Ia adalah harapan dan cahaya yang akan dapat menghantarkan seseorang meraih surga atau kemenangan di dunia. Barang siapa hilang keyakinan akan pertolongan Allah, ia telah mendapatkan kerugian yang nyata. Dan barang siapa ragu, Allah akan akhirkan pertolongan sesuai dengan kadar keraguannya. Allah Ta’ala berfirman;
مَن كَانَ يَظُنُّ أَن لَّن يَنصُرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ فَلْيَمْدُدْ بِسَبَبٍ إِلَى السَّمَاءِ ثُمَّ لْيَقْطَعْ فَلْيَنظُرْ هَلْ يُذْهِبَنَّ كَيْدُهُ مَا يَغِيظُ
Barangsiapa yang menyangka bahwa Allah sekali-kali tiada menolongnya (Muhammad) di dunia dan akhirat, maka hendaklah ia merentangkan tali ke langit, kemudian hendaklah ia melaluinya, kemudian hendaklah ia pikirkan apakah tipu dayanya itu dapat melenyapkan apa yang menyakitkan hatinya.” (QS. Al Haj: 15).
Barang siapa masih ragu dengan pertolongan Allah, hendaknya membaca firman Allah;
إِنَّا لَنَنصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ
Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat).” (QS. Ghofir: 51)
Pertolongan Allah pasti datang untuk siapa saja yang berhak mendapatkannya. Yaitu orang-orang mukmin yang yakin dan istiqamah. Yaitu mereka yang merasakan kegoncangan, kesempitan dan kepedihan dalam menegakkan din ini. Mereka yakin bahwa pertolongan hanya milik Allah Ta’ala.
Untuk itu marilah kita memohon agar Allah segera memberikan kemenangan kepada para wali-Nya yang beriman. Dan semoga Allah menghancurkan orang-orang kafir dan menghinakan mereka di dunia sebelum kehinaan hakiki di akhirat nanti.
Demikian khotbah yang kami sampaikan. Segala kebenarannya datang dari Allah Ta’ala. Dan jika ada salah datang dari saya pribadi karena bisikan setan. Dan saya beristighfar kepada-Nya.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ.

Khutbah Kedua

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أشْهَدُ أنْ لاَ إِلٰه إلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا
اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ.
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ حُكَّامًا وَمَحْكُوْمِيْنَ، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ، اَللَّهُمَّ اشْفِ مَرْضَانَا وَمَرْضَاهُمْ، وَفُكَّ أَسْرَانَا وَأَسْرَاهُمْ، وَاغْفِرْ لِمَوْتَانَا وَمَوْتَاهُمْ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا، اَللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْإِيْمَانَ وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوْبِنَا، وَكَرِّهْ إِلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْيَانَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِيْنَ.
اَللَّهُمَّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمنًا مُطْمَئِنًّا قَائِمًا بِشَرِيْعَتِكَ وَحُكْمِكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ، اَللَّهُمّ ارْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ، وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الفِتَنِ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالمُنْكَرِ وَالبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
وَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ الْجَلِيْلَ يَذْكُرْكُمْ، وَأَقِمِ الصَّلَاة
Penulis : Amru Khalis
Sumber : Majalah An-Najah Edisi 126 Rubrik Khutbah Jum’at
Editor : Miqdad
https://www.an-najah.net/khutbah-jumah-empat-arti-kemenangan/?fbclid=IwAR1j_L-fgUj2CEUN5_MkYdstpZHAP0I8O4elr_hGgOZG7yoOE74BKbAIKT8

GRIYA HILFAAZ
Busana Muslim Berkualitas
💈webinfo : www.griyahilfaaz.com
💈IG : @griya_hilfaaz
💈Shopee : @griya_hilfaaz
💈Facebook: @griya_hilfaaz
💈Tokopedia: @griya_hilfaaz
💈Bukalapak: @griya_hilfaaz



Toko Busana Keluarga Muslim

SHOPCARTSHOPCARTSHOPCART
SHOPCARTSHOPCARTSHOPCART

Khutbah Jum’at: Tanggung Jawab Muslim Memilih Pemimpin

Khutbah Jum’at: Tanggung Jawab Muslim Memilih Pemimpin


Hadirin sidang jum’ah -rahimakumullah-

Khutbah : Inti Dakwah Para Nabi dan Rasul




Inti Dakwah Para Nabi dan Rasul
(Dikeluarkan Oleh Sariyah Dakwah Jama’ah Ansharusy Syari’ah)

KHUTBAH PERTAMA

Khutbah : BAGAIMANAKAH KITA BISA DUDUK NYAMAN?



BAGAIMANAKAH KITA BISA DUDUK NYAMAN?
(Dikeluarkan Oleh Sariyah Dakwah Jama’ah Ansharusy Syari’ah)

KHUTBAH PERTAMA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ وَلاَ رَسُوْلَ بَعْدَهُ، قَدْ أَدَّى اْلأَمَانَةَ وَبَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَنَصَحَ اْلأُمَّةَ وَجَاهَدَ فِيْ سَبِيْلِهِ حَقَّ جِهَادِهِ
اَلصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا الْمُصْطَفَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَلَكَ سَبِيْلَهُ وَاهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ وَيَسِّرْ لِيْ أَمْرِيْ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِيْ يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. وَقَالَ: وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى
وَقَالَ النَّبِيُ : اِتَّقِ اللهَ حَيْثُ مَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بَخُلُقٍ حَسَنٍ. (رواه الترمذي، حديث حسن

Khutbah Jum'at - Menjadi Ahlul Qur'an, Menjadi Keluarga Allah



Khutbah Jum'at - Menjadi Ahlul Qur'an, Menjadi Keluarga Allah

_Oleh: Ust. Indra Gumilar, S.Si_

_(Sub Bidang Rumah Qur’an, PW IKADI DIY)_

 ________________________

*Khutbah Pertama:*

________________________

 إِنَّالْحَمْدَلِلهِ،نَحْمَدُهُوَنَسْتَعِيْنُهُوَنَسْتَغْفِرُهُ،وَنَعُوْذُبِاللهِمِنْشُرُوْرِأَنْفُسِنَاوَمِنْسَيِّئَاتِأَعْمَالِنَا،مَنْيَهْدِهِاللهُفَلاَمُضِلَّلَهُ،وَمَنْيُضْلِلْفَلاَهَادِيَلَهُ،أَشْهَدُأَنْلاَإِلَهَإِلاَّاللهُوَحْدَهُلاَشَرِيْكَلَهُوَأَشْهَدُأَنَّمُحَمَّدًاعَبْدُهُوَرَسُوْلُهُ.



اللَّهُمَّصَلِّوَسَلِّمْعَلَىعَبْدِكَوَرَسُوْلِكَمُحَمَّدٍوَعَلَىآلِهِوَأَصْحَابِهِوَمَنْتَبِعَهُمْبِإِحْسَانٍإِلَىيَوْمِالدِّيْنِ.



يَاأَيُّهَاالَّذِيْنَآمَنُوااتَّقُوااللهَحَقَّتُقَاتِهِوَلاَتَمُوْتُنَّإِلاَّوَأَنْتُمْمُّسْلِمُوْنَ



يَاأَيُّهَاالنَّاسُاتَّقُوارَبَّكُمُالَّذِيخَلَقَكُمْمِنْنَفْسٍوَاحِدَةٍوَخَلَقَمِنْهَازَوْجَهَاوَبَثَّمِنْهُمَارِجَالًاكَثِيرًاوَنِسَاءًوَاتَّقُوااللهَالَّذِيتَسَاءَلُونَبِهِوَاْلأَرْحَامَإِنَّاللهَكَانَعَلَيْكُمْرَقِيبًا



يَاأَيُّهَاالَّذِينَآمَنُوااتَّقُوااللهَوَقُولُواقَوْلًاسَدِيدًايُصْلِحْلَكُمْأَعْمَالَكُمْوَيَغْفِرْلَكُمْذُنُوبَكُمْوَمَنْيُطِعِاللهَوَرَسُولَهُفَقَدْفَازَفَوْزًاعَظِيمًا



أَمَّابَعْدُ: فَإِنَّأَصْدَقَالْحَدِيْثِكِتَابُاللهِ،وَخَيْرَالْهَدْيِهَدْيُمُحَمَّدٍ،وَشَرَّاْلأُمُوْرِمُحْدَثَاتُهَا،فَإِنَّكُلَّمُحْدَثَةٍبِدْعَةٌ، وَكُلَّبِدْعَةٍضَلاَلَةٌ، وَكُلَّضَلاَلَةٍفِيالنَّارِ.



Maasyiral muslimin rahimakumullah…



Marilah senantiasa kita bertakwa kepada Allah subhanahau wataala dan terus berusaha meningkatkannya dengan cara menguatkan iman di hati kita dan kemudian berbuat, memperbaiki dan memperbanyak amal-amal shalih dengan melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Karena hanya dengan itulah, ketakwaan terbangun dan terawat didalam jiwa kita. Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:



إِنَّاللَّهَلاَيَنْظُرُإِلَىصُوَرِكُمْوَأَمْوَالِكُمْوَلَكِنْيَنْظُرُإِلَىقُلُوْبِكُمْوَأَعْمَالِكُمْ



“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk, rupa dan harta benda kalian, tetapi Allah memperhatikan hati dan amal-amal kalian”.(HR. Muslim no. 415)



Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah subhanahau wataala yang dengan kasih dan sayang-Nya telah memberi kita nikmat yang banyak yang tidak terhitung. Dan diantara semua nikmat yang dianugerahkan kepada kita, nikmat iman dan Islam adalah nikmat yang terbesar. Segala puji bagi-Nya yang telah memberikan kesempatan kepada kita untuk bisa beribadah, beramal shalih dan berbuat kebajikan.



Shalawat dan salam senantiasa kita haturkan kepada Nabi kita, kekasih kita, penyejuk hati kita, Muhammad bin Abdillah shallallahu ‘alaihi wasallam, kepada keluarga beliau, sahabat, dan pengikutnya hingga akhir zaman.



Maasyiral muslimin rahimakumullah…



Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:



إِنَّلِلَّهِأَهْلِينَمِنَالنَّاسِ.قَالُوا: مَنْهُمْيَارَسُولَاللَّهِ؟قَال: أَهْلُالْقُرْآنِهُمْأَهْلُاللَّهِوَخَاصَّتُهُ



“Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia. Para sahabat bertanya: “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasul menjawab: “Para ahli Al-Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan hamba pilihan-Nya.”(HR. Ahmad).



Siapakah ahlul Qur'an yang disebut sebagai keluarga Allah di antara manusia itu? Hakikatnya semua orang yang menerima al-Qur’an kemudian mengimaninya, semestinya layak untuk disebut sebagai ahlul Qur’an. Yakni mereka yang beriman dan senantiasa berinteraksi dengan al-Qur’an dengan selalu membacanya (tilawah), menghafalnya (tahfidz), mempelajari dan menghayati maknanya (tadabbur) serta yang terpenting lagi adalah mereka juga mengamalkannya.



Maasyiral muslimin, sidang jumat yang dirahmati Allah…



Mari kita rinci satu persatu bagaimana seorang mukmin berinteraksi dengan al-Qur’an dalam kehidupannya sehingga mereka disebut sebagai ahlul Qur’an; keluarga Allah di antara manusia:



Yang pertama;Mereka senantiasa membaca al-Qur’an, maka kehidupannya dipenuhi kebaikan dan pahala dari Allah subhanahau wataala. Mereka ahlul Qur’an kehidupannya senantiasa dipenuhi taburan kebaikan. Bisakah kita bayangkan konversi kebaikan dari ayat-ayat al-Qur’an yang senantiasa membasahi bibirnya sebagai dzikir kepada Allah? Mari kita simak sabda Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam:



عَنْعَبْداللَّهِبْنَمَسْعُودٍرضىاللهعنهيَقُولُ:قَالَرَسُولُاللَّهِصلىاللهعليهوسلم: مَنْقَرَأَحَرْفًامِنْكِتَابِاللَّهِفَلَهُبِهِحَسَنَة.وَالْحَسَنَةُبِعَشْرِأَمْثَالِهَالاَأَقُولُالمحرْفٌوَلَكِنْأَلِفٌحَرْفٌوَلاَمٌحَرْفٌوَمِيمٌحَرْفٌ.



“Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :“Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan المsatu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.” (HR. Tirmidzi)



Dalam hadis yang lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:



الْمَاهِرُبِالْقُرْآنِمَعَالسَّفَرَةِالْكِرَامِالْبَرَرَةِوَالَّذِىيَقْرَأُالْقُرْآنَوَيَتَتَعْتَعُفِيهِوَهُوَعَلَيْهِشَاقٌّلَهُأَجْرَانِ



“Seorang yang lancar membaca Al Quran akan bersama para malaikat yang mulia dan senantiasa selalu taat kepada Allah, adapun yang membaca Al Quran dan terbata-bata di dalamnya dan sulit atasnya bacaan tersebut maka baginya dua pahala.”(HR. Muslim).



Yang kedua;Mereka menghafal al-Qur’an, maka para Malaikat yang mulia lagi taat akan senantiasa membersamainya. Ketika menjelaskan hadis di atas,Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menerangkan bahwa yang dimaksud dengan al-Mahir adalah orang yang mampu membaca al-Qur’an dengan baik dan benar, faham isinya, dan mengamalkan isinya serta hafal ayat-ayatnya. Hal ini dikuatkan dengan hadits senada yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, dengan redaksi:



وَمَثَلُالَّذِييَقْرَأُالْقُرْآنَوَهُوَحَافِظٌلَهُمَعَالسَّفَرةِالكِرَامِالبَرَرَةِ



“Perumpamaan orang yang membaca al-Qur’an dan dia hafal, maka ia akan bersama para Malaikat yang mulia lagi taat.”(HR. al-Bukhari dan Muslim)



Yang ketiga; Mereka yang mempelajari dan mentadabburi al-Qur’an. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:



كِتَابٌأَنْزَلْنَاهُإِلَيْكَمُبَارَكٌلِيَدَّبَّرُواآَيَاتِهِوَلِيَتَذَكَّرَأُولُوالْأَلْبَابِ



“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS. Shaad: 29)

                          

Inilah tujuan utama diturunkannya al-Quran, agar kita memperhatikan, mempelajari, merenungi dan memahami kandungan ayat-ayatnya. Rabb semesta alam, Rabb yang menciptakan kita semua, yang memberi rezeki, yang kita sembah, dan sangat kita cintai, telah memberikan petunjuk bagaimana agar kita hidup sukses di dunia dan bahagia di akhirat, dalam sebuah kumpulan surat-surat yakni al-Qur'an yang berbahasa Arab. Tidakkah kita mau sedikit belajar dan mencoba memahami isi surat dari Rabb semesta alam ini? Padahal kita sangat menginginkan kebahagiaan dunia akhirat, tetapi kenapa kebanyakan kita masih tidak mau mempelajari dan memahami petunjuk-petunjuk-Nya? Semoga Allah jadikan kita termasuk orang-orang yang mau membaca, menghafal, mempelajari dan mentadabburi al-Quran.



Maasyiral muslimin, sidang jumat yang dirahmati Allah…



Dan yang terakhir;Mereka -para ahlul Qur'an- adalah yang senantiasa mengamalkan al-Qur'an. Mereka senantiasa berusaha mewujudkan isi, nilai dan ajaran al-Qur'an dalam kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakatnya. Ketika seseorang merenungi kandungan al-Quran, maka biasanya akan muncul motivasi yang besar dalam dirinya untuk mengamalkan isinya, termotivasi untuk mendapatkan karunia yang Allah janjikan berupa surga, dan takut akan adzab di neraka. Jangan sampai kita seperti orang-orang Yahudi yang Allah umpamakan mereka seperti keledai yang membawa kitab, namun tidak mengamalkannya. Allah berfirman:



مَثَلُالَّذِينَحُمِّلُواالتَّوْرَاةَثُمَّلَمْيَحْمِلُوهَاكَمَثَلِالْحِمَارِيَحْمِلُأَسْفَارًابِئْسَمَثَلُالْقَوْمِالَّذِينَكَذَّبُوابِئَايَاتِاللهِوَاللهُلاَيَهْدِيالْقَوْمَالظَّالِمِينَ



“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya (tidak mengamalkannya) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.”(QS. Al-Jumu’ah: 5)



Dalam surat Al-Fatihah, bahkan Allah menyebut orang-orang Yahudi ini sebagai golongan yang “maghdub” atau "yang dimurkai" dan Allah melarang kita meniru mereka. Yang demikian itu karena mereka membaca, mempelajari dan mengerti Taurat tapi mereka tidak mengamalkannya, bahkan mereka melakukan penolakan dan perlawanan atas kebenaran kitab mereka sendiri. Na'udzubillahi min dzalik, kita berlindung kepada Allah dari sikap yang sedemikian buruk itu..



بَارَكَاللهُلِيْوَلَكُمْفِيالْقُرْآنِالْعَظِيْمِ،وَنَفَعَنِيْوَإِيَّاكُمْبِمَافِيْهِمِنَالْآيَاتِوَالذِّكْرِالْحَكِيْمِ. أَقُوْلُمَاتَسْمَعُوْنَوَأَسْتَغْفِرُاللهَلِيْوَلَكُمْ



________________________

*Khutbah Pertama:*



الْحَمْدُ لله عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِه، وَأَشهَدُ أَن لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِه، وأَشهدُ أنَّ نَبِيَّنَا مُحمَّدًا عَبدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلى رِضْوَانِه، أَمَّا بَعْدُ :



فَيَا عَبَادَ الله، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلاَ تَـمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون:



Maasyiral muslimin rahimakumullah…



Marilah kita berdoa kepada Allah agar senantiasa diberikan hidayah dan taufik untuk bisa menjadi keluarga Allah yakni ahlul Qur'an, yang selalu membaca, menghafal, mempelajari, mentadabburi dan mengamalkan al-Qur'an.



اللهُمَّصَلِّعَلَىمُحَمَّدٍوَعَلَىآلِمُحَمَّدٍكَمَاصَلَّيْتَعَلَىإِبْرَاهِيْمَوَعَلَىآلِإِبْرَاهِيْمَ،إِنَّكَحَمِيْدٌمَجِيْدٌ



اَللّهُمّاغْفِرْلِلْمُسْلِمِيْنَوَاْلمُسْلِمَاتِوَالْمُؤْمِنِيْنَوَالْمُؤْمِنًاتِاَلأَحْيَاءِمِنْهُمْوَالأَمْوَاتِإِنّكَسَمِيْعٌمُجِيْبُالدّعَوَاتِ



رَبّنَالاَتًؤَخِذْنَاإِنْنَسِيْنَاأَوْأَخْطَأْنَارَبّنَاوَلاَتَحْمِلْعَلَيْنَاإِصْرًاكَمَاحَمَلْتَهُعَلىَالّذِيْنَمِنْقَبْلِنَارَبّنَاوَلاَتُحَمّلْنَامَالاَطَاقَةَلَنَابِهِوَاعْفُعَنّاوَاغْفِرْلَنَاوَارْحَمْنَاأَنْتَمَوْلَنَافَانْصُرْنَاعَلىَالْقَوْمِالْكَافِرِيْنَ.



رَبّنَاآتِنَافِيالدّنْيَاحَسَنَةًوَفِياْلأَخِرَةِحَسَنَةًوَقِنَاعَذَابَالنّارِ. وَالْحَمْدُللهرَبّالْعَالَمِيْنَ



وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَـمِيْن



أَقِيْمُوا الصَّلَاة...


Khutbah Jum'at - Menjadi Ahlul Qur'an
Dibuat Tanggal 19-05-2016



Seri Khutbah Jum’at Ikatan Da’i Indonesia (IKADI) Wilayah DIY

_Edisi 21, Jum’at 20 Mei 2016_





*MENJADI AHLUL QUR'AN, MENJADI KELUARGA ALLAH*

_Oleh: Ust. Indra Gumilar, S.Si_

_(Sub Bidang Rumah Qur’an, PW IKADI DIY)_



________________________

*Khutbah Pertama:*

________________________



إِنَّالْحَمْدَلِلهِ،نَحْمَدُهُوَنَسْتَعِيْنُهُوَنَسْتَغْفِرُهُ،وَنَعُوْذُبِاللهِمِنْشُرُوْرِأَنْفُسِنَاوَمِنْسَيِّئَاتِأَعْمَالِنَا،مَنْيَهْدِهِاللهُفَلاَمُضِلَّلَهُ،وَمَنْيُضْلِلْفَلاَهَادِيَلَهُ،أَشْهَدُأَنْلاَإِلَهَإِلاَّاللهُوَحْدَهُلاَشَرِيْكَلَهُوَأَشْهَدُأَنَّمُحَمَّدًاعَبْدُهُوَرَسُوْلُهُ.



اللَّهُمَّصَلِّوَسَلِّمْعَلَىعَبْدِكَوَرَسُوْلِكَمُحَمَّدٍوَعَلَىآلِهِوَأَصْحَابِهِوَمَنْتَبِعَهُمْبِإِحْسَانٍإِلَىيَوْمِالدِّيْنِ.



يَاأَيُّهَاالَّذِيْنَآمَنُوااتَّقُوااللهَحَقَّتُقَاتِهِوَلاَتَمُوْتُنَّإِلاَّوَأَنْتُمْمُّسْلِمُوْنَ



يَاأَيُّهَاالنَّاسُاتَّقُوارَبَّكُمُالَّذِيخَلَقَكُمْمِنْنَفْسٍوَاحِدَةٍوَخَلَقَمِنْهَازَوْجَهَاوَبَثَّمِنْهُمَارِجَالًاكَثِيرًاوَنِسَاءًوَاتَّقُوااللهَالَّذِيتَسَاءَلُونَبِهِوَاْلأَرْحَامَإِنَّاللهَكَانَعَلَيْكُمْرَقِيبًا



يَاأَيُّهَاالَّذِينَآمَنُوااتَّقُوااللهَوَقُولُواقَوْلًاسَدِيدًايُصْلِحْلَكُمْأَعْمَالَكُمْوَيَغْفِرْلَكُمْذُنُوبَكُمْوَمَنْيُطِعِاللهَوَرَسُولَهُفَقَدْفَازَفَوْزًاعَظِيمًا



أَمَّابَعْدُ: فَإِنَّأَصْدَقَالْحَدِيْثِكِتَابُاللهِ،وَخَيْرَالْهَدْيِهَدْيُمُحَمَّدٍ،وَشَرَّاْلأُمُوْرِمُحْدَثَاتُهَا،فَإِنَّكُلَّمُحْدَثَةٍبِدْعَةٌ، وَكُلَّبِدْعَةٍضَلاَلَةٌ، وَكُلَّضَلاَلَةٍفِيالنَّارِ.



Maasyiral muslimin rahimakumullah…



Marilah senantiasa kita bertakwa kepada Allah subhanahau wataala dan terus berusaha meningkatkannya dengan cara menguatkan iman di hati kita dan kemudian berbuat, memperbaiki dan memperbanyak amal-amal shalih dengan melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Karena hanya dengan itulah, ketakwaan terbangun dan terawat didalam jiwa kita. Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:



إِنَّاللَّهَلاَيَنْظُرُإِلَىصُوَرِكُمْوَأَمْوَالِكُمْوَلَكِنْيَنْظُرُإِلَىقُلُوْبِكُمْوَأَعْمَالِكُمْ



“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk, rupa dan harta benda kalian, tetapi Allah memperhatikan hati dan amal-amal kalian”.(HR. Muslim no. 415)



Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah subhanahau wataala yang dengan kasih dan sayang-Nya telah memberi kita nikmat yang banyak yang tidak terhitung. Dan diantara semua nikmat yang dianugerahkan kepada kita, nikmat iman dan Islam adalah nikmat yang terbesar. Segala puji bagi-Nya yang telah memberikan kesempatan kepada kita untuk bisa beribadah, beramal shalih dan berbuat kebajikan.



Shalawat dan salam senantiasa kita haturkan kepada Nabi kita, kekasih kita, penyejuk hati kita, Muhammad bin Abdillah shallallahu ‘alaihi wasallam, kepada keluarga beliau, sahabat, dan pengikutnya hingga akhir zaman.



Maasyiral muslimin rahimakumullah…



Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:



إِنَّلِلَّهِأَهْلِينَمِنَالنَّاسِ.قَالُوا: مَنْهُمْيَارَسُولَاللَّهِ؟قَال: أَهْلُالْقُرْآنِهُمْأَهْلُاللَّهِوَخَاصَّتُهُ



“Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia. Para sahabat bertanya: “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasul menjawab: “Para ahli Al-Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan hamba pilihan-Nya.”(HR. Ahmad).



Siapakah ahlul Qur'an yang disebut sebagai keluarga Allah di antara manusia itu? Hakikatnya semua orang yang menerima al-Qur’an kemudian mengimaninya, semestinya layak untuk disebut sebagai ahlul Qur’an. Yakni mereka yang beriman dan senantiasa berinteraksi dengan al-Qur’an dengan selalu membacanya (tilawah), menghafalnya (tahfidz), mempelajari dan menghayati maknanya (tadabbur) serta yang terpenting lagi adalah mereka juga mengamalkannya.



Maasyiral muslimin, sidang jumat yang dirahmati Allah…



Mari kita rinci satu persatu bagaimana seorang mukmin berinteraksi dengan al-Qur’an dalam kehidupannya sehingga mereka disebut sebagai ahlul Qur’an; keluarga Allah di antara manusia:



Yang pertama;Mereka senantiasa membaca al-Qur’an, maka kehidupannya dipenuhi kebaikan dan pahala dari Allah subhanahau wataala. Mereka ahlul Qur’an kehidupannya senantiasa dipenuhi taburan kebaikan. Bisakah kita bayangkan konversi kebaikan dari ayat-ayat al-Qur’an yang senantiasa membasahi bibirnya sebagai dzikir kepada Allah? Mari kita simak sabda Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam:



عَنْعَبْداللَّهِبْنَمَسْعُودٍرضىاللهعنهيَقُولُ:قَالَرَسُولُاللَّهِصلىاللهعليهوسلم: مَنْقَرَأَحَرْفًامِنْكِتَابِاللَّهِفَلَهُبِهِحَسَنَة.وَالْحَسَنَةُبِعَشْرِأَمْثَالِهَالاَأَقُولُالمحرْفٌوَلَكِنْأَلِفٌحَرْفٌوَلاَمٌحَرْفٌوَمِيمٌحَرْفٌ.



“Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :“Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan المsatu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.” (HR. Tirmidzi)



Dalam hadis yang lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:



الْمَاهِرُبِالْقُرْآنِمَعَالسَّفَرَةِالْكِرَامِالْبَرَرَةِوَالَّذِىيَقْرَأُالْقُرْآنَوَيَتَتَعْتَعُفِيهِوَهُوَعَلَيْهِشَاقٌّلَهُأَجْرَانِ



“Seorang yang lancar membaca Al Quran akan bersama para malaikat yang mulia dan senantiasa selalu taat kepada Allah, adapun yang membaca Al Quran dan terbata-bata di dalamnya dan sulit atasnya bacaan tersebut maka baginya dua pahala.”(HR. Muslim).



Yang kedua;Mereka menghafal al-Qur’an, maka para Malaikat yang mulia lagi taat akan senantiasa membersamainya. Ketika menjelaskan hadis di atas,Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menerangkan bahwa yang dimaksud dengan al-Mahir adalah orang yang mampu membaca al-Qur’an dengan baik dan benar, faham isinya, dan mengamalkan isinya serta hafal ayat-ayatnya. Hal ini dikuatkan dengan hadits senada yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, dengan redaksi:



وَمَثَلُالَّذِييَقْرَأُالْقُرْآنَوَهُوَحَافِظٌلَهُمَعَالسَّفَرةِالكِرَامِالبَرَرَةِ



“Perumpamaan orang yang membaca al-Qur’an dan dia hafal, maka ia akan bersama para Malaikat yang mulia lagi taat.”(HR. al-Bukhari dan Muslim)



Yang ketiga; Mereka yang mempelajari dan mentadabburi al-Qur’an. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:



كِتَابٌأَنْزَلْنَاهُإِلَيْكَمُبَارَكٌلِيَدَّبَّرُواآَيَاتِهِوَلِيَتَذَكَّرَأُولُوالْأَلْبَابِ



“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS. Shaad: 29)

                          

Inilah tujuan utama diturunkannya al-Quran, agar kita memperhatikan, mempelajari, merenungi dan memahami kandungan ayat-ayatnya. Rabb semesta alam, Rabb yang menciptakan kita semua, yang memberi rezeki, yang kita sembah, dan sangat kita cintai, telah memberikan petunjuk bagaimana agar kita hidup sukses di dunia dan bahagia di akhirat, dalam sebuah kumpulan surat-surat yakni al-Qur'an yang berbahasa Arab. Tidakkah kita mau sedikit belajar dan mencoba memahami isi surat dari Rabb semesta alam ini? Padahal kita sangat menginginkan kebahagiaan dunia akhirat, tetapi kenapa kebanyakan kita masih tidak mau mempelajari dan memahami petunjuk-petunjuk-Nya? Semoga Allah jadikan kita termasuk orang-orang yang mau membaca, menghafal, mempelajari dan mentadabburi al-Quran.



Maasyiral muslimin, sidang jumat yang dirahmati Allah…



Dan yang terakhir;Mereka -para ahlul Qur'an- adalah yang senantiasa mengamalkan al-Qur'an. Mereka senantiasa berusaha mewujudkan isi, nilai dan ajaran al-Qur'an dalam kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakatnya. Ketika seseorang merenungi kandungan al-Quran, maka biasanya akan muncul motivasi yang besar dalam dirinya untuk mengamalkan isinya, termotivasi untuk mendapatkan karunia yang Allah janjikan berupa surga, dan takut akan adzab di neraka. Jangan sampai kita seperti orang-orang Yahudi yang Allah umpamakan mereka seperti keledai yang membawa kitab, namun tidak mengamalkannya. Allah berfirman:



مَثَلُالَّذِينَحُمِّلُواالتَّوْرَاةَثُمَّلَمْيَحْمِلُوهَاكَمَثَلِالْحِمَارِيَحْمِلُأَسْفَارًابِئْسَمَثَلُالْقَوْمِالَّذِينَكَذَّبُوابِئَايَاتِاللهِوَاللهُلاَيَهْدِيالْقَوْمَالظَّالِمِينَ



“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya (tidak mengamalkannya) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.”(QS. Al-Jumu’ah: 5)



Dalam surat Al-Fatihah, bahkan Allah menyebut orang-orang Yahudi ini sebagai golongan yang “maghdub” atau "yang dimurkai" dan Allah melarang kita meniru mereka. Yang demikian itu karena mereka membaca, mempelajari dan mengerti Taurat tapi mereka tidak mengamalkannya, bahkan mereka melakukan penolakan dan perlawanan atas kebenaran kitab mereka sendiri. Na'udzubillahi min dzalik, kita berlindung kepada Allah dari sikap yang sedemikian buruk itu..



بَارَكَاللهُلِيْوَلَكُمْفِيالْقُرْآنِالْعَظِيْمِ،وَنَفَعَنِيْوَإِيَّاكُمْبِمَافِيْهِمِنَالْآيَاتِوَالذِّكْرِالْحَكِيْمِ. أَقُوْلُمَاتَسْمَعُوْنَوَأَسْتَغْفِرُاللهَلِيْوَلَكُمْ



________________________

*Khutbah Pertama:*



الْحَمْدُ لله عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِه، وَأَشهَدُ أَن لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِه، وأَشهدُ أنَّ نَبِيَّنَا مُحمَّدًا عَبدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلى رِضْوَانِه، أَمَّا بَعْدُ :



فَيَا عَبَادَ الله، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلاَ تَـمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون:



Maasyiral muslimin rahimakumullah…



Marilah kita berdoa kepada Allah agar senantiasa diberikan hidayah dan taufik untuk bisa menjadi keluarga Allah yakni ahlul Qur'an, yang selalu membaca, menghafal, mempelajari, mentadabburi dan mengamalkan al-Qur'an.



اللهُمَّصَلِّعَلَىمُحَمَّدٍوَعَلَىآلِمُحَمَّدٍكَمَاصَلَّيْتَعَلَىإِبْرَاهِيْمَوَعَلَىآلِإِبْرَاهِيْمَ،إِنَّكَحَمِيْدٌمَجِيْدٌ



اَللّهُمّاغْفِرْلِلْمُسْلِمِيْنَوَاْلمُسْلِمَاتِوَالْمُؤْمِنِيْنَوَالْمُؤْمِنًاتِاَلأَحْيَاءِمِنْهُمْوَالأَمْوَاتِإِنّكَسَمِيْعٌمُجِيْبُالدّعَوَاتِ



رَبّنَالاَتًؤَخِذْنَاإِنْنَسِيْنَاأَوْأَخْطَأْنَارَبّنَاوَلاَتَحْمِلْعَلَيْنَاإِصْرًاكَمَاحَمَلْتَهُعَلىَالّذِيْنَمِنْقَبْلِنَارَبّنَاوَلاَتُحَمّلْنَامَالاَطَاقَةَلَنَابِهِوَاعْفُعَنّاوَاغْفِرْلَنَاوَارْحَمْنَاأَنْتَمَوْلَنَافَانْصُرْنَاعَلىَالْقَوْمِالْكَافِرِيْنَ.



رَبّنَاآتِنَافِيالدّنْيَاحَسَنَةًوَفِياْلأَخِرَةِحَسَنَةًوَقِنَاعَذَابَالنّارِ. وَالْحَمْدُللهرَبّالْعَالَمِيْنَ



وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَـمِيْن



أَقِيْمُوا الصَّلَاة...

 


GRIYA HILFAAZ
Busana Muslim Berkualitas
💈webinfo : www.griyahilfaaz.com
💈IG : @griya_hilfaaz
💈Shopee : @griya_hilfaaz
💈Facebook: @griya_hilfaaz
💈Tokopedia: @griya_hilfaaz
💈Bukalapak: @griya_hilfaaz



Toko Busana Keluarga Muslim

SHOPCARTSHOPCARTSHOPCART
SHOPCARTSHOPCARTSHOPCART

Khutbah : Nasihat Buat Hati Yang Lalai


Nasihat Buat Hati Yang Lalai

(Khutbah Gerhana Matahari Ini Dikeluarkan Oleh Sariyah Dakwah Jama’ah Ansharusy Syari’ah)

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ وَلاَ رَسُوْلَ بَعْدَهُ، قَدْ أَدَّى اْلأَمَانَةَ وَبَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَنَصَحَ اْلأُمَّةَ وَجَاهَدَ فِيْ سَبِيْلِهِ حَقَّ جِهَادِهِ
اَلصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا الْمُصْطَفَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَلَكَ سَبِيْلَهُ وَاهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ وَيَسِّرْ لِيْ أَمْرِيْ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِيْ يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. وَقَالَ: وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى
وَقَالَ النَّبِيُ : اِتَّقِ اللهَ حَيْثُ مَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بَخُلُقٍ حَسَنٍ. (رواه الترمذي، حديث حسن
Hadirin hamba Allah yang dirahmati Allah SWT.
Segala puji bagi Allah SWT, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga, dan para sahabatnya.
Khotib berwasiat kepada diri sendiri khususnya dan jama’ah sekalian marilah kita perbaharui selalu kualitas iman dan taqwa kita, semoga kita akan menjadi orang yang istiqamah sampai akhir hayat kita.
Adapun tema khutbah gerhana kali ini adalah : Nasehat bagi hati yang lalai.
Dulu di zaman jahiliyah, orang-orang menyembah matahari dan bulan. Allah Ta’ala berfirman,
وَمِنْ آَيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya, Jika Ialah yang kamu hendak sembah.” (QS. Fushilat: 41)
Di zaman jahiliyah dahulu juga terdapat anggapan ketika terjadi gerhana matahari atau bulan, itu terjadi karena kematian atau lahirnya seseorang. Dan memang dahulu terjadi gerhana di masa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam karena kematian anaknya, Ibrahim. Jadi orang-orang mengira gerhana itu terjadi karena kematian anaknya. Itulah keyakinan jahiliyah yang masih ada dahulu. Lantas Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan,
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، لاَ يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ
“Matahari dan bulan adalah di antara tanda yang membuktikan kebesaran Allah. Gerhana itu muncul bukan karena sebab kematian seseorang”.[1]
Ketika terjadi gerhana, Allah ingin menakuti hamba-hamba-Nya. Terjadinya gerhana bukanlah karena kematian seseorang. Allah hanya ingin menakuti hamba-Nya kala itu. Ketika gerhana itu terlihat, maka segeralah shalat dan berdo’alah sampai gerhana tersebut berakhir.
Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، لاَ يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ
”Matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Kedua gerhana tersebut tidak terjadi karena kematian atau lahirnya seseorang.” (HR. Bukhari no. 1060 dan Muslim no. 904).
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam di sini mengingkari aqidah jahiliyah yang keliru ketika terjadinya gerhana matahari dan bulan. Dan hendaklah ketika terjadinya gerhana tadi, setiap orang shalat dan perbanyak do’a kala itu sampai gerhana berakhir.
Gerhana di masa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam hanyalah sekali terjadi di Madinah setelah hijrah. Ketika itu beliau keluar dengan rida’ (selendang) dengan penuh khusyu’ dalam keadaan takut pada Allah Ta’ala. Keadaan beliau kala itu seakan-akan terjadi kiamat. Perlu diketahui bahwa tidak ada yang mengetahui hari kiamat selain Allah Ta’ala. Beliau kemudian shalat bersama para sahabatnya, yaitu shalat kusuf (shalat gerhana). Beliau memperpanjang bacaan, ruku’ dan sujudnya. Lama bacaan beliau seperti sedang membaca surat Al Baqarah. Setelah membaca surat, lalu beliau ruku’ dengan ruku’ yang panjang seperti berdiri. Setelah ruku’, (beliau tidak langsung sujud) namun melanjutkan dengan membaca surat Al Fatihah dan surat yang panjang yang lebih ringan dari yang pertama. Lalu setelah itu beliau ruku’ dengan ruku’ yang lebih ringan dari yang pertama. Setelah itu beliau melakukan dua kali sujud. Kemudian beliau berdiri dan melanjutkan raka’at kedua sama dengan cara pada raka’at pertama namun dengan tata cara yang lebih ringan. Kemudian setelah selesai raka’at kedua (seperti shalat lainnya), beliau salam. Gerhana pun selesai, lantas beliau pun memberikan nasehat pada para sahabatnya. Beliau memberi nasehat sesuai kondisi saat itu.
Tata cara yang lebih tepat adalah seperti yang diterangkan dalam hadits yang telah kami sebutkan. Siapa yang telah melakukan seperti itu, maka alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah. Adapun yang dilakukan oleh sebagian orang yang malah ketika terjadinya gerhana, mereka menanti-nanti datangnya gerhana di padang pasir dan meninggalkan shalat gerhana. Ini sungguh perbuatan orang bodoh dan tanda kurangnya iman mereka. Padahal mereka bisa saja shalat. Perlu dipahami bahwa boleh saja gerhana ini tanda awal-awal datangnya musibah.
Perlu dipahami, siapa yang mampu membuat sinar matahari akan terus bersinar, begitu pula dengan rembulan? Siapa pula yang bisa menjamin bahwa sinar matahari yang tertutup tadi bisa kembali, begitu pula rembulan? Bukankah jika sinar keduanya itu hilang menandakan hari kiamat? Bukankah bisa jadi peristiwa ini adalah awal-awal datangnya adzab? Nas-alullaha al ‘afiyah (kita meminta pada Allah keselamatan).
Seorang muslim tentu tidak bisa campur tangan dalam hal-hal tadi, namun ia hanya bisa tunduk dan pasrah serta beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Para pakar memang bisa memperkirakan kapan gerhana itu datang, dapat diketahui dengan perhitung-perhitungan ketika melihat pergerakan bulan dan matahari. Hal ini dapat dikenal dari ilmu falak. Namun hal ini tidaklah menghalangi manusia untuk shalat sebagaimana diperintahkan. Gerhana juga menandakan bahwa sesuatu bisa berubah dengan kehendak Allah, Dia-lah yang menjadikan gerhana tersebut ada.
Ringkasnya, kita wajib yakin, patut, dan takut pada Allah saat keadaan seperti ini. Dan sekali lagi perlu dipahami bahwa gerhana adalah di antara tanda-tanda kiamat. Perlu diketahui bahwa setelah nabi berhijrah, gerhana hanya terjadi sekali, itu baru terjadi selama 10 tahun. Coba lihat sekarang, gerhana terjadi setiap tahun, yaitu terjadi gerhana matahari dan bulan silih berganti. Ini semua dengan kehendak Allah demi menakut-nakuti hamba-Nya. Nas-alullaha as salaamah wal ‘afiyah (kita meminta pada Allah keselamatan).
Nasihat bagi hati yang lalai
Allah berfirman:
اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُعْرِضُونَ (1) مَا يَأْتِيهِمْ مِنْ ذِكْرٍ مِنْ رَبِّهِمْ مُحْدَثٍ إِلَّا اسْتَمَعُوهُ وَهُمْ يَلْعَبُونَ (2)
Artinya : “Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya). Tidaklah datang kepada mereka suatu ayat Al Quran pun yang baru (di-turunkan) dari Tuhan mereka, melainkan mereka mendengarnya, sedang mereka bermain-main.” (QS. Al-Anbiya : 1-2).
Orang yang memperhatikan keadaan manusia pada zaman sekarang ini akan dapat melihat betapa tepatnya ayat ini dengan kenyataan yang ada. Mereka berpaling dari minhaj Allah, agama Allah, hukum Allah, serta lalai dari urusan akhirat dan tujuan mereka diciptakan. Mereka merasa seolah-olah tidak diciptakan untuk beribadah, melainkan untuk bersenang-senang mengikuti hawa nafsunya. Mereka berfikir tentang dunia, mereka mencintai karena dunia, dan meraka bekerja demi dunia. Mereka saling bersaing, bermusuhan bahkan saling membunuh hanya karena dunia.
Itu semua telah menyebabkan mereka meremehkan dan mengabaikan perintah-perintah Rabbnya. Bahkan sebagian mereka ada yang sudah berencana untuk meninggalkan shalat atau menunda hingga akhir waktu karena ada urusan pekerjaan atau menyaksikan pertandingan, atau karena janji dan lain sebagainya.!!
Segala sesuatu dalam hidup ini memiliki porsi di hati mereka. Pekerjaan, perdagangan, olahraga, perjalanan, film-film, sinetron, lagu dan musik, makan, minum, tidur, dan semuanya memiliki tempat tersendiri dalam hatinya kecuali Al-Qur'an dan perintah-perintah agama.
Engkau lihat bahwa salah seorang dari mereka begitu cerdas dan pandai dalam perkara dunia, akan tetapi si cerdas yang "miskin" ini tidak dapat mengambil manfaat dari kepandaian dan kecerdasannya itu pada perkara yang bermanfaat baginya di akhirat kelak. Kepandaiannya tidak menuntunnya menuju jalan hidayah dan istiqamah di atas agama Allah yang padahal di sanalah dia akan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Sungguh inilah bentuk terhalangnya seseorang dari merasakan kebahagian hakiki.
يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ
"Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai." (Ar-Rum: 7)
Kita katakan kepada mereka yang senantiasa tenggelam dalam kezhaliman, dosa, dan kemaksiatan bahwa mereka ini boleh jadi tidak mempercayai adanya neraka, atau meyakini bahwa neraka diciptakan untuk selain mereka. Mereka telah lupa akan hari perhitungan dan hari pembalasan dan mereka pura-pura buta akan apa yang terpampang di hadapan mata berupa kedahsyatan, kesulitan dan kengeriannya.
لَعَمْرُكَ إِنَّهُمْ لَفِي سَكْرَتِهِمْ يَعْمَهُونَ
"Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)." (QS. Al-Hijr: 72)
Mereka sibuk mengurusi kenyamanan dan kebahagian fisik mereka di dunia yang fana dan mereka mengabaikan kebahagiaan dan kenyamanan di akhirat yang kekal selamanya. Betapa semangatnya mereka mengejar harta. Betapa seriusnya mereka dalam bekerja. Dan betapa telatennya mereka memperhatikan kesehatan tubuhnya. Akan tetapi, mempelajari urusan agama, memahami, mengamalkan, dan berpedoman padanya adalah perkara yang paling akhir yang dipikirkannya. Itupun kalau mereka masih punya sisa waktu dari kesibukannya mengejar dunia.
Waktu mereka habis tanpa faidah. Bahkan mayoritasnya dihabiskan pada hal yang diharamkan dan melanggar yang diwajibkan. Mereka melakukannya dengan dalih mencari kesenangan dan kebahagiaan. Padahal apa yang mereka lakukan ini sama sekali tidak akan mengantarkan melainkan kepada kesengsaraan. Sadar atau tidakkah mereka itu dengan firman Allah SWT:
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى
"Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta." (QS. Thaha: 124)
Lihatlah saudaraku bagaimana kita menyikapi perintah Allah dan Rasul-Nya SAW? Apakah kita mengamalkan dan merealisasikannya dalam kehidupan atau kita mengabaikannya dan hanya mengambil sebagian yang sesuai dengan ambisi dan nafsu kita semata?
Agama ini tidak bisa dipecah-pecah. Iltizam (berpegang) pada sebagian urusannya dan meninggalkan yang lainnya dianggap sebagai penghinaan, meremehkan, dan mempermainkan perintah Allah SWT. Sangatlah tidak layak bagi seorang muslim untuk berbuat demikian. Sungguh Allah telah melarang hal itu dan mengancam pelakunya dengan adzab yang pedih.
أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
"Apakah kamu beriman kepada sebagian Al-Kitab dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan di dunia dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang amat berat." (QS. Al-Baqarah: 85)
Muslim yang sejati waktunya habis untuk beribadah. Agama baginya bukanlah hanya sekedar simbol ibadah. Ditunaikan kemudian hidup dalam kehidupan yang tanpa agama dan tanpa ibadah. Yakni kehidupan dengan makanan yang haram, minum yang haram, mendengar yang haram, melihat yang haram, bicara yang haram, dan berbuat yang haram!! Sungguh mereka yang berbuat demikian berarti tidak faham hakikat Islam yang diemban dan dia dambakan.
Saudaraku! Wahai yang tenggelam dalam kemaksiatan, sampai kapankah kelalaian ini akan berlangsung? Sampai kapankah engkau berpaling dari Allah? Tidakkah tiba saatnya engkau bangun dan bangkit dari kelalaian ini? Belum tibakah saatnya hati yang keras ini menjadi lunak dan khusyu' kepada Rabb semesta alam?
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ
"Belum datangkah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka)." (QS. Al-Hadid: 16)
Segeralah bertaubat dan semangatlah! Tidakkah kita ingin menjadi bagian dari kelompok orang-orang yang bertaubat? Tidakkah kita menginginkan apa yang mereka inginkan? Apakah engkau merasa lebih kaya dan tidak butuh kepada apa yang mereka dambakan berupa pahala di sisi Allah? Apakah mereka takut kepada Allah sementara kita merasa kuat sehingga tidak takut kepada-Nya? Kemudian bayangkanlah juga oleh kita neraka, panasnya, luasnya, dalamnya, kedahsyatan dan kengeriannya. Adzab yang diderita oleh penghuninya berlangsung terus tanpa henti.
كُلَّمَا أَرَادُوا أَنْ يَخْرُجُوا مِنْهَا مِنْ غَمٍّ أُعِيدُوا فِيهَا وَذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِ
"Setiap kali mereka hendak ke luar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya. (kepada mereka dikatakan): 'Rasakanlah adzab yang membakar ini.'" (QS. Al-Hajj: 22)
Bayangkanlah semua itu mudah-mudahan akan membantu kita untuk segera bertaubat kembali kepada Allah. Demi Allah, kita selamanya tidak akan pernah menyesal karena taubat. Bahkan engkau akan mendapatkan kebahagiaan dengan izin Allah di dunia dan di akhirat dengan kebahagian yang sebenarnya. Berusahalah mulai hari ini untuk menempuh jalan tersebut dan janganlah menyerah. Bukankah engkau senanitasa membaca dalam shalatmu:
"Tunjukilah kami ke jalan yang lurus." (Al-Fatihah:6)?
Maka selama engkau menghendaki jalan yang lurus, mengapa engkau tidak menempuh dan menelusurinya!!
Saudaraku hati-hatilah kalian jangan sampai tertipu oleh dunia dan condong kepadanya. Hati-hatilah kita untuk menjadikan dunia sebagai cita-cita dan tujuan hidup kita. Sungguh setiap kali kita melewati detik demi detik dari hidupmu ini dan engkau merasakan kenikmatannya, berarti engkau pergi meninggalkannya. Maka sangatlah disesalkan apabila kematian datang menjemputmu sementara engkau belum sempat bertaubat.
Sangatlah disayangkan ketika engkau diseru untuk betaubat engkau tidak menyahutnya. Jadilah engkau orang yang cerdas yang bisa berfikir dan beramal untuk apa yang akan dihadapi. Di depanmu telah menanti kematian dan sakaratnya, qubur dan kegelapannya, padang mahsyar berikut kedahsyatannnya. Engkau akan berdiri dihadapan Allah dan akan ditanya tentang apa yang telah engkau kerjakan, baik kecil ataupun besar. Maka persiapkanlah jawaban untuk itu.
فَوَرَبِّكَ لَنَسْأَلَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ (92) عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ (93)
"Maka demi Tuhanmu, Kami akan menanyai mereka semua, tentang apa yang mereka kerjakan dahulu." (QS. Al-Hijr: 92-93)
Maka hati-hatilah jangan sampai berbuat kesalahan sehingga engkau akan menyesal pada hari di mana tidak bermanfaat lagi penyesalan. Selamatkanlah dirimu dari neraka selama kesempatan itu masih ada di tanganmu dan sebelum engkau berkata:
حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ (99) لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (100)
“(Demikianlah Keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, Dia berkata: "Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia)."Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku bisa berbuat amal shalih terhadap apa yang telah aku tinggalkan." (QS. Al-Mu'minun: 99-100)
Dan saat itu keinginanmu tersebut tidak Allah kabulkan sama sekali.
Kita mohon pada Allah keselamatan dan moga kita dihilangkan dari berbagai keburukan diri kita. Semoga Allah menganugerahkan pada kita taubat yang ikhlas, dan moga Allah beri kita taufik dalam perkataan dan perbuatan.
Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarga dan seluruh sahabatnya.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اَللَّهُمَ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ. اَللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنِ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ وَزَمَانٍ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ اْلأَبْرَارِ. رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَّسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِن قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ، وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اَللَّهُمَّ إِنَا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَجَنَّتَكَ وَنَسْأَلُكَ شَهَادَةً فِيْ سَبِيْلِكَ. اَللَّهُمَّ أَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُبْتَدِعَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ
اَللَّهُمَّ شَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَمَزِّقْ جَمْعَهُمْ وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ وَأَلْقِ فِيْ قُلُوْبِهِمُ الرُّعْبَ. اَللَّهُمَّ عَذِّبْهُمْ عَذَابًا شَدِيْدًا وَحَسِّبْهُمْ حِسَابًا ثَقِيْلاً. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ


GRIYA HILFAAZ
Busana Muslim Berkualitas
💈webinfo : www.griyahilfaaz.com
💈IG : @griya_hilfaaz
💈Shopee : @griya_hilfaaz
💈Facebook: @griya_hilfaaz
💈Tokopedia: @griya_hilfaaz
💈Bukalapak: @griya_hilfaaz



Toko Busana Keluarga Muslim

SHOPCARTSHOPCARTSHOPCART
SHOPCARTSHOPCARTSHOPCART

Khutbah : Kedudukan Al-Qur’an Di Hati Orang Islam


 Kedudukan Al-Qur’an Di Hati Orang Islam

KHUTBAH PERTAMA


إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ وَلاَ رَسُوْلَ بَعْدَهُ، قَدْ أَدَّى اْلأَمَانَةَ وَبَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَنَصَحَ اْلأُمَّةَ وَجَاهَدَ فِيْ سَبِيْلِهِ حَقَّ جِهَادِهِ

اَلصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا الْمُصْطَفَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَلَكَ سَبِيْلَهُ وَاهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ وَيَسِّرْ لِيْ أَمْرِيْ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِيْ يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. وَقَالَ: وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

وَقَالَ النَّبِيُ : اِتَّقِ اللهَ حَيْثُ مَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بَخُلُقٍ حَسَنٍ. (رواه الترمذي، حديث حسن

Jamaah Jum’at hamba Alloh yang dirahmati Alloh SWT.

Segala puji bagi Alloh SWT, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shalallohu ‘Alaihi Wasallam, keluarga, dan para sahabatnya.

Khotib berwasiat kepada diri sendiri khususnya dan jama’ah sekalian marilah kita perbaharui selalu kualitas iman dan taqwa kita, semoga kita akan menjadi orang yang istiqamah sampai akhir hayat kita.

Adapun tema khutbah jum’at kali ini adalah: Kedudukan Al-Qur’an Di Hati Orang Islam.

Hadirin, kaum muslimin rahimakumulloh,

Ada beberapa pertanyaan yang selalu menggelayuti hati ketika melihat kondisi kaum muslimin. Pertanyaan itu sebagai berikut:

Bukankan Alloh itu Maha Penyayang dan sangat menyayangi umat beriman?.

Bukankan Alloh itu Maha berkuasa dan mampu menjayakan kaum muslimin?.

Bukankan Al-Qur’an yang kita baca dalam sholat kita adalah sumber kebahagiaan, kejayaan, kemakmuran bagi yang mengamalkannya?.

Bukankah kaum muslimin itu umat yang terbaik yang diutus untuk memimpin bukan dipimpin umat lain, mendidik bukan dididik umat lain?.

Bukankah umat Islam dijadikan Alloh sebagai umat yang satu?.

Terus kalau kita ingin memproyeksikan hakekat di atas dengan kondisi kaum muslimin pada masa kini maka hasilnya akan menuntut kita untuk lebih merenung, dimana kejayaan kaum muslimin?, dimana harga diri kaum muslimin, bahkan dimana harga darah seorang muslim di mata kaum muslimin sendiri?, dimana kepemimpinan, kejayaan kaum muslimin diatas kaum yang lainnya?, dimana solidaritas sesama kaum muslimin? dalam skala nasional maupun internasional.

Kemudian saya membaca ayat ini:

)أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ اْلأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ) (الحديد:16

"Belumkah sampai waktunya orang-orang beriman khusu’ hati mereka untuk ingat Alloh dan berdzikir dengan kebenaran yang Alloh turunkan dan janganlah mereka seperti orang-orang yang diberi kitab sebelum mereka dan lewatlah masa panjang atas mereka (tidak membaca kitab mereka) maka mengeraslah hati mereka dan kebanyakan mereka orang fasiq”. (QS. Al-Hadid: 16)

Dan merenungi rintihan Rasululloh kepada Robbnya dengan mengatakan:

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُوراً) (الفرقان:30

"Berkatalah Rasul wahai Robbku sungguh kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang ditinggalkan”. (QS. Al-Furqan: 30)

Ditinggalkan karena mereka tak membacanya, atau tidak mau merenungi maknanya atau tidak mau mengamalkan isinya.

Yang paling tepat untuk menjawab pertanyaan diatas adalah kita bersama merenungi sambutan Rasululloh dan para sahabat terhadap Al-Qur’an dan bagaimana kedudukan Al-Qur’an dihati mereka.

Hadirin rahimakumulloh,

Bagaimana Al-Qur’an dihati Rasululloh dan para sahabat?

Pertama: para sahabat memandang kebesaran Al-Qur’an dari kebesaran yang menurunkannya, kesempurnaannya dari kesempurnaan yang menurunkannya, mereka memandang bahwa Al-Qur’an turun dari Raja, Pemelihara, Sesembahan yang Maha Perkasa, Maha Mengetahui, Maha Kasih Sayang, sebagaimana ditekankan oleh Alloh dalam berbagai permulaan surat:

 تنـزيل الكتاب من الله العزيز الحكيم سورة الزمر، الجاثية، الأحقاف، تنـزيل الكتاب من الله العزيز العليم  سورة المؤمن،  تنـزيل من الرحمن الرحيم سورة فصلت  كذلك يوحي إليك وإلى الذين من قبلك الله العزيز الحكيم ،له ما في السماوات وما في الأرض وهو العلي العظيم  سورة الشورى

Dari pandangan ini mereka menerima Al-Qur’an dengan perasaan bahagia campur perasaan hormat siap melaksanakan perintah dan perasaan cemas dan harapan, serta perasaan kerinduan yang amat dalam, bagaimana tidak?, karena orang yang membaca Al-Qur’an berarti seakan mendapat kehormatan bermunajat dengan Alloh sekaligus seperti seorang prajurit menerima perintah dari atasan dan seorang yang mencari pembimbing mendapat pengarahan dari Dzat yang maha mengetahui. Dan perasaan inilah yang digambarkan oleh Alloh dalam Firmannya:

 أولئك الذين أنعم الله عليهم من النبيين من ذرية آدم وممن حملنا مع نوح ومن ذرية إبراهيم وإسرائيل وممن هدينا واجتبينا إذا تتلى عليهم آيات الرحمن خروا سجدا وبكياً(سورة مريم الآية : 58)

"Mereka orang-orang yang Alloh berikan kenikmatan kepada mereka dari para nabi dari keturunan Adam dan dari orang yang kami bawa bersama Nuh dan dari keturunan Ibrohim dan Israel (Ya’qub) dan dari orang yang yang kami beri petunjuk dan kami pilih jika dibacakan kepada mereka ayat-ayat yang Maha Penyayang mereka bersungkur dalam kondisi sujud dan menangis”. (QS. Maryam: 58)

 إن الذين أوتوا العلم من قبله إذا يتلى عليهم يخرون للأذقان سجداً ويقولون سبحان ربنا إن كان وعد ربنا لمفعولاً ويخرون للأذقان ويزيدهم خشوعاً  سورة الإسراء 107-109

"Sesungguhnya orang-orang yang diberi ilmu sebelumnya jika dibacakan atas mereka (ayat-ayat Alloh) mereka tersungkur dengan dagu-dagu mereka dalam kondisi sujud, mereka berkata maha suci Robb kami sungguh janji Robb kami pasti terlaksana mereka tersungkur dengan dagu-dagu mereka dalam kondisi menangis dan menambahi mereka kekhkusu’an”. (QS. Al-Isra’: 107-109)

Dari perasaan diatas menyebabkan Umu Aiman menangis ketika teringat akan wafatnya Rasululloh. Suatu saat Abu Bakar dan Umar berkunjung kepada ibu asuh Rasululloh Ummu Aiman dan ketika mereka duduk, menagislah Ummu Aiman karena teringat wafatnya Rasululloh maka berkatalah Abu Bakar dan Umar, “Kenapa anda menangis sementara Rasululloh mendapatkan tempat yang mulia”? Ummu Aiman menjawab, "Saya menangis bukan karena meninggalnya beliau melainkan karena terputusnya wahyu Alloh yang datang kepada beliau pada pagi dan petang hari", maka saat itu pula meledaklah tangisan mereka bertiga.

Dari perasaan diatas para sahabat membaca dan menerima Al-Qur’an untuk dilaksanakan secara spontan tanpa menunggu-nunggu dan tanpa sedikit protes walau-pun hal itu bertentangan dengan kebiasaan mereka, tapi mereka bisa menundukkan perasaan mereka dengan cinta mereka kepada Alloh.

Ketika turun perintah untuk memakai jilbab pada surat Al-Ahzab: 59, malam hari Rasululloh menyampaikan ayat itu kepada para sahabat, pagi harinya para istri sahabat sudah memakai jilbab semua, bahkan `Aisyah mengatakan, "Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshor mereka diperintah pakai hijab pada malam hari sementara pada paginya mereka sudah memakainya bahkan ada yang merobek ordeng/kelambu mereka untuk dipakai jilbab".

Ketika diharamkannya khomer dan ayat itu sampai kepada mereka, saat itu juga langsung mereka membuang simpanan khomernya dan menuang apa yang masih di tangannya.

Salah satu rahasia keajaiban para sahabat dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an adalah keimanan mereka kepada Alloh, surga dan neraka-Nya, kepada janji-Nya sehingga mereka melakukan sesuatu yang apabila dilihat oleh orang yang tak memahami latar belakang ini akan sulit menafsirkannya.

Seperti ketika mereka membaca tentang janji Alloh buat orang-orang yang berjihad karena cinta Alloh, seorang sahabat yang bernama Umair bin Hamam sedang makan korma bertanya wahai Rasululloh, “Dimana saya kalau saya mati dalam perang ini? Rasululloh menjawab "Di surga", berkatalah Umair: "Sungguh menunggu waktu masuk surga sampai menghabiskan makan kurma tujuh biji ini adalah sangat lama”, dan ahirnya dibuanglah sisa kurma yang belum dimakan dan langsung maju perang sampai menemui syahidnya.

Kondisi keimanan yang tinggi ini menjadi episode kehidupan mereka menjadi bagian dari yang diceritakan oleh Alloh dalam Al-Qur’an, Hal itu seperti perhatian orang-orang Anshor terhadap orang-orang muhajirin atau perhatian mereka terhadap orang-orang yang lemah, seperti yang Alloh ceritakan dalam surat Al-Hasyr dimana Rasululloh kedatangan tamu dan beliau tidak memiliki sesuatu untuk menjamunya, akhirnya beliau tawarkan hal itu kepada sahabatnya siapa yang bersedia membawa tamu beliau, dengan sepontan salah satu sahabat bersedia, tetapi ketika sampai rumah ternyata istrinya bilang bahwa tidak ada persediaan makanan kecuali makan malam anaknya, maka sahabat tadi memerintahkan istrinya untuk mengeluarkan makanan tadi untuk tamunya dan mengeluarkan dua piring dan segera mematikan lampu ketika tamunya sedang makan, tamunya makan dan tuan rumah menampakkan seakan-akan makan agar dia bisa makan dengan enak, ketika sampai pagi hari sahabat tadi bertemu dengan rasul dan beliau bilang kalau Alloh heran dengan apa dia lakukan maka turunlah firman Alloh ayat sembilan surat Al-Hasyr.

Kedua: Rasululloh dan para sahabat memandang Al-Qur’an sebagai obat bagi segala penyakit hati dan ketika mereka membaca Al-Qur’an yang berbicara tentang segala kelemahan hati, penyakit hati, mereka tidaklah merasa tersinggung bahkan mereka berusaha mengoreksi hati mereka dan membersihkan segala sifat yang dicela oleh Al-Qur’an dan berusaha bertaubat dari apa yang dikatakan buruk oleh Al-Qur’an.

Maka sudah pantaslah ketika Al-Qur’an banyak menceritakan sifat-sifat munafiqin mulai dari malas sholat, dzikir sedikit, pengecut, mengambil orang kafir sebagai pemimpin dan lain-lainnya, para sahabat segera mengoreksi hati mereka dan mencari obatnya walaupun mereka tidak dihinggapi penyakit itu, berkatalah Abdulloh ibnu Mulaikah:

أدركت سبعين من أصحاب محمد  كلهم يخافون من النفاق.

“Aku mendapatkan tujuh puluh dari sahabat nabi, mereka semua takut kalau terkena penyakit nifaq”.

Ketika sahabat Handholah merasa adanya fluktuasi imannya segeralah ia datang kepada Rasululloh dengan mengatakan “Ya Rasululloh nifaqlah Handholah”, berkatalah Rasul Alloh: Kenapa? Handlolah menjawab: “Wahai Rasul Alloh kalau saya disamping engkau dan engkau ingatkan kami dengan sorga dan neraka, jadilah sorga dan neraka seakan-akan jelas dimata kami, tapi jika kami pulang dan bergaul dengan anak istri serta sibuk dengan harta kami, kami banyak lupa, bersabdalah Rasululloh, “Wahai Handholah kalau kalian berada dalam kondisi seperti itu (seakan melihat sorga dan neraka) terus menerus pastilah para malaikat menyalami kalian dijalan-jalan kalian”.

Dari sensitifitas perasaan Handholah dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an, ia bisa mengalahkan pe-rasaan ingin dekat dengan istrinya pada malam pertama dan ditinggalkannya untuk berjihad sampai syahid padahal ia belum sempat mandi junub, sehingga Rasululloh ber-sabda bahwa ia dimandikan oleh para malaikat.

Ketiga: Para sahabat memandang bahwa Al-Qur’an adalah nasehat dari Dzat yang amat sayang dengan mereka yang sangat perlu didengar yang berarti mereka sangat menyadari kalau mereka bisa salah, tapi akan segera kembali kepada kebenaran manakala ada teguran dari Al-Qur’an.

Ma’qil bin Yasar pernah menikahkan adik perempuannya dengan salah seorang sahabat, tapi kemudian di cerainya sampai habis masa iddahnya, kemudian bekas suami tadi melamar lagi dan karena Ma’qil sedang marah beliau tolak lamarannya dan bertekat tidak akan mengawinkannya, padahal adiknya juga masih cinta dengan bekas suaminya serta ingin kembali kepadanya. Dengan kejadian ini Alloh menurunkan ayat:

)وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلا تَعْضُلُوهُنَّ أَنْ يَنْكِحْنَ أَزْوَاجَهُنَّ إِذَا تَرَاضَوْا بَيْنَهُمْ بِالْمَعْرُوفِ ذَلِكَ يُوعَظُ بِهِ مَنْ كَانَ مِنْكُمْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ ذَلِكُمْ أَزْكَى لَكُمْ وَأَطْهَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ) (البقرة:232

Artinya: "Apabila kamu manthalak isteri-isterimu lalu habis iddahnya ,maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila telah terdapat kerelaan dintara mereka dengan cara yang ma'ruf, itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman diantara kamu kepada Alloh dan hari kemudian. Itu lebih baik bagimu dan lebih suci Alloh mengetahui sedang kamu tidak mengetahui ". (QS. Al-Baqarah: 232)

Setelah turun ayat ini Ma’qil langsung menikahkan adiknya lagi dengan sahabat mantan suamiya.

Sahabat hidup dengan misi, “Risalah menyelamat-kan seluruh manusia dari perbudakan manusia untuk manusia menuju penghambaan Allah yang Esa dan mengeluarkan mereka dari kedhaliman sistim manusia menuju keadilan Islam dari kesempitan dunia menuju keluasan dunia dan akherat”, dan pastilah kaum yang membawa misi demikian ada pendukung dan musuhnya, maka mereka menjadikan Al-Qur’an sebagai pembimbing untuk mengetahui musuh-musuh Alloh, dan musuh mereka, siapa wali-wali mereka dan wali-wali Alloh dan mereka memperlakukan manusia sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Alloh, mereka cinta terhadap ayah, anak, istri, serta kerabat mereka. Tetapi jika yang dicintai itu memusuhi Alloh dan Rasul-Nya serta membenci Islam, maka mereka segera merubah sikapnya dengan hanya memihak Alloh dan mencabut perasaan cintanya kepada selain Alloh, Alloh berfirman:

لا تَجِدُ قَوْماً يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ اْلأِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ) (المجادلة:22

“Tidaklah engkau dapatkan kaum yang beriman kepada Alloh dan hari akhir mencintai orang-orang yang membangkang kepada Alloh dan rasul-Nya, walaupun mereka itu ayah-ayah mereka atau anak-anak mereka atau saudara–saudara mereka atau kerabat-kerabat mereka, mereka itulah orang yang Alloh tetapkan dihati mereka keimanan”. (QS. Al-Mujadilah: 22)

Ayat ini turun berkenaan dengan Abu Ubidah bin Jaroh ketika membunuh ayahnya di perang Badar karena ayahnya bersama pasukan kuffar Quraisy.

Keempat: Para sahabat memandang bahwa seluruh alam semesta dan diri mereka adalah ciptaan Alloh dan tidak mungkin membudidayakan alam semesta serta mengatur mereka kecuali Dzat yang menciptakannya sehingga mereka meyakini bahwa keimanannya menuntut untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai satu kesatuan yang utuh yang tidak dipisahkan antara satu sama lainnya, mereka men-jadikan Al-Qur’an sebagai way of live –pedoman hidup- mereka dan mereka sangat sensitif terhadap usaha-usaha yang akan memisahkan satu bagian sistim Islam dengan bagian yang lainnya.

Pantaslah kalau Kholifah Abu Bakar berpidato ketika banyak orang yang murtad dan tidak mau membayar zakat, dengan mengatakan:

أينقص الدين وأنا حي !! والله لو منعوني عقالاً كانوا يؤدونه إلى رسول الله  لقاتلتهم على منعه رواه مسلم

“Apakah agama ini akan dikurangi padahal saya masih hidup, demi Alloh kalau mereka menghalangi tali yang dulu mereka serahkan kepada Rasululloh pastilah aku perangi mereka atas keengganannya”. Diriwayatkan oleh Muslim

Mereka menyadari betul adanya perbedaan antara orang yang belum mampu melaksanakan, dengan orang yang sengaja memilih-milih apa yang mau dilakukan dan apa yang ditolak.

Yang pertama masih dalam ruang lingkup iman seperti Raja Habsyi yang disholati ghoib oleh Rasululloh, padahal ia belum melaksanakan hukum Islam, karena belum mampu. Adapun yang sengaja pilih-pilih seperti memilih beras, mereka mencap orang tersebut sudah keluar dari Islam atau munafiqin sebagaimana yang Alloh firmankan:

 أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلاَّ خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ (البقرة: من الآية85

“Apakah kalian beriman dengan sebagian kitab dan kafir terhadap sebagian yang lain? Tidaklah balasan orang yang melakukan demikian kecuali kehinaan di dunia dan di hari qiamat mereka dikembalikan ke adzab yang sangat keras. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (QS Al-Baqarah: 85)

Keuniversalan dan keintegralan Al-Qur’an ini digambarkan oleh sahabat Ali bin Abi Tholib dalam ucapannya:

هو كتاب الله فيه نبأ من قبلكم ،وخبر ما بعدكم وحكم ما بينكم هو الفصل ليس بالهزل من تركه من جبار قصمه الله ومن ابتغى الهدى في غيره أضله الله وهو حبل الله المتين وهو الذكر الحكيم وهو الصراط المستقيم وهو الذي لا تزيغ به الأهواء، ولا تلتبس به الألسنة ولا يشبع منه العلماء ولا يخلق عن كثرة الردّ ولا تنقضي عجائبه وهو الذي لم تنته الجن إذا سمعته حتى قالوا  إنا سمعنا قرآناً عجباً، يهدى إلى الرشد فآمنا به  من قال به صدق ومن عمل به أجر ومن حكم به عدل ومن دعا إليه هدي إلى صراط مستقيم .

“Dia adalah Kitabulloh yang di dalamnya ada berita orang sebelum kalian, berita apa yang akan terjadi setelah kalian, hukum diantara kalian, dia adalah keputusan yang serius bukan main-main, barang siapa meninggalkannya dengan kesombongan pasti dihancurkan oleh Alloh, barang siapa mencari petunjuk pasti disesatkan oleh Alloh, dialah tali Alloh yang kokoh, dialah peringatan yang bijaksana, dialah jalan yang lurus, dialah yang dengannya hawa nafsu tidak menyeleweng, dan tidak akan rancu dengannya lisan, dan tidak kenyang-kenyangnya dari (membacanya, mempelajarinya) oleh para ulama, tak akan usang karena diulang-ulang, dan tak habis-habisnya keajaibannya, dan dialah yang jin tak henti-hentinya dari mendengarnya sehingga dia mengatakan; “Sungguh kami mendengar Al-Qur’an yang penuh keajaiban, menunjukkan ke jalan lurus, maka kami beriman dengannya, barang siapa yang berkata dengannya pasti benar, barang siapa beramal dengannya pasti diberi pahala, barang siapa menghukumi dengannya pastilah adil, barang siapa mengajak kepadanya pasti ditunjuki kejalan yang lurus.

Terahir kali, itulah sifat dan interaksi para sahabat dengan Al-Qur’an dan semoga kita bisa mencontoh mereka, mereka telah bersusah payah untuk kebahagiaan kita dan rasa lelah mereka sudah hilang dan mereka telah bahagia untuk selama-lamanya dan didunia sejak zaman mereka sampai hari qiamat selalu dikenang dan didoakan orang yang datang setelah mereka, alangkah bahagianya mereka.

Semoga shalawat dan salam tetap tercurah untuk Nabi kita Muhammad Shalallohu ‘Alaihi Wasallam beserta keluarga, dan sahabatnya. Aamiin.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ

Wallahul muwaffiq.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَالْعَصْرِ، إِنَّ الإِنسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ، إِلاَّ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ



KHUTBAH KEDUA



الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

جَمَاعَةَ الْجُمُعَةِ، أَرْشَدَكُمُ اللهُ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا وَيَرْزُقُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اَللَّهُمَ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ. اَللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنِ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ وَزَمَانٍ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ اْلأَبْرَارِ. رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَّسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِن قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ، وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اَللَّهُمَّ إِنَا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَجَنَّتَكَ وَنَسْأَلُكَ شَهَادَةً فِيْ سَبِيْلِكَ. اَللَّهُمَّ أَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُبْتَدِعَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ

اَللَّهُمَّ شَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَمَزِّقْ جَمْعَهُمْ وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ وَأَلْقِ فِيْ قُلُوْبِهِمُ الرُّعْبَ. اَللَّهُمَّ عَذِّبْهُمْ عَذَابًا شَدِيْدًا وَحَسِّبْهُمْ حِسَابًا ثَقِيْلاً. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ



(Dikeluarkan Oleh Sariyah Dakwah Jama’ah Ansharusy Syari’ah)

GRIYA HILFAAZ
Busana Muslim Berkualitas
💈webinfo : www.griyahilfaaz.com
💈IG : @griya_hilfaaz
💈Shopee : @griya_hilfaaz
💈Facebook: @griya_hilfaaz
💈Tokopedia: @griya_hilfaaz
💈Bukalapak: @griya_hilfaaz



Toko Busana Keluarga Muslim

SHOPCARTSHOPCARTSHOPCART
SHOPCARTSHOPCARTSHOPCART

Beberapa Amalan Amalan Pembuka Pintu Rezeki

 Beberapa Amalan Amalan Pembuka Pintu Rezeki