Malam Nisfu Sya’ban
Jika tidak salah hitung, hari ini kita sudah berada pada tanggal 14
sya’ban, itu artinya malam ini adalah malam 15 Sya’ban, bahasa lainnya malam
ini adalah malam nisfu (pertengahan) bulan Sya’ban. Dari tadi pagi isi group WA
terus saling sahut, saling share tulisan, sebagian besar hasil kopi paste yang
tidak diketahui sumber penulisnya siapa, yang jelas obrolan perihal keutamaan
dan beberapa amalan yang sering dilakukan di malam nisfu Sya’ban ini sebenarnya
dari dahulu sudah ada dan sudah ramai dibicarakan, jauh sebelum Imam Al-Bukhari
dan beberap ahli hadits lainnya lahir.
Diantaranya, Imam As-Syafii yang lahir pada tahun 150 dan meninggal pada
tahun 204 H pernah berkomentar di dalam kitabnya Al-Umm (jilid 1, hal. 264):
(قَالَ
الشَّافِعِيُّ) : وَبَلَغَنَا أَنَّهُ كَانَ يُقَالُ: إنَّ الدُّعَاءَ يُسْتَجَابُ
فِي خَمْسِ لَيَالٍ فِي لَيْلَةِ الْجُمُعَةِ، وَلَيْلَةِ الْأَضْحَى، وَلَيْلَةِ
الْفِطْرِ، وَأَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبٍ، وَلَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ
Imam As-Syafii berkata: “Telah sampai
kepada kami dikatakan bahwa doa akan dikabulkan pada lima malam, yaitu malam
Jum’at, malam hari raya idul adha, malam hari raya idul fitri, awal malam di
bulan Rajab dan malam Nishfu Sya’ban.”
Lebih lanjut, masih didalam kitab yang
sama, Imam As-Syafii menambahkan:
(قَالَ الشَّافِعِيُّ) : وَأَنَا أَسْتَحِبُّ كُلَّ مَا
حُكِيَتْ فِي هَذِهِ اللَّيَالِيِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَكُونَ فَرْضًا
Imam As-Syafii berkata: “Dan saya
menyukai setiap apa yang dikatakan pada malam-malam tersebut asal tidak jadikan
sebagai sebuah kewajiban”
Dari sini, setidaknya, Imam As-Syafii
memberikan isyarat perihal malam nisfu sya’ban. Terlebih bulan Sya’ban sendiri,
adalah bulan dimana nabi Muhammad saw memperbanyak puasa sunnahnya, sehingga
wajar jika Aisyah ra pernah berkata:
فَمَا
رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ
إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ
“Aku tidak pernah sama sekali melihat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh
selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang
lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Memang benar bahwa rata-rata
penjelasan tentang hadits keutamaan malam nisfu Sya’ban itu dinilai lemah
bahkan sebagian palsu, namun sebagian ulama lainnya ada juga menilai bahwa dari
sekalian banyak hadits-hadits yang lemah itu masih ada hadist yang bisa
dijakadikan sandaran, diantaranya adalah:
عَنْ
مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :
يَطَّلِعُ اللهُ إِلَى خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ
لِجَمِيْعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ . أخرجه ابن حبان في صحيحه
والطبراني، وأبو نعيم في الحلية.
“Dari Mu’adz bin Jabal, dari
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah subhanahu wa ta’ala
melihat kepada makhluk-Nya pada malam Nishfu Sya’ban, lalu memberikan ampunan
kepada seluruh makhluk-Nya kecuali kepada orang yang menyekutukan Allah atau
orang yang bermusuhan.” (HR. Ibn Hibban dalam Shahih-nya, al-Thabarani dalam
al-Mu’jam al-Kabir dan al-Mu’jam al-Ausath, dan Abu Nu’aim dalam Hilyah
al-Auliya’)
Hadits ini dinilai Shahih oleh ibnu
Hibban, dan hadits ini juga oleh Syaikh Al-Albani juga diyakini keshahihannya,
dalam kitab beliau Silsilah Al-Ahadits As-Shahihah, Syaikh Al-Albani memberikan
penjelasan:
حديث
صحيح، روي عن جماعة من الصحابة من طرق مختلفة يشد بعضها بعضا وهم معاذ ابن جبل
وأبو ثعلبة الخشني وعبد الله بن عمرو وأبي موسى الأشعري وأبي هريرة وأبي بكر
الصديق وعوف ابن مالك وعائشة.
“(ini) hadits shahih, diriwayatkan
oleh sekolompok sahabat dari jalur yang berbeda, masing-masing jalur menguatkan
satu dengan yang lainnya, mereka adalah: Muadz bin Jabal, Abu Tsa’labah
Al-Khusyani, Abdullah bin Amr, Abu Musa Al-Ays’ari, Abu Hurairah, Abu Bakar
As-Shiddiq, Auf bin Malik, dan Aisyah”
Lebih lanjut, Syaikh Al-Albani, masih
didalam kitab yang sama, setelah beliau mengurai banyak hadits tentang nisfu
Sya’ban, beliau berkata:
فما
نقله الشيخ القاسمي رحمه الله تعالى في ” إصلاح المساجد ” عن أهل التعديل والتجريح
أنه ليس في فضل ليلة النصف من شعبان حديث صحيح، فليس مما ينبغي الاعتماد عليه،
ولئن كان أحد منهم أطلق مثل هذا القول فإنما أوتي من قبل التسرع وعدم وسع الجهد
لتتبع الطرق على هذا النحو الذي بين يديك. والله تعالى هو الموفق
“Keterangan yang dinukil oleh Syekh
Al-Qosimi –rahimahullah– dalam buku beliau; ‘Ishlah Al-Masajid’ dari beberapa
ulama ahli hadis, bahwa tidak ada satupun hadis shahih tentang keutamaan malam
nisfu syaban, termasuk keterangan yang tidak layak untuk dijadikan sandaran.
Dan jika ada sebagian dari mereka menegaskan tidak ada keutamaan malam nisfu
syaban secara mutlak, sesungguhnya dilakukan karena terlalu terburu-buru dan
tidak berusaha mencurahkan kemampuan untuk meneliti semua jalur untuk riwayat
ini, sebagaimana yang ada di hadapan anda. Dan hanyalah Allah yang memberi
taufiq”. (Silsilah Ahadits Shahihah, 3/139)
Terhadap beberapa amalan di malam
nisfu Sya’ban, Imam Ibnu Taimiyah pernah memberikan jawabannya:
وَقَدْ
سُئِلَ ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى عَنْ صَلاَةِ لَيْلَةِ
النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَأَجَابَ : إِذَا صَلَّى اْلإِنْسَانُ لَيْلَةَ
النِّصْفِ وَحْدَهُ أَوْ فِيْ جَمَاعَةٍ خَاصَّةٍ كَمَا كَانَ يَفْعَلُ طَوَائِفُ
مِنَ السَّلَفِ فَهُوَ حَسَنٌ. وَقَالَ فِيْ مَوْضِعٍ آخَرَ : وَأَمَّا لَيْلَةُ
النِّصْفِ فَقَدْ رُوِيَ فِيْ فَضْلِهَا أَحَادِيْثُ وَآَثاَرٌ وَنُقِلَ عَنْ
طَائِفَةٍ مِنَ السَّلَفِ أَنَّهُمْ كَانُوْا يُصَلُّوْنَ فِيْهَا فَصَلاَةُ
الرَّجُلِ فِيْهَا وَحْدَهُ قَدْ تَقَدَّمَهُ فِيْهِ سَلَفٌ وَلَهُ فِيْهِ حُجَّةٌ
فَلَا يُنْكَرُ مِثْلُ هَذَا.
“Ibnu Taimiyah ditanya tentang shalat
pada malam Nishfu Sya’ban, maka beliau menjawab: “Apabila seseorang menunaikan
shalat pada malam Nishfu Sya’ban, sendirian atau bersama jamaah khusus/tertentu
sebagaimana dikerjakan oleh banyak kelompok kaum salaf, maka hal itu baik.”
Ibnu Taimiyah juga berkata pada kesempatan lainnya: “Adapun malam Nishfu
Sya’ban, telah diriwayatkan banyak hadits dan atsar tentang keutamaannya dan
telah dikutip dari sekelompok kaum salaf bahwa mereka menunaikan shalat pada
malam itu. Jadi shalat yang dilakukan oleh seseorang sendirinya pada malam
tersebut, telah dilakukan sebelumnya oleh kaum salaf dan ia mempunya hujjah,
karena itu hal seperti ini tidak boleh diingkari.” (Majmu Fatawa Ibnu Taimiyah)
Adapun perihal amalan membaca Yasin 3
kali, lalu kemudian berdzikir, dan diakhir ditutup dengan doa untuk segala
hajat, maka boleh juga kita simak penuturan dari Syaikh Sayyid Muhammad bin
Alwi bin Abbas Al-Maliki berikut:
لكن
لا مانع أن يضيف الإنسان إلى عمله مع إخلاصه مطالبه وحاجاته الدينية والدنياوية،
الحسية والمعنوية، الظاهرة والباطنة، ومن قرأ سورة يس أو غيرها من القرآن لله
تعالى طالبا البركة في العمر، والبركة في المال، والبركة في الصحة فإنه لا حرج
عليه، وقد سلك سبيل الخير (بشرط أن لا يعتقد مشروعية ذلك بخصوصه).
فليقرأ
يس ثلاثا، أو ثلاثين مرة، أو ثلاث مئة مرة، بل ليقرأ القرآن كله لله تعالى خالصا
له مع طلب قضاء حوائجه وتحقيق مطالبه وتفريج همّه وكشف كربه، وشفاء مرضه وقضاء
دينه، فما الحرج في ذلك...؟.. والله يحب من العبد أن يسأله كل شئ، حتى ملح الطعام
وإصلاح شسع نعله.
“Tapi tak ada larangan bagi seseorang
yang mengiringi amal salehnya dengan permintaan dan permohonan hajat agama dan
dunia, jiwa dan raga, lahir dan batin. Siapa saja yang membaca Surat Yasin atau
surat lainnya dengan ikhlas lillahi ta‘ala sambil memohon keberkahan pada usia,
harta, dan kesehatan, maka hal itu tak masalah. Artinya, orang ini telah
menempuh jalan yang baik (dengan catatan ia tidak meyakini bahwa amal salehnya
itu disyariatkan secara khusus untuk hajat tersebut)"
“Silakan membaca Surat Yasin 3 kali,
30 kali, 100 kali, atau mengkhatamkan 30 juz Al-Quran secara ikhlas lillahi
ta‘ala diiringi dengan permohonan atas segala hajat, doa agar harapan terwujud,
permintaan agar dibukakan dari kebimbangan, pengharapan agar dibebaskan dari
kesulitan, permohonan kesembuhan dari penyakit, permintaan kepada Allah agar
utang terbayar. Lalu di mana masalahnya? Allah senang terhadap hamba-Nya yang
bermunajat kepada-Nya atas pemenuhan hajat apapun termasuk hajat atas garam
pelengkap masakan dan hajat atas tali sandal yang rusak,” (Lihat Sayyid
Muhammad bin Alwi bin Abbas Al-Maliki, Ma Dza fi Sya‘ban? cetakan pertama, 1424
H, halaman 119).
Namun kita juga tidak menutup mata
bahwa banyak juga para ulama yang meyakini bahwa tidak ada satupun hadits
seputar keutamaan malam bulan sya’ban yang dinilai shahih, termasuk Syaikh
Abdul Aziz bin Baz mempunyai sikap yang berbeda dengan Syaikh Al-Albani, beliau
menegaskan bahwa:
وقد
ورد في فضلها أحاديث ضعيفة لا يجوز الاعتماد عليها، أما ما ورد في فضل الصلاة فيها
فكله موضوع
“Ada beberapa hadis dhaif tentang
keutamaan malam nishfu Sya’ban, yang tidak boleh dijadikan landasan. Adapun
hadis yang menyebutkan keutamaan shalat di malam nishfu Sya’ban, semuanya
statusnya palsu.” (At-Tahdzir min Al-Bida’, hlm. 30)
Sehingga, bagi mereka yang tidak
meyakini adanya keutamaan khusus di malam nisfu sya’ban mereka mnaganjurkan
agar malam nisfu sya’ban disamakan dengan malam-malam lainnya, jikapun hendak
melakukan sebuah ibadah lakukanlah ibadah yang biasa ada pada malam-malam
lainnya, dengan membaca Al-Quran secara umum, shalat tahajjud dan witir, serta
wirid-wirid standar harian lainnya.
Selebihnya secara umum cukup perbanyak
puasa (sunnah) di bulan Sya’ban, sebagaimana yang tegaskan oleh Aisyah ra:
فَمَا
رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ
إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ
“Aku tidak pernah sama sekali melihat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh
selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang
lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Juga fokuslah melunasi hutang-hutang
puasa yang masih belum dibayar, agar ketika ramadhan tiba semua hutang puasa
telah lunas. Aisyah ra juga pernah bercerita:
كَانَ
يَكُونُ عَلَىَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ ، فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِىَ
إِلاَّ فِى شَعْبَانَ
“Saya masih memiliki utang puasa
Ramadhan. Dan saya tidaklah mampu mengqodho’nya kecuali di bulan Sya’ban.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
Terlepas sedikit perbedaan diatas,
bukan berarti bahwa ketika sebagian meyakini tidak ada fadilah di malam nisfu
sya’ban, lalu malam nisfu sya’ban digunakan untuk main PS, atau shoping antar
mall, atau malah memperbanyak tidur, dst, agar terhindar dari bid’ah, tentunya
bukan itu pilihannya, tetap saja hal paling baik adalah kita menjaga dan
meningkatkan kualitas amal ibadah kita, kapanpun dan dimanapun, sehingga
semakin hari semakin bagus kualitas keimanan dan ibadah kita, insya Allah.
Dengan terus berusaha agar semangat
beribadah terus ada setiap hari dan setiap malam, bukan hanya pada momen-momen
tertentu saja.
Allahumma ballighna Ramadhan. Amin.
Wallahu A’lam Bisshawab
☘Sekretariat : Jl Raya Solo Wng Km 22 Sukoharjo
☘Butuh Khatib Dai Wilayah Nguter Sukoharjo 📞 081-2261-7316
Gabung channel telegram.me/ikadi_nguter
💈webinfo : www.ceramahsingkat.com
💈IG : @ikadi_nguter
💈Telegram : @ikadi_nguter
💈Fb.: Tausiyah Singkat
Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Kec. Nguter Kab. Sukoharjo
Menebar Islam Rahmatan Lil 'Alamin


EmoticonEmoticon