
Khutbah Jumat: Lima Sikap Menghadapi Fitnah Media
Khutbah Pertama
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ
سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ
هَادِىَ لَهُ
وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ
لاَ شَرِيْكَ لَهُ
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى
آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا
بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ،
وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ
Amma
ba’du
Ma’asyirol
muslimin jama’ah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah …
Segala
puji bagi Allah yang telah memberikan kita nikmat. Nikmat yang paling besar
adalah nikmat iman dan islam yang Allah anugerahkan. Selain Allah juga masih
memberikan kita keselamatan dari berbagai macam musibah, kesulitan dan fitnah.
Dan kita memohon pada Allah supaya nikmat-nikmat tersebut tetap terus terjaga.
Moga kita dapat mensyukuri nikmat yang ada tadi dengan terus meningkatkan
ketakwaan pada Allah.
Allah
Ta’ala memerintah untuk bertakwa dengan sebenar-benarnya,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ
حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Hai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa
kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan
beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102)
Shalawat
dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan dan suri tauladan kita, Nabi
besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga kepada para sahabat dan
istri-istri beliau yang tercinta serta pada setiap pengikut beliau yang
mengikuti beliau dengan baik hingga akhir zaman.
Para
jama’ah rahimani wa rahimakumullah …
Pasti
di antara kita adalah orang-orang yang gemar membaca berita. Selain berita
bola, senang pula membaca berita politik dan selebriti. Di jaman yang sudah sangat
canggih ini, mendapatkan berita adalah semudah menggerakkan jari saja. Di TV
tinggal pencet remot, di internet tinggal buka hp. Akan tetapi kemudahan kita mendapatkan
berita tidak didukung kemampuan kita menyaring kebenaran dan kevalidan
informasi yang beredar. Media massa yang utama atau mainstream bahkan sekarang
ikut ikutan menebarkan berita bohong yang terkadang menyudutkan umat Islam,
umat Islam yang teroris, umat Islam yang suka korupsi, Ulama yang suka
kekerasan dan kawin cerai, dll. Semua suka-suka mereka menyebarkan tanpa etika
yang baik. Bagi mereka bad news is good news. Prinsipnya sebarkan saja dulu
kalau salah baru klarifikasi dan permohonan maaf.
Apalagi dalam dunia
modern, pers/media berita menempati posisi yang sangat penting, antara lain
adalah dapat membentuk opini umat. Bahkan sering dikatakan bahwa barangsiapa
yang menguasai pers/berita, berarti dapat juga menguasai dunia. Kalau yang
menguasai pers itu adalah orang mukmin, yang benar-benar paham dengan dakwah
dan memang merupakan Da'i, maka pers yang diterbitkanya tentu tidak akan
menurunkan tulisan-tulisan yang merugikan islam, memojokkan kaum muslimin atau
menyakiti umat Nabi Muhammad SAW. Tetapi kenyataan yang membuktikan, di dunia
ini tak sedikit pers yang menurunkan aneka bentuk tulisan yang substansi isinya
bukan hanya memojokkan islam, menyakiti hati kaum mukmin, menghina Nabi serta
melecehkan Al-quran, tetapi lebih dari sekedar itu. Musuh-musuh islam telah
menggunakan media sebagai corong yang efektif untuk merontokkan keislaman kita.
Dan keadaan bisa bertambah buruk lagi, kalau para pemimpin umat islam bukannya
memihak islam, tapi justru memihak dan membela musuh-musuh Allah SWT. Mereka
bekerja sama dengan pers untuk memusuhi Islam. Na'udzu biillah min dzaalik,
semoga Allah melindungi Umat Muslim.
Ada
beberapa nasihat dari kami selaku khotib Jumat kali ini dalam menyikapi berita
media. Ada lima sikap sebagai seorang muslim yang wajib kita miliki.
Sikap pertama: Hati-hati dalam menerima berita dan jangan asal-asalan menyebar berita.
Apalagi
itu aib, lebih-lebih beritanya belum 100% benar, bisa jadi juga itu fitnah atau
jebakan. Apalagi si pelaku mengaku bahwa ia tidak berbuat hal itu dan kita tahu
dia adalah orang shalih yang jujur.
Cobalah
lihat bagaimana Allah perintahkan kita untuk mengecek berita terlebih dahulu.
Jangan mudah-mudahan untuk menyebarnya sampai kita punya bukti yang kuat.
Allah
Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ
فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى
مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Hai
orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu
berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah
kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal
atas perbuatanmu itu.” (QS. Al Hujurat: 6).
Ibnu
Katsir rahimahullah dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim berkata, “Allah Ta’ala
memerintahkan untuk melakukan kroscek terhadap berita dari orang fasik. Karena
boleh jadi berita yang tersebar adalah berita dusta dan keliru.”
Karena
kehormatan seorang muslim benar-benar harus kita jaga.
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan pada khutbah beliau saat musim
haji,
فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ
بَيْنَكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا ، فِى شَهْرِكُمْ هَذَا ، فِى بَلَدِكُمْ
هَذَا
“Sesungguhnya
dara, harta dan kehormatan sesama kalian itu terjaga sebagaimana kemuliaan hari
ini, kemuliaan bulan ini dan kemuliaan negeri kalian ini.” (HR. Bukhari, no. 67
dan Muslim, no. 1679)
Coba
lihat kerjaan para pencari berita saat ini. Jika ada artis atau pejabat yang
terkena kasus, mereka tunggu seharian di depan rumah, berjejer menunggu berita
apa yang bisa dibuat. Orang yang ingin diberitakan tidak ada di rumah, sudah
jadi berita yang WAH. Belum jadi tersangka, sudah diisukan punya simpanan,
punya ini dan itu. Dan selalu begitu untuk menghancurkan mereka. Wallahul
musta’an.
Padahal
dalam kitab suci kita telah diterangkan,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا
مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا
“Hai
orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena
sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan
orang.” (QS. Al Hujurat: 12).
Sebagaimana
disebutkan dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir, tajassus
-seperti kata Imam Al Auza’i- adalah mencari-cari sesuatu. Ada juga istilah
tahassus yang maksudnya adalah menguping untuk mencari-cari kejelekan suatu
kaum di mana mereka tidak suka untuk didengar, atau menguping di depan
pintu-pintu mereka.
Demikian
diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.
Persis
bukan dengan kelakuan pencari berita saat ini?
Coba
simak perkataan keras Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada orang yang
melakukan tajassus.
Dari
Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَمَنِ اسْتَمَعَ إِلَى حَدِيثِ قَوْمٍ وَهُمْ لَهُ
كَارِهُونَ أَوْ يَفِرُّونَ مِنْهُ ، صُبَّ فِى أُذُنِهِ الآنُكُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barangsiapa
menguping omongan orang lain, sedangkan mereka tidak suka (kalau didengarkan
selain mereka) atau mereka berlepas diri dari hal itu, maka pada telinga yang
menguping tadi akan dituangkan cairan tembaga pada hari kiamat.” (HR. Bukhari,
no. 7042).
Jama’ah
rahimani wa rahimakumullah …
Saran
kami, para jamaah kalau mendengar berita-berita media atau mendapatkan berita
gosip lewat pesan singkat, lewat WhatsApp, lewat Facebook atau media sosial
lainnya, jangan mudah-mudahan untuk menshare atau menyebarkannya.
Ingatlah
hadits berikut ini …
Dari
Hafsh bin ‘Ashim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ
مَا سَمِعَ
“Cukup
seseorang dikatakan dusta jika ia menceritakan setiap apa yang ia dengar.” (HR.
Muslim, no. 5)
Berarti
dapat kita katakan, cukup seseorang dikatakan pendusta jika ia menshare setiap
berita (yang tidak jelas) yang ia peroleh.
Sikap kedua: Menuduh esek-esek atau selingkuh itu bahaya.
Coba
lihat, mudah sekali media menuduh jika ada pejabat -termasuk yang shalih dan
baik- tertangkap tangan, pasti dikaitkan dengan ada wanita dalam penangkapan
tersebut, lalu dikatakan “habis esek-esek atau selingkuh”. Wallahul musta’an.
Padahal yang buat berita dan opini ini tidak bisa mendatangkan bukti esek-esek
atau perselingkuhan tersebut. Dan ingatlah menuduh selingkuh seperti itu berat,
berat hukumannya di dunia dan berat siksanya di akhirat.
Allah
Ta’ala berfirman,
وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ
يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلَا تَقْبَلُوا
لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“Dan
orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka
tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu)
delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat
selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nuur: 4)
Lihatlah
yang menuduh tanpa bukti dihukum qazaf dengan 80 kali cambukan.
Apalagi
dengan media yang senang berita dusta itu tersebar, dikatakan juga pada ayat
selanjutnya pada surat An-Nuur,
إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ
فِي الَّذِينَ آَمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَاللَّهُ
يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Sesungguhnya
orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di
kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di
akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nuur:
19)
Sikap ketiga: Jangan sampai menghina dan mencela
Imam
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,
وَكُلُّ مَعْصِيَةٍ عُيِّرَتْ بِهَا أَخَاكَ فَهِيَ
إِلَيْكَ يَحْتَمِلُ أَنْ يُرِيْدَ بِهِ أَنَّهَا صَائِرَةٌ إِلَيْكَ وَلاَ بُدَّ أَنْ
تَعْمَلَهَا
“Setiap
maksiat yang dijelek-jelekkan pada saudaramu, maka itu akan kembali padamu.
Maksudnya, engkau bisa dipastikan melakukan dosa tersebut.” (Madarijus Salikin,
1: 176)
Bagaimana
jika kriminal yang dituduhkan tidak benar, hanya fitnah atau hanyalah jebakan?
Kita
akan tahu akibatnya.
Sikap keempat: Doakan kebaikan bagi yang terfitnah.
Doakanlah
dia! Apalagi itu adalah orang yang lahiriyahnya adalah orang shalih dan suka
menebar kebaikan di mana pun, bahkan punya beberapa pesantren yang menyebar
Islam yang benar.
Ingat
sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang pernah disampaikan pada Abu
Darda’ dan sampai juga pada Ummu Darda’,
دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ
الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ
بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ
“Do’a
seorang muslim kepada saudaranya ketika saudaranya tidak mengetahuinya adalah
do’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisinya ada malaikat (yang bertugas
mengaminkan do’anya kepada saudarany). Ketika dia berdo’a kebaikan kepada
saudaranya, malaikat tersebut berkata : Amin, engkau akan mendapatkan yang
semisal dengannya.” (HR. Muslim, no. 2733)
Sikap kelima: Belum tentu kita lebih baik darinya.
Jangan
sampai kita sendiri merasa lebih baik dari orang yang punya kasus, hingga
gampang-gampangan untuk menghina dan merendahkan.
Allah
Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ
مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ
“Hai
orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan
kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka.”
(QS. Al-Hujurat: 11)
Semoga
Allah memberi taufik dan hidayah pada kita semua.
Demikian
khutbah pertama ini.
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ
Khutbah
Kedua
الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ
وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
Amma
ba’du
Ma’asyirol
muslimin jama’ah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah …
Di
khutbah kedua ini kami ingin ingatkan untuk semua …
Ingatlah
dunia itu sebentar …
Allah
itu pengadil sesungguhnya. Kita yakini Allah itu Maha Adil.
Kalau
ada yang salah di dunia, dia benar-benar menyesal dan bertaubat, akhiratnya
pasti aman.
Kalau
ada yang dizalimi, ingatlah makin banyak pahala yang diperoleh, ia akan makin
untung di akhirat.
Karena
pahala semua yang menzaliminya akan pindah kepadanya. Hingga yang menzalimi
akan menjadi orang yang bangkrut, bangkrut dan bangkrut.
Coba
perhatikan hadits yang membicarakan tentang orang yang muflis atau bangkrut
berikut ini, haditsnya dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam pernah bertanya pada para sahabat,
أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ
فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي
مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ
هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى
هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ
أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ
فِي النَّارِ
“Apakah
kalian tahu siapa muflis (orang yang pailit) itu?”
Para
sahabat menjawab, “Muflis (orang yang pailit) itu adalah yang tidak mempunyai
dirham maupun harta benda.”
Akan
tetapi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Muflis (orang yang pailit)
dari umatku ialah, orang yang datang pada hari Kiamat membawa (pahala) shalat,
puasa dan zakat, namun (ketika di dunia) dia telah mencaci dan (salah) menuduh
orang lain, makan harta, menumpahkan darah dan memukul orang lain (tanpa hak).
Maka orang-orang itu akan diberi pahala dari kebaikan-kebaikannya. Jika telah
habis kebaikan-kebaikannya, maka dosa-dosa mereka akan ditimpakan kepadanya,
kemudian dia akan dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim, no. 2581)
Hati-hatilah
pembuat berita, bisa jadi Anda masuk orang yang muflis seperti di atas …
Bertakwalah
pada Allah, bertakwalah pada Allah.
Demikian
khutbah kami untuk Jumat kali ini.
Semoga
Allah menyelamatkan kita, menyelamatkan orang shalih di tengah kita,
menyelematkan setiap pemimpin dan setiap hakim kita yang berlaku adil, moga
semua diselamatkan dari berbagai macam musibah, diselamatkan dari fitnah yang
keji, diselamatkan dari orang-orang yang hasad (cemburu), diselamatkan pula
dari kerugian akhirat dan siksa neraka.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى
النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ
حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ
وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ
قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا
قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا
وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
رَبَّنَا انْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْمُفْسِدِينَ
رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا
وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ
وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ
اَللَّهُمَّ أَعِنْهُمْ عَلَى الْقِيَامِ بِمَهَامِهِمْ
كَمَا أَمَرْتَهُمْ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ
وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ
الْعَالَمِيْنَ
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيْمَانًا لاَ يَرْتَدُّ،
وَنَعِيْمًا لاَ يَنْفَدُ، وَمُرَافَقَةَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
فِي أَعْلَى جَنَّةِ الْخُلْدِ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي
الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى
آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
عِبَادَ
اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي
الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ
وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
—
Muhammad Abduh Tuasikal
Sedikit
Tambahan
Pos
Ulang oleh IKADI Kec Nguter
Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Kec. Nguter Kab. Sukoharjo
Menebar Islam Rahmatan Lil 'Alamin


EmoticonEmoticon