
Kisah Pertolongan Allah Kepada Hamba yang Ikhlas
Saudaraku yang dicintai Allah,
Keikhlasan yang merupakan kunci ibadah. Dan ikhlas itu
ada di dalam hati orang yang melakukan amal tersebut. Maka sah atau tidaknya
pahala amal itu tergantung pada niat ikhlas atau tidak hati pelakunya. Jika
dalam melakukan amal itu hatinya bertujuan untuk mendapat pujian dari manusia,
maka hal itu berarti tidak ikhlas. Akibatnya amal ibadah yang diusahakannya
tidak menerima pahala dari Allah.
Selain itu dengan keikhlasan dalam beribadah dan beramal, Allah memberi pertolongan yang luar biasa bagi hambanya.
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ
أَقْدَامَكُمْ
Hai orang-orang
mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan
meneguhkan kedudukanmu.(Muhammad: 7)
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
إِنَّمَا يَنْصُرُ اللهُ هَذَهِ اْلأُمَّةَ
بِضَعِيْفِهَا: بِدَعْوَتِهِمْ، وَصَلاَتِهِمْ، وَإِخْلاَصِهِمْ.
Sesungguhnya Allah menolong ummat ini dengan
sebab orang-orang lemah mereka di antara mereka, yaitu dengan doa, shalat, dan
keikhlasan mereka.
(Hadits shahîh. Diriwayatkan oleh an-Nasâ`i
dari Sahabat Mush’ab bin Sa’d Radhiyallahu anhu)i
Sungguh, pertolongan hanya datang dari Allah swt, karena
itu hendaknya maiyatullah atau merasa bersama Allah swt selalu bersemayam dalam
hati, jiwa dan lisan bahkan dalam setiap perbuatan.
Saudaraku yang dicintai Allah,
Ikhlas adalah kunci pertama yang paling penting bagi
terbukanya pintu pertolongan Allah. Nilai suatu pekerjaan sangat bergantung
kepada kadar keikhlasan pelakunya. Meski secara zahir suatu pekerjaan itu berat
dan membela kepentingan Islam, namun apabila pelakunya tidak memiliki niat yang
ikhlas, maka amalnya akan sia-sia. Kalau tidak akan mendatangkan siksa. Ada
orang yang mungkin dinilai baik oleh manusia, tapi dia berniat melakukannya
untuk populariti dan kepentingan duniawi. Orang seperti ini tidak akan mendapat
pertolongan Allah. Bagaimana Allah menolong Nabi dan sahabatnya di perang Badar
dan menjadikan kalah di perang Uhud, padahal jumlahnya lebih banyak di perang
Uhud. Atau juga kisah pemuda terjebak dalam gua mereka bertawasul dengan amal
terbaik mereka.
Saudaraku yang dicintai Allah,
Terdapat sebuah kisah lain tentang pertolongan Allah bagi
hambaNya yang ikhlas. Kisah ini sangat masyhur di beberapa kitab ulama. Seperti
dalam kitab Imam Al-Ghazali dalam kitab
Mukasyafatul Qulub.
Dari Hasan, Mubarak bin Fadhilah telah meriwayatkan untuk
kita semua. Sebuah kisah teladan islami yang bisa dijadikan panutan untuk umat
Islam agar selalu zikir dan ingat terhadap Allah SWT.
Dahulu ada seseorang dari Bani Israil yang alim dan rajin
beribadah kepada Allah SWT. Suatu ketika ia didatangi sekelompok orang. Mereka
berkata, ”Di daerah ini ada suatu kaum yang tidak menyembah Allah, tapi
menyembah pohon.” Mendengar hal itu ia segera mengambil kampak dan bergegas
untuk menebang pohon itu. Melihat gelagat tersebut, iblis mulai beraksi dan
berusaha menghalangi niat orang alim itu. Ia mengecohnya dengan menyamar
sebagai orang tua renta yang tak berdaya. Didatanginya orang itu setelah ia
tiba di lokasi pohon yang dimaksud.
”Apa yang hendak kau lakukan?” tanya iblis. Orang alim
itu menjawab, ”Aku mau menebang pohon ini!”
“Apa salahnya pohon ini?” tanya iblis lagi.
“Ia menjadi sesembahan orang-orang selain Allah. Ketahuilah
ini bukan termasuk ibadahku.” Jawab orang alim itu.
Tentu saja iblis tidak menginginkan niat orang itu
terlaksana dan tetap berusaha untuk menggagalkannya.
Karena iblis berusaha menghalang-halanginya, orang alim
itu membanting iblis dan menduduki dadanya. Di sinilah iblis yang licik mulai
beraksi. ”Lepaskan aku supaya aku dapat menjelaskan maksudku yang sebenarnya,”
kata iblis.
Orang alim itu kemudian berdiri meninggalkan iblis
sendirian. Tapi ia tidak putus asa. ”Hai orang alim, sesungguhnya Allah telah
menggugurkan kewajiban ini atas dirimu karena engkau tidak akan menyembah pohon
ini. Apakah engkau tidak tahu bahwa Allah mempunyai Nabi dan Rasul yang harus
melaksanakan tugas ini.”
Orang alim tersebut tak mempedulikannya dan tetap
bersikeras untuk menebang pohon itu. Melihat hal itu, iblis kembali menyerang.
Tapi orang alim itu dapat mengalahkanya kembali. Merasa jurus pertamanya gagal,
iblis menggunakan jurus kedua. Ia meminta orang alim itu untuk melepaskan
injakan di dadanya.
”Bukankah engkau seorang yang miskin. Engkau juga sering
meminta-minta untuk kelangsungan hidupmu,” tanya iblis.
”Ya, memang kenapa,” jawab orang itu tegas, menunjukkan
bahwa ia tak akan tergoda.
“Tinggalkan kebiasaan yang jelek dan memalukan itu. Aku
akan memberimu dua dinar setiap malam untuk kebutuhanmu agar kamu tidak perlu
lagi meminta-minta. Ini lebih bermanfaat untukmu dan untuk kaum muslimin yang
lain daripada kamu menebang pohon ini,” kata Iblis merayu.
Orang itu terdiam sejenak. Terbayang berbagai kesulitan
hidup seperti yang didramatisasi iblis.
Rupanya bujuk rayu iblis manjur. Ia pun mengurungkan
niatnya. Akhirnya ia kembali ke tempatnya beribadah seperti biasa. Esok paginya
ia mencoba membuktikan janji iblis. Ternyata benar. Diambilnya uang dua dinar
itu dengan rasa gembira. Namun itu hanya berlangsung dua kali. Keesokan harinya
ia tidak lagi menemukan uang. Begitu juga lusa dan hari-hari selanjutnya. Ia
pun marah dan segera mengambil kapak dan pergi untuk menebang pohon yang tempo
hari tidak jadi ditebangnya.
Lagi-lagi iblis menyambutnya dengan menyerupai orang tua
yang tak berdaya.
”Mau ke mana engkau wahai orang alim?”
”Aku hendak menebang pohon sialan itu,” jawabnya emosi.
“Engkau tak akan mampu untuk menebang pohon itu lagi.
Percayalah! Lebih baik engkau urungkan niatmu,” jawabnya melecehkan.
Orang alim itu berusaha melawan Iblis dan berupaya untuk
membantingnya seperti yang pernah dilakukan sebelumnya.
”Engkau tak akan dapat mengalahkanku,” sergah iblis.
Kemudian iblis melawannya dan berhasil membantingnya.
Sambil menduduki dadanya, iblis berkata, ”Berhentilah
kamu menebang pohon ini atau aku akan membunuhmu.”
Orang alim itu kelihatannya tidak punya tenaga untuk
mengalahkan iblis seperti yang pernah dilakukannya sebelum itu.
”Engkau telah mengalahkan aku sekarang. Lepaskan dan
beritahu aku, mengapa engkau dapat mengalahkanku,” tanya orang alim.
Iblis menjawab, "Tahukah engkau siapa sebenarnya
aku? Aku adalah Iblis. Pertama kali engkau marah dan hendak menebang pohon itu
karena hanya mencari ridha Allah SWT. Saat itu, aku tidak mampu emnghalangimu,
maka aku membujukmu melalui uang 2 dinar. Saat itu engkau tudak jadi menebang
pohon terwebut. Maka ketika engkau marah dan hendak menebang pohon hanya karena
uang 2 dinar, aku dapat menghalangi dan mengalahkanmu."
Saudaraku yang dicintai Allah,
Kisah yang diuraikan Imam Al-Ghazali dalam kitab
Mukasyafatul Qulub itu memberi pelajaran bahwa betapa pentingnya nilai sebuah
keikhlasan, yakni berbuat kebajikan tanpa pamrih kecuali hanya mencari ridho
Allah SWT. Ikhlas ini merupakan ruh ibadah kepada Allah SWT. Karena itu untuk
mewujudkan ibadah yang berkualitas kepada Allah SWT kita harus pandai-pandai
menata niat. Niat inilah yang akan membawa konsekuensi pada diterima atau
tidaknya suatu ibadah yang kita lakukan. Mari selalu kita lakukan muhasabah terhadap
amalan-amalan yang telah kita lakukan selama ini.
Semoga Allah mengarunia kita hati yang penuh keikhlasan
dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang ikhlas.
« اَللّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ
بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلَمُ »
“Ya Allah, aku memohon perlindungan kepada-Mu
dari perbuatan menyekutukan-Mu sementara aku mengetahuinya, dan akupun memohon
ampun terhadap perbuatan syirik yang tidak aku ketahui.”
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ
إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

EmoticonEmoticon