Makna dan Esensi Taqwa
Akumulasi berbagai serbuan yang menghantam umat Islam secara bertubi-tubi. Sepanjang sejarah kontemporernya melahirkan sejumlah kehancuran di
segala bidang kehiduan umat. Akibatnya, kondisi umat seakan-akan terus
menerus berada di dalam lingkaran ‘tanpa bobot’ dan tanpa peran yang
berarti”. Dalam masa-masa kehancuran itu sosok peradaban Islam terkapar
dalam pusaran arogansi peradaban materealistik. Akhirnya tingkat
kualitas intelektual, kehidupan sosial budaya dan sikap mental orang
Islam berada pada titik terendah, ”masuk lubang biawak”.
Oleh sebab itu, agenda mengembalikan eksistensi umat dan
merekontruksi peradaban harus menjadi prioritas utama dalam agenda
gerakan perubahan yang dilakukannya. Perubahan ini harus bertitik tolak
dari pembangunan manusia yang mampu berprestasi dalam amal hadhari
(gerakan peradaban) secara nyata.
Patut diakui, gerakan-gerakan kontemporer umat harus menyadari
tentang prioritas proyek peradabannya yang terus menerus berada di bawah
bayang-bayang kolonialisme baru dan menghadapi berbagai tantangan
pertarungan peradaban dan konspirasi yang berat. Masyru’ Al-hadhari
Al-Islami (proyek peradaban Islami) itu tidak lain adalah proyek
kemanusiaan universal yang bertujuan mencapai kebaikan manusia secara
umum sebagai refleksi dan implikasi dan sosiologis rahmatan lil’alamin.
Ia adalah proyek yang sangat luas, yang membentang di ufuk-ufuk luas
tanpa batas. Dalam proyek ini diperlukan semangat kerja dan inovasi
tinggi yang selaras dengan gerak tata kosmos (nawamis al-kaun). Dalam
proyek ini dituntut juga adanya keseimbangan (tawazun) antara tuntutan
ruh, akal dan jasad. Ia adalah proyek yang harus didasarkan pada fondasi
iman yang menghubungakan “bumi” dan “langit”. Tegasnya,
masyru’al-hadhari adalah sebuah proyek besar yang menuntut perwujudan
taqwa –sebagai dasar pembentukan peradaban dalam tingkat individu dan
masyarakat.
Makna dan Esensi
Taqwa (bentuk invinitive berarti: “wiqayyah” ) dalam pengertian
bahasa adalah menjaga sesuatu dari yang menyakiti dan yang
membahayakannya. Dalam kaitan kehidupan manusia berarti sebuah upaya
untuk menjadikan diri seseorang dalam keadaan selalu terpelihara dari
sesuatu yang menakutkan. Pengertian ini sekaligus menggambarkan tentang
hakikat dan esensi taqwa.
Dalam kondisi tertentu “takut” di sebut taqwa. Juga sebaliknya, sesuai dengan konteksnya, taqwa disebut takut. Maka dalam istilah syar’i taqwa di lukiskan sebagai upaya menjaga diri dari sesuatu yang menimbulkan dosa, yaitu dengan jalan menimbulkan apa saja yang dilarang Allah, bahkan meninggalkan sesuatu, yang sebenarnya tidak di larang, karena semata mata takut terjerumus ke dalam sesuatu yang di larang atau dosa.(Al-Raghib Al-Ashfani, Mu’jam Mufradat Alfazh Al-Qur’an). Memang perbuatan dosa bukan hanya membahayakan pelakunya tetapi juga membahayakan orang lain. Sedangkan Al-Jurjani (Kitab Al-Ta’rifat) menyebutkan Taqwa diartikan sebagai tindakan melindungi. Berarti Taqwa itu merupakan upaya pembentengan diri, dengan ketaatan yang total kepada Allah, dari segala bentuk hukuman – Nya. Disini posisi taqwa menjadi benteng yang dapat melindungi dari segala sesuatu yang menyebabkan seseorang terkena hukuman (uqubah), baik yang menyangkut sesuatu yang harus dilakukan atau sesuatu yang harus ditinggalkan. Selanjutnya Al-Jurjani menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan taqwa dalam taat adalah ikhlas. Sedangkan yang dimaksud dengan taqwa terhadap ma’siat adalah meninggalkan ma’siat dan waspada terhadapnya.
Atas dasar pengertian–pengertian tersebut, maka taqwa yang biasa
diartikan sebagai proses menjalankan perintah dan menjauhi larangan
Allah, merupakan sebuah upaya manusia dalam menyelaraskan seluruh
dimensi kehidupannya dengan pola dasar kehendak Allah yang
dimanifestasikan dalam bentuk “hukum transeden” yang ditentukan dalam
keseluruhan ayat-ayat dalam kandungan Al-Qur’an dan kemenyeluruhan
sunnah Rasulullah SAW beserta ajarannya.
Konsistensi dengan 'Hukum-Hukum Allah'
Dengan demikian taqwa berarti konsistensi perilaku manusia dengan
wahyu dan nawamis al-kaun (tata kosmos) yang dapat memastikannya meraih
kehidupan ideal serta menjadi bekal hidup terbaik. Firman Allah:
“Berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa dan
bertaqwalah kepada-Ku hai orang-orang yang beriman”. (Al-Baqarah:197).
Konsistensi itu mengandung makna kepatuhan kepada kehendak Allah SWT.
Tercapainya tujuan-tujuan Islam dalam masyarakat manusia tergantung
pada sejauh mana individu dan masyarakat itu mematuhi kehendak Allah
sesuai dengan sifat-sifat, kesanggupan-kesanggupan dan realitas-realitas
materiil dalam lingkungan mereka (An-Nisaa’:97-99, Al-Israa’:84,
Al-Baqarah:233). Ini menuntut optimalisasi keseriusan manusia dalam
menghadapi dan memanfaatkan ruang dan waktu tersebut. Pemenuhan kehendak
Ilahi itu merupakan “ amanah” yang telah disanggupi oleh manusia.
Konsekuensinya, seluruh perilaku individu dan sosial manusia harus
selalu menerapkan “hukum-hukum Allah” tersebut sehingga menjadi sebuah
“malakah”, karakter dan sikap mental yang melekat. Taqwa merupakan
“malakah” yang memancarkan perilaku yang dapat wujud dalam diri
seseorang. Kualitas taqwa akan terus meningkat apabila ajaran-ajaran
Islam mampu membentuk pribadi dan perilakunya.
Oleh Allah SWT, Taqwa dilukiskan sebagai puncak prestasi hidup yang
dapat dilakukan manusia (Al-Hujuraat:13). Dalam Al-Qur’an ditemukan
beberapa ayat yang menjelaskan ciri orang yang bertaqwa. Ciri-ciri ini
sekaligus merupakan pendefinisian praktis dan aktual bagi taqwa
misalnya, dalam surat Al-Baqarah ayat 3 dan 4, taqwa didefinisikan
sebagai beriman kepada yang ghaib (iman kepada yang ghaib merupakan
dasar yang kokoh bagi kehidupan manusia) dan menyadari serta menghayati
terhadap tujuan eksistensial, misi keberadaannya di bumi, dan keyakinan
serta konsistensinya dengan nilai-nilai dan aturan yang datang dari
Allah. Selain itu taqwa juga dilukiskan sebagai suatu kebajikan yang
mencangkup berbagai dimensi kehidupan (Al-Baqarah:177). Taqwa juga
digambarkan sebagai upaya peningkatan diri menjadi hamba Allah yang
benar-benar menyadari eksistensi dirinya (Ali-Imran:15-17).
Karena itu
orang bertaqwa selalu berlaku ihsan terhadap segala sesuatu selain
selalu berpandangan jauh (Al-Hasyr:18). Perbuatan ihsan yang
dilakukannya itu merupakan pencerminan kesadarannya bahwa setiap
perbuatan baik selain dapat meningkatkan kualitas dirinya juga dapat
melahirkan keluhuran akhlaknya. Perbuatan itu pula sebagai refleksi dari
keyakinan bahwa seluruh perbuatannya akan dipertanggungjawabkan
diakhirat nanti (Ali-Imran:133-136 dan Al-Anbiyaa’:48-49). Orang yang
bertaqwa semua perbuatan yang di lakukan dilandasi oleh nilai kebenaran
dengan setulus-tulusnya (Az-Zumar:33).
Karena itu taqwa yang merupakan buah ibadah (pengabdian hanya kepada
Allah SWT yang menjadi tujuan eksistensial penciptaannya) dijadikan
sebagai misi kenabian yang bersifat langgeng (Nuh:3, Al-‘Ankabuut:16,
Huud:78, Asy-Syu’araa’:161-163, Ali-Imran:102). Seluruh dimensi ibadah
merupakan tangga maju ketaqwaan. Sedangkan ibadah yang membuahkan taqwa
adalah ibadah yang dilandasi tauhid, sebuah keyakinan dan kesaksian
bahwa ”tidak ada Ilah, yang patut disembah selain Allah”. Keyakinan ini
merupakan pandangan umum tentang realitas wujud, Al-Khaliq yaitu Allah
SWT yang kekal, pencipta alam semesta beserta aturan dan permainannya.
Al-Khaliq dan Al-makhluq mutlak berbeda dalam wujud maupun dalam
eksistensinya.
Seorang Muslim yang telah mengikrarkan kesaksiannya bahwa “tidak ada
Ilah, yang patut disembah, selain Allah”, meyakini bahwa finalitas
terdiri dari tatanan transendental dan tatanan alamiah (al-Ta’lim
al-Islamiyah dan al-Nawamis al-Kauniyah). Tatanan transendental dengan
segala nilai yang ada didalamnya dijadikan pedoman untuk mengatur tata
kehidupan. Tauhid seorang Muslim bermakna penolakan untuk menundukan
kehidupan manusia kepada setiap tuntunan yang bersumber dari Allah SWT
dan kesediaan yang total untuk diatur oleh hukum-hukum-Nya.
Iman dan Taqwa yang bersemayam kokoh dalam lubuk hati manusia dapat
memancarkan segala mata air kebaikan, melahirkan segala daya dan upaya,
memupuk ketinggian cita-cita, memperkokoh tekad dan kemauan, memudahkan
segala gerak dan langkah, meringankan beban dan rintangan, menjauhi
semua bentuk kesalahan dan menerangi perjalanan kehidupan, serta
melahirkan jiwa yang ikhlas. Puncaknya, orang-orang yang bertaqwa, akan
memperoleh kepemihakan Allah SWT dalam seluruh dimensi kesejarahan
(An-Nahl:127-128, Al-Anfaal:19, At-taubah:36).
IKADI KEC NGUTER KAB SUKOHARJO
☘Sekretariat : Jl Raya Solo Wng Km 22 Sukoharjo
☘Butuh Khatib Dai Wilayah Nguter Sukoharjo 📞 081-2261-7316
Gabung channel telegram.me/ikadi_nguter
💈webinfo : www.ceramahsingkat.com
💈IG : @ikadi_nguter
💈Telegram : @ikadi_nguter
💈Fb.: Tausiyah Singkat
Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Kec. Nguter Kab. Sukoharjo
Menebar Islam Rahmatan Lil 'Alamin
![]() |
| GRIYA HILFAAZ Toko Busana Keluarga Muslim |


EmoticonEmoticon