Kultum Ramadhan : Keutamaan Mengkhatamkan Al-Quran Di Bulan Ramadhan


Keutamaan Mengkhatamkan Al-Quran Di Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan adalah bulan yang mulia dan banyak berkahnya. Setiap muslim pasti sering mendengar bahwa bulan Ramadhan adalah bulannya Al-Quran.  Hal ini tidak lain, karena pada bulan inilah Al-Qur’an diturunkan.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)” QS. (Al Baqarah : 185)


Di bulan puasa, membaca al-Qur’an menjadi amalan/ibadah yang sangat dianjurkan untuk ditingkatkan, selain ibadah-ibadah yang lain, tentunya.

Hal ini juga diteladankan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,

أن جبريل كان يعْرضُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقُرْآنَ كُلَّ عَامٍ مَرَّةً ، فَعرضَ عَلَيْهِ مَرَّتَيْنِ فِي الْعَامِ الَّذِي قُبِضَ فيه

“Dahulu Jibril mendatangi dan mengajarkan Al-Qur’an kepada Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam setiap tahun sekali (pada bulan ramadhan). Pada tahun wafatnya Rasulullah shalallahu ‘alayi wasallam Jibril mendatangi dan mengajarkan Al-Qur’an kepada beliau sebanyak dua kali (untuk mengokohkan dan memantapkannya)” ( HR. Bukhari no. 4614)

Nampaknya, spirit ini pula yang menjadi pemicu para ulama mengonsentrasikan diri mereka untuk membaca al-Qur’an pada bulan nan penuh kemuliaan ini. Bahkan ada di antara mereka ‘rela’ meliburkan taklim demi lebih bisa memperbanyak bacaan al-Qur’an.

Mereka selalu membaca Al-Qur’an baik di dalam shalat maupun di luar shalat.

Karena begitu intensnya mereka membaca al-Qur’an, maka didapati;  di antara ulama Salafus Shalih mampu mengkhatamkan Al-Qur’an dalam shalat Tarawih setiap tiga malam sekali. Sebagian lain setiap tujuh malam sekali. Sementara sebagian lainnya lagi mengkhatamkannya setiap sepuluh malam sekali.

Misal; Utsman bin Affan mengkhatamkan Al-Qur’an setiap hari pada bulan Ramadhan, Imam Asy-Syafi’i dapat mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak enam puluh kali di luar shalat dalam bulan Ramadhan.

Sementara Al-Aswad mengkhatamkannya setiap dua hari sekali. Adapun Qatadah selalu mengkhatamkannya setiap tujuh hari sekali di luar Ramadhan, sedangkan pada bulan Ramadhan beliau mengkhatamkannya setiap tiga hari sekali. Dan pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan beliau mengkhatamkannya setiap malam.

Pada bulan Ramadhan Imam Az-Zuhri menutup majelis-majelis hadits dan majlis-majlis ilmu yang biasa diisinya. Beliau mengkhususkan diri membaca Al-Qur’an dari mushhaf. Demikian pula Imam Ats-Tsauri, beliau meninggalkan ibadah-ibadah lain dan mengkhususkan diri untuk membaca Al-Qur’an.

Siapa pun tentu sepakat bahwa nama-nama ulama tersebut di atas adalah mereka fakih, alim, lagi sangat rajin ibadah di keseharian mereka. Namun lihatlah, betapa berlipatnya semangat ibadah mereka dalam bulan Ramadhan, terutama membaca al-Qur’an.

Dengan demikian, kita, yang kualitas keilmuuan dan ibadahnya jauh dari mereka, berusaha sedemikian rupa dalam bertaqorrub kepada Allah. Bermesra-mesralah sesering mungkin  dengan al-Qur’an.

Canangkan berapa kali hatam yang akan diwujudkan pada Ramadhan tahun ini? 3 kalikah? 5, 6, bahkan mungkin sampai puluhan kali.

Rencanakan dan berusahalah untuk mewujudkannya. Bukankah gagal merencanakan berarti telah merencanakan kegagalan?

Dan sungguh bila kita mampu merealisakan program-program baca al-Qur’an telah kita rancang, maka peluang untuk memperboleh kebaikan nan berlipat ganda dari ibadah al-Qur’an akan sangat berlimpah ruah.

Sedangkan keutamaan membaca Al-Quran sangat banyak dijelaskan, salah satunya adalah Sabda Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa salam,

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

“Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan “alif lam mim” satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf” ( HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 6469)

Begitu juga Sabda beliau,

مَنْ قَرَأَ بِمِائَةِ آيَةٍ فِى لَيْلَةٍ كُتِبَ لَهُ قُنُوتُ لَيْلَةٍ

“Siapa yang membaca 100 ayat pada suatu malam dituliskan baginya pahala shalat sepanjang malam” ( HR. Ahmad dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 6468)

Akan tetapi hal ini bukan kewajiban, agar supaya bersegera dan tidak membaca secara perlahan-lahan. Ia tidak mencari kekhusyu’an dan tuma’ninah. Bahkan mencari hal ini (khusyu’ dan tuma’ninah) lebih utama daripada perhatian terhadap mengkhatamkan” (Majmu’ Fatawa bin Baz 15/324, Asy Syamilah)

Dan mengkhatamkan Al-Quran selama bulan Ramadhan bukanlah kewajiban akan tetapi kita diminta memperbanyak bacaan AL Qur'an, syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

ختم القرآن في رمضان للصائم ليس بأمر واجب ، ولكن ينبغي للإنسان في رمضان أن يكثر من قراءة القرآن


“Mengkhatamkan Al-Quran di bulan Ramadhan bagi orang yang berpuasa bukanlah perkara yang wajib. Akan tetapi sebaiknya seseorang memperbanyak membaca Al-Quran di bulan Ramadhan” (Majmu’ Fatawa wa Rasail 20/516)

diambil dari hidayatullah.com dng sedikit tambahan

IKADI KEC NGUTER KAB SUKOHARJO
☘Sekretariat : Jl Raya Solo Wng Km 22 Sukoharjo
☘Butuh Khatib Dai Wilayah Nguter Sukoharjo 📞 081-2261-7316

Gabung channel telegram.me/ikadi_nguter
💈webinfo : www.ceramahsingkat.com
💈IG : @ikadi_nguter
💈Telegram : @ikadi_nguter
💈Fb.: Tausiyah Singkat
Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Kec. Nguter Kab. Sukoharjo
Menebar Islam Rahmatan Lil 'Alamin



Toko Busana Keluarga Muslim
GRIYA HILFAAZ 
Toko Busana Keluarga Muslim

dalil tentang turunnya al quran
ayat tentang turunnya al quran di bulan ramadhan
hadits turunnya al quran
ayat tentang nuzulul qur an
dalil al qur'an diturunkan kepada nabi muhammad
membaca alquran di bulan ramadhan disebut
peringatan turunnya al quran sering disebut dengan
al quran diturunkan dengan 7 huruf
bulan ramadhan 2017
pengertian bulan ramadhan
keistimewaan bulan ramadhan
artikel bulan ramadhan
ucapan ramadhan
puasa ramadhan dan hikmahnya
ramadhan maher zain
bulan ramadhan 2016
khutbah jumat tentang keutamaan membaca alquran
khutbah singkat tentang al quran
khutbah jumat membela al quran
khutbah jumat membela alquran
khutbah jumat singkat tentang al quran
materi khutbah jumat terbaik
khutbah jumat mencintai al quran
khutbah jumat yang mengharukan
pahala membaca al quran tanpa berwudhu
pahala membaca al quran dilipatgandakan sebanyak
keutamaan membaca alquran di rumah
keutamaan membaca alquran setelah shalat
pahala membaca al qur an terbata bata
keutamaan membaca al quran beserta dalilnya
membaca al quran merdu
pahala membaca al quran di bulan ramadhan

Khutbah Juma'at Ramadhan Bulan Al Qur’an dan Kenikmatan dalam Naungan Al Qur’an


Khutbah : Daripada Ngabuburit Mendingan Begini



>

*DAHSYATNYA DOA SEBELUM BERBUKA PUASA*...

Oleh : Ustadz Alwi bin Ali Alhabsyi
Ada suatu waktu yang mustajab untuk berdoa, dimana doa tersebut tidak akan ditolak oleh Allah SWT, yaitu berdoa saat *menjelang berbuka puasa* dan *menjelang makan sahur*, namun sayang banyak kaum muslimin tidak mengetahuinya.
Di Mekkah & Madinah, satu jam sebelum adzan maghrib orang2 sdh menengadahkan tangan ke langit berdoa untuk kemudahan dari segala hajat, baik hajat dunia maupun akhirat, mereka berdoa dengan syahdu sepenuh keyakinan, sampai-sampai air mata mereka mengalir deras.
Ya, mrk berdoa meminta kpd Allah Yang Maha Kaya.
Kesalahan yg dilakukan kaum muslimin kita di sini (Indonesia) yaitu dg menyia-nyiakan waktu yg sangat mustajab ini dg cara ngabuburit menjelang adzan maghrib. Kemudian berkumpul menghadapi hidangan berbuka dan mereka sudah merasa cukup dgn hanya membaca, "Allahuma lakasumtu... atau dzahaba zhoma'u...", padahal hanya mencakup maknanya berupa laporan dan ucapan syukur.
Stlhh kita memahami-nya, hendaknya minimal 10 ~ 15 menit sebelum adzan maghrib (sudah dalam keadaan berwudhu) kemudian berdoa meminta apa saja (adabnya dengan didahului puji-pujian kepada Allah dan bershalawat atas Nabi Muhammad SAW, karena Allah SWT menggaransi bahwa do'a-do'a tersebut akan dikabulkan... *Allah sesuai prasangka hamba kepada-Nya*...
Manfaatkanlah waktumu sobat, bukan hanya demi santapan atau berburu makanan saat jelang buka.
Berdo'alah untuk diri kita, keluarga kita, orangtua kita, sahabat kita, negeri kita.
Jangan tertipu dengan program-program TV dan media lainnya di waktu-waktu yang mustajab yaitu menjelang berbuka dan menjelang sahur (2/3 malam).
Semoga bermanfaat bagi umat yang belum mengetahuinya.
أمـــــين يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

IKADI KEC NGUTER KAB SUKOHARJO
☘Sekretariat : Jl Raya Solo Wng Km 22 Sukoharjo
☘Butuh Khatib Dai Wilayah Nguter Sukoharjo 📞 081-2261-7316

Gabung channel telegram.me/ikadi_nguter
💈webinfo : www.ceramahsingkat.com
💈IG : @ikadi_nguter
💈Telegram : @ikadi_nguter
💈Fb.: Tausiyah Singkat
Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Kec. Nguter Kab. Sukoharjo
Menebar Islam Rahmatan Lil 'Alamin



Toko Busana Keluarga Muslim
GRIYA HILFAAZ 
Toko Busana Keluarga Muslim

Khutbah : Hukum Wanita Hamil Dan Menyusui Tidak Berpuasa


Hukum Wanita Hamil Dan Menyusui Tidak Berpuasa – 


Islam memberikan keringanan bagi wanita hamil dan menyusui untuk tidak berpuasa di Bulan Romadhon jika ia khawatir terhadap dirinya atau bayinya. Keringanan ini menunjukkan bahwa Islam merupakan agama yang penuh dengan rahmat bagi manusia. Dalil keringanan ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah:
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَضَعَ عَنْ الْمُسَافِرِ شَطْرَ الصَّلَاةِ وَعَنْ الْمُسَافِرِ وَالْحَامِلِ وَالْمُرْضِعِ الصَّوْمَ
“Sesungguhnya Alloh Azza Wa Jalla memberikan keringanan setengah shalat bagi musafir dan memberikan keringanan tidak berpuasa bagi musafir, wanita hamil, dan menyusui.”
Hukum Wanita Hamil Dan Menyusui Tidak Berpuasa
Dengan demikian, wanita hamil dan menyusui diperbolehkan memilih tidak berpuasa Ramadhan karena adanya keringanan yang sudah diberikan. Kemudian, apa kewajiban bagi wanita hamil dan menyusui yang mengambil keringanan ini? Masalah ini diperdebatkan oleh para ulama.
Imam Ibnu Rusyd dalam kitab Bidayatul Mujtahid Wa Nihayahtul Mustasid mengungkapkan bahwa ada empat pendapat:
Pertama: Mereka wajib membayar kafarah saja dan tidak membayar qadha. Pendapat ini dikutip dari Ibnu Umar dan Ibnu Abbas.
Kedua: Mereka wajib mengqadha puasa dan tidak membayar kafarah. Ini pendapat Imam Abu Hanifah dan murid-muridnya. Serta pendapat Abu Yusuf dan Abu Tsaur.
Ketiga: Mereka wajib mengqadha puasa dan membayar fidyah. Ini merupakan pendapat Imam asy-Syafii.
Keempat: Wanita hamil wajib mengqadha puasa dan wanita menyusui wajib mengqadha puasa sekaligus membayar fidyah.
Setelah menyampaikan beragam pendapat dengan dasar argumentasinya, Ibnu Rusyd menyampaikan bahwa pendapat ulama yang mewajibkan wanita hamil dan menyusui mengqadha saja atau mewajibkan mereka membayar fidyah saja lebih utama daripada pendapat yang mewajibkan mereka mengqadha dan sekaligus membayar fidyah.
Fatwa Ulama Kotemporer:
Dalam Fatwa Lajnah Daimah dijelaskan: Adapun orang hamil, dia tetap wajib berpuasa. Kecuali kalau dia khawatir terhadap diri dan janinnya apabila berpuasa, maka dia diberi keringanan untuk berbuka dan mengqadhanya setelah melahirkan dan suci dari nifas. Tidak diterima jika memberikan makan orang miskin sebagai pengganti puasa. Dia dia harus berpuasa sebagai penggantinya, tidak perlu memberi makan.
Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz memilih pendapat bahwa wanita hamil dan menyusui hanya diwajibkan qadha saja sebagaimana orang sakit. Dalam kitab Majmu Fatawa, beliau mengatakan bahwa wanita hamil dan menyusui hukumnya seperti orang sakit. Kalau dia merasa kepayahan maka dia dibolehkan berbuka dan harus mengqadhanya ketika mampu, seperti halnya orang sakit. Dalil yang digunakan oleh beliau adalah QS. al-Baqarah ayat 184, “Barangsiapa yang sakit atau dalam perjalanan lalu ia berbuka, maka wajiblah baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain.” Syekh juga menjelaskan bahwa keduanya tidak boleh berbuka kecuali jika dirinya merasa berat untuk berpuasa, sebagaimana halnya orang sakit atau jika mereka khawatir terhadap anak mereka.
Syekh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin dalam kitab Syarhul Mumti setelah menyebutkan perbedaan para ulama, beliau memilih pendapat bahwa wanita hamil dan menyusui diwajibkan mengqadha saja. Menurut beliau pendapat ini yang paling kuat. Hal tersebut dikarenakan kondisi wanita hamil dan menyusui seperti orang sakit dan musafir. Sehingga keduanya hanya diwajibkan mengqadha saja.

Disusun oleh:
Abu Mujahidah al-Ghifari, Lc., M.E.I.
http://www.hasmi.org/hukum-wanita-hamil-dan-menyusui-tidak-berpuasa/

IKADI KEC NGUTER KAB SUKOHARJO
☘Sekretariat : Jl Raya Solo Wng Km 22 Sukoharjo
☘Butuh Khatib Dai Wilayah Nguter Sukoharjo 📞 081-2261-7316

Gabung channel telegram.me/ikadi_nguter
💈webinfo : www.ceramahsingkat.com
💈IG : @ikadi_nguter
💈Telegram : @ikadi_nguter
💈Fb.: Tausiyah Singkat
Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Kec. Nguter Kab. Sukoharjo
Menebar Islam Rahmatan Lil 'Alamin



Toko Busana Keluarga Muslim
GRIYA HILFAAZ 
Toko Busana Keluarga Muslim

Kultum Ramadhan: Keluarga yang Berkumpul di Surga

Kultum Ramadhan: Keluarga yang Berkumpul di Surga


"Dan orang-orang yang beriman serta anak cucu mereka yang mengikutinya dalam keimanan, kami akan kumpulkan (di Surga) bersama anak-cucu mereka" QS At-Thuur : 21.

Pada suatu kesempatan, Nabi saw menasihati putri kesayangan beliau yang bernama Fathimah. "Wahai Fathimah binti Muhammad, beramallah untuk bekal (akhirat)-mu. Karena aku (Nabi saw) tidak akan bisa menolong engkau sedikitpun di akhirat nanti," tegas Rasulullah saw.

"Subhaanallah," begitulah nasihat Nabi saw untuk Fathimah. Dan memang orangtua tidak dapat memberikan garansi kepada anak-anaknya, kecuali sang anak mau berupaya menggapai surga itu.

Perhatikanlah apa yang terjadi pada Nabi Nuh as. Beliau berpisah dengan sang anak, lantaran si anak tidak mau mengikutinya beriman. Bahkan ketika air banjir bandang datang, ketika sang anak timbul tenggelam dipermainkan gelombang air bah, sebagai ayah, Nuh as tidak tega melihatnya. Dan diapun berdoa:

"Ya Rabbi, itu anakku adalah keluargaku. Sungguh janji Engkau benar, dan hanya Engkau Hakim yang Maha Adil," pinta Nuh as.

Allah swt menjawab: "Wahai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah tergolong keluargamu, karena dia tidak beramal sholeh. Maka janganlah engkau meminta kepadaKu sesuatu yang engkau tidak mengetahuinya,".

Ternyata, sekalipun itu adalah anak kandung nabi Nuh as, namun jika dia tidak beriman, maka Allah swt mengatakan bahwa anak itu bukanlah termasuk anggota keluarganya.

Di samping usaha keras untuk mendidik dan mengarahkan tanggung jawab kita, anak-anak tercinta bersama isteri, agar kelak dapat berkumpul di surga Allah, maka janganlah lupa berdoa untuk meraih kebahagiaan tersebut.

Karena sesungguhnya kebahagiaan hakiki itu adalah, tatkala kita bisa berkumpul dengan keluarga dalam keadaan beriman dan bertakwa saat di dunia, kemudian berhasil pula berkumpul kembali di surga Allah swt kelak. Semoga saja kita bisa meraihnya.

Namun ingatlah akan Hadits Nabis saw: "Nanti di hari Kiamat, seseorang suami diseret ke tengah-tengah Padang Mahsyar. Bergelayutan isteri dan anak-anaknya di lengan kanan dan lengan kirinya,".

Ketika dihisab, ternyata sang suami bisa masuk surga, lantaran amalnya cukup. Sementara sang isteri dan anak-anaknya dinyatakan masuk neraka, lantaran kurang amal saat di dunia.

Lalu sang isteri berkata: "Ya Allah, demi keadilan Engkau. Saya dinikahi dan dipergauli, tapi saya tidak diajari Islam yang saya tidak mengerti. Ambil hak kami dari laki-laki ini," ujar isterinya sambil menunjuk-nunjuk suaminya.

Lalu anak-anaknyapun protes: "Ya Allah, demi keadilan Engkau. Saya dinafkahi dan diberi harta, tapi saya tidak diajari Islam yang saya tidak mengerti. Ambil hak kami dari ayah kami ini," ujar anak-anaknya.

Akhirnya, semua keluarga itu dimasukkan ke dalam neraka. "Nau’dzubillahi min dzalik".


Penulis : Tifatul Sembiring
Sumber: Antara Ramadhan




Toko Busana Keluarga Muslim
GRIYA HILFAAZ 
Toko Busana Keluarga Muslim

Kultum Ramadhan: Hakekat kehidupan


Kultum Ramadhan: Hakekat kehidupan


"Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku" QS Adz-Dzariat:56.

Rasulullah saw terjaga dari tidurnya, ketika diberitahu ada Abdurrahman bin ‘Auf datang bertamu. Rupanya beliau saw sempat terlelap sejenak, saat rehat menjelang Ashar itu.

Di pipi Nabi saw masih jelas gurat-gurat kasarnya tikar anyaman pelepah kurma, tempat merebahkan diri ditengah panasnya gurun. Melihat wajah Rasulullah saw seperti itu, "Apakah aku bawakan hambal (permadani tebal) untukmu ya Rasulullah," ujar Abdurrahman.

"Tidak usah, ya Abdurrahman. Bagiku dunia ini hanyalah bagaikan seorang musafir yang tengah istirahat sejenak di bawah kerindangan pohon, lalu ia akan melanjutkan perjalanannya kembali," jawab Nabi saw.

Sepuluh malam terakhir Ramadhan, sambil menanti 'Lailatul Qadr', adalah saat yang tepat untuk muhasabah diri. Menghitung-hitung diri, introspeksi, menakar-nakar atau istilah anak muda Jakarta "Ngaca" diri.

Siapa diri kita sesungguhnya?. Dari mana asal kita, sedang apa kita, lalu nanti setelah ini akan ke mana?. Lalu apakah kita ini pencipta atau justru hanya hasil ciptaan. Apakah kita kaya atau fakir di hadapan Allah swt. Kita tahu segala hal dan berilmu atau sebaliknya 'jahil'. Apakah kita kuat atau sebenarnya hanyalah makhluk yang lemah.

Dulu wujud diri kita tidak ada apa-apanya sama sekali, lalu menjadi ada. Dimulai dari ruh, yang Allah swt tiupkan ke dalam rahim ibunda. Sehingga janin dalam kandungan itu mulai bergerak, disempurnakan proses kejadiannya. Lalu setelah kurang lebih 9 bulan 10 hari, lahirlah kita ke dunia.

Dibesarkan oleh ibunda dengan penuh kasih sayang, diberi nafkah oleh ayah, lalu menjadi dewasa, tua dan kemudian manusia akan diwafatkan. Dan hal ini pasti akan terjadi atas setiap diri yang bernyawa.

Ternyata kita adalah makhluk ciptaan Allah, yang diciptakan untuk beribadah, mengabdikan diri pada-Nya. Merepresentasikan kehendak-kehendak-Nya di muka bumi, yaitu tugas sebagai khalifah.

Sudah selayaknya pula, bahwa perbuatan dan amal-amal kita, tidak menyimpang dari petunjuk dan bimbingan Al-Qur’an dan sunnah. Yang memang diciptakan Allah sebagai petunjuk kehidupan.

Akan ada evaluasi total di akhirat nanti. Akan ada "rewards and punishment" atas setiap perbuatan. Besar kecil, baik buruk, halal haram, boleh atau tidak boleh.

Apakah berkaitan dengan Allah swt, dengan manusia atau bahkan hal-hal yang berkaitan dengan hewan dan tumbuhan. Semuanya akan diputuskan dengan haq, penuh keadilan, pengadilan tanpa intervensi siapapun.

Dari keterangan Nabi saw, melalui haditsnya, ternyata puncak kebahagiaan itu nanti adalah: masuk surga, lalu berjumpa dengan Allah swt dan bercakap-cakap dengan-Nya. Disinilah terminal akhir kehidupan manusia.

"Maka barang siapa yang berharap akan berjumpa dengan Allah swt, maka hendaklah ia beramal sholeh dan tidak mempersekutukan Allah -saat beribadah- dengan sesuatu apapun" QS Al-Kahfi : 110.

Ya Allah, sungguh Engkau benar, kata-kata Engkau benar, janji Engkau benar dan perjumpaan dengan-Mu adalah benar. Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.

Semoga saja kita, beserta isteri dan anak cucu kita, tidak dihalau ke tempat celaka, yaitu neraka jahiiim. "Na’udzubillahi min dzalik".(*)


Penulis : Tifatul Sembiring
Sumber: Antara Ramadhan

IKADI KEC NGUTER KAB SUKOHARJO
☘Sekretariat : Jl Raya Solo Wng Km 22 Sukoharjo
☘Butuh Khatib Dai Wilayah Nguter Sukoharjo 📞 081-2261-7316

Gabung channel telegram.me/ikadi_nguter
💈webinfo : www.ceramahsingkat.com
💈IG : @ikadi_nguter
💈Telegram : @ikadi_nguter
💈Fb.: Tausiyah Singkat
Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Kec. Nguter Kab. Sukoharjo
Menebar Islam Rahmatan Lil 'Alamin



Toko Busana Keluarga Muslim
GRIYA HILFAAZ 
Toko Busana Keluarga Muslim

Kultum Ramadhan : Merespon Perintah Puasa

Merespon Perintah Puasa


Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah…
Bagaimana jika hari ini ada seorang Capres yang bertamu ke rumah kita? Mungkin kita akan menyiapkan banyak hal untuk menyambutnya. Disertai  kegembiraan dan rasa bangga, karena ia kita anggap tamu istimewa.

Malam ini, Ramadhan telah datang kepada kita, dan Ramadhan jauh lebih istimewa daripada Capres manapun. Bagaimana kedudukan Ramadhan bagi kita dan bagaimana kualitas keimanan kita, sesungguhnya bisa kita lihat dari bagaimana respon kita terhadap Ramadhan, khususnya perintah puasa yang membersamainya. 

Puasa Umat Terdahulu
Satu amalan khusus pada Ramadhan yang tidak dijumpai pada bulan-bulan lainnya adalah puasa Ramadhan. Karenanya Ramadhan juga disebut sebagai Syahrush Shiyam.

Kaum muslimin rahimakumullah…
Ternyata perintah puasa tidak hanya ada untuk umat Islam. Jauh sebelum Rasulullah menerima wahyu, umat-umat terdahulu juga mendapatkan perintah yang sama. Inilah yang kita dapati dalam Al-Qur'an :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa. (QS. Al-Baqarah : 183)

Nabi Adam as. setelah diturunkan dari surga bertaubat kepada Allah swt dan berpuasa selama tiga hari setiap bulan. Itulah yang kemudian dikenal dengan puasa ayyamul bidh yang sunah untuk dikerjakan pada setiap tanggal 13, 14 dan 15 hijriyah setiap bulan. Nabi Daud as juga melaksanakan puasa. Puasanya bahkan lebih berat lagi; yakni satu hari puasa dan satu hari berbuka. Inilah yang kemudian kita kenal dengan puasa Daud, sunnah hukumnya bagi umat Muhammad. Dalam kitab al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, Imam Al-Qurthubi menyebutkan bahwa Allah telah mewajibkan puasa kepada Yahudi selama 40 hari, sedangkan kepada umat nabi Isa selama 50 hari.

Hukum Puasa Ramadhan
Ikhwani wa akhwati fillah…
Saat mengetengahkan pembahasan tentang puasa dalam Fiqih Sunnah, Sayyid Sabiq membukanya dengan menerangkan definisi puasa. Yang secara umum berarti menahan. "Sedangkan maksud menurut istilah" kata beliau "Puasa adalah menahan diri dari segala yang membatalkan puasa, sejak terbit fajar hingga terbenam matahari dengan disertai niat".

Puasa Ramadhan hukumnya wajib berdasarkan Al-Qur'an, Sunnah, dan Ijma'. Ia mulai diwajibkan pada hari Senin tanggal 1 Sya'ban tahun kedua hijriah.

Dalil Al-Qur'an mengenai wajibnya puasa Ramadhan adalah firman Allah SWT :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa. (QS. Al-Baqarah : 183)

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Krena itu, barang siapa diantara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah…" (QS. Al-Baqarah : 185)

Adapun dalil dari Sunnah adalah sabda Rasulullah SAW :

بني الإسلام على خمس شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله وإقام الصلاة وإيتاء الزكاة والحج وصوم رمضان

Islam dibangun di atas lima perkara : bersaksi bahwa tiada tuhan kecuali Allah dan Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji, dan puasa Ramadhan (HR. Bukhari Muslim)

Respon Mukmin terhadap Perintah Allah
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah…
Setelah mengetahui suatu perintah dari Allah SWT, khususnya kewajiban puasa Ramadhan, bagaimanakan respon kita sebagai orang mukmin?

Jika orang Yahudi dan Nasrani telah mengubah waktu puasa sesuai keinginan mereka, sehingga saat puasa bertepatan dengan musim panas mereka menundanya hingga datang musim bunga. Dan Allah kemudian mengabadikan sindiran atas mereka dalam firman-Nya

إِنَّمَا النَّسِيءُ زِيَادَةٌ فِي الْكُفْرِ يُضَلُّ بِهِ الَّذِينَ كَفَرُوا يُحِلُّونَهُ عَامًا وَيُحَرِّمُونَهُ عَامًا لِيُوَاطِئُوا عِدَّةَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فَيُحِلُّوا مَا حَرَّمَ اللَّهُ

Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran, disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mensesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah… (QS. At-Taubah : 37)

Jika Yahudi dan Nasrani merespon perintah Allah dengan pengkhianatan dan pendurhakaan, maka respon kaum mukminin berbeda secara diametral dengan mereka. Gambaran kaum mukminin adalah seperti firman Allah SWT :

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. (QS. Al-Ahzab : 36)

Maka, marilah kita bersama menunaikan ibadah puasa Ramadhan yang jatuh mulai besok pagi sebagai respon kita terhadap perintah Allah SWT.

Keutamaan Ramadhan
Kaum muslimin yang berbahagia,
Ramadhan yang hadir sejak malam ini sampai satu bulan penuh merupakan bulan istimewa yang memiliki berbagai keutamaan.

Pertama, pada bulan Ramadhan pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup. Rasulullah SAW bersabda :

قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ يُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَيُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ

Telah datang kepada kalian bulan yang penuh berkah, diwajibkan kepada kalian ibadah puasa, dibukakam pintu-pintu surga dan ditutuplah pintu-pintu neraka (HR. Ahmad)

Kedua, terdapat lailatul qadar di dalamnya. Kelanjutan hadits di atas berbunyi :

وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa yang tidak mendapatkan kebaikannya berarti ia telah benar-benar terhalang/terjauhkan (dari kebaikan) (HR. Ahmad)

Ketiga, penghapus dosa dari Ramadhan ke Ramadhan berikutnya

الصلوات الخمس والجمعة إلى الجمعة ورمضان إلى رمضان مكفرات ما بينهن إذا اجتنب الكبائر

Shalat lima waktu, antara shalat Jum'at ke Shalat Jum'at dan Ramadhan ke Ramadhan penghapus dosa diantara kesuanya, jika dijauhi dosa-dosa besar. (HR. Muslim)

Keempat, puasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala penghapus dosa yang telah lalu.

من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه

Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan mengharap perhitungan (pahala) akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (Muttafaq 'Alaih)

Mari Ikhlaskan Niat
Karenanya, wahai saudaraku kaum muslimin…
Mari kita ikhlaskan niat kita sejak malam ini. Kita bulatkan tekad kita untuk berpuasa pada esok hari semata-mata karena Allah SWT. Kita azzamkan diri kita untuk mengoptimalkan Ramadhan ini sebaik-baiknya. Kita perlu untuk senantiasa memeriksa hati kita, sehingga niat kita betul-betul karena Allah, bukan karena yang lainnya.

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ

Dan mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus... (QS. Al-Bayyinah : 5)

Rasulullah juga mewanti-wanti umatnya agar tetap berada dalam keikhlasan, karena tanpa keikhlasan, ibadah apapun yang dilakukan seseorang tidak akan diterima Allah SWT.

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ ، وَإِنَّمَا لاِمْرِئٍ مَا نَوَى ، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا ، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Sesungguhnya segala amal tergantung pada niatnya dan sesungguhnya bagi setiap orang apa yang ia niatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya itu untuk Allah dan Rasul-Nya, barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin diperolehnya atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya menuju apa yang ia niatkan. (HR. Bukhari dan Muslim)

Wallaahu a'lam bish shawab.


http://www.tarbawia.com/2014/06/ceramah-ramadhan-2014-merespon-perintah.html



Toko Busana Keluarga Muslim
GRIYA HILFAAZ 
Toko Busana Keluarga Muslim

Kultum Ramadhan: Ketika Mulut-mulut Dikunci

Kultum Ramadhan: Ketika Mulut-mulut Dikunci

"Kalian (lalai) berlomba mengejar kemegahan (harta), tiba-tiba kalian sudah sampai di (pintu) kubur" QS At-Takaatsur: 1-2.

"Akan datang hari mulut dikunci, kata - tak ada lagi. Akan tiba masa, tak ada suara, dari mulut kita. Terkadang tangan kita, entah apa yang dilakukannya...".

Demikianlah penggalan syair lagu alm. Chrisye, yang mengutip maw'izhoh dari Al-Qur'anul Karim.

Setelah kumandang sangkakala kedua, maka seluruh makhluk -yang telah dimatikan pada sangkakala pertama- dibangkitkan kembali dari kubur, menghadap kepada Allah swt.

Mereka seluruhnya akan dikumpulkan di sebuah tempat yang sangat luas yaitu, Padang Mahsyar.

Setiap yang pernah berlaku zhalim akan diadili di sini. Di mahkamah ini, tanpa ada yang bisa menolong dan melakukan intervensi. Keadilan diputuskan dengan haq.

Mengapa memukul orang tak bersalah?, mengapa tidak membayarkan upah? Mengapa melanggar perintah Allah swt? mengapa tidak membimbing anak untuk beribadah?

Mengapa menganiaya hewan? Mengapa dan mengapa? Alangkah banyak pertanyaan dan persoalan yang harus dijawab setiap insan.

Lalu ketika orang-orang yang berdosa masih saja berkelit, maka: "Pada hari ini, kami kunci mulut-mulut mereka. Lalu tangan-tangan mereka akan berbicara dan kaki-kaki mereka akan memberikan kesaksian tentang apa-apa yang pernah mereka kerjakan" QS Yasin: 65.

Saking banyaknya perkara –yang mesti diadili- baik antara manusia dengan Rabb mereka, serta persoalan antara sesama manusia, maka masa hisab tersebut memakan waktu hingga ratusan ribu tahun lamanya.

Kemudian manusia akan digiring ke jembatan shirotal mustaqiim, hingga orang-orang yang beriman dan beramal sholeh dimasukkan ke dalam surga dan kaum yang ingkar masuk neraka.

"Sesungguhnya Allah swt akan menerima taubat seorang hamba, sebelum nyawa sampai di 'yugharghir', di tenggorokan" ~ Hadits Nabi saw.

Sebelum datang satu masa, dimana mulut tak bisa berkata, tangan mengungkap rahasia dan kaki membeberkan fakta-fakta, marilah membersihkan diri disaat masih ada kesempatan. Taubatan nasuha.

Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk munajat, memohon ampun dan bertaubat atas segala salah dan lalai kepada Yang Maha Pencipta, Allah swt.

Sungguh –kalian dapati- bahwa Allah swt adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan jika masih ada sangkut paut persoalan dengan manusia, selesaikan hari ini, selagi masih bisa.

Mohon maaf atas kesalahan, penuhi kewajiban, lunasi hutang piutang, tunaikan hak-hak pekerja atau bawahan yang merupakan tanggung jawab kita.

Persoalan pokok yang mesti dituntaskan sebelum ajal tiba, ada dua hal, yaitu: hablun minallah, hubungan dengan Allah dan hablun minannas, hubungan dengan manusia.

Kedua hal ini bisa melempangkan jalan ke surga, atau sebaliknya, bisa sebagai penghambat dari memperoleh kasih sayang Allah swt.

Perbaikilah selagi bisa.


Penulis : Tifatul Sembiring
Sumber: Antara Ramadhan



IKADI KEC NGUTER KAB SUKOHARJO
☘Sekretariat : Jl Raya Solo Wng Km 22 Sukoharjo
☘Butuh Khatib Dai Wilayah Nguter Sukoharjo 📞 081-2261-7316

Gabung channel telegram.me/ikadi_nguter
💈webinfo : www.ceramahsingkat.com
💈IG : @ikadi_nguter
💈Telegram : @ikadi_nguter
💈Fb.: Tausiyah Singkat
Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Kec. Nguter Kab. Sukoharjo
Menebar Islam Rahmatan Lil 'Alamin



Toko Busana Keluarga Muslim
GRIYA HILFAAZ 
Toko Busana Keluarga Muslim