Tiga Wasiat Salafus Sholeh
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى فَضْلِهِ وَإِحْسَانِهِ، أَحْمَدُهُ وَأَشْكُرُهُ وَأَسْتَعِيْنُهُ وَأَسْتَغْفِرُهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، فِي رُبُوْبِيَتِهِ وَإِلَهِيَتِهِ وَأَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا.
أَمَّا بَعْدُ:
أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى،
Saudaraku yang dimuliakan Allah,
Kadang kita merasa sangat jauh dan keras hati
kita. Dosa dan maksiat yang kita perbuat membuat kita semakin jauh dari Rabb
kita. Maka renungilah mungkin batin kita
lagi tidak mesra dengan tuhan kita, hubungan kita lagi renggang dengan tuhan
kita, atau kita lebih semangat menjalankan amalan-amalan dunia tetapi sering
malas dalam melakukan akhirat.
Saudaraku yang dimuliakan Allah,
Dalam kitab Ar-Risalah At-Tabukiyyah, Ibnul
Qayyim rahimahullah memberitahukan tiga wasiat salaf yang layak untuk diukir
dalam lubuk hati dan sering dibaca sejumlah bilangan nafas..!
Wasiat yang pertama adalah,
مَنْ أَصْلَحَ سَرِيرَتَهُ أَصْلَحَ اللَّهُ عَلَانِيَتَهُ
Barangsiapa yang memperbaiki amalan batinnya, Allah pun akan memperbaiki amalan lahiriyahnya.
Jika hati baik, maka baiklah anggota badan yang
lain. Jika hati rusak, maka rusak pula yang lainnya. Baiknya hati dengan
memiliki rasa takut, rasa cinta pada Allah dan ikhlas dalam niat. Rusaknya hati
adalah karena terjerumus dalam maksiat, keharaman dan perkara syubhat (yang
masih samar hukumnya).
Dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma,
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ
صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ
وَهِىَ الْقَلْبُ
“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik,
maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad.
Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no.
1599).
Saudaraku,
Dalam sebuah kisah sufi yang terkenal,
tersebutlah sebuah kisah tentang seorang pemuda ahli ibadah dan seorang pecinta
dunia. Suatu hari, si ahli ibadah memasuki hutan yang penuh dengan singa.
Melihat kedatangan pemuda ahli ibadah tadi, singa-singa di hutan itu merasa
senang dan menyambutnya. Sementara itu, si pecinta dunia yang tatkala itu
sedang berburu, baru saja memasuki hutan yang sama. Melihat kedatangan si
pecinta dunia dan rombongannya, singa-singa itu mengaum siap menerkam sehingga
membuat mereka merasa ketakutan.
Si ahli ibadah melihat kejadian itu dan dia
berusaha menenangkan singa-singa tersebut. Maka berkatalah si ahli ibadah
kepada si pecinta dunia dan orang-orangnya setelah menenangkan singa-singa ini,
“Kalian hanya memperbagus dan memperindah penampilan luar saja, maka kalian
takut kepada singa. Adapun kami, kami selalu memperbaiki dan memperbagus batin
kami, sehingga singa pun takut kepada kami.”
Hati, dalam pandangan Imam Abdullah Al-Haddad
adalah tempat penglihatan Allah. Sebelum yang lain, Allah melihat hati
seseorang terlebih dahulu. Di sisi berbeda, anggota lahir badan kita menjadi
tempat perhatian sesama makhluk yang acap dipandang dengan pandangan kekaguman.
Dalam sebuah doanya, Rasulullah SAW mengatakan :
“Allahummaj`al Sariiratiy Khairan Min
`Alaaniyatiy Waj`al `Alaaniyatiy Shaalihah.” (Ya Allah, jadikanlah keadaan
batinku lebih baik dari keadaan lahirku dan jadikanlah keadaan lahirku baik).
Inilah salah satu doa yang sering dipanjatkan oleh Nabi kepada Allah. Di
dalamnya terkandung permintaan agar menjadikan suasana hati lebih bagus
ketimbang keadaan lahir.
Pertanyaanya, mengapa nabi menitikberatkan pada
batin atau hati? Imam Abdullah menjawab: “Ketika hati baik, maka keadaan lahir
akan mengikuti kebaikan itu pula. Ini merupakan sebuah kepastian.”
Hati adalah penggerak, raja, poros, dan pusat
segala ibadah. Hati yang thuma`ninah (tenang) akan dapat membuat orang ringan
bangun malam, membaca Al-Qur`an, datang ke masjid, dan semua amal shalih
lainnya. Hati bisa mengajak kepada kebaikan sekaligus di saat yang sama bisa
mengajak kepada kejahatan. Marilah kita ajak hati kita agar cenderung kepada
kebaikan.
Saudaraku yang dimuliakan Allah,
Wasiat yang kedua adalah,
وَمَنْ أَصْلَحَ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ أَصْلَحَ
اللَّهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ
Barangsiapa yang memperbaiki hubungan antara dirinya dengan Allah, Allah akan memperbaiki hubungannya dengan sesama manusia.
Keruwetan persoalan sering kita hadapi dalam
kehidupan ini. Kita menjadi frustasi dalam persoalan yang dia hadapi karena semakin
kuat kita berusaha untuk menyelesaikan, semakin kuat pula persoalan itu melilit
kita. Seolah-olah seluruh energi dan waktu yang dihabiskan tetap tidak cukup
untuk menyelesaikan persoalan tersebut.
Dahulukan menunaikan hak Allah dengan bertauhid,
menjauhi kesyirikan, melakukan amal-amal shalih untuk mendekat diri kepada
Allah SWT.
Dalam kitab Nahjul Balaghah, Ali bin Abi Thalib
mengajarkan kepada kita:
“Barangsiapa membereskan hubungan antara dirinya
dengan Allah, niscaya Allah akan membereskan hubungan antara dia dan manusia
semuanya. Barangsiapa membereskan urusan akhiratnya, niscaya Allah akan
membereskan baginya urusan dunianya. Barangsiapa selalu menjadi penasihat yang
baik bagi dirinya, niscaya Allah akan menjaganya dari segala bencana.”
Abu Hazim rahimahullah mengatakan, “Tidaklah
seseorang memperbaiki hubungannya dengan Allah melainkan Allah akan memperbaiki
hubungan dengan sesamanya. Sebaliknya, tidaklah jelek hubungan seseorang dengan
Allah melainkan Allah akan burukkan hubungan dia dengan orang lain. Demikian
itu karena berbuat baik kepada satu orang tentu lebih mudah daripada berbuat
baik kepada semua orang. Sungguh ketika hubunganmu dengan Allah baik maka semua
orang akan condong kepadamu. dan ketika hubunganmu dengan-Nya buruk maka semua
orang akan berpaling meninggalkanmu.”
Saudaraku yang dimuliakan Allah,
Karenanya jika ditimpa persoalan yang membuat
sulit seakan dunia mau runtuh, periksalah hubungan kita dengan Allah. Apakah
ada hak-hak-Nya yang kita langgar? Perintahnya yang kita langgar? Atau larangan-Nya
yang terus menerus kita lakukan? Perbaikilah persoalan kita dengan Allah dan
niscaya Dia dengan mudah akan membereskan dan memperbaiki segala urusan dunia
kita.
Saudaraku yang dimuliakan Allah,
Wasiat yang ketiga adalah,
Beramallah untuk tujuan akhirat, jangan mencari tujuan dunia semata. Jika seseorang beramal untuk tujuan akhirat, dunia pun akan diperoleh dengan sendirinya tanpa ia cari-cari.
Apabila
seorang hamba menjadikan dunia sebagai tujuan hidupnya dan mengesampingkan
urusan akhiratnya, maka Allâh Azza wa Jalla akan menjadikan urusan dunianya
tercerai-berai, berantakan, serba sulit, serta menjadikan hidupnya selalu
diliputi kegelisahan. Allâh Azza wa Jalla juga menjadikan kefakiran di depan
matanya, selalu takut miskin, atau hatinya selalu tidak merasa cukup dengan
rizki yang Allâh Azza wa Jalla karuniakan kepadanya.
مَن
كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَن كَانَ يُرِيدُ
حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ
“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah
keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia
Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya
suatu bahagian pun di akhirat” (QS. Asy Syuura: 20)
Dunia yang
dapat hanya seukuran ketentuan yang telah ditetapkan baginya, tidak lebih,
meskipun ia bekerja keras dari pagi hingga malam, bahkan hingga pagi lagi
dengan mengorbankan kewajibannya beribadah kepada Allâh, mengorbankan hak-hak isteri,
anak-anak, keluarga, orang tua, dan lainnya.
Dari Zaid
bin Tsabit Radhiyallahu anhu , ia mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda :
مَنْ
كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ ، فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ
فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ
لَهُ ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّـتَهُ ، جَمَعَ اللهُ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ
غِنَاهُ فِيْ قَلْبِهِ ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ.
Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allâh akan
mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan
ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan
baginya. Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allâh
akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan
mendatanginya dalam keadaan hina. ”(HR Imam Ahmad, Imam Ibnu Hibbân,al-Baihaqi)
Demikianlah
nasehat para salaf, semoga bisa selalu menjadi renungan buat kita semua. Ya Allah bersihkanlan hati kami agar selalu cinta denganMU, jadikanlah amalan-amalan kami bisa membuat selalu dekat denganMU, dan jadikanlah semua aktivitas kami hanya mencari ridhoMU amin.
Menebar Islam Rahmatan Lil 'Alamin

EmoticonEmoticon