Inti Dakwah Para Nabi dan Rasul
(Dikeluarkan Oleh Sariyah Dakwah Jama’ah Ansharusy Syari’ah)
KHUTBAH PERTAMA
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ
إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
لاَ نَبِيَّ وَلاَ رَسُوْلَ بَعْدَهُ، قَدْ أَدَّى اْلأَمَانَةَ وَبَلَّغَ
الرِّسَالَةَ وَنَصَحَ اْلأُمَّةَ وَجَاهَدَ فِيْ سَبِيْلِهِ حَقَّ
جِهَادِهِ
اَلصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا
الْمُصْطَفَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَلَكَ سَبِيْلَهُ وَاهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ.رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ وَيَسِّرْ لِيْ أَمْرِيْ وَاحْلُلْ
عُقْدَةً مِنْ لِسَانِيْ يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ
الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ: يَا
أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً
كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ
وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. وَقَالَ:
وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى
وَقَالَ النَّبِيُ : اِتَّقِ اللهَ حَيْثُ
مَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ
النَّاسَ بَخُلُقٍ حَسَنٍ. (رواه الترمذي، حديث حسن
Jamaah Jum’at hamba Allah yang dirahmati Allah SWT.
Segala puji bagi Allah SWT, shalawat dan
salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW,
keluarga, dan para sahabatnya.
Khotib berwasiat kepada diri sendiri
khususnya dan jama’ah sekalian marilah kita perbaharui selalu kualitas
Iman dan Taqwa kita, semoga kita akan menjadi orang yang istiqamah
sampai akhir hayat kita.
Adapun tema khutbah jum’at kali ini adalah : Inti dakwah para Nabi dan Rasul.
Hadirin, kaum muslimin rahimakumullah,
Dakwah Segenap Rasul ‘alaihimus salam
Allah ta’ala berfirman (yang artinya),
“Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak; sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. an-Nahl: 36).
Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa
dakwah seluruh rasul adalah beribadah hanya kepada Allah dan menjauhi
thaghut yang disebut para ulama adalah tauhid.
Lalu apa yang dimaksud dengan Tauhid itu?
Tauhid, sebagaimana telah dijelaskan di
dalam ayat-ayat di atas adalah menyembah/beribadah semata-mata kepada
Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Inilah tauhid
yang senantiasa didengung-dengungkan oleh para nabi dan rasul kepada
kaumnya dan yang menjadi tujuan utama dakwah mereka (lihat Fath
al-Majid, hal. 15, al-Qaul al-Mufid [1/7]).
Pengertian Dakwah Islam
Secara etimologis, kata “dakwah” berasal
dari bahasa Arab yang mempunyai arti: panggilan, ajakan, dan seruan.
Sedangkan dalam ilmu tata bahasa Arab, kata dakwah adalah bentuk dari
isim masdar yang berasal dari kata kerja : دعا, يدعو, دعوة artinya :
menyeru, memanggil, mengajak.
Dalam pengertian yang integralistik
dakwah merupakan suatu proses yang berkesinambungan yang ditangani oleh
para pengemban dakwah untuk mengubah sasaran dakwah agar bersedia masuk
ke jalan Allah, dan secara bertahap menuju perikehidupan yang Islami.
oleh karenanya perlu memperhatikan unsur penting dalam berdakwah
sehingga dakwah menghasilkan perubahan sikap bagi mad'u.
Sedangkan ditinjau dari segi
terminologi, banyak sekali perbedaan pendapat tentang definisi dakwah di
kalangan para ahli, antara lain:
Menurut A. Hasmy dalam bukunya Dustur
Dakwah Menurut al-Qur’an, mendefinisikan dakwah yaitu: mengajak orang
lain untuk meyakini dan mengamalkan akidah dan syariat Islam yang
terlebih dahulu telah diyakini dan diamalkan oleh pendakwah itu sendiri.
Siapakah Thaghut?
Seluruh umat diutus kepada mereka seorang rasul mulai dari Nuh ‘alaihis salam sampai dengan Nabi kita Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan perintah yang sama yaitu untuk beribadah …
Seluruh umat diutus kepada mereka seorang rasul mulai dari Nuh ‘alaihis salam sampai dengan Nabi kita Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam
dengan perintah yang sama yaitu untuk beribadah kepada Allah saja dan
larangan untuk beribadah kepada thagut. Dalilnya adalah firman Allah:
{وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ}
“Dan sungguhnya Kami telah mengutus
rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja),
dan jauhilah thaghut ” (QS. An Nahl: 36)
“Allah mewajibkan seluruh makhluk untuk kufur (mengingkari) terhadap thagut dan beriman hanya kepada Allah”
Allah Ta’ala juga berfirman:
لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَد تَّبَيَّنَ
الرُّشْد مِن الْغَي فَمَن يَكْفُرْ بالطَّاغُوت وَيُؤْمِن بِاللّهِ فَقَدِ
اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انَفِصَام لَهَا وَاللّهُ
سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Tidak ada paksaan untuk (memasuki)
agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan
yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan
beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul
tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi
Maha Mengetahui “ (QS. Al Baqarah: 256).
Inilah makna Laa ilaaha illallah.
Pengertian Thagut
Secara bahasa, kata thagut diambil dari kata (طَغَى) yang artinya melampaui batas. Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّا لَمـَّا طَغَى الْمَاءُ حَمَلْنَاكُمْ فِي الْجَارِيَةِ
“Sesungguhnya ketika air melampaui batas, Kami bawa kalian di perahu.” (QS. Al-Haqqah: 11)
Secara istilah syar’i yaitu sebagaimana disampaikan oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullah
: thagut adalah segala sesuatu yang menyebabkan seorang hamba melebihi
batasannya, baik itu sesuatu yang diibadahi, diikuti, atau ditaati.
Syaikh Muhammad At Tamimi rahimahullah menjelaskan bahwa thagut
ada banyak. Thagut yang paling besar ada lima : iblis –semoga Allah
melaknatnya-, siapa saja yang dijadikan sesembahan dan dia ridho,
barangsiapa yang mengajak manusia untuk menyembah dirinya, barangsiapa
yang mengetahui tentang ilmu ghaib, dan barangsiapa yang berhukum dengan
hukum selain yang Allah turunkan.
Pertama. Iblis laknatullah
Iblis merupakan pimpinan thagut.
Mengapa? Karena dia diibadahi, diikuti, dan sekaligus ditaati dan dia
ridho dengan perbuatan tersebut. Allah Ta’ala berfirman:
أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَن لَّا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ
“Bukankah Aku telah memerintahkan
kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan (iblis)?
Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu “ (QS. Yasin: 60)
Kedua. Barangsiapa yang disembah selain Allah dan dia ridho.
Semua yang ridho dijadikan sesembahan
selain Allah maka dia termasuk thagut, baik disembah ketika masih hidup
maupun sesudah matinya. Dia ridho untuk dijadikan sesembahan dengan
bentuk ibadah apapun. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala:
وَمَن يَقُلْ مِنْهُمْ إِنِّي إِلَهٌ مِّن دُونِهِ فَذَلِكَ نَجْزِيهِ جَهَنَّمَ كَذَلِكَ نَجْزِي الظَّالِمِينَ
“Dan barangsiapa di antara mereka
mengatakan: “Sesungguhnya Aku adalah Tuhan selain Allah”, maka orang itu
Kami beri balasan dengan Jahannam, demikian Kami memberikan pembalasan
kepada orang-orang zalim “ (QS. Al Anbiya’: 29)
Tidak termasuk thagut seseorang yang
dijadikan sesembahan dan dia tidak ridho dengan penyembahan tersebut.
Misalnya seseorang yang menyembah Isa ‘alaihis salam, maka orang
tersebut telah menyembah thagut. Namun Isa ‘alaihis salam bukanlah thagut karena dia tidak ridho dengan penyembahannya tersebut, bahkan beliau mengingkarinya.
Ketiga. Barangsiapa yang menyuruh manusia untuk menyembah dirinya.
Barangsiapa yang menyuruh manusia untuk
menyembah dirinya dengan jenis ibadah apapun baik ketika dia masih hidup
maupun sudah mati maka dia termasuk thagut. Sama saja baik ada orang
yang mau mengikuti seruannya maupun tidak. Thagut jenis ketiga ini lebih
parah daripada yang kedua karena dia menyuruh dan mengajak orang untuk
menyembah dirinya.
Hal ini seperti perbuatan Fir’aun yang Allah kisahkan dalam Al Qur’an:
فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَى
“(Fir’aun) berkata:”Akulah tuhanmu yang paling tinggi “ (QS. An Nazi’at: 24)
Termasuk juga perbuatan para ulama sufi yang memerintahkan pengikutnya untuk beribadah kepada dirinya.
Keempat. Barangsiapa yang mengaku mengetahui ilmu ghaib.
Barangsiapa yang mengaku mengetahui ilmu
ghaib yang mutlak maka dia termasuk thagut. Tidak ada yang mngetahui
ilmu ghaib yang mutlak kecuali hanya Allah semata. Yang dimaksud ilmu
ghaib yang mutlak adalah perkara-perkara ghaib yang hanya diketahui oleh
Allah saja, seperti ilmu tentang umur dan ajal seseorang, ilmu tentang
hari kiamat, ilmu tentang nasib seseorang di akherat, dan sebagainya.
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ عِندَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ
وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي
نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَداً وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ
تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Sesungguhnya hanya di sisi Allah
sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan
hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun
yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok .
Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengetahui” (QS. Luqman: 34)
قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ
“Katakanlah: “Tidak ada seorangpun
di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali
Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan. “ (QS. An Naml: 65).
عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى
غَيْبِهِ أَحَداً إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِن رَّسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ
مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَداً
“(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui
yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang
ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya
Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. “ (QS. Al Jin: 26-27)
Maka termasuk thagut jenis ini adalah para dukun, paranormal, dan tukang sihir yang mengaku mengetahui ilmu ghaib.
Kelima. Barangsiapa yang berhukum dengan hukum selain Allah.
Terdapat perincian permasalahan tentang
berhukum dengan hukum selain Allah. Syaikh ‘Abdul Aziz bin Baaz
rahimahullah berkata, “Orang yang berhukum dengan hukum selain yang
Allah turunkan ada empat keadaan:
- Orang yang mengatakan, “Saya berhukum dengannya karena lebih baik daripada syari’at Islam”, maka hukumnya kufur akbar.
- Orang yang mengatakan, “Saya berhukum dengannya karena hukum tersebut sama/setara dengan syari’at Islam, maka berhukum dengannya boleh dan berhukum dengan syari’at (Islam) juga boleh”, maka hukumnya juga kufur akbar.
- Orang yang mengatakan, “Saya berhukum dengannya sedangkan berhukum dengan syari’at Islam lebih afdhol, akan tetapi boleh berhukum dengan selain apa yang Allah turunkan”, maka hukumnya juga kufur akbar.
- Orang yang mengatakan, “Saya berhukum dengannya”. Namun dia meyakini bahwa tidak boleh berhukum dengan selain apa yang Allah turunkan, dan dia menyatakan bahwa berhukum dengan syari’at Islam lebih afdhol serta tidak boleh berhukum dengan selainnya, akan tetapi dia bermudah-mudah dan meremehkan (dalam melakukan maksiat) atau dia melakukannya karena perintah dari pemerintahnya. Yang demikian ini hukumnya kufur asghar yang tidak mengeluarkannya dari Islam namun termasuk perbuatan dosa besar yang paling besar”
Kami nukilkan juga fatwa yang
dikeluarkan oleh Al Lajnah Daimah li Buhuts Al ‘Ilmiyah wal Ifta pada
pertanyaan kesebelas dari Fatwa No 5741.
Allah Ta’ala berfirman :
وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
“Barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” (QS. Al Maidah: 44)
وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
“Barangsiapa tidak berhukum dengan hukum yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim” (QS. Al Maidah: 45)
وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“Barangsiapa tidak berhukum dengan hukum yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik“ (QS. Al Maidah: 47)
Jika orang tersebut menghalalkan
berhukum dengan hukum selain Allah dan meyakini kebolehannya, maka
dihukumi kafir akbar, zalim akbar, dan fasik akbar yang mengeluarkannya
dari Islam. Adapun jika dia melakukannya karena untuk menyuap atau
maksud lainnya, sementara dia meyakini haramnya berhukum dengan hukum
selain Allah, maka dia telah berbuat dosa dan dihukumi kafir asghar,
zalim asghar, dan fasik asghar yang tidak mengeluarkannya dari Islam.
Inilah yang dijelaskan oleh para ulama tentang tafsir ayat-ayat di atas.
(Dikeluarkan oleh Komisi Penelitian Ilmiah dan Penerbitan Fatwa :
Abdullah bin Ghudayan, Abdur Razzaq ‘Afifi, ‘Abdul ‘Aziz bin Abdillah
bin Baaz).
Maka, penting untuk diketahui bahwa
berhukum dengan hukum selain Allah tidak otomatis dihukumi kafir dan
tidak serta merta pelakunya keluar dari Islam.
Penyebutan lima gembong thagut di atas
tidak membatasi bahwa thagut terbatas hanya lima saja. Namun yang
disebutkan hanya sekedar contoh thagut yang paling banyak saja.
[2]. Kewajiban Kufur Terhadap Thagut
Dalam surat Al Baqarah 256 di atas Allah
memerintahkan untuk kufur terhadap thagut. Yang dimaksud kufur terhadap
thagut mencakup tiga makna:
1. Meyakini batilnya peribadatan kepada selain Allah
2. Meninggalkan dan membenci peribadatan kepada selain Allah
3. Mengkafirkan pelakunya dan membencinya.
Kufur terhadap thagut termasuk salah
satu makna dari rukun Laa ilaaha illallah yaitu menafikan peribadatan
selain Allah. Firman Allah (فَمَن يَكْفُرْ بالطَّاغُوت) merupakan
peniadaan peribadatan selain Allah, sedangkan firman-Nya (وَيُؤْمِن
بِاللّهِ) menetapkan bahwa peribadatan hanya untuk Allah semata. Inilah
makna Laa ilaaha illallah.
Allah Ta’ala berfirman:
لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ
الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ
بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ
لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Tiada paksaan dalam (memeluk) agama
ini. Sungguh telah jelas kebenaran dari kesesatan. Untuk itu,
barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan iman kepada Allah, maka dia
benar-benar telah berpegang teguh dengan tali yang amat kuat, yang tidak
akan terputus tali itu. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 256).
Ingkar kepada semua thaghut dan iman kepada Allah saja, sebagaimana dinyatakan dalam ayat tadi, adalah hakekat syahadat “La Ilaha Illallah”.
Dan diriwayatkan dalam hadits, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ، قَالَ: قُلْتُ:
يَا رَسُولَ اللهِ أَخْبِرْنِي بِعَمَلٍ يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ؟. قَالَ:"
بَخٍ لقَدْ سَأَلْتَ عَنْ عَظِيمٍ، وَإِنَّهُ لَيَسِيرٌ عَلَى مَنْ
يَسَّرَهُ اللهُ عَلَيْهِ، لَا تُشْرِكْ بِهِ شَيْئًا، وَتُقِيمُ
الصَّلَاةَ الْمَكْتُوبَةَ، وَتُؤَدِّي الزَّكَاةَ الْمَفْرُوضَةَ. أَوَلَا
أَدُلُّكَ عَلَى رَأْسِ الْأَمْرِ، وَعَمُودِهِ، وَذُرْوَةِ سَنَامِهِ؟
أَمَّا رَأْسُ الْأَمْرِ فَالْإِسْلَامُ، مَنْ أَسْلَمَ سَلِمَ. وَأَمَّا
عَمُودُهُ فَالصَّلَاةُ. وَأَمَّا ذُرْوَةُ سَنَامِهِ، فَالْجِهَادُ فِي
سَبِيلِ اللهِ
“Wahai Rasulullah SAW beritahukanlah aku
amalan yang dapat memasukkan aku ke surga? Beliau bersabda : sungguh
engkau bertanya tentang sesuatu yang agung, sungguh yang demikian itu
adalah mudah bagi orang yang dimudahkan Allah SWT, yaitu engkau tidak
mempersekutukan Allah dengan sesuatupun, dan engkau menegakkan sholat
dan menunaikan zakat, maukah aku tunjukkan Pokok agama ini ? adapun
pokok agama ini adalah Islam, siapa yang masuk Islam dia selamat dan
tiangnya adalah shalat, sedang ujung tulang punggungnya adalah jihad fi
sabilillah.” (HR. Baihaqi)
Semoga Allah Ta’ala memberikan
taufiq-Nya kepada kita untuk senantiasa mentauhidkan Allah dan kufur
terhadap thagut. Upaya terpenting untuk mendapatkannya adalah dengan
senantiasa mempelajari dan mengamalkan tauhid serta menyebarkan dakwah
Tauhid kepada umat.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ
Wallahul muwaffiq.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ
الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ
وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَالْعَصْرِ، إِنَّ الإِنسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ،
إِلاَّ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا
بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ
وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ
رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ
كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ
اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ
وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ
جَمَاعَةَ الْجُمُعَةِ، أَرْشَدَكُمُ اللهُ.
أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل
لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا وَيَرْزُقُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ،
وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ
عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اَللَّهُمَ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ. اَللَّهُمَّ انْصُرِ
الْمُجَاهِدِيْنِ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ وَزَمَانٍ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا
الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا
غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ اْلأَبْرَارِ.
رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَّسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا
وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِن
قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ،
وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا
عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اَللَّهُمَّ إِنَا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ
وَجَنَّتَكَ وَنَسْأَلُكَ شَهَادَةً فِيْ سَبِيْلِكَ. اَللَّهُمَّ أَهْلِكِ
الْكَفَرَةَ وَالْمُبْتَدِعَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ
الدِّيْنِ
اَللَّهُمَّ شَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَمَزِّقْ
جَمْعَهُمْ وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ وَأَلْقِ فِيْ قُلُوْبِهِمُ
الرُّعْبَ. اَللَّهُمَّ عَذِّبْهُمْ عَذَابًا شَدِيْدًا وَحَسِّبْهُمْ
حِسَابًا ثَقِيْلاً. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي
الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ
الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ
وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ
بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ
الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ
مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
GRIYA HILFAAZ
Busana Muslim Berkualitas
💈webinfo : www.griyahilfaaz.com
💈IG : @griya_hilfaaz
💈Shopee : @griya_hilfaaz
💈Facebook: @griya_hilfaaz
💈Tokopedia: @griya_hilfaaz
💈Bukalapak: @griya_hilfaaz
![]() |


EmoticonEmoticon