Beberapa Amalan Amalan Pembuka Pintu Rezeki
Khutbah Pertama:
إِنَّ الحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا ، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ
وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم
مُّسْلِمُونَ”.
“يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ
وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً
وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ
كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”.
“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً
. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ
اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”.
أَمَّا
بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى
مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا،
وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.
أَمَّا
بَعْدُ مَعَاشِرَ المُؤْمِنِيْنَ عِبَادَ اللهِ : اِتَّقُوْا اللهَ ؛ فَإِنَّ مَنِ
اتَّقَى اللهَ وَقَاهُ وَأَرْشَدَهُ إِلَى خَيْرِ دِيْنِهِ وَدُنْيَاهُ
Jama’ah Jum’at rahimakumullah…
Mari kita tingkatkan
ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan
ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan
oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wasallam serta
menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wasallam.
Ibadalllah,
Sesungguhnya
di antara nama-nama Allah yang indah adalah Ar-Razzaq, Yang Maha Memberi
Rezeki. Dialah yang menanggung semua rezeki makhluk yang ada di semesta alam
ini.
وَكَأَيِّن
مِّن دَابَّةٍ لَّا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ ۚ وَهُوَ
السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Dan
berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri.
Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar
lagi Maha Mengetahui.” [Quran Al-Ankabut: 60].
Jika
binatang melata saja Allah yang menanggung rezekinya, apalagi manusia. Karena
manusia adalah makhluk yang Allah muliakan. Allah dudukkan lebih mulia dari
semua makhluk ciptaan-Nya. Tentu manusia lebih-lebih lagi Allah jamin rezeki
untuk mereka. Namun demikian, bukan berarti rezeki datang begitu saja tanpa
usaha. Harus ada usaha nyata yang dilakukan untuk menjemput rezeki tersebut.
Allah Ta’ala memerintahkan manusia untuk mencari rezeki.
هُوَ
الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا
مِن رِّزْقِهِ ۖ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
“Dialah
Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya
dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali
setelah) dibangkitkan.” [Quran Al-Mulk: 15].
Karena
itulah, kita manusia bertebaran di muka bumi dalam rangka membuka pintu-pintu
rezeki. Ada dua cara yang dituntunkan oleh Allah Ta’ala untuk membuka
pintu-pintu rezeki tersbut. Ada cara yang sifatnya qadari atau duniawi. Ada
juga cara syar’i atau cara mencari karena faktor relijius.
Sebab
duniawi, hal ini sudah kita ketahui. Seseorang berprofesi sebagai dokter,
pedagang, pegawai, petani, nelayan, dll. Ini adalah sebab-sebab duniawi.
Seseorang mencari rezeki dengan usaha mereka. Dengan kemampuan fisik yang telah
Allah anugerahkan keapda mereka.
Sebab yang
kedua adalah sebab yang sifatnya relijius atau ukhrawi. Ada , ada beberapa
amalan yang bisa membuka pintu rezeki dari Allah SWT. Berikut beberapa di
antaranya, seperti
1. Shalat Wajib Tepat Waktu
2. Taqwa
3. Tawakal
4. Tahajjud
5. Shalat Dhuha
6. Dzikir dan Istighfar
7. Doa dan Restu Orang Tua
8. Silaturrahim
9. Sedekah
10. Berbuat Kebaikan
11. Bangun Pagi
12. Berdagang
13. Menikah
Disini khatib hanya menfokuskan pada beberapa hal tentang sebab-sebab
dibukanya pintu rezeki.
Pertama: Istighfar
Allah Ta’ala berfirman,
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا
(10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ
وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا (12)
“Maka aku
katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah
Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan
membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan
mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12)
Terdapat
sebuah atsar dari Hasan Al Bashri rahimahullah yang menunjukkan bagaimana
faedah istighfar yang luar biasa.
أَنَّ
رَجُلًا شَكَى إِلَيْهِ الْجَدْب فَقَالَ اِسْتَغْفِرْ اللَّه ، وَشَكَى إِلَيْهِ
آخَر الْفَقْر فَقَالَ اِسْتَغْفِرْ اللَّه ، وَشَكَى إِلَيْهِ آخَر جَفَاف
بُسْتَانه فَقَالَ اِسْتَغْفِرْ اللَّه ، وَشَكَى إِلَيْهِ آخَر عَدَم الْوَلَد
فَقَالَ اِسْتَغْفِرْ اللَّه ، ثُمَّ تَلَا عَلَيْهِمْ هَذِهِ الْآيَة
“Sesungguhnya
seseorang pernah mengadukan kepada Al-Hasan tentang musim paceklik yang
terjadi. Lalu Al-Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah (mohon ampunlah) kepada
Allah”.
Kemudian
orang lain mengadu lagi kepada beliau tentang kemiskinannya. Lalu Al-Hasan
menasehatkan, “Beristigfarlah (mohon ampunlah) kepada Allah”.
Kemudian
orang lain mengadu lagi kepada beliau tentang kekeringan pada lahan (kebunnya).
Lalu Al-Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah (mohon ampunlah) kepada Allah”.
Kemudian
orang lain mengadu lagi kepada beliau karena sampai waktu itu belum memiliki
anak. Lalu Al-Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah (mohon ampunlah) kepada
Allah”.
Kemudian
setelah itu Al-Hasan Al-Bashri membacakan surat Nuh di atas. (Riwayat ini
disebutkan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar di Fath Al-Bari, 11: 98)
Kedua:
Menjalin silaturahim
Silaturahim
adalah menjalin hubungan dengan kerabat yang pernah putus atau terus menjalin
yang telah selama ini ada.
Ini adalah
sebab yang sangat utama dalam membuka pintu-pintu rezeki. Karena kita korbankan
waktu dan harta kita untuk menyambung silaturahmi. Kita berikan hadiah kepada
kedua orang tua kita. Kepada karib kerabat. Kepada kakak, adik, paman, bibi,
dan kerabat dekat lainnya. Kita hubungi dan telepon mereka. Ini semua adalah
sebab-sebab yang dapat membuka pintu rezeki.
Betapa
banyak orang yang sukses di dunia. Siapapun dia; seorang da’ikah, seorang
dokter, wirasuahawan, dll. Dia sukses. Ternyata rahasianya adalah dia
menyambung silaturahmi.
Dari Abu
Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ
سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ ،
فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Siapa
yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia
menyambung silaturahim.” (HR. Bukhari no. 5985 dan Muslim no. 2557).
Kata Imam
Nawawi dilapangkan rezeki adalah diluaskan atau diperbanyak rezekinya. Juga
bisa maksudnya adalah Allah berkahi rezekinya. (Syarh Shahih Muslim, 16: 104)
Ibnu Hajar
dalam Al-Fath menjelaskan, “Silaturahmi dimaksudkan untuk kerabat, yaitu yang
punya hubungan nasab, baik saling mewarisi ataukah tidak, begitu pula masih ada
hubungan mahrom ataukah tidak.”
Ketiga:
Memperbanyak sedekah
Allah
Ta’ala berfirman,
قُلْ
إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ
وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
“Katakanlah:
“Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di
antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya).” Dan
barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah
Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39)
Dari Abu
Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا
نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ
“Sedekah
tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim, no. 2588)
Makna
hadits di atas sebagaimana dijelaskan oleh Yahya bin Syarf An Nawawi
rahimahullah ada dua penafsiran:
Harta
tersebut akan diberkahi dan akan dihilangkan berbagai dampak bahaya padanya.
Kekurangan harta tersebut akan ditutup dengan keberkahannya. Secara inderawi
dan realita bisa dirasakan.
Walaupun
secara bentuk harta tersebut berkurang, namun kekurangan tadi akan ditutup
dengan pahala di sisi Allah dan akan terus ditambah dengan kelipatan yang amat
banyak. (Syarh Shahih Muslim, 16: 128)
Memang,
secara kasat mata seseorang yang menyedekahkan uangnya, uangnya akan berkurang.
Tapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa sedekah tidak
mengurangi harta. Kita imani sabda nabi ini. Kita benarkan beliau. Lalu,
bagaimana cara uang dan harta itu bertambah? Semuanya kita serahkan kepada
Allah Ta’ala. Karena Allah Ta’ala sendiri yang menyebut sedekah itu dengan
sebutan meminjami Allah. Artinya Allah pasti membayar pinjaman-Nya.
مَّن
ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا
كَثِيرَةً ۚ وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
“Siapakah
yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan
hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran
kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan
(rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” [Quran Al-Baqarah: 245].
Allah
namakan sedekah dengan pinjaman, supaya hamba-hamba-Nya tahu bahwa Dia pasti
akan mengembalikan uangnya. Allah akan memberi ganti kepada-Nya. Bahkan
melipat-gandakannya. Sebagaimana ketika ada seorang yang kaya raya, mungkin
suatu waktu dompetnya tertinggal. Di sana ada kartu-kartu yang ia gunakan untuk
melakukan transaksi. Karena tertinggal ia meminjam uang dengan kita. Kita tahu
ia seorang yang kaya raya, yang tidak mungkin tidak membayar pinjamannya.
Kemudian dengan yakin kita meminjami. Saat membayar, orang tersebut akan
berterima kasih, dan melebihkan uang hutangnya.
Karena
itu, seorang hamba janganlah ragu. Allah itu al-Ghani Maha Kaya, asy-Syakur
Maha Bersyukur, dan Dia al-Jawwad Maha Dermawan. Dia akan memberikan balasan
yang berlipat bagi orang yang melakukan kebaikan.
Dalam
sebuah hadits qudsi, Allah Ta’ala berfirman,
قَالَ
اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَا ابْنَ آدَمَ أَنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ
“Allah
Tabaraka wa Ta’ala: Wahai anak Adam, berinfaklah, Allah akan mengganti
infakmu.” (HR. Bukhari no. 4684 dan Muslim no. 993).
Keempat:
Bertakwa pada Allah
Allah
Ta’ala berfirman,
وَمَنْ
يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا , وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا
يَحْتَسِبُ
“Barangsiapa
bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar, dan
memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang
bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS.
Ath-Thalaq: 2-3)
Ibnu
Taimiyah rahimahullah memberikan kita penjelasan menarik mengenai pengertian
takwa. Beliau rahimahullah berkata,
“Takwa
adalah seseorang beramal ketaatan pada Allah atas cahaya (petunjuk) dari Allah
karena mengharap rahmat-Nya dan ia meninggalkan maksiat karena cahaya
(petunjuk) dari Allah karena takut akan siksa-Nya. Tidaklah seseorang dikatakan
mendekatkan diri pada Allah selain
dengan menjalankan kewajiban yang Allah tetapkan dan menunaikan hal-hal yang
sunnah. Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا
تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ
، وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ
“Tidaklah
seorang hamba mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan wajib yang Aku cintai. Dan
hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku
mencintainya.” Inilah hadits shahih yang disebut dengan hadits qudsi
diriwayatkan oleh Imam Bukhari.” (Majmu’ Al-Fatawa, 10: 433)
Kelima:
Melakukan haji dan umrah
Dari
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
تَابِعُوا
بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ
كَمَا يَنْفِى الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ
“Ikutkanlah
umrah kepada haji, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa
sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak.” (HR.
An-Nasai no. 2631, Tirmidzi no. 810, Ahmad 1: 387. Al-Hafizh Abu Thahir
mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)
Keenam:
Memperbanyak doa minta rezeki
. Dan doa
adalah usaha. Sebagian orang terkadang menyepelekan doa, padahal doa bisa jadi
lebih ampuh dari usaha fisik yang dilakukan seseorang. Allah Ta’ala berfirman,
فَابْتَغُوا
عِندَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ
“Mintalah
rezeki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya.”
[Quran Al-Ankabut: 17].
Imam
asy-Syafi’i rahimahullah mengatkan,
أَتَهزَأُ
بِالدُعاءِ وَتَزدَريهِ
وَما
تَدري بِما صَنَعَ الدُّعاءُ
Apakah kau
meremehkan dan menganggap enteng doa.
Kau tak
tahu apa yang bisa dilakukan doa.
Banyak
kaum muslimin berdoa, tapi mereka menjadikan doa adalah usaha terakhir. Bukan
usaha pertama. Semestinya yang dilakukan oleh seorang muslim adalah berdoa
terlebih dahulu. Kemudian ikuti doanya dengan melakukan usahanya nyata.Doa yang
diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari hadits Ummu Salamah
radhiyallahu ‘anha, ia menyatakan:
Setiap
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat Shubuh, setelah salam,
beliau membaca do’a berikut,
اللَّهُمَّ
إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا
Allahumma
innii as-aluka ‘ilman naafi’a, wa rizqon thoyyibaa, wa ‘amalan mutaqobbalaa.
Artinya:
“Ya Allah,
sungguh aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat (bagi diriku dan orang
lain), rizki yang halal dan amal yang diterima (di sisi-Mu dan mendapatkan
ganjaran yang baik).” (HR. Ibnu Majah, no. 925 dan Ahmad 6: 305, 322. Al-Hafizh
Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Juga do’a
lainnya dari hadits ‘Ali, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengajarkan
doa berikut,
اللَّهُمَّ
اكْفِنِى بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِى بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
Allahumak-finii
bi halaalika ‘an haroomik, wa agh-niniy bi fadhlika ‘amman siwaak.
Artinya:
“Ya Allah
cukupkanlah aku dengan yang halal dan jauhkanlah aku dari yang haram, dan
cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu.” (HR.
Tirmidzi no. 3563. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)
Yang
Jelas: Jangan Sampai Tempuh Cara yang Haram
Dari Ibnu Mas’ud
radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ
رُوْحَ القُدُسِ نَفَثَ فِي رَوْعِي إِنَّ نَفْسًا لاَ تَمُوْتَ حَتَّى
تَسْتَكْمِلَ رِزْقُهَا ، فَاتَّقُوْا اللهَ وَأَجْمِلُوْا فِي الطَّلَبِ ، وَلاَ
يَحْمِلَنَّكُمْ اِسْتَبْطَاءَ الرِّزْقُ أَنْ تَطْلُبُوْهُ بِمَعَاصِي اللهَ ؛
فَإِنَّ اللهَ لاَ يُدْرِكُ مَا عِنْدَهُ إِلاَّ بِطَاعَتِهِ
“Sesungguhnya
ruh qudus (Jibril), telah membisikkan ke dalam batinku bahwa setiap jiwa tidak
akan mati sampai sempurna ajalnya dan dia habiskan semua jatah rezekinya.
Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah cara dalam mengais rezeki.
Jangan sampai tertundanya rezeki mendorong kalian untuk mencarinya dengan cara
bermaksiat kepada Allah. Karena rezeki di sisi Allah tidak akan diperoleh
kecuali dengan taat kepada-Nya.” (HR. Musnad Ibnu Abi Syaibah 8: 129 dan
Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 8: 166, hadits shahih. Lihat Silsilah
Al-Ahadits As-Shahihah no. 2866).
Dalam
hadits disebutkan bahwa kita diperintah untuk mencari rezeki dengan cara yang
baik atau diperintahkan untuk “ajmilu fit tholab”. Apa maksudnya?
Janganlah
berputus asa ketika belum mendapatkan rezeki yang halal sehingga menempuh cara
dengan maksiat pada Allah. Jangan sampai kita berucap, “Rezeki yang halal,
mengapa sulit sekali untuk datang?”
Jangan
sampai engkau mencelakakan dirimu untuk sekedar meraih rezeki.
Intinya
karena tidak sabar. Seandainya mau bersabar mencari rezeki, tetap Allah beri
karena jatah rezeki yang halal sudah ada. Coba renungkan perkataan Ibnu ‘Abbas
berikut ini. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,
ما
من مؤمن ولا فاجر إلا وقد كتب الله تعالى له رزقه من الحلال فان صبر حتى يأتيه
آتاه الله تعالى وإن جزع فتناول شيئا من الحرام نقصه الله من رزقه الحلال
“Seorang
mukmin dan seorang fajir (yang gemar maksiat) sudah ditetapkan rezeki baginya
dari yang halal. Jika ia mau bersabar hingga rezeki itu diberi, niscaya Allah
akan memberinya. Namun jika ia tidak sabar lantas ia tempuh cara yang haram,
niscaya Allah akan mengurangi jatah rezeki halal untuknya.” (Hilyah Al-Auliya’,
1: 326)
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ وَاسِعِ الفَضْلِ وَالجُوْدِ وَالاِمْتِنَانِ ,
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ , وَأَشْهَدُ
أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى
آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا .
أَمَّا
بَعْدُ أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ عِبَادَ اللهِ : اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى
وَاعْلَمُوْا أَنَّ تَقْوَى اللهَ جَلَّ وَعَلَا هِيَ خَيْرُ زَادِ يُبَلِّغُ
إِلَى رِضْوَانِ اللهِ ، وَتَقْوَى اللهَ جَلَّ وَعَلَا : أَنْ تَعْمَلَ بِطَاعَةِ
اللهِ عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ تَرْجُوْ ثَوَابَ اللهِ ، وَأَنْ تَتْرَكَ
مَعْصِيَةَ اللهِ عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ تَخَافُ عِقَابَ اللهِ .
Ibadallah,
Cara
lainnya agar pintu rezeki kita terbuka adalah tawakal kepada Allah. Janganlah
seseorang bertawakal kepada gaji dan penghasilannya, kepada pekerjaan dan
usahanya, kepada atasan dan pelanggannya, atau kepada perusahaan tempat dia
bekerja. Tapi berserah diri dan bertawakallah kepada Allah. Seandainya
pekerjaannya hilang, seandainya usahanya ia tinggalkan untuk menaati Allah, ia
tetap yakin bahwa rezeki datangnya dari Allah. Usaha dan pekerjaan yang
dilakukan adalah sebab saja. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَوْ
أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا
يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصاً وَتَرُوحُ بِطَاناً
”Seandainya
kalian betul-betul bertawakkal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian
rizki sebagaimana burung mendapatkan rizki. Burung tersebut pergi pada pagi
hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.” (HR.
Ahmad dan selainnya).
Al-Imam
Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Siapa yang mencari rezeki dengan tawakal
yang benar, dia menempuh sedikit sebab saja, maka Allah akan berikan rezeki
yang banyak kepadanya.”
Dengan
demikian, yang utama untuk kita perbaiki adalah tawakal kita kepada Allah.
Harus dia yakini bahwa pemberi rezeki adalah Allah bukan manusia. Bukan
makhluk. Mereka hanyalah sebab saja.
Kemudian
kiat terakhir untuk membuka pintu rezeki adalah berhusnuzhan kepada Allah.
Bersangka baik kepada-Nya.
Terlebih
lagi, Allah Ta’ala sangat sayang kepada kita. Lebih sayang dari seorang ibu
kepada anaknya. Artinya hubungan cinta kasih terbesar adalah hubungan cinta
kasih antara Allah dengan hamba-hamba-Nya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
لَلَّهُ
أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا.
“Allah
lebih rahim kepada hamba-hamba-Nya daripada wanita ini kepada anaknya.” (HR.
Muslim).
Allah
Ta’ala berfirman dalam hadits qudis
قَالَ
اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي ؛ إِنْ ظَنَّ بِي خَيْرًا
فَلَهُ ، وَإِنْ ظَنَّ شَرًّا فَلَهُ
Allah Azza
wa Jalla berfirman, “Aku tergantung persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Kalau ia
bersangka baik kepadaku, untuknya kebaikan. Kalau ia bersangka buruk, untuknya
keburukan’.”
Betapa
banyak kenikmatan yang Allah berikan kepada kita tanpa kita minta. Tanpa kita
sangka dan pikirkan. Lihatlah bagaimana kisah Nabi Musa tatkala meminta kepada
Allah:
قَالَ
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي (25) وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي (26) وَاحْلُلْ عُقْدَةً
مِّن لِّسَانِي (27) يَفْقَهُوا قَوْلِي (28)
Berkata
Musa: “Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku
urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti
perkataanku.” [Quran Thaha: 25-28].
Kemudian
Allah kabulkan permintaannya. Dan Allah sebutkan bahwa dulu sebelum beliau
meminta keselamatan, Allah telah memberikan keselamatan kepadanya.
قَالَ
قَدْ أُوتِيتَ سُؤْلَكَ يَا مُوسَىٰ (36) وَلَقَدْ مَنَنَّا عَلَيْكَ مَرَّةً
أُخْرَىٰ (37) إِذْ أَوْحَيْنَا إِلَىٰ أُمِّكَ مَا يُوحَىٰ (38) أَنِ اقْذِفِيهِ
فِي التَّابُوتِ فَاقْذِفِيهِ فِي الْيَمِّ فَلْيُلْقِهِ الْيَمُّ بِالسَّاحِلِ
يَأْخُذْهُ عَدُوٌّ لِّي وَعَدُوٌّ لَّهُ ۚ وَأَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً
مِّنِّي وَلِتُصْنَعَ عَلَىٰ عَيْنِي (39) إِذْ تَمْشِي أُخْتُكَ فَتَقُولُ هَلْ
أَدُلُّكُمْ عَلَىٰ مَن يَكْفُلُهُ ۖ فَرَجَعْنَاكَ إِلَىٰ أُمِّكَ كَيْ تَقَرَّ
عَيْنُهَا وَلَا تَحْزَنَ ۚ وَقَتَلْتَ نَفْسًا فَنَجَّيْنَاكَ مِنَ الْغَمِّ
وَفَتَنَّاكَ فُتُونًا ۚ فَلَبِثْتَ سِنِينَ فِي أَهْلِ مَدْيَنَ ثُمَّ جِئْتَ
عَلَىٰ قَدَرٍ يَا مُوسَىٰ (40) وَاصْطَنَعْتُكَ لِنَفْسِي (41)
Allah
berfirman: “Sesungguhnya telah diperkenankan permintaanmu, hai Musa”. Dan
sesungguhnya Kami telah memberi nikmat kepadamu pada kali yang lain, yaitu
ketika Kami mengilhamkan kepada ibumu suatu yang diilhamkan, Yaitu:
“Letakkanlah ia (Musa) didalam peti, kemudian lemparkanlah ia ke sungai (Nil),
maka pasti sungai itu membawanya ke tepi, supaya diambil oleh (Fir’aun)
musuh-Ku dan musuhnya. Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang
datang dari-Ku; dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku, (yaitu) ketika
saudaramu yang perempuan berjalan, lalu ia berkata kepada (keluarga Fir’aun):
“Bolehkah saya menunjukkan kepadamu orang yang akan memeliharanya?” Maka Kami
mengembalikanmu kepada ibumu, agar senang hatinya dan tidak berduka cita. Dan
kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu Kami selamatkan kamu dari kesusahan
dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan; maka kamu tinggal beberapa
tahun diantara penduduk Madyan, kemudian kamu datang menurut waktu yang
ditetapkan hai Musa, dan Aku telah memilihmu untuk diri-Ku.” [Quran Thaha:
36-41].
Ibadallah,
Allah
telah memberikan kita kenikmatan tanpa kita minta. Saat kita dalam perut ibu
kita, Allah berikan kita rezeki di dalamnya tanpa kita pinta. Kemudian kita
bayi, kita diberi rezeki tanpa kita pinta. Kemudian kita mulai tumbuh besar.
Allah bekali kita dengan berbagai kemampuan. Apakah setelah keadaan ini kita
malah bersangka buruk dengan Allah? Apakah kita mengira Dia tidak akan
mencukupi kita sehingga perlu kita menempuh cara-cara yang haram? Sungguh buruk
keadaan kita apabila semakin diberikan kemampuan, semakin kita malah bersangka
buruk kepada-Nya.
Mudah-mudahan
Allah Ta’ala membukakan pintu rezeki kepada kita. Dan mejadikan kita
hamba-hamba yang pandai bersyukur kepada-Nya.
وَاعْلَمُوْا
أَنَّ أَصْدَقَ الحَدِيْثِ كَلَامُ اللهِ، وَخَيْرَ الهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ
مُحْدَثَةٍ بِدْعُةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَعَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ
فَإِنَّ يَدَ اللهِ عَلَى الجَمَاعَةِ .
وَصَلُّوْا
وَسَلِّمُوْا رَعَاكُمُ اللهُ عَلَى مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ
اللهُ بِذَلِكَ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ
يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب:٥٦] ، وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ: (( مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا)) .
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ اَلْأَئِمَّةَ المَهْدِيِيْنَ؛ أَبِيْ بَكْرِ الصِّدِّيْقِ،
وَعُمَرَ الفَارُوْقِ، وَعُثْمَانَ ذِيْ النُوْرَيْنِ، وَأَبِيْ الحَسَنَيْنِ
عَلِيٍّ, وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ وَعَنِ
التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، وَعَنَّا
مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ
انْصُرْ مَنْ نَصَرَ دِيْنَكَ وَكِتَابَكَ وَسُنَّةَ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا المُسْلِمِيْنَ
المُسْتَضْعَفِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اَللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ فِي أَرْضِ
الشَامِ وَفِي كُلِّ مَكَانٍ، اَللَّهُمَّ كُنْ لَنَا وَلَهُمْ حَافِظاً
وَمُعِيْنًا وَمُسَدِّداً وَمُؤَيِّدًا،
اَللَّهُمَّ
وَاغْفِرْ لَنَا ذُنُبَنَا كُلَّهُ؛ دِقَّهُ وَجِلَّهُ، أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ،
سِرَّهُ وَعَلَّنَهُ، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا
وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ
اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ حُبَّكَ،
وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ العَمَلَ الَّذِيْ يُقَرِّبُنَا إِلَى حُبِّكَ.
اَللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِيْنَةِ الإِيْمَانِ وَاجْعَلْنَا هُدَاةَ مُهْتَدِيْنَ.
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا، وَاهْدِنَا
سُبُلَ السَّلَامِ، وَأَخْرِجْنَا مِنَ الظُلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ. اَللَّهُمَّ
آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرَ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ
وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي
الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عباد
الله، (إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي
الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنْ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ* وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلا
تَنقُضُوا الأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمْ اللَّهَ عَلَيْكُمْ
كَفِيلاً إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ) [النحل:90-91]، فَاذْكُرُوْا
اللهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ،
وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.
GRIYA HILFAAZ
Busana Muslim Berkualitas
💈webinfo : www.griyahilfaaz.com
💈IG : @griya_hilfaaz
💈Shopee : @griya_hilfaaz
💈Facebook: @griya_hilfaaz
💈Tokopedia: @griya_hilfaaz
💈Bukalapak: @griya_hilfaaz
![]() |


1 komentar so far
subhanallah enak banget di bacanya ... buat tambah ilmu
EmoticonEmoticon