KAJIAN HADITS TENTANG LARANGAN BERBUAT ZHALIM
عَنْ
أَبِـيْ ذَرٍّ الْغِفَارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّـى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْمَـا يَرْوِيْهِ عَنْ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنَّهُ قَالَ
:
«يَا عِبَادِيْ ! إِنِّـيْ حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَـى نَفْسِيْ ، وَجَعَلْتُهُ
بَيْنَـكُمْ مُحَرَّمًا ؛ فَلاَ تَظَالَـمُوْا. يَا عِبَادِيْ ! كُلُّكُمْ ضَالٌّ
إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ ؛ فَاسْتَهْدُوْنِـيْ أَهْدِكُمْ. يَا عِبَادِيْ !
كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلاَّ مَنْ أَطْعَمْتُهُ ؛ فَاسْتَطْعِمُوْنِـيْ أُطْعِمْكُمْ.
يَا عِبَادِيْ ! كُلُّكُمْ عَارٍ إِلاَّ مَنْ كَسَوْتُهُ ؛ فَاسْتَكْسُوْنِـيْ
أَكْسُكُمْ. يَا عِبَادِيْ ! إِنَّكُمْ تُـخْطِئُوْنَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ ،
وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَـمِيْعًا ؛ فَاسْتَغْفِرُوْنِـيْ أَغْفِرْ لَكُمْ.
يَا عِبَادِيْ ! إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوْا ضُرِّيْ فَتَضُرُّوْنِـيْ ، وَلَنْ
تَبْلُغُوْا نَفْعِيْ فَتَنْفَعُوْنِـيْ. يَا عِبَادِيْ ! لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ
وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوْا عَلَـى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ
وَاحِدٍ مِنْكُمْ ؛ مَا زَادَ ذَلِكَ فِـيْ مُلْكِيْ شَيْئًا. يَا عِبَادِيْ !
لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوْا عَلَـى
أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ ؛ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِيْ
شَيْئًا. يَا عِبَادِيْ ! لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ
وَجِنَّكُمْ قَامُوْا فِـيْ صَعِيْدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُوْنِـيْ فَأَعْطَيْتُ كُلَّ
وَاحِدٍ مَسْأَلَـتَهُ ؛ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِـمَّـا عِنْدِيْ إِلاَّ كَمَـا
يَنْقُصُ الْـمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ. يَا عِبَادِيْ ! إِنَّـمَـا هِيَ
أَعْمَـالُكُمْ أُحْصِيْهَا لَكُمْ ، ثُمَّ أُوَفِّيْكُمْ إِيَّاهَا ، فَمَنْ
وَجَدَ خَيْرًا ؛ فَلْيَحْمَدِ اللهَ ، وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ ؛ فَلاَ
يَلُوْمَنَّ إِلاَّ نَفْسَهُ
Dari
Abu Dzar al-Ghifâri Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
meriwayatkan firman Allah Azza wa Jalla ,
“Wahai
hamba-Ku! Sesungguhnya Aku mengharamkan kezhaliman atas diri-Ku dan Aku
menjadikannya haram di antara kalian. Maka, janganlah kalian saling menzhalimi.
Wahai hamba-Ku! Setiap dari kalian adalah lapar kecuali orang yang Aku beri
makan. Maka, mintalah makanan kepada-Ku niscaya Aku beri kalian makan. Wahai
hamba-Ku! Setiap kalian adalah telanjang kecuali orang yang Aku beri pakaian.
Maka, mintalah pakaian kepada-Ku niscaya Aku akan berikan pakaian kepada
kalian. Wahai hamba-Ku! Sesungguhnya kalian selalu berbuat salah (dosa) di
waktu malam dan siang hari; sedang Aku mengampuni seluruh dosa. Maka, mohon
ampunlah kalian kepada-Ku niscaya Aku akan mengampuni dosa kalian. Wahai
hamba-Ku! Sesungguhnya kalian tidak akan dapat menimpakan bahaya kepada-Ku
sehingga kalian dapat membahayakan-Ku dan kalian tidak akan dapat memberi
manfaat kepada-Ku sehingga kalian dapat memberi manfaat kepada-Ku. Wahai
hamba-Ku! Seandainya orang pertama dan terakhir dari kalian, manusia dan jin
dari kalian, hati mereka semuanya seperti salah seorang dari kalian yang paling
bertakwa, maka semuanya itu tidak akan menambah sedikit pun pada kerajaan-Ku.
Wahai hamba-Ku! Seandainya orang pertama dan terakhir dari kalian, manusia dan
jin dari kalian, semua seperti hati salah seorang dari kalian yang paling
jahat, maka semuanya itu tidak akan mengurangi sedikit pun dari kerajaan-Ku.
Wahai hamba-Ku! Seandainya orang pertama dan terakhir dari kalian, manusia dan
jin dari kalian semua berada di satu tanah lapang kemudian setiap dari kalian
meminta kepada-Ku lalu Aku memberikan permintaannya itu, maka hal itu tidak
mengurangi apa yang ada di sisi-Ku kecuali seperti jarum yang mengurangi air
laut jika dimasukkan ke dalamnya. Wahai hamba-Ku! Sesungguhnya itu semua adalah
amal-amal kalian yang Aku tulis untuk kalian; kemudian Aku menyempurnakannya
untuk kalian. Barangsiapa mendapatkan kebaikan, hendaklah ia memuji Allah Azza
wa Jalla , dan barangsiapa mendapatkan selain itu, maka janganlah ia
sekali-kali mencela (menyalahkan) kecuali kepada dirinya sendiri.”
TAKHRIJ
HADITS
Hadits ini shahîh, diriwayatkan oleh:
1. Muslim (no. 2577).
2. Ahmad (V/154, 160, 177).
3. At-Tirmidzi (no. 2495).
4. Ibnu Mâjah (no. 4257).
5. Al-Bukhâri dalam al-Adabul Mufrad (no. 490/Shahîh al-Adabul Mufrad (no. 377)).
6. ‘Abdurrazzâk dalam al-Mushannaf (no. 20272).
7. Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliyâ’ (V/125-126).
8. Al-Baihaqi dalam Sunannya (VI/93) dan dalam al-Asmâ’ wash Shifât (hal. 65, 159, 213-214, 227, 285).
9. Al-Hâkim dalam al-Mustadrak (IV/241).
10. Ibnu Hibbân dengan ringkas (no. 618-at-Ta’lîqâtul Hisân).
Hadits ini shahîh, diriwayatkan oleh:
1. Muslim (no. 2577).
2. Ahmad (V/154, 160, 177).
3. At-Tirmidzi (no. 2495).
4. Ibnu Mâjah (no. 4257).
5. Al-Bukhâri dalam al-Adabul Mufrad (no. 490/Shahîh al-Adabul Mufrad (no. 377)).
6. ‘Abdurrazzâk dalam al-Mushannaf (no. 20272).
7. Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliyâ’ (V/125-126).
8. Al-Baihaqi dalam Sunannya (VI/93) dan dalam al-Asmâ’ wash Shifât (hal. 65, 159, 213-214, 227, 285).
9. Al-Hâkim dalam al-Mustadrak (IV/241).
10. Ibnu Hibbân dengan ringkas (no. 618-at-Ta’lîqâtul Hisân).
SYARAH
HADITS:
1. Pengertian Zhalim
Firman Allah Azza wa Jalla , “Wahai hamba-Ku! Sesungguhnya Aku
mengharamkan kezhaliman atas diri-Ku.”
Maknanya
ialah: Allah Azza wa Jalla melarang diri-Nya berbuat zhalim terhadap hamba-hamba-Nya,
seperti firman-Nya,
وَمَا
أَنَا بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ
“…Dan
Aku tidak menzhalimi hamba-hamba-Ku.” [Qâf/50:29]
Allah
Azza wa Jalla berfirman,
وَمَا
اللَّهُ يُرِيدُ ظُلْمًا لِلْعِبَادِ
“…Padahal
Allah tidak menghendaki kezhaliman terhadap hamba-hamba-Nya.” [Ghâfir/40:31]
Allah
Azza wa Jalla berfirman,
وَمَنْ
يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا يَخَافُ ظُلْمًا وَلَا هَضْمًا
Dan
barangsiapa mengerjakan kebajikan sedang dia (dalam keadaan) beriman, maka dia
tidak khawatir akan perlakuan zhalim (terhadapnya) dan tidak (pula khawatir)
akan pengurangan haknya. [Thâhâ/20:112]
Yang
dimaksud dengan kata “اَلْـهَضْمُ”
pada ayat di atas ialah pengurangan pahala kebaikan, dan yang dimaksud dengan
kata “اَلظُّلْمُ”
adalah penyiksaan karena dosa-dosa orang lain. Ayat-ayat seperti di atas banyak
dalam al-Qur`ân. [1]
Zhalim
ialah menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya. Asal makna zhalim ialah
bertindak lalim dan melampaui batas. Zhalim juga bermakna menyimpang dari
tujuan.[2] Dalam bahasa Arab, zhalim ; meletakkan
sesuatu tidak pada tempatnya. Asal kata zhalim adalah kejahatan dan melampaui
batas, dan juga menyimpang dari keseimbangan. [An-Nihayah fi Gharibil
Hadits, bab Azh-Zha’ ma‘a Al-La]. Sehingga perbuatan makhluk terhadap
makhluk lain yang mengakibatkan salah satunya menjadi tidak ridha terhadap
perbuatan yang diperlakukan padanya, maka hal ini termasuk perbuatan zhalim.
Allah
Azza wa Jalla yang menciptakan perbuatan hamba-Nya yang di dalamnya terdapat
kezhaliman. ini tidak berarti Allah Azza wa Jalla memiliki sifat zhalim. Begitu
juga, Allah tidak bisa disifati dengan seluruh perbuatan buruk yang dikerjakan
manusia yang merupakan hasil penciptaan dan takdir-Nya, karena Allah hanya
disifati dengan perbuatan-perbuatan diri-Nya dan tidak disifati dengan
perbuatan-perbuatan hamba-Nya. Perbuatan hamba-Nya adalah makhluk-Nya dan Dia
tidak bisa disifati dengan salah satu darinya, namun Dia disifati dengan
sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan yang ada pada-Nya. Wallâhu a’lam.
2. Haramnya Berbuat Zhalim
Firman Allah Azza wa Jalla , “Dan Aku menjadikannya haram di
antara kalian, maka janganlah kalian saling menzhalimi.”
Maksudnya,
Allah Azza wa Jalla mengharamkan perbuatan zhalim atas hamba-hamba-Nya serta
melarang mereka saling menzhalimi, karena kezhaliman itu sendiri adalah haram
secara mutlak.
Kezhaliman
terbagi ke dalam beberapa bagian:
Pertama: Kezhaliman seorang hamba terhadap dirinya sendiri, dan kezhaliman yang paling besar adalah syirik (mempersekutukan Allah Azza wa Jalla ), seperti firman-Nya,
Pertama: Kezhaliman seorang hamba terhadap dirinya sendiri, dan kezhaliman yang paling besar adalah syirik (mempersekutukan Allah Azza wa Jalla ), seperti firman-Nya,
إِنَّ
الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Sesungguhnya
mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar.”
([Luqmân/31:13]
Sebabnya
orang musyrik telah menempatkan makhluk pada kedudukan Sang Khâliq (Pencipta),
sehingga ia menyembah dan mempertuhankannya. Ini berarti menempatkan sesuatu
bukan pada tempatnya.
Sebagian
besar ancaman bagi orang-orang yang zhalim dalam al-Qur`ân dimaksudkan untuk
orang-orang musyrik, seperti firmankan-Nya,
وَالْكَافِرُونَ
هُمُ الظَّالِمُونَ
“…Orang-orang
kafir itulah orang yang zhalim.” [al-Baqarah/2:254]
Kemudian
berikutnya diikuti dengan perbuatan maksiat dengan beragam jenisnya dari
perbuatan dosa-dosa besar dan dosa-dosa kecil.
Kedua: Kezhaliman seorang hamba terhadap
orang lain. menyakiti tubuh saudaranya, menggibahi
saudaranya, tidak menunaikan hak-hak saudaranya, menjatuhkan kehormatan
saudaranya, merampas hartanya. Maka mari cermati muamalah kita dengan
saudara-saudara kita, sudahkah kita menunaikan hak-hak mereka, membuat mereka
merasa nyaman dan tidak dirugikan atas keberadaan kita? Sudahkah kita
melaksanakan piket-piket yang merupakan kewajiban kita? Sudahkah? Karena hak
dan kewajiban itu sangat rawan dengan perbuatan zhalim, maka marilah kita
saling mengingatkan dan memperbaiki diri,
Itulah
yang disebutkan dalam hadits di atas. Pada haji Wada’, Nabi Shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda dalam khutbahnya,
إِنَّ
دِمَاءَكُمْ ، وَأَمْوَالَكُمْ ، وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ
يَوْمِكُمْ هَذَا ، فِـيْ شَهْرِكُمْ هَذَا ، فِـيْ بَلَدِكُمْ هَذَا».
“….Sesungguhnya
darah, harta, dan kehormatan kalian haram terhadap kalian seperti keharaman
hari kalian ini di bulan kalian ini di negeri kalian ini.”[3]
Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
إِنَّ
الظُّلْمَ ظُلُمَـاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ».
Sesungguhnya
kezhaliman adalah kegelapan pada hari kiamat.[4]
Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
«إِنَّ اللهَ لَيُمْلِـي لِلظَّالِـمِ حَتَّى إِذَا أَخَذَهُ لَـمْ
يُفْلِتْهُ » ، ثُمَّ قَرَأَ )وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَى
وَهِيَ ظَالِـمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيْمٌ شَدِيْدٌ(
Sesungguhnya
Allah pasti menunda (hukuman) bagi orang zhalim. Namun jika Dia telah
menyiksanya, Dia tidak meloloskannya. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam membaca ayat, ‘Dan begitulah siksa Rabb-mu apabila Dia menyiksa
(penduduk) negeri-negeri yang berbuat zhalim. Sungguh, siksa-Nya sangat pedih
dan sangat berat.’ [ Hûd/11:102]”[5]
Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
«مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلَمَةٌ ِلأَخِيْهِ ؛ فَلْيَتَحَلَّلْ مِنْهَا ؛
فَإِنَّهُ لَيْسَ ثَمَّ دِيْنَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُأْخَذَ
ِلأَخِيْهِ مِنْ حَسَنَاتِهِ ، فَإِنْ لَـمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ
سَيِّئَاتِ أَخِيْهِ ، فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ»
Barangsiapa
pada dirinya terdapat mazhlamah (harta yang dirampas dengan zhalim) milik
saudaranya, hendaklah ia memintanya menghalalkannya sekarang ini, karena di
sana (hari kiamat) tidak ada dinar dan dirham, sebelum amal shalihnya diambil
darinya lalu diberikan kepada saudaranya itu. Jika ia tidak memiliki amal
shalih, maka kesalahan-kesalahan saudaranya itu diambil kemudian dibebankan
kepadanya.[6]
Ketiga : Mengubah perkara yang Allah
syariatkan, yang dibawa oleh Rasulullah shallaallahu ‘alaihi wa sallam,
hal ini bermakna bahwa melakukan hal yang bukan merupakan syariat Allah
(perkara yang tidak berdalil, baca bid’ah) juga merupakan perbuatan zhalim.
Allah memperingatkan kita dalam firman-Nya [QS. Al Maidah : 45]
وَمَن
لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
(artinya)
“ Barangsiapa yang tidak mau berhukum dengan hukum yang Allah turunkan maka
mereka itulah orang-orang yang zhalim”, karena kembali pada makna zhalim
yaitu menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya
Keempat: Menzhalimi hewan,
Rasulullah shallaallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,
عُذِّبَتْ
امْرَأَةٌ فِي هِرَّةٍ سَجَنَتْهَا حَتَّى مَاتَتْ فَدَخَلَتْ فِيهَا النَّارَ لَا
هِيَ أَطْعَمَتْهَا وَلَا سَقَتْهَا إِذْ حَبَسَتْهَا وَلَا هِيَ تَرَكَتْهَا
تَأْكُلُ مِنْ خَشَاشِ الْأَرْضِ
(artinya)“Ada
seorang wanita yang diazab karena seekor kucing yang dikurungnya hingga mati,
si wanita masuk neraka karenanya. Kucing itu tidak diberinya makanan, tidak
diberinya minum, tidak pula dilepaskannya hingga bisa memakan hewan yang ada di
tanah.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim].
Kelima: Membedakan manusia dalam
penerapan hukum berdasarkan status sosial, sebagaimana
sabda Rasulullah shallaallahu ‘alaihi wa sallam mengenai umat terdahulu.
إِنَّمَا
هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِأَنَّهُ إِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الشَّرِيفُ
تَرَكُوهُ وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الضَّعِيفُ قَطَعُوهُ
(artinya)
“Hanyalah yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah ketidakadilan
mereka, di mana bila ada orang mulia di kalangan mereka yang mencuri, mereka
biarkan (tidak diberi sangsi hukum), namun bila yang mencuri itu orang yang
lemah, mereka tegakkan hukum had padanya.” [HR. Ahmad, dishahihkan dalam
Shahihul Jami`].
3.
Akibat
Berbuat Zhalim
Maka
kita berlindung kepada Allah agar di jauhkan dari berbuat zhalim, dan
dimudahkan dalam menunaikan setiap kewajiban kita. Karena bahaya pelaku zhalim
di hari kiamat sangat besar. Dalam hukum qishaash yang Allah Ta’ala tegakkan
setiap perbuatan zhalim kita akan dibalas dengan perbuatan yang setimpal.
- Qisash dari Allah
Setimpal
dengan cara bagaimana? Yaitu dengan tukar menukar pahala dan dosa, karena di
hari itu sudah tidak ada gunanya lagi meminta maaf, sehingga Rasulullah shallaallahu
‘alaihi wa sallam pun pernah bersabda,
مَنْ كَانَتْ لَهُ
مَظْلَمَةٌ لأَحَدٍ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَىْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ
الْيَوْمَ، قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُونَ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ
(artinya)
“Barangsiapa yang telah melakukan kezhaliman terhadap saudaranya (muslim),
berupa pelanggaran terhadap kehormatannya atau selainnya, hendaknya dia meminta
kehalalan dari saudaranya (dimaafkan) pada hari ini (sekarang), sebelum tidak
ada lagi dinar atau dirham (Hari Akhir)”. [HR. Al-Bukhari].
Seorang
Muslim wajib menjauhi perbuatan zhalim, karena kezhaliman mengakibatkan:
Selain akibat buruk di dunia, orang yang berbuat dzalim tidak akan lepas dari pengadilan Allah di akhirat meskipun di dunia bisa lolos dan selamat dan dianggap sebagai orang yang baik di mata sebagian manusia. Allah berfirman yang artinya, “Dan janganlah engkau mengira, bahwa Allah lengah dari apa yang diperbuat oleh orang yang dzalim. Sesungguhnya Allah menangguhkan mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak…” (Surah Ibrahim 42)
Selain akibat buruk di dunia, orang yang berbuat dzalim tidak akan lepas dari pengadilan Allah di akhirat meskipun di dunia bisa lolos dan selamat dan dianggap sebagai orang yang baik di mata sebagian manusia. Allah berfirman yang artinya, “Dan janganlah engkau mengira, bahwa Allah lengah dari apa yang diperbuat oleh orang yang dzalim. Sesungguhnya Allah menangguhkan mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak…” (Surah Ibrahim 42)
Rasulullah
Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Sungguh pada hari kiamat kelak akan
ditunaikan semua hak-hak kepada pemiliknya, hingga kambing yang bertanduk pun
akan digiring (pada hari itu) dan diputuskan lantaran pernah menyeruduk kambing
yang tak bertanduk”. (H.R.Muslim)
Pelaku
zhalim akan mentransfer pahala kebaikannya pada yang dizhalimi, sebagai hukum
qishaashnya, dan apabila belum cukup maka ia akan mendapat transfer dosa dari
yang dizhalimi, seperti sabda Rasulullah shallaallahu ‘alaihi wa sallam,
(artinya) “Kelak kebaikan-kebaikannya akan diberikan kepada orang yang
terzhalimi. Apabila amalan kebaikannya sudah habis diberikan sementara belum selesai
pembalasan tindak kezhalimannya, maka diambillah dosa-dosa yang terzhalimi itu,
lalu diberikan kepadanya. Kemudian dia pun dicampakkan ke dalam neraka”.
[HR. Muslim].
Pada
akhirnya, setiap kezaliman seseorang pada orang lain akan menimpa dirinya
sendiri. Sebab, kezaliman dilakukan seseorang pertama-tama ketika orang itu
mengingkari daya-daya kebaikan di dalam dirinya. Selain itu, jika kezaliman
sudah menyebar di masyarakat, maka kezaliman itu akan mencakup pelaku kezaliman
itu sendiri. Ini seperti orang yang mengajarkan kebohongan kepada orang lain,
maka pada suatu hari orang itu akan berbohong juga pada dirinya. Jadi,
kezaliman pada orang lain itu pada hakikatnya adalah kezaliman pada diri
sendiri. Karena itu, banyak sekali ayat al-Quran yang melarang kita menzalimi
diri sendiri, seperti:
ومن
يفعل ذلك فقد ظلم نفسه
“Orang
yang melakukan hal itu, dia telah menzalimi dirinya sendiri.” (al-Baqarah: 231)
ومن
يتعد حدود الله فقد ظلم نفسه
“Orang
yang melanggar batasan-batasan Allah, dia telah menzalimi dirinya sendiri.”
(ath-Thalaq: 1)
والذين
ظلموا من هؤلاء سيصيبهم سيئات ما كسبوا
“Orang-orang
zalim akan terkena akibat buruk dari perbuatan mereka sendiri.” (az-Zumar: 51)
فأصابهم
سيئات ما عملوا وحاق بهم ما كانوا به يستهزئون
“Mereka
akan tertimpa akibat dari perbuatan mereka sendiri dan merelak akan diliputi
oleh azab yang dulu selalu mereka perolok-olokkan.” (an-Nahl: 34)
- Kebinasaan.
Allah
SWT berfirman:
هل
يهلك إلا القوم الظالمون
“Tidak
akan dibinasakan kecuali orang-orang zalim.” (al-An’am: 47)
وما
كنا مهلكي القرى إلا وأهلها ظالمون
“Kami
tidak akan menghancurkan suatu kaum, kecuali mereka dalam keadaan zalim.”
(al-Qashash: 59)
- Azab di akhirat
Allah
SWT berfirman:
ولو
ترى إذا الظالمون موقوفون عند ربهم يرجع بعضهم إلى بعض القول يقول الذين استضعفوا
للذين استكبروا لولا أنتم لكنا مؤمنين ، قال الذين استكبروا للذين استضعفوا أنحن
صددناكم عن الهدى بعد إذ جائكم بل كنتم مجرمين
“Dan
(alangkah mengerikan) jika engkau melihat ketika orang-orang zalim itu
dihadapkan kepada Tuhannya, sebagian dari mereka mengembalikan perkataan kepada
sebagian yang lain. Orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang
yang menyombongkan diri, ‘Kalau tidaklah karena kamu, tentulah kami menjadi
orang-orang beriman.’ Orang-orang yang menyombongkan diri berkata kepada
orang-orang yang dianggap lemah, ‘Kamikah yang telah menghalangimu untuk
memperoleh petunjuk setelah petunjuk itu datang kepadamu? Tidak. Sebenarnya
kamu sendirilah orang-orang yang berbuat dosa.’” (Saba: 31-32)
4. Cara Menghindari Membersihkan Jiwa dari
Berbuat Zalim
Berbuat Zalim adalah Tabiat ManusiaAllah SWT berfirman:
“Sesungguhnya
manusia itu sangatlah zalim lagi kufur.” (Ibrahim: 34)
“Sesungguhnya
Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka
semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan
mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia
itu amat zalim lagi amat bodoh.” (Al-Ahzab: 72)
Dua ayat di atas cukuplah menjadi dalil bahwa manusia memiliki tabiat suka berbuat zalim. Karenanya, kita harus mencari obat penyembuh dari penyakit tabiat tersebut. Bukankah Allah telah memerintahkan kita untuk membersihkan tabiat jiwa dari perkara yang mengotorinya?
“Sungguh
beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh merugi orang yang
mengotori jiwanya.” (Asy-Syams: 9-10)
Penyucian jiwa tersebut dilakukan dengan memaksanya agar mencocoki dan menyepakati manhaj/aturan Allah SWT.
Cara
Membersihkan Jiwa dari Berbuat Zalim
Allah SWT memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk bersungguh-sungguh memaksa jiwa mereka agar bersih dari perbuatan yang rendah baik berupa kezaliman, sombong, hasad, dan selainnya. Allah SWT menjanjikan untuk memberikan petunjuk kepada jalan keselamatan bagi orang yang berbuat demikian karena mengharapkan wajah-Nya.
Allah SWT memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk bersungguh-sungguh memaksa jiwa mereka agar bersih dari perbuatan yang rendah baik berupa kezaliman, sombong, hasad, dan selainnya. Allah SWT menjanjikan untuk memberikan petunjuk kepada jalan keselamatan bagi orang yang berbuat demikian karena mengharapkan wajah-Nya.
“Orang-orang yang bersungguh-sungguh berupaya
mencari keridhaan Kami, niscaya Kami akan memberi mereka petunjuk kepada
jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat ihsan.”
(Al-’Ankabut: 69)
Maka
menjadi penting untuk diketahui cara-cara apa yang dapat membantu kita agar terhindar
dari perbuatan zhalim, diantaranya :
- Bertaqwa kepada Allah Ta’ala, dengan taqwa
seorang hamba akan menahan dirinya dari melanggar batasan-batasan Allah,
dan menahan diri seperti ini perlu ilmu mengenai Allah, ilmu ma’rifatullaah
sehingga kita menjadi lebih menyadari bahwa Allah bersama kita di setiap
waktu dengan keilmuan-Nya Takwa sebagai wasiat Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya yang awal sampai
yang akhir, merupakan asas agama ini. Dengan takwa seorang hamba akan
menahan dirinya dari melanggar batasan-batasan Allah SWT. Karena itu setiap
jiwa hendaklah merealisasikan takwa dan mengetahui keagungan dan kebesaran
Allah SWT.
“Mereka tidaklah mengagungkan Allah
dengan sebenar-benar pengagungan, padahal bumi seluruhnya berada dalam
genggaman-Nya pada hari kiamat, dan langit-langit dilipat dengan tangan
kanan-Nya. Maha suci Dia lagi Maha Tinggi dari apa yang mereka sekutukan.”
(Az-Zumar: 67)
Seorang yang berbuat zalim seandainya
memiliki pengagungan kepada Allah SWT
dengan sebenar-benar pengagungan niscaya ia akan menarik diri dan
berhenti dari kezaliman yang dilakukannya.
- Tawadhu’/rendah hati, adalah obat
kezhaliman, sedangkan sombong adalah penyebabnya. Perlu latihan dan
pemaksaan diri memang, agar diri dapat bersikap tawadhu’. Nabi SAW
memberi penekanan untuk bersikap tawadhu‘.
“Sesungguhnya Allah SWT mewahyukan kepadaku agar hendaknya kalian
bersikap tawadhu’ hingga seseorang tidak berbuat zalim kepada orang lain, dan
seseorang tidak me-nyombongkan diri di hadapan orang lain.” (HR. Muslim)
Tawadhu‘ adalah obat kezaliman, adapun sombong merupakan sebab . Tawadhu‘ ini bisa diupayakan oleh seseorang dengan cara terus melatih dan membiasakan jiwanya agar bersikap tawadhu‘.
Tawadhu‘ adalah obat kezaliman, adapun sombong merupakan sebab . Tawadhu‘ ini bisa diupayakan oleh seseorang dengan cara terus melatih dan membiasakan jiwanya agar bersikap tawadhu‘.
- Memotivasi diri dengan meraih apa yang Allah janjikan
pada orang yang adil, dalam sabda Rasulullah shallaallahu ‘alaihi wa
sallam disebutkan bahwa ada 7 golongan yang mendapat naungan Allah, di
hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, salah satunya adalah
pemimpin yang adil [HR. Muslim]. Rasulullah n bersabda:
“Sesungguhnya orang-orang yang adil di
sisi Allah berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya di sebelah kanan tangan
kanan Ar-Rahman dan kedua tangan-Nya kanan….” (HR. Muslim)
- dan memohon pertolongan kepada Allah Jalla wa ‘Ala
agar dihindarkan dari perbuatan zhalim dan dimudahkan dalam menunaikan
hak-hak saudara kita. Allah SWT
Maha Mengabulkan doa sebagaimana Dia berfirman:
“Rabb kalian telah berfirman:
‘Berdoalah kalian kepada-Ku niscaya Aku akan mengabulkan permintaan kalian…’.”
Maka semestinya seorang hamba senantiasa berdoa memohon pertolongan kepada-Nya agar dirinya dihindarkan dari perbuatan zalim.
Maka semestinya seorang hamba senantiasa berdoa memohon pertolongan kepada-Nya agar dirinya dihindarkan dari perbuatan zalim.
Maka,
marilah saudari-saudariku kita memperbaiki diri, mengevaluasi cara kita
bermuamalah dengan saudara-saudara kita yang lain. Mari berusaha mengamalkan
setiap ilmu yang kita dapat untuk menjadi hamba yang lebih baik di hadapan
Allah dan baik terhadap setiap makhluk-Nya. Dan marilah kita mengencangkan semangat
kita untuk mendatangi taman-taman surga dunia, yaitu majelis ilmu, agar kita
semakin tahu tentang Rabb kita, dan semakin tahu perbuatan apa yang
harus kita perbaiki. Bukankah kita ingin nama-nama kita disebut dalam doa-doa
para malaikat, semua penduduk bumi dan bahkan ikan-ikan di lautan, untuk
dimintakan ampun pada Allah?
5. Seluruh manusia membutuhkan Allah Azza wa Jalla yang Maha kaya
Firman Allah Azza wa Jalla , “ Wahai hamba-Ku! Setiap dari kalian adalah lapar kecuali orang yang Aku beri makan. Maka, mintalah makanan kepada-Ku niscaya Aku memberi makan kepada kalian. Wahai hamba-Ku! Setiap kalian adalah telanjang kecuai orang yang Aku beri pakaian. Maka, mintalah pakaian kepada-Ku niscaya Aku akan berikan pakaian kepada kalian. Wahai hamba-Ku! Sesungguhnya kalian selalu berbuat salah (dosa) di waktu malam dan siang hari sedang Aku mengampuni seluruh dosa. Maka, mohon ampunlah kalian kepada-Ku niscaya Aku akan mengampuni dosa kalian.”
Ini
menunjukkan bahwa seluruh makhluk sangat butuh kepada Allah Azza wa Jalla untuk
mendapatkan kemaslahatan dan menolak mudharat (bahaya) dalam agama dan dunia
mereka. Ini juga menunjukkan bahwa manusia tidak memiliki apa pun bagi diri
mereka. Sehingga, barangsiapa tidak diberi rezeki dan petunjuk maka ia tidak
akan memiliki keduanya di dunia. Barangsiapa tidak diberi pengampunan atas
dosa-dosanya oleh Allah Azza wa Jalla , maka kesalahan-kesalahannya
membinasakannya di akhirat.[8] Allah Azza wa Jalla berfirman,
مَنْ
يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ ۖ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا
مُرْشِدًا
Barangsiapa
diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa
disesatkan-Nya, maka engkau tidak akan mendapatkan seorang penolong yang dapat
memberi petunjuk kepadanya.” [al-Kahfi/18:17]
Ayat-ayat
yang semakna dengan ini banyak dalam al Qur`ân.
Allah Azza wa Jalla berfirman,
Allah Azza wa Jalla berfirman,
مَا
يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا ۖ وَمَا يُمْسِكْ
فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Apa
saja di antara rahmat Allah yang dianugerahkan kepada manusia, maka tidak ada
yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan-Nya, maka tidak ada yang
sanggup untuk melepaskannya setelah itu. Dan Dia-lah Yang Maha perkasa, Maha
bijaksana. [Fâthir/35:2]
Allah
Azza wa Jalla berfirman,
وَمَا
مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا
Dan
tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin
Allah rezekinya…” [Hûd/11:6]
Allah
Azza wa Jalla berfirman tentang Adam dan Hawa yang berkata,
قَالَا
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Wahai
Rabb kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni
kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang
rugi. [al-A’râf/7:23]
Allah
Azza wa Jalla berfirman tentang Nabi Nuh Alaihissallam yang berkata,
وَإِلَّا
تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Kalau
Engkau tidak mengampuniku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya
aku termasuk orang yang rugi. [Hûd/11:47]
Nabi
Ibrâhim Alaihissallam berhujjah bahwa tidak ada ilâh yang berhak diibadahi
dengan benar selain Allah Azza wa Jalla ; dan bahwa apa saja yang disekutukan
dengan-Nya adalah bathil. Nabi Ibrâhim Alaihissallam berkata kepada kaumnya,
قَالَ
أَفَرَأَيْتُمْ مَا كُنْتُمْ تَعْبُدُونَ أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمُ الْأَقْدَمُونَ
فَإِنَّهُمْ عَدُوٌّ لِي إِلَّا رَبَّ الْعَالَمِينَ الَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ
يَهْدِينِ وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ
يَشْفِينِ وَالَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحْيِين ِوَالَّذِي أَطْمَعُ أَنْ يَغْفِرَ
لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ
Dia
(Ibrâhim) berkata, “Apakah kamu memperhatikan apa yang kamu sembah, kamu dan
nenek moyang kamu yang terdahulu? Sesungguhnya mereka (apa yang kamu sembah)
itu musuhku, lain halnya rabb seluruh alam, (yaitu) yang telah menciptakan aku,
maka Dia yang memberi petunjuk kepadaku, dan yang memberi makan dan minum
kepadaku; dan apabila aku sakit, Dia-lah yang menyembuhkan aku, dan Yang akan
mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali) dan yang sangat
kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari Kiamat.”
[asy-Syu’arâ`/26:75-82]
Sesungguhnya
Allah Azza wa Jalla yang Maha esa yang menciptakan hamba-Nya, memberi hidayah,
memberi rezeki, menghidupkan dan mematikannya, dan mengampuni dosa-dosa di
akhirat itu, maka wajib bagi hamba untuk mengesakan Allah Azza wa Jalla dalam
beribadah kepada-Nya, meminta, merendahkan diri, dan tunduk kepada-Nya. [9]
Allah
Azza wa Jalla berfirman,
اللَّهُ
الَّذِي خَلَقَكُمْ ثُمَّ رَزَقَكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ۖ هَلْ
مِنْ شُرَكَائِكُمْ مَنْ يَفْعَلُ مِنْ ذَٰلِكُمْ مِنْ شَيْءٍ ۚ سُبْحَانَهُ
وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ
Allah
yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezeki, lalu mematikanmu, kemudian
menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara mereka yang kamu sekutukan dengan
Allah itu yang dapat berbuat sesuatu yang demikian itu? Maha suci Dia dan Maha
tinggi dari apa yang mereka persekutukan.” [ar-Rûm/30:40]
Di
dalam hadits yang sedang kita bahas ini terdapat dalil bahwa Allah Azza wa
Jalla sangat senang apabila hamba-Nya memohon dan meminta seluruh kemaslahatan
agama dan dunia, baik berupa makanan, minuman dan pakaian, kepada-Nya.
Sebagaimana Allah Azza wa Jalla sangat senang hamba-hamba-Nya itu memohon
hidayah dan ampunan kepada-Nya.[10]
6. Setiap manusia diciptakan di atas fitrah menerima Islam
Firman Allah Azza wa Jalla , “Wahai hamba-Ku! Setiap dari kalian adalah sesat kecuali orang yang Aku beri petunjuk.”
Ada
yang menduga bahwa firman Allah Azza wa Jalla di atas bertentangan dengan
hadits ‘Iyâdh bin Himar Radhiyallahu anhu , dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam yang bersabda,
يَقُوْلُ
اللهُ عَزَّ وَجَلَّ : خَلَقْتُ عِبَادِيْ حُنَفَاءَ (وَفِيْ رِوَايَةٍ :
مُسْلِمِيْنَ) فَاجْتَالَتْهُمُ الشَّيَاطِيْنُ
“Allah
Azza wa Jalla berfirman, ‘Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan lurus
(dalam riwayat lain: dalam keadaan Muslim) kemudian mereka dipalingkan oleh
setan.’”
Padahal
firman Allah Azza wa Jalla tersebut sama sekali tidak bertentangan dengan
hadits tersebut, karena Allah Azza wa Jalla menciptakan anak keturunan Adam,
membentuk mereka untuk menerima Islam, cenderung kepadanya dan bukan cenderung
kepada yang lain, siap kepadanya, dan mempersiapkan diri dengan kuat untuknya.
Namun, manusia harus dididik tentang Islam dengan amal nyata, karena sebelumnya
mereka bodoh tidak mengetahui apa-apa, seperti firman-Nya
وَاللَّهُ
أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا
Dan
Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu
pun…” [an-Nahl/16:78].
Allah
Azza wa Jalla berfirman kepada Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
وَوَجَدَكَ
ضَالًّا فَهَدَىٰ
Dan
Dia mendapatimu sebagai orang yang bingung lalu Dia memberikan petunjuk.”
[adh-Dhuhâ/93:7]
Maksudnya,
Allah Azza wa Jalla mendapatimu tidak mengetahui kitab dan hikmah yang telah
diajarkan kepadamu, sebagaimana firman-Nya,
وَكَذَٰلِكَ
أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا ۚ مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ
وَلَا الْإِيمَانُ وَلَٰكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ
عِبَادِنَا
Dan
demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) ruh (al Qur`ân) dengan perintah
Kami. Sebelumnya engkau tidak mengetahui apakah Kitab (al Qur`ân) dan apakah
iman itu, tetapi Kami jadikan al Qur`ân itu cahaya, dengan itu Kami memberi
petunjuk siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami…”
[asy-Syûrâ/42:52]
Jadi,
manusia dilahirkan dalam keadaan siap untuk menerima kebenaran. Jika Allah Azza
wa Jalla memberinya petunjuk. Maka, ia diberi sarana dalam bentuk orang yang
mengajarkan petunjuk kepadanya. Sehingga akhirnya, ia betul-betul menjadi orang
yang mendapatkan petunjuk dan perbuatan setelah sebelumnya ia mendapatkan
petunjuk dengan kekuatan. Jika Allah membiarkannya, Dia membiarkannya dikuasai
orang yang mengajarkannya sesuatu yang bertentangan dengan fitrahnya, seperti
yang disabdakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَامِنْ
مَوْلُوْدٍ إِلاَّ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُـهَوِّدَانِهِ أَوْ
يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّـسَانِهِ
Tidaklah
seorang bayi dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah, maka kedua orang
tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.[12]
7. Memohon petunjuk kepada Allah Azza wa Jalla
Seorang Muslim wajib berdoa memohon petunjuk dan harus bersungguh-sungguh untuk mencari dan melaksanakan sebab-sebab yang menyampaikan kepada petunjuk tersebut.[13]
Adapun
permintaan petunjuk oleh orang Mukmin kepada Allah Azza wa Jalla ada dua:
Pertama : Petunjuk global, yaitu petunjuk kepada Islam dan iman.
Pertama : Petunjuk global, yaitu petunjuk kepada Islam dan iman.
Kedua
: Petunjuk yang rinci, yaitu petunjuk Allah untuk mengetahui rincian
bagian-bagian iman dan Islam serta bantuan-Nya untuk mengerjakannya. Petunjuk
seperti ini sangat diperlukan seorang Mukmin di setiap malam dan siang. Oleh
karena itu, Allah Azza wa Jalla memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk membaca
firman-Nya berikut ini di setiap raka’at shalat-shalat mereka,
اهْدِنَا
الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
Tunjukilah
kami jalan yang lurus. [al-Fâtihah/1:6]
Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata dalam doa beliau di malam hari,
…اِهْدِنِـيْ لِـمَـا اخْتُلِفَ فِيْهِ مِنَ الْـحَقِّ بِإِذْنِكَ ،
إِنَّكَ تَهْدِيْ مَنْ تَشَاءُ إِلَـى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ.
Tunjukilah
aku kepada kebenaran yang diperselisihkan di dalamnya dengan izin-Mu, karena
sesungguhnya Engkau menunjuki hamba-Mu ke jalan yang lurus.[14]
Oleh
karena itu, jika seseorang bersin dikatakan kepadanya, “Yarhamukallâh (semoga
Allah Azza wa Jalla merahmatimu),” kemudian orang yang bersin berkata kepada
orang yang mendoakannya, “Yahdîkumullâh (semoga Allah Azza wa Jalla memberimu
petunjuk)”; sebagaimana disebutkan dalam As-Sunnah. Kendati hal ini ditolak
oleh fuqaha Irak karena menduga bahwa orang Muslim tidak lagi membutuhkan
didoakan untuk mendapatkan petunjuk. Tetapi, pendapat mereka ditentang jumhur
Ulama karena mengikuti Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .
Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh ‘Ali Radhiyallahu anhu untuk meminta
ketetapan dan petunjuk, dengan do’a berikut:
اَللَّـهُمَّ
إِنِّـيْ أَسْأَلُكَ الْـهُدَى وَالسَّدَادَ
Ya
Allah Azza wa Jalla , sesungguhnya aku memohon kepada-Mu petunjuk dan
ketetapan.[15]
Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajari al-Hasan bin ‘Ali Radhiyallahu
untuk mengucapkan dalam qunut di shalat witir,
اَللَّـهُمَّ
اهْدِنِـيْ فِيْمَنْ هَدَيْتَ…
Ya
Allah Azza wa Jalla , berilah aku petunjuk ke dalam orang yang telah Engkau
beri petunjuk…
Perkara-Perkara
Hidayah
Seorang hamba sangat membutuhkan hidayah, baik secara lahir maupun batin, dalam segala perkara yang dia lakukan maupun dia tinggalkan, perkara-perkara itu mencakup:
Seorang hamba sangat membutuhkan hidayah, baik secara lahir maupun batin, dalam segala perkara yang dia lakukan maupun dia tinggalkan, perkara-perkara itu mencakup:
•
Perkara-perkara yang telah dilakukannya tanpa dilandasi oleh hidayah, baik dari
segi cara, amal maupun niat. Maka dia membutuhkan taubat; dan taubat yang
dilakukannya adalah hidayah.
•
Perkara-perkara yang ditujukan kepadanya namun belum terinci sehingga ia
membutuhkan hidayah menuju perinciannya.
•
Perkara-perkara yang ditujukan kepadanya namun tidak secara sempurna. Untuk itu
ia membutuhkan penyempurnaan sehingga hidayah yang ia peroleh sempurna dan
bertambah.
•
Perkara-perkara yang dia membutuhkan hidayah di kemudian hari seperti halnya
yang telah ia dapatkan di hari-hari yang telah lalu.
•
Perkara-perkara yang dia yakini tidak sebagaimana mestinya, sehingga ia
membutuhkan hidayah yang menghapus keyakinan keliru tersebut dari hatinya dan
menetapkan kebenaran menjadi lawannya.
•
Perkara-perkara hidayah yang mampu dia terapkan, namun belum tercipta keinginan
untuk melakukannya sehingga ia membutuhkan terciptanya keinginan untuk
melakukannya demi kesempurnaan hidayahnya.
•
Perkara-perkara yang tidak mampu dia terapkan namun dia ingin melakukannya,
sehingga ia membutuhkan hidayah agar mampu melakukannya.
•
Perkara-perkara yang tidak mampu ia lakukan dan tidak ada kemampuan untuk
melakukannya sehingga ia membutuhkan terciptanya kekuatan dan keinginan agar
hidayahnya sempurna.
•
Perkara-perkara yang telah dia lakukan berpijak kepada hidayah berdasarkan
keyakinan, keinginan, dan perbuatan. Maka dia membutuhkan kemantapan dan
kesinambungan.
Maka
kebutuhannya memohon hidayah adalah kebutuhan terbesar dan paling mendesak.
Allah rabb yang Maha pengasih mewajibkan atasnya untuk melakukan permohonan ini
siang dan malam dalam keadaan yang paling utama, yaitu dalam shalat yang lima
waktu dengan berulang kali. Hal itu karena dia sangat membutuhkan kandungan
permohonan tersebut.[16]
8. Memohon ampunan kepada Allah Azza wa Jalla
Adapun istighfâr dari dosa-dosa merupakan permintaan ampunan; dan seorang hamba sangat membutuhkannya karena ia berbuat salah di malam dan siang hari. Al`Qur`ân sering kali menyebutkan taubat dan istighfâr; memerintahkan kaum Mukminin kepada keduanya, dan menganjurkan kepada keduanya.
Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُلُّ
بَنِـيْ آدَمَ خَطَّاءٌ ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ
Seluruh
anak keturunan Adam adalah orang-orang yang berbuat salah dan sebaik-baik
orang-orang yang berbuat salah ialah orang-orang yang bertaubat.[17]
Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
وَاللهِ
إِنِّـيْ َلأَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ فِـي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ
سَبْعِيْنَ مَرَّةً
Demi
Allah Azza wa Jalla , aku beristighfar kepada Allah Azza wa Jalla dan bertaubat
kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.[18]
Setiap
anak Adam wajib bertaubat kepada Allah Azza wa Jalla dengan taubat yang jujur.
Setiap orang yang bertaubat dari perbuatan dosa dan maksiat hendaknya ia
memenuhi syarat-syarat taubat, yaitu:
1.
Al-Iqlâ’ (berhenti dari dosa), yaitu orang yang berbuat dosa harus berhenti
dari perbuatan dosa dan maksiat yang selama ini pernah ia lakukan.
2. An-Nadam (menyesal), yaitu dia harus menyesali perbuatan dosanya tersebut.
3. Al-‘Azmu (tekad), maksudnya, ia harus bertekad untuk tidak mengulangi perbuatan dosanya itu.
2. An-Nadam (menyesal), yaitu dia harus menyesali perbuatan dosanya tersebut.
3. Al-‘Azmu (tekad), maksudnya, ia harus bertekad untuk tidak mengulangi perbuatan dosanya itu.
Jika
perbuatan dosanya itu ada hubungannya dengan orang lain, maka di samping tiga
syarat di atas, masih ditambah satu syarat lagi yaitu harus ada pernyataan
bebas dari hak orang yang dirugikan itu. Jika yang dirugikan itu hartanya, maka
hartanya itu harus dikembalikan. Jika berupa tuduhan jahat, maka ia harus meminta
maaf. Dan jika berupa ghîbah atau umpatan, maka ia harus bertaubat kepada Allah
Azza wa Jalla dan tidak perlu meminta maaf kepada orang yang diumpat.[19]
7.
Allah Maha kaya terhadap hamba-hamba-Nya dan tidak butuh kepada mereka
Firman Allah Azza wa Jalla : “Wahai hamba-Ku! Sesungguhnya kalian tidak akan dapat menimpakan bahaya kepada-Ku sehingga kalian dapat membahayakan-Ku dan kalian tidak akan dapat memberi manfaat kepada-Ku sehingga kalian dapat memberi manfaat kepada-Ku.”
Firman Allah Azza wa Jalla : “Wahai hamba-Ku! Sesungguhnya kalian tidak akan dapat menimpakan bahaya kepada-Ku sehingga kalian dapat membahayakan-Ku dan kalian tidak akan dapat memberi manfaat kepada-Ku sehingga kalian dapat memberi manfaat kepada-Ku.”
Maksudnya,
seluruh hamba Allah Azza wa Jalla tidak dapat memberikan manfaat atau mudharat
kepada Allah Azza wa Jalla , karena Allah Azza wa Jalla sendiri adalah Maha
kaya dan Maha terpuji yang tidak butuh kepada ketaatan para hamba.
Manfaat-manfaat ketaatan mereka tidak kembali kepada-Nya; namun mereka sendiri
yang mengambil manfaat-manfaatnya. Dan (Allah Azza wa Jalla ) tidak merugi
dengan kemaksiatan-kemaksiatan mereka namun justru mereka sendiri yang merugi
karenanya.[20]
Allah
Azza wa Jalla berfirman,
وَلَا
يَحْزُنْكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْكُفْرِ ۚ إِنَّهُمْ لَنْ يَضُرُّوا
اللَّهَ شَيْئًا
Dan
janganlah engkau (Muhammad) dirisaukan oleh orang-orang yang dengan mudah
kembali menjadi kafir, sesungguhnya sedikit pun mereka tidak merugikan Allah…
[Ali ‘Imrân/3:176]
Allah
Azza wa Jalla berfirman,
وَإِنْ
تَكْفُرُوا فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۚ وَكَانَ
اللَّهُ غَنِيًّا حَمِيدًا
Tetapi
jika kamu ingkar maka (ketahuilah), milik Allah lah apa yang ada di langit dan
apa yang ada di bumi dan Allah Mahakaya, Maha Terpuji.” [an-Nisâ’/4:131]
Maksudnya,
Allah Azza wa Jalla senang kalau hamba-hamba-Nya bertakwa dan taat kepada-Nya,
sebagaimana Dia benci kalau mereka bermaksiat kepada-Nya.[21]
[Disalin
dari majalah As-Sunnah dengan sedikit tambahan]
_______
Footnote
[1]. Lihat Jâmi’ul ‘Uûm wal Hikam (II/34-35).
[2]. Lihat Qawâ’id wa Fawâ-id (hlm. 212)
[3]. Shahîh: HR. al-Bukhâri (no. 67), Muslim (no. 1679), Ibnu Hibbân (no. 3837-at-Ta’lîqâtul Hisân) dari Abu Bakrah Radhiyallahu anhu.
[4]. Shahîh: HR. al-Bukhâri (no. 2447) dan Muslim (no. 2579) dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma.
[5]. Shahîh: HR. al-Bukhâri (no. 4686), Muslim (no. 2583), at-Tirmidzi (no. 3110), dan Ibnu Hibbân (no. 5153 at-Ta’lîqâtul Hisân) dari Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu anhu.
[6]. Shahîh: HR. al-Bukhâri (no. 2449, 6534), Ahmad (II/435, 506), Ibnu Hibbân (no. 7361) dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.
[7]. Qawâ’id wa Fawâ-id (hlm. 214).
[8]. Lihat Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam (II/37-38).
[9]. Lihat Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam (II/38).
[10]. Lihat Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam (II/38-39).
[11]. Lihat Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam (II/39).
[12]. HR. al-Bukhâri (no. 1358) dan Muslim (no. 2658), dari Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.
[13]. Qawâ’id wa Fawâ-id (hlm. 217).
[14]. Shahîh: HR. Muslim (no. 770), Ahmad (VI/156), Abu Dâwud (no. 767), at-Tirmidzi (no. 3420), an-Nasâ-i (III/212-213), Ibnu Mâjah (no. 1357), dan Ibnu Hibbân (no. 2591 at-Ta’lîqâtul Hisân).
[15]. Shahîh: HR. Muslim (no. 2725) dan Ahmad (I/88).
[16]. Lihat Kasyful Ghithâ’ (hlm. 126-127) oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullah.
[17]. Hasan: HR. At-Tirmidzi (no. 2499), Ibnu Mâjah (no. 4251), Ahmad (III/198), al-Hâkim (IV/244) dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu.
[18]. Shahîh: HR. al-Bukhâri (no. 6307), an-Nasâ-i dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah (no. 434, 437), Ibnu Mâjah (no. 3815), Ahmad (II/282), dan Ibnu Hibbân (no. 925).
[19]. Lihat Riyâdhush Shâlihîn bab Taubat (hlm. 24-25) dan Shahîh al-Wâbilush Shayyib (hlm. 272-273).
[20]. Lihat Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam (II/43).
[21]. Lihat Jaami’ul ‘Uluum wal Hikam (II/43).
_______
Footnote
[1]. Lihat Jâmi’ul ‘Uûm wal Hikam (II/34-35).
[2]. Lihat Qawâ’id wa Fawâ-id (hlm. 212)
[3]. Shahîh: HR. al-Bukhâri (no. 67), Muslim (no. 1679), Ibnu Hibbân (no. 3837-at-Ta’lîqâtul Hisân) dari Abu Bakrah Radhiyallahu anhu.
[4]. Shahîh: HR. al-Bukhâri (no. 2447) dan Muslim (no. 2579) dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma.
[5]. Shahîh: HR. al-Bukhâri (no. 4686), Muslim (no. 2583), at-Tirmidzi (no. 3110), dan Ibnu Hibbân (no. 5153 at-Ta’lîqâtul Hisân) dari Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu anhu.
[6]. Shahîh: HR. al-Bukhâri (no. 2449, 6534), Ahmad (II/435, 506), Ibnu Hibbân (no. 7361) dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.
[7]. Qawâ’id wa Fawâ-id (hlm. 214).
[8]. Lihat Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam (II/37-38).
[9]. Lihat Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam (II/38).
[10]. Lihat Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam (II/38-39).
[11]. Lihat Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam (II/39).
[12]. HR. al-Bukhâri (no. 1358) dan Muslim (no. 2658), dari Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.
[13]. Qawâ’id wa Fawâ-id (hlm. 217).
[14]. Shahîh: HR. Muslim (no. 770), Ahmad (VI/156), Abu Dâwud (no. 767), at-Tirmidzi (no. 3420), an-Nasâ-i (III/212-213), Ibnu Mâjah (no. 1357), dan Ibnu Hibbân (no. 2591 at-Ta’lîqâtul Hisân).
[15]. Shahîh: HR. Muslim (no. 2725) dan Ahmad (I/88).
[16]. Lihat Kasyful Ghithâ’ (hlm. 126-127) oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullah.
[17]. Hasan: HR. At-Tirmidzi (no. 2499), Ibnu Mâjah (no. 4251), Ahmad (III/198), al-Hâkim (IV/244) dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu.
[18]. Shahîh: HR. al-Bukhâri (no. 6307), an-Nasâ-i dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah (no. 434, 437), Ibnu Mâjah (no. 3815), Ahmad (II/282), dan Ibnu Hibbân (no. 925).
[19]. Lihat Riyâdhush Shâlihîn bab Taubat (hlm. 24-25) dan Shahîh al-Wâbilush Shayyib (hlm. 272-273).
[20]. Lihat Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam (II/43).
[21]. Lihat Jaami’ul ‘Uluum wal Hikam (II/43).
IKADI KEC NGUTER KAB SUKOHARJO
☘Sekretariat : Jl Raya Solo Wng Km 22 Sukoharjo
☘Butuh Khatib Dai Wilayah Nguter Sukoharjo 📞 081-2261-7316
Gabung channel telegram.me/ikadi_nguter
💈webinfo : www.ceramahsingkat.com
💈IG : @ikadi_nguter
💈Telegram : @ikadi_nguter
💈Fb.: Tausiyah Singkat
Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Kec. Nguter Kab. Sukoharjo
Menebar Islam Rahmatan Lil 'Alamin


EmoticonEmoticon